
“Semangat ujiannya. Saya hari ini nggak masuk kelas kamu,”
“Iya Mas juga semangat ya,”
Saat Elvina akan keluar dari mobil setelah mencium tangan suaminya, tiba-tiba Vano menahan tangan istrinya itu. Akhirnya tidak jadi membuka pintu mobil.
Elvina langsung menoleh ke arh suaminya itu dan bertanya dengan kening mengernyit “Kenapa, Mas?”
“Dibiasain jangan pernah lupa dong,”
Tanpa menjelaskan kenapa Ia menahan lengan Elvina, Vano langsung mendekatkan bibirnya dengan kening sang istri. Ia mengecup dengan lembut tepat di kening istrinya itu.
“Oh kamu mau cium aku? Kirain kenapa,” ujar Elvina setelah berhasil mengendalikan rasa gugupnya. Ia dibuat terkejut saat tiba-tiba lengannya ditahan, lalu makin dibuat terkejut ketika suaminya mengecup keningnya, padahal itu sudah sering dilakukan oleh Vano tapi tetap saja Ia masih gugup.
“Iya biar semangat,“
“Udah ‘kan nggak ada yang ketinggalan lagi? Aku mau keluar nih,”
“Udah nggak ada,” jawab Vano sambil terkekeh. Elvina mengangguk lantas keluar dari mobil meninggalkan Vano yang tersenyum.
“Semoga secepatnya kamu bisa punya perasaan yang sama kayak saya ya, El. SEkarang aja saya merasa bahagia setiap harinya, apalagi kalau kita udah saling mencibtai dan kamu udah lepas dari bayang-bayang masa lalu kamu itu,” gumam Vano sesaat sebelum Ia memutuskan untuk keluar dari mobil dengan membawa laptop dan tas ranselnya.
Vano ke ruangannya sementara istrinya sudah menghilang ke kelas. Tidak ada antar mengantar ke kelas. Cukup mengantar sampai di kampus. Mereka kalau di kampus benar-benar selayaknya dosen dan mahasiswa, tidak terlihat mencolok. Selain karena Vano profesional sebagai dosen, Elvina sendiri juga risih kalau sampai menjadi pusat perhatian.
Cukup teman-temannya itu tahu kalau Ia sudah menikah dengan salah satu dosen di kampus tersbeut, dan mereka juga tau siapa yang menjadi suaminya. Tidak perlu sampai menunjukkan kedekatan yang berlebihan.
Elvina langsung menyempatkan waktu untuk mengulas materi lagi sebelum ujian dimulai. Sampai kemudian ada yang menghampirinya yaitu Cheline.
“Kenapa, Chel?”
“Belajar mulu,”
“Iya biar bisa, nggak planga plongo nanti pas ngerjain,”
“Ah lo mah pasti bisa,”
“Aamiin,”
“Eh lo keliatan kurang tidur? Kerja rodi semalam? Atau ngapain?”
“Kerja rodi bukannya ada di zaman penjajahan ya? Di zaman sekarang emang masih ada?”
Cheline tertawa mendengar pertanyaan polos Elvina yang benar-benar menganggap kalau ‘kerja rodi’ yang diucapkan oleh Cheline itu adalah kerja paksa zaman penjahan. Padahal yang Cheline maksud adalah beda maknanya.
__ADS_1
“Kok ketawa, Chel? Emang ada yang lucu?”
“Iya lo lucu,”
Elvina langsung tersenyum dan berpose peace. Itu semakin membuat Cheline tertawa. “Anjir, yang kayak gini udah nikah? Nggak yakin gue,”
“Udahlah, masa nggak percaya? Kan kamu datang juga waktu itu,”
“Hahaha iya sih, tapi lo kenapa polos banget sih? Lucu banget lagi,”
“Makasih,”
“Yang gue maksud kerja rodi tuh bukan waktu zaman penjajahan, Elvina cantik,”
“Lah terus maksudnya apa dong, Chel? Aku masih belum paham,”
“Lo ngapain sama Pak Vano? ‘Kerja rodi’ ya? Masa nggak paham maksud gue sih?” Tanya Cheline sambil menekan dua kata yaitu ‘kerja rodi’ berharap kali ini Elvina paham karena Ia sudah menyebut Vano juga.
“Oh kerja rodi ‘anu’ maksud kamu?”
“Iyup betul! Jadi sekarang udah paham ‘kan kerja rodi yang gue sebut barusan?”
“Iya paham-paham,”
“Ish kamu ngomong apa sih? Aku semalam tuh belajar, Pak Vano nugas. Nggak tau deh dia nugas apaan, bikin materi sama data nilai kayaknya. Jadi nggak ada tuh ‘kerja rodi’ yang kamu maksud,” jelas Elvina pada Cheline supaya Cheline tidak salah paham lagi.
“Oalah gue kirain lo sama Pak Vano kerja rodi gitu, sorry deh kalau salah,”
“Hahaha nggak apa-apa, santai aja. Semalam kami berdua sibuk masing-masing, nggak ada tuh sibuk kerja rodi. Kamu jangan salah paham. Aku jadinya kurang tidur ya karena itu. Ih kamu julit ya,”
“Suka julit gue, apalagi sama anak muda yang udah nikah, mana sama dosen lagi. Ihiw, senang deh godain lo,”
“Jangan lagi plis. Aku malu tau,”
Cheline tertawa ketika pipi Elvina memerah. Elvina benar-benar malu ternyata. Terbukti dari hadirnya semburat kemerahan di kedua pipinya yang putih itu.
Cheline tidak mengganggu Elvina lagi. Cheline membiarkan Elvina belajar, dan Cheline pun demikian.
Sampai lima belas menit kemudian ujian pun dimulai. Elvina sudah pasrah saja. Walaupun Ia merasa baru belajar sedikit tapi ada kesiapan dalam dirinya.
“Semoga aja hasilnya nggak bikin malu,”
******
__ADS_1
“Paket apa itu, Dav?” Tanya Lisa pada Davina yang baru saja menerima paket.
“Ini baju buat Kak El sama aku. Aku belinya samaan, Ma,”
“Hah? Baju apa? Buat kemana?”
“Baju pergi sih, one set gitu ya nggak buat kemana-mana. Aku suka aja sama modelnya jadi aku beli deh,”
“Duh yang kompakan sama kakak iparnya, senang deh Mama. Kayak gitu terus ya,”
“Iya, Ma. Harus dong, aku ‘kan nggak punya kakak perempuan cuma laki-laki aja dan itu Bang Vano. Jadi Kak El itu ya kakak aku juga setelah nikahs ama Bang Vano,“
“Coba Mama mau liat bajunya dong boleh nggak?”
“Boleh banget,”
Davina langsung membuka paketan yang baru saja Ia terima. Dan di dalamnya sudah ada dua stel baju dan celana berwarna biru laut.
Davina segera membuka kemasannya dan Lisa langsung bisa melihat modelnya. “Wow cantik ya, cocok tuh buat kalian berdua,”
“Celana joger, dan cardigan. Ini untuk ********** aku lagi beli juga, cuma belum sampai,”
“Oh gitu, iya cantik ini, cocok buat kalian berdua,”
“Makasih, Ma. Semoga Kak El suka ya sama baju yang aku beli pakai uang jajan aku ini,”
“Hahaha jadi ternyata pakai uang jajan? Kirain minta sama Abang,”
“Nggak lah, Ma. Ini aku sengaja mau beliin pakai uang aku. Keseringan Kak El yang beliiin ini itu buat aku. Nah sekarang gantian,”
“Kak El juga paham kok. Kamu ‘kan masih sekolah, uang jajan aja masih dari Mama Papa. Ya wajar kalau belum bisa ngasih apa-apa. Beda cerita kalau misalnya udah punya penghasilan sendiri, Sayang,”
“Kali ini aku yang traktir Kak El,”
Davina sengaja memotret baju yang sudah Ia beli itu kemudian Ia kirimkan kepada Elvina yang masih berada di kampus.
“Kak El masih ujian ya?”
“Kayaknya, Sayang, emang kenapa?”
“Masih ceklis satu whatsapp dari aku karena data selulernya dimatiin kali ya?”
“Iya mungkin, Nak,”
__ADS_1
“Kayak aku dong, datang ke sekolah bentar abis itu pulang lagi karena ada acara guru-guru. Duh enak banget jadi aku,”