
“Kak, sebenarnya Abang tuh lagi kenapa sih? Lagi cemburu sama kakak atau gimana?”
“Aku juga nggak paham, Dav. Iya kali ya, dia lagi cemburu. Padahal aku nggak ada tuh mancing Abang kamu cemburu. Aneh juga dia,”
Elvina dan Davina sampai di rumah dan Davina menyadari bahwa suasana hati abangnya belum membaik terbukti dari lirikan dan wajah datarnya tdi ketika Ia dan Elvina baru sampai di rumah setelah pergi ke minimarket membeli jajanan.
“Aku langsung ke kamar ya, Dav,”
“Okay, Kak. Makasih ya udah temenin aku beli es krim,”
“Sama-sama, Dek, nggak perlu bilang makasij,” ujar Elvina sambil tersenyum kemudian Ia bergegas ke kamarnya sementara Davina menyimpan es krim di dalam lemari pendingin.
Elvina bergegas ke kamarnya begitupun Davina. Tidak lama kemudian Vano masuk ke dalam kamar dan Elvina langsung menyapa.
“Hai, Mas,”
“Kenapa kamu? Tiba-tiba jadi akrqb gitu ke saya?”
“Ya ampun, akrab salah, nggak akrab salah. Ya daripada aku kesal, ngomel ya ‘kan, lebih baik aku nyapa, bukan begitu?”
__ADS_1
“Kamu kenapa agak lama? Davina cuma minta temenin beli es krim ‘kan?”
“Iya emang cuma ke mini market aja kok, Mas,”
“Terus kenapa lama?”
“Ya karena ‘kan kita tuh harus milih-milih dulu, Mas. Nggak bisa langsung ambil. Ya namanya juga perempuan ‘kan,”
“Tinggal ambilah, nggak perlu milih terlalu lama,”
Elvina langsung mendengus kesal. Vano mudah bicara seperti itu. Tapi senagai manusia biasa terutama perempuan, wajar kalau banyak pertimbangan ketika harus memilih yang mana yang harus dibeli.
“Ya jujur saya emang curiga berhubung komunikasi kamu sama Rendra mantan kamu itu lancar banget sekarang,”
Elvina berdecak kesla tidak terima kemudian Ia menatap suaminya dnegan sinis. “Mas tuh kenapa sih jadi curigaan sama aku? Oranga ku nggak ketemuan sama siapa-siapa kok, ternasuk Rendra. Udah aku bilang, Rendra itu cuma teman aku,”
“Udah kamu blokir nomor dia?”
“Nggak mau, aku tadinya mau nurut sama kamu, tapi nggak jadi deh, biarin aja udah. Toh dia nggak ganggu,” jawab Elvina dengab santainya dan itu membuat Vano menggertakkan giginya kesal. Ternyata Elvina bersikeras tidak mau memblokir nomor telepon Rendra padahal itulah yang Vano harapkan.
__ADS_1
“Blokir sekarang, El. Saya minta tolong sama kamu,”
“Nggak mau! Orang aku nggak mau, tolong jangan maksa aku dong, Mas,”
“Apa kamu lupa ya apa yang diomongin sama ayah bunda ke kamu? Hmm? Mereka itu pengen banget kamu lupain Re dra, kamu move on, kenapa kamu malah keras kepala kayak begini sih?”
“Pokoknya aku nggsk mau blokir kontak siapapun orang yang aku kenal. Mas jangan paksa aku! Okay?”
Rahang Vano mengeras sempurna. Ia tidak suka ketika istrinya keras kepala seperti ini. Tapi pemaksaan dengan menggunakan kekerasan bukan gaya Vano.
“Artinya kamu memang benar-benat nggak mau menghargai saya? Iya?”
“Ih kok—“
“Ya memang begitu ‘kan? Kalau kamu menghargai saya, kamu nggak akan mungkin keras kepala kayak gini disaat saya udha minta tolong banget sama kamu untuk blokir kontaknya Rendra kalau perlu hapus aja nomornya,”
“Mas jangan maksa!”
“Saya ngelakuin ini karena saya suami kamu dan saya cemburu, kamu paham nggak? Wajar dong saya cemburu, kamu itu istri saya tapi kamu belum bisa move on dari mantan kamu itu. Jadi kalau kamu masih berhubungan baik sama dia, saya makin cemburu, Elvina,”
__ADS_1