Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 161


__ADS_3

"Ayo datang, nggak enak kalau nggak datang,"


Vano melepaskan rangkulan tangan sang istri di lengannya dan menatap Elvina dengan kening mengernyit.


"Kenapa jadi ngajak aku? kamu yang diundang 'kan,"


"Tapi kamu ikut aku aja ayo. Kenapa? nggak mau?!" tanya Elvina dengan galak sebab suaminya kelihatan berat sekali ingin menemani dirinya ke acara anniversary orangtua Jona.


Elvina ingin menghargai saja karena sudah diundang. Tidak enak kalau Ia tidak datang ke acara itu.


"Kamu aja, aku nggak deh,"


"Ih katanya mau temenin aku. Jadi sekarang berubah pikiran?"


"Iya, aku nggak mau, males,"


Elvina berdecak kesal karena suaminya menolak padahal sebelumnya bersedia hadir untuk menemaninya.


"Ayo pergi juga, Mas. Biar aku siapin nih bajunya,"


Elvina bergegas ke lemari untuk menyiapkan pakaian yang tepat dikenakan ke acara anniversary orangtuanya Jona.


"Aku nggak jadi ikut. Males banget datang ke acara mantan calon mertua istri sendiri,"


"Ih kok ngomong begitu? itu udah lama banget, waktu aku masih sekolah, lagian emang ada larangan begitu ya?"


"Nggak ada sih tapi aku males aja, Sayang. Udahlah kamu nggak usah hadir,"


"Emang kenapa sih? 'kan biar aku ada temennya. Malah aku nggak enak kalau cuma sendirian, enakan ditemenin sama kamu,"

__ADS_1


Elvina masih memaksa sang suami agar turut serta menghadiri acara yang dilaksanakan oleh orangtua Jona.


Kalau Ia hanya pergi sendiri rasanya ada yang kurang. Lebih menyenangkan pergi berdua juga.


Vano menghembuskan napasnya kasar dan akhirnya Ia mengangguk. Elvina yang melihat suaminya tidak menolak lagi, langsung saja tersenyum lebar.


Elvina langsung mencarikan baju suaminya. Tadi niatnya ingin mencarikan busana untuk dirinya sendiri dulu, karena Vano masih memberikan penolakan.


"Cari baju yang biasa aja, nggak usah yang lebay,"


"Lah emang kapan sih aku pernah cari baju yang lebay? biasanya kamu nggak pernah protes tuh, kalau emang lebay pasti protes 'kan. Kamu juga selalu serahin urusan fashion kamu ke aku, sekarang malah ngomong begitu. Ya udah cari aja sendiri!" ujar Elvina dengan ketus. Ia sakit hati karena suaminya seolah menilai Ia tidak pandai mencarikan busana yang sesuai.


"Maksud aku nggak usah maksimal, karena itu acara nggak penting buat kita,"


"Eh kamu jangan ngomong begitu, nggak sopan bangt sih. Cari sendiri sana,"


"Nanti pake baju yang lebay lho, emang nggak takut aku suruh pakai baju yang lebay?" sindir Elvina membahas apa yang tadi sempat terlontar dari bibir suaminya itu.


Vano terbahak karena istrinya merajuk ternyata. Akhirnya Ia langsung mendekat pada Elvina dan meraih punggung tangan Elvina sekaligus menciumnya.


"Maaf ya, aku nggak semangat datang ke acara dia soalnya jadi aku nggak mau yang maksimal baget penampilannya. Kalau perlu baju tidur aja,"


"Itu yang namanya lebay! itu lebay nggak menghargai orang. Masa iya ke acara anniversary orangtua malah salah kostum pakai baju tidur padahal konsepnya nggak begitu, yang ada kamu diketawain tau,"


"Ada dress code emangnya?"


"Ya nggak ada, cuma 'kan kita harus mikir lah, nggak mungkin dong kita pakai baju tidur. Nggak sopan banget kalau kayak begitu,"


"Ya udah terserah kamu mau pakai baju apa tapi nggak usah maksimal intinya,"

__ADS_1


"Kalau ke acara orang harus pakai yang paling terbaik dari semua yang baik, Mas,"


"Ya nggak perlu lah, aku pakai kaos aja, Sayang,"


"Mas, kamu mending diem deh daripada ngoceh terus mana ocehannya nggak jelas banget. Kamu 'kan udah serahin urusan fashion ke aku, ya udah biar aku aja yang sibuk milih, nggak perlu campur tangan kamu, paham nggak?"


Vano langsung memasang sikap hormat dan membungkuk singkat sambil menjawab "Siap, Bu bos."


"Emang kenapa nggak mau maksimal?"


"Males, dia 'kan pernah jadi musuh aku. Dia pernah deketin kamu eh giliran tau aku suami kamu dan aku gimana orangnya baru deh dia jauh,"


"Ya tapi nggak begitu juga sikap kamu. Ini yang ngundang 'kan orangtuanya. Jadi kita harus sangat menghargai dong,"


"Mantan camer alias calon mertua nih,"


"Nggak pernah sampai ke situ omongannya, Mas. Kamu jangan aneh-aneh deh,"


Vano bergegas membaringkan badannya di atas ranjang sambil memperhatikan istrinya yang kini meletakkan pakaian di atas sofa.


"Nih bajunya ya," ujar Elvina yang sudah selesai menyiapkan pakaian untuk sang suami beserta celana dan kaos kakinya juga.


"Sayang, aku pakai apa?"


"Kemeja lengan pendek aja sama jeans, terus itu kaos kaki dipakai sama sneaker, jadi kesan santai ada, formal dikit-dikit juga ada,"


"Okay, aku pasti pakai itu," ujar Vano masih dengan posisi berbaring.


"Iyalah, kamu harus mau pakai, kamu harus hargain aku yang udah milihin baju untuk kamu,"

__ADS_1


__ADS_2