
Elvina terpaksa berhenti di pinggir jalan karena motornya tiba-tiba mati. Elvina memaki motornya sendiri yang biasanya tidak pernah seperti ini.
“Benar-benar nguji kesabaran banget ini motor ya. Mana panas, pake acara mati segala lagi, aku nggak paham soal motor. Ih nyusahin banget sih!”
Elvina memukul jok motornya yang tiba-tiba menguji kesabarannya di siang hari yang panas seperti sekarang ini. Biasanya tak pernah ada kendala, dan Elvina bingung yang salah dari motornya apa sampai mati mendadak begini.
“Aku telepon Ayah deh. Abisnya aku bingung minta bantuan ke siapa,”
Elvina langsung menghubungi nomor ayahnya berharap segera mendapat tanggapan dari sang ayah sebab Ia tidak kuat lama-lama di pinggir jalan, sementara matahari seperti satu jengkal di atas kepala.
“Duh, kok ayah nggak angkat telepon aku ya? Tumben banget. Gimana dong ini motor aku? Kalau aku pulang naik ojek, terus motor aku gimana? Aku juga nggak simpan nomor orang bengkel langganan ayah pula,”
Elvina terus menghubungi ayahnya sampai lima kali dan belum satupun yang dijawab oleh ayahnya. Maka dari itu Ia minta pertolongan bundanya yang barangkali bisa membantu.
Dua kali menelpon, Dini menjawab panggilan dari anak semata wayangnya itu. “Assalamualaikum kenapa, Nak?”
“Bun, motor aku tiba-tiba mati nih. Aku bingung harus gimana. Kalau pulang naik ojek—“
“Ya udah Bunda jemput pakai mobil, biarin aja motornya di situ. Sekarang kamu share lokasi kamu ya, El. Bunda sekarang ke sana,”
“Jangan, nanti motor aku gimana, Bun? Motor aku nanti hilang kalau aku tinggalin,”
“Ya Allah, kamu sesayang itu sama motor yang udah berapa tahun tuh kamu pakai? Dari umur tujuh belas ‘kan itu? Hadiah sweet seventeen dari Ayah Bunda, udah tiga tahunan berarti, emang mesti ganti, kamu nya aja yang keras kepala. Ada mobil malah pakai motor. Kalau motor bagus sih nggak apa-apa, lah ini udah tiga tahunan dipakai mulu tiap hari,”
“Bunda, motor aku tuh masih bagus banget, jadi ngapain beli yang baru? Lagian lebih praktis pakai motor karena aku bisa nyelip-nyelip kalau lagi macet ‘kan,”
“Lah itu udah mesti diganti, Nak. Udah mati tiba-tiba begitu. Udah pokoknya Bunda jemput ya, kamu tunggu di situ,”
“Terus motor aku gimana?”
“Ih kenapa masih mikirin motor aja sih? Nanti Bunda minta tolong aja sama Pak Indra supaya ambil motor kamu bentaran,”
“Tapi Pak Indra nggak jagain rumah dong, Bun?”
__ADS_1
“Ya ‘kan cuma bentar aja, Nak,”
“Ya udah deh, aku nurut Bunda aja. Hati-jati ya, Bunda. Aku share lokasi aku sekarang,”
“Iya, tunggu Bunda di sana ya, Nak. Assalamualaikum,”
“Iya, Bun, Waalaikumsalam,”
Elvina menyimpan ponselnya ke dalam tas lagi setelah Ia memberitahu lokasinya saat ini. Sekarang Ia tinggal menunggu bundanya datang menjemput dengan mobil, dan motornya akan dibiarkan saja sampai penjaga rumah mereka datang mengambil motor.
Tiba-tiba ada mobil yang mendekati Elvina hingga membuat Elvina menatap ke arah mobil itu dengan bingung. Elvina sedang duduk di atas motornya sendirian, tiba-tiba didatangi mobil yang tidak Ia ketahui apa kepentingannya.
“Duh, siapa nih yang bakal keluar dari mobil. Apa penjahat ya? Jangan-jangan dia mau jahatin aku,” perasaan Elvina sudah tidak enak makanya Ia langsung berdiri di sebelah motornya. Jaga-jaga kalau ternyata itu orang jahat, Ia bisa langsung berlari untuk menjauh tanpa mau peduli lagi dengan motor kesayangannya karena yang lebih penting adalah keselamatannya, itu juga yang diajarkan orangtuanya selama ini.
****
“Bang, itu kayak Elvina ya? Coba samperin, Bang,”
“Iya itu Elvina, Ma. Ngapain ya dia di situ sendirian? Kayak lagi ada yang ditunggu,”
“Coba samperin, Bang,”
Vano menganggukkan kepalanya, dan langsung melajukan mobil ke arah Elvina yang duduk di atas motor sendirian.
Rencananya sekarang ini Lisa dan Vano akan menghadiri acara pernikahan anak temannya Lisa. Tapi melihat Elvina duduk sendirian di pinggir jalanan yang terbilang sepi, Lisa jadi ingin menghampiri Elvina.
Lisa dan putra semata wayangnya keluar dari mobil dan mendekati Elvina yang di awal wajahnya kelihatan cemas melihat ada mobil mendekat ke arahnya tapi begitu melihat Lisa dan Vano yang keluar dari mobil, bukan orang jahat, Elvina langsung tersenyum menatap keduanya.
“Kamu ngapain di sini, Nak?”
Elvina mencium tangan Lisa yang langsung bertanya begitu tiba di hadapan Elvina. “Ini motor aku tiba-tiba mati, Tante. Tapi aku udah telepon Bunda dan Bunda bilang bakal jemput aku di sini,”
“Ya Allah, udah mendingan sekarang kamu diantar sama Om dan Vano aja ya? Kami antar kamu sampai rumah,”
__ADS_1
“Tante, nggak usah repot-repot. Bunda udah mau ke sini kok. Oh iya, Tante mau kemana nih kalau boleh tau? Rapi banget, Tan,”
Elvina menatap Lisa dan putranya yang berpenampilan formal, nampak akan menghadiri sebuah acara.
“Tante sama Vano mau kondangan. Kebetulan anaknya teman Tante nikah dan Om lagi nggak bisa temenin Tante jadi Tante ajak Vano deh,”
“Ya udah kalau gitu Tante sama Pak Vano kenapa nggak berangkat sekarang? Nggak enak kalau telat ‘kan,”
“Tadi kami lagi mau berangkat ke tempat acara terus nggak sengaja liat kamu duduk sendirian. Di sini panas lho, Nak. Ayo diantar ke rumah, nunggu Bunda kamu takutnya lama,”
“Nggak, sebentar kok, Tante. Paling sebentar lagi Bunda udah sampai,”
“Ya udah tunggu di mobil aja deh kalau nggak mau diantar. Kamu takut motor kamu hilang ya?”
“Kata Bunda tadi, bakal dibawa sama Pak Indra ke rumah, aku pulang sama Bunda,”
“Nah ya udah kalau gitu pulangnya sama Tante sama Vano aja, biar Bunda nggak mesti keluar-keluar jemput anak gadisnya yang cantik ini. Yuk pulang sama Tante yuk,”
“Jangan, Tante. Bunda udah berangkat deh kayaknya, kasian nanti sampai di sini aku nya nggak ada,”
“Tinggal kabarin aja, Sayang,”
“Tante sama Pak Vano ‘kan juga ada kepentingan, jadi aku nggak mau ganggu. Aku nggak apa-apa kok nunggu di sini sebentar lagi Bunda sampai,”
“Kamu yakin? Ini panas banget lho, El. Antar sebentar ke rumah kamu nggak jadi masalah kok. Acaranya juga masih lama selesainya,”
“Nah, bener kata Vano,”
Elvina menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Ia tidak mau mengganggu Vano dan Lisa yang punya agendanya sendiri. Jangan sampai karena dirinya, mereka jadi terlambat menghadiri acara. Lagipula, bundanya sudah bilang, bahwa Ia akan dijemput. Jadi Ia akan menunggu sampai bundanya datang.
“Ini ‘kan udah dekat dari rumah aku, Tante, jadi Bunda nggak bakal lama,”
Dan benar saja, mobil Dini akhirnya tiba. Dini datang ke lokasi anaknya yang mengalami kesulitan siang ini sepulangnya dari kampus. Tanpa menunggu waktu lama, tadi Dini langsung bergegas pergi menghampiri putri semata wayangnya itu.
__ADS_1