Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 103


__ADS_3

“Totalnya jadi seratus dua puluh ribu ya, Pak,”


Vano segera menyerahkan uang berwarna merah muda sebanyak dua lembar untuk membayar martabak yang dibelinya sebelum pulang ke rumah.


“Udah enggak usah,”


Vano melarang penjual menyerahkan uang kembalian. Vano lihat-lihat penjual martabak ini sepi pembeli. Lagipula sejujurnya uang segitu tak ada apa-apanya bagi Vano yang rekening dan dompetnya selalu terisi.


“Terimakasih ya, Pak,”


“Iya sama-sama,”


Vano segera bergegas ke mobil. Ia membuka pintu mobil dan meletakkan martabak di kursi sebelah kemudi. Kemudian barulah Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang wajar.


Vano harus rela sedikit dihalangi oleh kemacetan sebelum tiba di rumah sebab ini jam pulang kerja. Orang berlomba-lomba untuk tiba di rumah dengan cepat sehingga ketika lampu hijau menyala pun mereka sibuk berebut untuk jalan lebih dulu sehingga Ia harus sabar bergantian.


Perjalanannya menuju rumah sudah lancar tak ada macet sama sekali setelah Ia memasuki komplek perumahannya.


Ia menekan klakson dan membuka jendela mobil sedikit untuk menyapa penjaga portal komplek yang tersenyum dan memberi hormat padanya.


Vano akhirnya tiba di rumah dengan kelelahan yang luar biasa. Ia berhasil tiba di rumah sesaat sebelum adzan maghrib.


Ia disambut dengan Amih saja ketika tiba di rumah. Amih membukakan pintu untuknya dan langsung menawarkan minum untuknya namun Vano menggeleng.


“Enggak usah, biar Elvina aja nanti. Saya mau minta dibuatkan teh hangat. Dimana Elvina?”


“Ibu di kamar, Pak, tadi ketemu mertuanya Pak Vano yang datang,”


Vano mengangguk dan segera mengayun langkahnya menuju kamar untuk menghampiri Elvina.


“el,”


Vano mengetuk pintu kamar kemudian menekan tuas pintu yang ternyata tak dikunci. Ia mendapati sosok istrinya yang tengah duduk di tengah ranjang dan menunduk.


Elvina mengangkat kepalanya menatap Vano yang baru tiba. Vano terkejut ketika disambut dengan air mata istrinya yang langsung dihapus.


“Kamu kenapa nangis?”


Elvina tersenyum dengan tangan yang masih menghapus jejak air matanya. Vano segera meletakkan martabak di atas ranjang kemudian duduk di depan Elvina. Tangannya bergerak memberi usapan lembut di wajah Elvina.


“Kamu kenapa nangis? Apa yang bikin kamu sedih, El?”


“Enggak, aku enggak nangis,”


“Bohong! Orang jelas-jelas tadi aku lihat air mata kamu kok, abis itu langsung cepat dihapus sama kamu,”


“Aku enggak sedih, Mas,”


Vano berdecak karena Elvina yang tidak ingin jujur. Ia berdiri kemudian berkacak pinggang. Ia tidak suka Elvina yang menutupi masalahnya seperti ini. Vano bingung sekaligus khawatir. Ia tidak tahu apa-apa tentang hal yang sudah membuat istrinya sedih seperti ini.


Elvina jelas berbohong. Tadi Ia melihat Elvina menangis. Tapi Elvina segera menghapus air matanya. Ia baru pulang kerja sudah diperlihatkan dengan kesedihan istrinya lalu Elvina tidak mau jujur, akhirnya Ia jengkel sekarang.


“Kamu kenapa?”


“Enggak kenapa-napa,”


“Bohong terus! Aku enggak suka kamu bohong!” Bentak Vano di depan Elvina yang bahunya langsung terlonjak pelan.


“Kamu kenapa jadi marah? Aku ‘kan udah bilang kalau aku enggak nangis, jangan paksa aku untuk—-“


“Aku enggak suka lihat air mata kamu itu apalagi aku baru pulang kerja. Aku juga enggak suka dibohongi. Jadi cepat, jawab jujur! Apa yang udah bikin kamu sedih?”


Elvina masih belum mengeluarkan suaranya. Vano segera mendekati pintu kemudian memberi pukulan pada pintu yang tak salah apa-apa.


“Mas jangan begitu! Kamu bikin aku takut, kok pulang-pulang marah sih?”


“Kenapa sedih? aku tanya sekarang!”


Elvina menggelengkan kepala. Vano yang melihat itu mendengus kesal dan rahangnya masih mengetat hingga bentuknya semakin tegas.


“Tadi kata Amih, ayah bunda datang?” Tanya Vano yang diangguki oleh Elvina.


“Kamu nangis ada hubungannya sama mereka?”


“Enggak! Ih udah aku bilang kalau aku ini enggak nangis,”


Elvina mengalihkan perhatian Vano dengan membuka martabak yang Vano beli. Ia langsung menyantapnya tanpa basa-basi.


“Berarti benar kamu nangis karena ada hubungannya sama ayah bunda, iya ‘kan? Kamu dimarahi mereka atau gimana? Kok tumben nangis? Cerita sama aku, Elvina! Jangan bikin aku mendidih bisa enggak sih?”


Vano yang akhirnya banyak bicara sementara Elvina tetap saja sibuk mengunyah walaupun sebenarnya Ia tak bisa benar-benar menikmati apa yang tengah Ia santap sekarang ini.


“Kamu dinasihati terus kamu enggak terima makanya nangis? Iya begitu?”


******


“Gimana kabar kamu?”


Elvina tidak menyangka akan dikunjungi papa dan mamanya sekarang, disaat Vano belum pulang bekerja. Sehingga hanya Ia saja yang menerima kedatangan mereka.


“Alhamdulillah baik, Pa,”


Elvina segera meminta tolong pada Amih agar membuatkan minum untuk kedua orangtuanya yang saat ini bertamu ke rumahnya.


“Vano udah pulang ya?” Tanya Arman seraya menatap anaknya yang langsung mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya.


“Terus Vano belum pulang, Kak?” Bundanya ikut bertanya sambil mengamati sekelilingnya.


“Belum, Bun. Mas Vano belum pulang,”


“Gimana sama Vano? Udah lebih baik?”


“Iya, Yah. Setelah dia pulang, kamu enggak ada masalah lagi kok,”


Arman mengangguk singkat. Lelaki itu bersandar dengan satu kaki yang menumpu kaki lain dan menatap Elvina dengan tajam kali ini.


“Elvina, dengar ya, ayah enggak mau kamu cari-cari masalah lagi,”


“Siapa yang cari masalah, Yah?”


“Dengar dulu! Jangan jawab aja kamu. Ayah ini mau ngomong sama kamu jadi didengar sampai selesai bukan malah dijawab,”


Elvina menelan saliva nya gugup setelah mendapat teguran dari Arman yang kalau sudah menegur itu selalu saja membuat Ia segan.


“Vano udah pulang ke rumah, jadi jangan bertengkar lagi. Kamu itu harus pandai menilai diri sendiri. Kalau kamu salah, langsung minta maaf, bukan malah mengaku enggak salah atau keras kepala. Jadinya enggak bertengkar besar-besaran sampai suami kamu muak dan memutuskan untuk pergi dari rumah. Belajar dari kesalahan, Elvina,”


Kedatangan Arman dan Dini ke sini memang ingin bertemu dan bicara dengan Elvina secara langsung setelah mereka tahu dari Vano kalau Vano sudah kembali ke rumah. Elvina tidak memberi tahu apapun pada orang tuanya padahal itu yang mereka tunggu. Mereka ingin Vano kembali ke rumah bersama istrinya.


“Kalau Vano ada salah, ya tegur dia baik-baik, jangan dengan marah-marah seolah kamu enggak pernah punya salah, terus belajar hargai dia. Kamu itu selalu minta dipahami tapi enggak pernah bisa memahami perasaan orang. Ayah benci orang seperti itu, paham enggak?”


Elvina mengangguk, Ia tahu apa-apa saja yang tidak disukai oleh ayahnya. Orang yang egois itulah yang Arman benci. Mau menang sendiri, tidak mau dengar masukan dari orang lain. Itu Sakti dapatkan dari Elvina. Sebenarnya sudah sangat lelah menasihati anaknya itu tapi tak kunjung berubah menjadi lebih baik. Kesalahan yang sama diulangi terus.


“Ayah enggak mau lagi dengar kamu bertengkar sama Vano apalagi sampai salah satu pergi dari rumah. Jangan kamu pikir Ayah enggak ngomong kayak begini sama Vano juga. Ayah udah ngomong panjang lebar ke dia,”


“Vano masih lama pulangnya?”


“Enggak tau, Bun. Memangnya kenapa?” Suara Elvina serak sebab Ia menahan tangisnya. Entah, Ia malah mau menangis setelah ayahnya bicara seperti tadi.


“Enggak apa-apa,”


“Ayah bunda mau pulang,”


“Belum minum, Yah, Bun,”


Elvina menunjuk minuman di atas meja yang belum lama diantar oleh Amih. Minuman itu belum disentuh oleh orangtuanya.


Arman dan Dini segera menyeruput teh hangat yang dibuat Amih hingga tandas. Kemudian Elvina juga mengajak mereka untuk makan malam bersama namun keduanya menolak.


“Makan di rumah aja, kamu sering-sering ke rumah, makan di sana, ajak juga Vano,”


“Iya, Yah,”


Arman dan Dini beranjak dari sofa. Kemudian keluar dari rumah Elvina diantar oleh Elvina. “Pulang dulu ya, salam untuk Vano. Sering-sering ke rumah,”


“Iya, Yah,”


Elvina mencium punggung tangan mama dan papanya kemudian mereka berdua bergegas pulang.


Elvina menghembuskan napas kasar dan mengayun langkah menuju kamar. Di atas ranjang Ia menangis dalam diam.


Sebenarnya Arman sudah biasa bersikap tegas seperti itu namun entah mengapa kali ini Ia terlalu menyikapinya dengan berlebihan padahal Arman tidak salah, hanya ingin Ia berubah supaya pernikahannya tidak terancam bubar. Kalau masalah terus menerus hadir, pasti akan berakhir juga.


Vano pulang langsung terkejut mendapati Elvina yang menangis. Ia marah ketika Elvina berbohong saat ditanya mengapa menangis. Elvina tidak mengakui kalau Ia menangis.


“Kayaknya benar nih, kamu habis ngomong sama mama papa ya? Mereka nasihati kamu? Tapi kamu nya nangis?”


Elvina akhirnya mengangguk juga. Vano menghela napas kasar kemudian mencubit pipi Elvina dengan geram.


“Ya ampun, El. Kenapa malah nangis sih? Hah?!”


“Kamu jangan bentak aku dong, aku nangis malah marah-marah,”


“Ya habisnya kamu dari tadi bohong sama aku. Kamu bilang enggak nangis, tapi padahal kamu nangis, gimana aku enggak kesal coba?”


Vano mengusap-usap pipi Elvina dengan lembut kemudian mencium puncak kepala Elvina yang sudah berhenti menangis.


“Udah jangan nangis, makan martabak aja biar enggak sedih,”


“Sebenarnya aku enggak mau sedih karena papa ngasih tau aku tentang kebaikan tapi enggak tau aku malah cengeng banget, Vano,”


“Ya udah enggak apa-apa, perasaan kamu lagi sensitif banget kali,”


“Udah jangan pegang-pegang terus ah,”


Elvina mengusir tangan Vano yang masih saja mengusap pipinya. Vano mendengus, padahal Ia hanya tengah berusaha menenangkan Elvina, tapi Elvina malah bersikap seperti itu.


“Aku enggak suka lihat kamu nangis,”


“Enggak nangis lagi, ini udah berhenti nangisnya, bisa lihat ‘kan?”


Elvina menunjuk wajahnya yang hanya lengket saja, air matanya tak ada lagi. Vano mengangguk lega.


“Kamu mandi sana, bau!”


“Yee songong. Aku selalu wangi,”


“Dih emang iya?”


Vano segera merengkuh istrinya. Elvina yang berada dalam pelukan suaminya berontak minta dilepaskan.


“Mas, aku sesak!”


“Wangi ‘kan?”


Vano menyeringai puas setelah melepaskan Elvina. Perempuan itu mengangguk jujur kemudian tertawa.


“Orang aku cuma bercanda,”


“Biar aku buktiin juga supaya kamu enggak resek,”


“Iya-iya! Kamu selalu harum semerbak seperti taman bunga,”

__ADS_1


“Ya elah lebay kamu mah, enggak kayak taman bunga juga kali,”


“Mandi sana, jangan ngomong terus,”


“Aku mau makan mar—“


“Eh cuci tangan dulu!”


Elvina menepuk tangan suaminya yang akan mengambil martabak. Ia melotot menatap Vano yang tidak mencuci tangan padahal baru dari luar.


“Kamu juga tadi enggak cuci tangan langsung comot martabak nya,”


“Dih tangan aku nih bersih, enggak habis dari luar, kalau kamu?”


“Okay, aku ke kamar mandi dulu,”


“Sekalian ganti baju, Mas. Kalau memang belum mau mandi,”


“Mau langsung aja deh,”


Vano segera mengambil handuknya kemudian bergegas ke dalam kamar mandi meninggalkan Elvina yang langsung beranjak keluar dari kamar memindahkan martabak ke meja makan.


“Mih, ada martabak, makan, Mih,”


“Dibeli Pak Vano tadi ya, Bu?”


“Iya,”


“Suara Ibu kok agak beda? Kayak habis nangis, ibu habis nangis ya?”


Ternyata Amih menyadari kalau Elvina baru saja bersedih hati. Kedengaran dari suara Anatha yang sedikit beda dari biasanya. Dari suara saja sudah ketahuan kalau Elvina habis menangis, apalagi tadi Vano sempat melihat air mata Elvina. Tapi Elvina masih saja bisa berbohong. Bagaimana Vano tidak marah? Vano sedang lelah, terus dibohongi disaat Ia ingin benar-benar peduli. Vano tidak menyukai kesedihan istrinya.


“Enggak nangis, Mih,”


“Tapi suaranya beda ya, Bu, mungkin ibu mau pilek ya? Minum obat sebelum parah, Bu,”


“Enggak, tenang aja,”


Elvina duduk di meja makan mengajak Amih untuk makan martabak. Amih hanya mengambil satu buah setelah itu pergi ke dapur. Akhirnya Elvina sempat sendirian sebelum suaminya datang menghampiri.


“Mau makan malam di luar ‘kan? Jadi enggak, El?”


“Jadi, kalau kamu enggak capek. Tapi kalau kamu capek, enggak usah,”


“Ayo,”


Elvina mengangguk semangat. Setelah menangis, inginnya jalan-jalan. Tepat sekali Vano mengajaknya pergi.


“Martabak enggak dibawa, Sayang?”


“Enggak usah, ngapain? ‘Kan mau cari makan masa bawa-bawa martabak? Dimakan aja di rumah kalau martabak itu,”


“Oh begitu, ya udah,”


Vano sudah berbalik ingin kembali ke kamar, namun Ia baru sadar ada yang beda. Ia membalik badannya hingga berhadapan dengan Elvina. Bukan baju atau penampilan Elvina yang beda, tapi—


“Tadi kamu ngomong apa?”


“Aku tanya martabak enggak dibawa. Terus kata kamu enggak usah,”


“Panggil aku sayang ya? Apa aku yang salah dengar?”


“Memang iya? Aku enggak sadar,”


Vano tertawa lebar. Vano menggelengkan kepala tidak percaya. Sepertinya pendengarannya tidak salah. Elvina memang memanggilnya sayang. Tapi wajah Elvina nampak meyakinkan sekali kalau Ia tidak sadar memanggil Vano sayang.


“Iya kamu itu panggil aku sayang barusan,”


“Enggak tau, kamu dengar?”


“Dengar lah, aku enggak salah dengar pasti,”


“Enggak usah geer,”


“Halah, ngaku aja deh, kenapa panggil aku begitu? Tumben banget, biasanya panggil nama aja kok,”


“Kamu yang biasanya panggil aku begitu, Ken! Bukan aku,”


“Tapi aku udah enggak mau panggil kamu begitu,”


“Kenapa?”


“Enggak tau, males aja,”


“Oh pantes udah enggak pernah dengar lagi aku,”


“Nah berarti yang tadi itu beneran kamu panggil aku sayang, karena kamu mau kasih kode supaya dipanggil sayang lagi, ah gitu aja enggak ngaku,”


Vano pergi begitu saja meninggalkan Elvina yang mendengus. Elvina segera menyusul suaminya untuk berganti pakaian kemudian mereka pergi.


“Ambil sendiri? Tumben, biasanya selalu diambil sama aku,”


Elvina menyindir suaminya yang mengambil pakaian sendiri, tanpa meminta tolong padanya. Vano menoleh dan mengedipkan satu matanya pada Elvina.


“Aku udah biasa apa-apa sendiri sebenarnya,”


“Jadi aku enggak dibutuhkan lagi ya?”


“Ya enggak juga sih, aku tetap butuh kamu, bukannya bagus kalau aku mandiri?”


Elvina mengangkat bahunya tak menjawab. Agak aneh menurutnya ketika Vano tidak membutuhkan perannya lagi dalam mengambilkan baju untuk Vano.


“Jangan lama ya,” pesan Vano pada istrinya itu yang mengangguk. Tapi Vano yakin tetap saja lama. Menggunakan pelembab bibir lah, pelembab kulit, belum lagi menata rambut, pokoknya lama menurut Vano, tapi menurut Elvina cepat. Sebab Ia sudah berusaha untuk melakukannya secepat mungkin supaya Vano tidak protes dan terkadang jadi badmood untuk pergi.


“Mas, jalan pakai motor ya?”


“Kenapa? Mobil aja,”


“Aku mau pakai motor!”


“Yaudah biasa aja ngomongnya bisa nggak? Ngegas aja mbak nya,”


*******


"Mas, ada Tata datang,"


Elvina datang memanggil Vano yang tengah menata rambut di depan cermin. Vano meliriknya sekilas kemudian dengan seenak hati menyahuti, "Usir aja lah,"


"Hah? Kenapa diusir?"


"Mau ngapain dia?"


"Mau ngajakin aku jalan-jalan aja sih, kayak biasanya,"


"Ya udah ngapain ngomong ke aku?"


"Cuma kasih tau aja, aku boleh pergi sama dia, Mas?"


"Boleh, kapan aku pernah larang sih, El? Perasaan enggak pernah deh,"


Vano selesai bersiap kemudian keluar dari kamar. Benar apa yang dikatakan istrinya. Ada Tata, sebagai tamu yang datang ke rumah mereka pagi ini.


"Ngapain datang sih? Ganggu aja pagi-pagi,"


"Lah gue mah ke sini datengin Elvina, bukan lo! Sorry nih ya,"


Tata menatap Vano dengan jengkel. Bukannya disambut baik sebagai tamu, ini malah disambut dengan tidak sopannya. Hanya Vano yang berani memperlakukannya seperti itu. Untungnya Ken teman baik.


"Iya ngapain datengin istri gue?"


"Mau ngajak jalan lah,"


"Ya 'kan bisa dari telepon, atau chat kek,"


"Udah, tapi Elvina enggak baca-baca chat gue, dari semalam,"


"Sorry ya, Ta. Aku enggak buka-buka handphone setelah makan malam. Begitu sampai rumah langsung tidur," ujar Elvina menjelaskan dengan perasaan tidak enak karena sudah mengabaikan pesan dan panggilan dari Tata.


"Iya enggak apa-apa, gue maafin kok, El,"


"Terserah deh mau ngajakin Elvina kemana, asal dibawa balik aja ya, jangan lo culik terus lo makan, bahaya banget, ntar gue sama siapa?"


"Alay, najis!"


"Tata, minum dulu,"


Amih datang membawa minuman untuk Tata, dan Elvina langsung mempersilakan teman suaminya itu untuk menikmati minum. Kemudian Elvina mengikuti jejak Amih ke dapur untuk menyiapkan sarapan Vano.


"Ibu, itu temannya Pak Vano ya?"


"Iya, Tata namanya. 'Kan udah beberapa kali ke sini, Mih,"


"Iya, ibu ngapain di sini atuh? Di depan aja sama Pak Vano dan tamu,"


Elvina terkekeh karena keberadaannya diprotes oleh teman dekatnya kalau di rumah. Padahal apa salahnya Ia di dapur? Memang biasanya seperti itu.


"Ibu, di depan aja temani Pak Vano,"


"Kenapa harus ditemani sih, Mih? Orang dia bukan anak kecil,"


"Ibu, 'kan lagi ada tamu, jadi mending Ibu di depan aja ngobrol sama tamu,"


"Amih aneh deh,"


Amih langsung mendekat pada Elvina dan berbisik,"Hati-hati sama teman suami, Bu,"


Elvina langsung mengerjapkan matanya bingung. Ia tak paham maksud Amih apa. Amih menghela napas kasar karena Elvina bingung dengan kalimatnya.


Menurut Amih akan lebih baik Elvina lebih waspada dengan temannya Vano. Hati manusia siapa yang tahu. Perempuan dan laki-laki yang murni berteman itu sangat jarang ditemui. Bukan Amih curiga pada Vano, tapi justru pada temannya Vano. Ia percaya kalau Vano tidak akan macam-macam.


"Ibu udah sering dengar omongan orang tentang pelakor belum? Nah itu, harus waspada, jangan sampai suami diambil pelakor,"


Tawa Elvina pecah mendengar ucapan Amih yang sepertinya kelewat waspada. Ia yang istri Vano saja santai, tapi Amih justru sebaliknya. Meminta Ia agar lebih waspada.


"Enggak lah, Tata itu memang temannya Vano, Mih,"


"Iya, Bu. Pak Vano hanya anggap dia teman, tapi enggak tau sama dia. Barangkali dia anggap Pak Vano lebih dari teman 'kan?"


"Ih jangan mikir buruk, enggak baik, Mih,"


"Bu, waspada itu perlu. Bukannya mau mikir yang buruk atau nuduh, tapi daripada hal yang enggak diinginkan terjadi, mending waspada dari awal. Iya 'kan?"


"Mas Vano enggak mungkin berkhianat, tenang aja,"


"Pak Vano mah setia sama Ibu, saya yakin banget. Tapi enggak tau gimana isi hatinya tamu Ibu sekarang,"


Suara seseorang berdehem membuat keduanya berhenti berbincang. Vano datang dan menatap mereka berdua dengan datar.


"Ngobrolin apa sih?"


"Hah? Enggak, soal politik, biasalah,"

__ADS_1


Amih menahan tawa mendengar ucapan Elvina. Jelas saja Vano sulit percaya. Sejak kapan mereka berdua suka membahas politik? Rasanya baru kali ini Vano tahu.


"Kamu kenapa di sini sih? Ayo lah sama aku di depan, ajak ngobrol Tata. Jangan cuma aku aja yang ladenin dia ngoceh,"


******


“Mas, bisa tolong jemput aku enggak?”


Setelah pergi dengan laki-laki lain, Elvina minta dijemput oleh Vano. Suaminya itu terkekeh sinis. Bisa-bisanya Elvina bersikap seperti itu.


“Tadi kamu izin sama aku untuk pergi sama Jona ‘kan? Karena kata kamu bosan di rumah, terus mau pergi juga sama teman kamu yang satu lagi tapi nyatanya dia enggak jadi. Ya udah pulang aja sama Jona, ‘kan gampang, El,”


Elvina menoleh pada Jona yang berjalan di sampingnya. Elvina malu kalau Jona sampai dengar jawaban suaminya.


Ya ampun, Vano tidak mau menjemputnya. Kenapa bisa seperti itu? Biasanya juga selalu mau bila Ia meminta tolong.


“Kamu kok gitu sih?”


Elvina mengambil jarak dengan Jona dan berbisik marah pada Vano di telepon. Jona tak sadar Ia memelankan langkahnya hingga Ia ada di belakang Jona dan Jona berjalan di depannya dengan mata yang sesekali fokus dengan ponsel kemudian menatap ke depan.


“Ya memang kenapa? Kamu minta tolong sama aku untuk jemput kamu setelah kamu pergi sama cowok lain. Aku males banget, El, lagian aku sibuk, maaf ya, pulang aja sendiri,”


Sesekali Vano harus memberi pelajaran untuk istrinya itu. Ia memang berkata tidak ingin cemburu dan tidak mau peduli Elvina dekat dengan siapa saja tapi yang namanya suami pasti ada rasa gerah ketika tahu istrinya dekat dengan yang lain. Setelah pergi berdua, Elvina minta tolong dijemput dengannya. Dada Vano makin mendidih rasanya.


Elvina menggertakkan giginya kesal. Vano sangat keterlaluan menurutnya. Padahal apa sulitnya tinggal jemput di restoran, karena Ia habis pergi dengan yang lain? Vano sendiri yang mengizinkan. Kalau tidak suka mengapa baru sekarang? Setelah Ia sudah akan pulang. Padahal katanya silakan pergi dengan siapa saja. Ia senang mendengar itu. Tapi ketika minta tolong untuk dijemput, Vano malah kedengarannya jengkel.


“Lo jadi bal— lah kemana ini orang?” Jona akan bertanya pada Elvina yang sebelumnya berjalan di sampingnya. Tapi sekarang malah tak ada. Akhirnya Ia menoleh ke belakang dan rupanya Elvina ada di belakangnya tengah menatap ponsel.


“Eh, El!”


Elvina menatapnya dan segera menyamakan langkah sambil menyimpan ponselnya di dalam tas setelah memastikan pesannya telah terkirim untuk Vano.


-Kalau kamu kesal aku jalan sama Jona, harusnya kamu ngomong dari awal. Jangan kasih izin ke aku terus akhirnya malah sewot-


“Lo jadi balik sama Vano enggak?”


“Enggak jadi, dia lagi enggak bisa diganggu kerjaannya, jadi gue balik sendiri aja,”


“Ya sama gue aja, emang kenapa mau sendiri?”


“Takut ngerepotin lo,”


“Ya enggak lah, El. Sama gue aja baliknya, let’s go!”


*****


Vano tersenyum sinis membaca pesan dari istrinya. Kalau Ia tidak beri izin, nanti Elvina kesal, makanya Ia beri izin. Tapi harusnya Elvina tahu kalau Ia tidak suka dengan Jona, Ia pikir Elvina tidak jadi pergi sekali pun Ia mengizinkan, tapi ternyata tidak.


Sekarang Elvina malah terkesan menyalahkan dirinya. Padahal kalau bisa berpikir, harusnya Elvina lah yang salah karena masih saja tidak bisa paham perasaan suami.


“Enggak berubah juga, masih aja enggak bisa hargain gue sebagai suaminya,”


Vano mengeratkan genggaman tangannya terhadap ponsel dengan rahang mengetat hingga bentuknya kian tegas.


*****


“Elvina yang sebelumnya ingin pulang ke rumah merubah keinginannya. Ia minta diantar oleh Jona ke kantor suaminya.


“Lo ngapain ke tempat kerja suami lo, El? Lo mau ikutan kerja?”


“Ya emang kenapa gue enggak boleh ke kantor suami gue?”


“Ya bukan enggak boleh sih, cuma bingung aja, bukan langsung pulang malah ke kantor Ken,”


“Ya emang kenapa sih?! Ribet banget lo nih,”


“Astaga orang cuma nanya doang, galak banget lo,”


“Gue enggak mau ikutan kerja, cuma mau nyantai aja,”


“Bukan nyantai kalau lo mah, tapi ganggu. Kalau mau nyantai itu di rumah, bukan di kantor,”


“Biarin lah, suka-suka gue,”


Jona segera menyuruh Elvina turun dari mobilnya setelah mobil tiba di area parkir kantor Vano.


“Thanks ya udah traktir lagi,”


“Yoi, sama-sama,”


“Enggak usah sering-sering,”


“Emang kenapa?”


“Enggak apa-apa sih, gue yang enggak enak,”


“Ya elah santai aja kali,”


Elvina membuka pintu mobil dan segera bergegas ke ruangan suaminya dengan melenggang santai.


Vano tidak tahu kalau Ia datang ke kantor Vano. Lelaki itu mungkin akan terkejut, tapi yang Elvina khawatirkan, Vano tak ada di kantor sekarang.


“Pak Vano ada ya di ruangannya?”


“Baru aja keluar, Bu. Baru beberapa menit yang lalu,”


Bahu Elvina lesu meluruh ke bawah. Rupanya yang Ia takutkan benar terjadi. Vano tak ada di kantornya sekarang.


“Kemana?”


“Ada urusan dengan rekannya, Bu,”


“Oh begitu, terimakasih ya,”


“Sama-sama, Ibu. Silakan ditunggu saja, akan saya hubungi Pak Vano,” ujar sekretaris suaminya itu. Namun Elvina melarangnya. Elvina tidak ingin membuat Vano buru-buru kembali ke kantor. Barangkali setelah tahu Ia di kantor, Vano jadi cepat-cepat ke kantor sebelum urusannya selesai.


“Enggak perlu ditelepon, nanti juga pasti kembali ke sini ‘kan,”


“Baik, Bu. Saya enggak jadi hubungi Pak Vano. Ibu tunggu di dalam ruangan Pak Ken aja, mari saya antar,”


Elvina mengangguk, dan Ia segera mengikuti langkah kaki perempuan di depannya yang membawa Ia ke ruangan sang suami.


Yang biasanya disambut hangat oleh si pemilik ruangan, sekarang Elvina hanya disambut dengan kesunyian saja.


“Saya permisi keluar ya, Bu,”


“Iya, terimakasih,”


Elvina duduk mengamati suasana di dalam ruang kerja Vano yang nyaman sekali. Bahkan Ia terlena untuk tidur.


Elvina memejamkan mata dengan posisi duduk bersandar di sofa. Tanpa disadari Ia akhirnya tertidur. Kurang lebih tiga puluh menit Elvina terlelap kemudian Ia terbangun dan Vano belum sampai kantor juga.


Elvina tak bisa lanjut tidur lagi. Akhirnya Ia beranjak mengelilingi ruangan Vano. Ia juga duduk di kursi kerja suaminya itu menghadap laptop dan juga dokumen yang tersusun di atas meja.


Tak ada kerjaan akhirnya memilih untuk mengobrak-abrik laci meja Vano. Hanya ada kertas-kertas tentang pekerjaan yang Ia temui.


“Buset, enggak ada yang lain apa? Kerjaan muluk yang gue lihat,”


“Ternyata Vano simpan ini,”


Elvina mengamati satu persatu foto yang Ia temukan di laci meja nomor tiga milik Vano. Rupanya Vano suka menyimpan potret-potret tentang mereka.


Elvina terlonjak kaget mendengar pintu ruangan dibuka. Ken masuk ke dalam ruangan dengan kening mengernyit. Ia tidak mengerti kenapa Elvina datang ke kantornya. Tadi Ia terkejut mendengar dari sekretarisnya bahwa ada sang istri yang datang ke kantor.


“Kamu ngapain ke sini?”


“Enggak boleh?”


“Aneh aja, tadi abis ngomel-ngomel di chat, terus sekarang datang ke sini,”


“Aku pengin aja ke sini,”


“Pulang sana, enggak ada kepentingannya di sini,”


Elvina menatap Vano tak percaya. Barusan suaminya mengusir? Astaga, seperti dipukul-pukul ulu hatinya ketika mendengar Vano meminta Ia pergi karena tak ada kepentingan di kantornya.


“Kamu ngusir aku, Mas?”


“Iya,”


“Kenapa sih? Kok kamu kayak badmood gitu sama aku? Emang aku salah apa?”


“Masih tanya salah apa? Ya ampun, enggak ada ingatan lagi kamu tuh ya? Hah?”


“Kamu aneh, kalau memang enggak suka aku pergi sama Jona, ya udah jangan kamu kasih izin,”


“Ya harusnya kamu mikir dong, kenapa kamu tetap pergi? Mentang-mentang aku kasih izin. Udah tau suaminya enggak suka, eh masih juga jalan, kamu itu kayak enggak punya hati, El. Enggak bisa paham juga perasaan aku ya?”


“Udah lah, enggak usah ngomel terus. Aku ke sini bukan karena mau diomelin, tapi karena aku—-“


“Aku bilang pulang ya pulang! Ngapain ke sini? Malah bikin ribut aja. Pulang sana! Mending juga di rumah. Heran aku, sukanya kelayapan terus,”


Vano tidak suka istrinya datang dengan niat cari ribut. Harusnya kalau mau membahas soal Jona tidak di sini.


“Kamu jahat banget ngusir aku, Mas,”


“Enggak usah drama, daripada kita ribut di sini karena perkara Jona dan kamu malah seolah menyalahkan aku, lebih baik kamu pulang aja,”


“Ya memang kamu yang salah. Enggak usah izinin aku harusnya,”


“Kamu yang enggak bisa mikir! Udah tau enggak ada suami yang suka istri jalan sama laki-laki lain, kamu malah tetap aja jalan. Sekali pun aku kasih izin harusnya bisa mikir dong. Hargai juga perasaan aku gimana, ini mah enggak, merasa bodo amat aja,”


Elvina bergerak meninggalkan meja kerja suaminya. Vano berdecak melihat Elvina mengeluarkan foto-foto yang Ia simpan.


“Kamu ngapain sih berantakin laci aku? Pasti berantakan sekarang karena kamu keluarin foto-foto ini,”


Vano meraih foto yang ada di tangan istrinya dengan kasar kemudian Ia kembalikan lagi ke tempatnya.


“Memang kenapa? Enggak boleh aku lihat?”


“Kamu enggak usah cari tau,”


“Aku tadi tuh bosan makanya lihat-lihat terus aku ketemu sama itu. Ternyata kamu masih simpan,”


“Masih lah, aku menghargai setiap momen yang ada. Kamu belum tentu ‘kan,”


“Mulai nyindir lagi, nanti giliran aku ladenin, kamu enggak terima,”


Elvina akan keluar dari ruangan Vano tetapi Vano memanggilnya. “Mau pulang?” Tanya lelaki itu padanya.


“Iya! ‘Kan kamu ngusir aku barusan. Terus aku harus apa selain pulang?”


“Ya udah, hati-hati,”


“Enggak ada niat untuk antar gue pulang gitu ya? Ya ampun, Ken benar-benar berubah banget. Dia makin nyebelin!”


Elvina bergegas keluar dari ruangan Vano dan menutup pintunya dengan kasar. Vano yang melihat itu terkejut dan marah, tak sengaja Ia membentak Elvina yang masih ada di depan pintu ruangannya.


“ELVINA!”


Beruntung Vano hanya mengeluarkan nama saja, bukan kalimat-kalimat yang bisa membuat Ia merasa bersalah nantinya setelah Ia lontarkan pada Elvina.

__ADS_1


__ADS_2