
-Kamu kemana aja sih? Kok enggak hubungi aku seharian ini?-
Geraham Elvina beradu satu sama lain begitu membaca pesan yang masuk ke ponsel Ken sekarang.
Vano tengah di kamar mandi, dan ponselnya menyala juga bergetar. Ia yang penasaran akhirnya meraih ponsel Vano. Ada panggilan dan pesan masuk dari nomor yang sama.
Elvina menghembuskan napasnya dengan kasar. Dari sini Ia semakin yakin kalau Vano itu selingkuh di belakangnya. Seharusnya kalau mau main-main, jujur saja. Jangan bersembunyi seperti ini.
“Kamu bohong, Mas. Katanya enggak selingkuh, ternyata apa? Jelas-jelas ini selingkuhan kamu,”
Elvina bisa melihat nama Delila lagi di ponsel Vano. Kalau sekedar teman, kenapa Delila harus bicara seperti itu di pesan, seolah saling berkabar adalah hal yang biasa mereka lakukan. Dan kalau cuma teman, kenapa harus terus saling berkabar? Ia dengan Vano yang suami istri saja tidak seperti itu.
Vano keluar dari kamar mandi dan Elvina langsung meletakkan ponsel suaminya ke nakas lagi.
“Ada yang telepon dan chat kamu tuh,”
“Siapa?”
“Liat aja sendiri,”
Vano segera meraih ponselnya untuk melihat pesan dan panggilan yang dimaksud Elvina. Setelah melihat pesan yang baru masuk itu telah dibuka sebelumnya, Vano langsung menatap Elvina. Pasti Elvina yang telah membuka pesan itu.
“Ngapain sih kamu buka-buka handphone aku? Harusnya kalau udah tau ada chat atau telepon langsung kasih tau aja, nggak usah penasaran, ternyata malah udah kamu buka duluan,”
“Emang kenapa? Terserah aku lah, aku berhak tau isi handphone kamu, Mas,”
“Lah aku aja enggak pernah lagi buka-buka handphone kamu,”
“Ternyata benar kamu selingkuh dan nama selingkuhan kamu itu Delila. Benar ‘kan? Dia yang ketemu kamu waktu itu ya? Jujur aja sama aku cepat!“
“Selingkuhan darimana? Dia cuma ngomong begini aja udah langsung bikin kamu mikir—“
“Terus kamu pikir wajar dia ngomong kayak gitu ke kamu? Kalian ternyata udah biasa saling berkabar. Makanya dia ngerasa kehilangan kamu hari ini karena seharian ini kamu sama aku, dan enggak ngabarin dia,”
“Udah deh, enggak usah ngomong yang aneh-aneh,”
“Kamu itu keterlaluan busuknya ya, Mas! Selalu aja jadi orang yang seolah-olah paling suci, dan aku yang selalu salah. Nyatanya tukang selingkuh!”
“Ya terserah kamu lah mau nganggap aku gimana,”
Karena seharian ini Vano dengannya dan memang jarang mengutak-atik ponsel, rupanya selingkuhan Vano kesal. Buktinya dia sampai menelpon dan mengirim pesan yang menandakan bahwa Ia merajuk.
“Tuh udah enggak bisa ngelak apa-apa, makanya diam aja, terima yang aku omongin karena emang kenyataannya begitu. Iya ‘kan?”
“Apaan sih? Kamu enggak jelas banget nuduh-nuduh aku terus,”
“Ya itu apa?! Buktinya udah jelas! Kamu masih mau ngelak? Hah?”
Elvina meraih ponsel suaminya dan Vano langsung merampasnya. Ia tidak suka Elvina yang meledak-ledak begini.
“Kamu aneh tau enggak? Aku enggak pernah lagi mau ngurusin soal urusan pribadi kamu, tapi kamu apa? Kenapa jadi begini sekarang? Biasanya juga enggak mau peduli apapun tentang aku,”
“Tapi aku istri kamu, jadi wajar ‘kan kalau aku—“
“Sekarang aja ngomong istri, kemarin-kemarin kemana aja? Kamu istri aku ‘kan? Itu barang-barang dari masa lalu kamu mending dibuang deh, katanya istri aku, tapi masih aja simpan barang dari mantan, mana foto juga masih disimpan, kamu istri aku apa bukan sebenarnya?”
“Lho? Kamu biasanya enggak permasalahin itu,”
“Karena kamu udah mulai ngusik urusan aku,”
“Okay, aku bisa buang itu sekarang. ‘Kan cuma boneka, baju, tas, sepatu, sama jam aja,”
“Ya udah buang sana!” Tantang Vano yang tidak yakin kalau Elvina akan benar-benar melakukannya. Sampai sekarang Elvina itu masih mempertahankan barang dari Rendra. Iya, dari Rendra.
Pernah Vano suruh buang, tapi dia tidak bersedia. Sudah ada yang pernah Vano musnahkan dan malah berakhir kisruh. Maka dari itu Vano tidak lagi menyuruh Elvina untuk membuang atau memusnahkan kenangannya karena setelah Ia pikir-pikir untuk apa juga.
Mau sebanyak apapun barang dari mantan yang masih disimpan Elvina tidak masalah bagi Vano asalkan Elvina sudah bisa memastikan bahwa seluruh perasaannya hanya untuk Vano.
Vano terkejut begitu melihat Elvina mengeluarkan semua barang-barang kesayangannya dari mantan kekasih.
Masih banyak rupanya, dan itu semua disatukan Elvina ke dalam kotak. Vano sampai tidak habis pikir. Elvina benar-benar terjebak dalam masa lalunya. Tapi sekarang malah meledak-ledak menuduhnya selingkuh seolah takut kehilangannya. Aneh, Elvina aneh sekali sampai Dio merasa bingung.
“Mau kamu apain itu semua?”
“Ya aku buang lah, itu yang kamu mau ‘kan?”
“Enggak usah kalau masih sayang mah. Nanti ngamuk ke aku. Percuma juga buang-buang itu semua kalau kamu masih belum cinta sama aku. Simpan aja itu sampai bulukan,”
“Supaya kamu tau kalau aku ini juga serius belajar cinta sama kamu,” ujar Elvina yang membuat Vano terdiam beberapa saat. Wajah Elvina menggambarkan betapa menggebu-gebu nya Ia ingin membuktikan keseriusan itu.
“Maksud kamu apa, El?”
“Iya! Aku benar-benar serius mau belajar mencintai kamu. Cara ini bisa membuktikan keseriusan aku,”
“Udah aku bilang percuma kalau hati dan pikiran kamu itu bukan untuk aku tapi yang lain. Percuma aja mau musnahin barang-barang itu karena yang jadi masalah sekarang ini adalah hati kamu yang enggak bisa terima aku, apalagi cinta sama aku kayaknya nggak mungkin banget,”
“Tapi aku ‘kan mau benar-benar belajar,”
Vano mengikuti Elvina yang membawa kotak berukuran lumayan besar keluar dari kamar dengan langkah cepat. Vano penasaran dengan apa yang akan dilakukan istrinya itu. Benarkah dia mau memusnahkan barang-barang yang diberikan mantan kekasihnya? Vano tahu itu semua berarti untuk Elvina tapi entah mengapa malah mau dimusnahkan hanya untuk membuktikan keseriusannya kali ini dalam belajar untuk mencintai dirinya.
“Ibu, itu mau dibawa kemana atuh?”
Elvina tidak menjawab pertanyaan Amih yang kebetulan berpapasan dengan Elvina yang melangkah menuju taman.
“Elvina, kamu mau apakan? Dibuang?”
__ADS_1
“Bakar kalau perlu,”
“Tapi bukannya sayang?”
“Lho? Dulu ini yang kamu mau ‘kan? Sekarang aku mau lakuin itu kenapa kamu kayaknya keberatan?”
“Aku bukan keberatan cuma bingung aja. Ngapain kamu ngelakuin ini? Aku aja udah enggak pernah lagi nyuruh kamu lupain masa lalu kamu, dan musnahin barang-barang kamu ini,”
Elvina dan Dio itu suka sekali bertukar hadiah. Love language mereka adalah saling memberikan kado. Random saja, tidak hanya ketika ulang tahun, monthsary, atau anniversary. Kapan saja mereka mau, maka akan saling bertukar kado. Tidak heran kalau barang mereka itu lumayan banyak.
“Kamu enggak usah lakuin ini. Simpan aja,”
“Kenapa kamu ngomong begitu?”
“Ya karena untuk apa?”
“Biarin! Aku bakal musnahin semuanya,”
Elvina melempar kotak itu ke atas rumput taman. Ia mengambil korek api dari dapur untuk membakar semua barang-barang itu.
“Anatha, kamu yakin? Aku enggak mau kamu salahkan setelah ini ya!”
“Aku bakal nyalahin kamu? Kata siapa?”
“Kamu kenapa jadi begini? Aku bingung, serius. Sebenarnya kamu kenapa? Kamu udah mulai cinta sama aku ya?”
Vano mengaitkan kejadian tadi dimana Elvina seperti orang yang tengah cemburu dengannya setelah mengetahui bahwa ada perempuan lain yang menghubunginya, lalu setelah itu Elvina punya niat untuk membakar barang-barang dari Dio katanya untuk membuktikan bahwa Ia ingin serius belajar mencintai Vano.
Elvina menyalakan korek api kemudian mulai membakar apa yang ada di depan matanya sekarang.
Setelah itu Elvina menepuk-nepuk tangannya singkat dan menatap Vank dengan puas. Ia tersenyum miring.
“Aku kalau udah ngomong bakal bener dilakuin, sekarang terbukti ‘kan? Kalau aku bilang aku mau benar-benar belajar cinta sama kamu, artinya aku serius. Dan aku boleh minta sesuatu sama kamu enggak? Berhenti main-main di belakang aku!”
“Serius, aku enggak main—“
“Kamu bohong! Kamu itu bohong! Kamu pikir aku percaya sama omongan kamu? Aku itu udah lihat semua buktinya. Kamu lagi dekat sama perempuan lain,”
“Ya udah lah terserah kamu. Aku males tarik urat terus sama kamu, serius,”
Vano melangkah meninggalkan taman. Elvina langsung berjalan cepat menyusul Vano. “Jangan pergi dulu, Mas!” Ia berseru memanggil Vano.
“Mas!”
Elvina memeluk Vano dari belakang. Membuat Vano langsung membeku di tempatnya. Elvina tiba-tiba memeluknya erat, ada apa sebenarnya? Barusan marah-marah.
“Kamu kenapa sih?”
Vano membalik badannya. Ia menatap istrinya dengan kening mengernyit. Ia benar-benar tidak paham dengan Elvina sekarang.
“Udah jujur, El,”
“Aku mau belajar cinta sama kamu, Mas. Terus kenapa kamu selingkuh? Hah?”
“Aku enggak selingkuh, Astaga,”
“Mas, tolong jangan bikin aku kecewa. Aku udah pilih kamu masa kamu mau ninggalin aku, Mas?”
Vano menahan senyumnya mendengar ucapan Elvina. Hatinya menghangat, ada rasa senang ketika Elvina bicara seperti itu. Semoga saja benar, Elvina benar-benar cinta dengan dirinya tidak lama lagi.
Sikapnya berubah, menggambarkan kalau Elvina memang ingin serius fokus dengan dirinya. Vano tersenyum dan mengecup singkat keningnya.
“Semoga bener ya,”
“Bener apa?”
“Aku tanya sama kamu, bener-bener mau fokus sama pernikahan kita?”
Elvina diam sesaat dan menatap Vano. Lelaki itu mengangkat satu alisnya bertanya jawabannya sekarang.
“Ayo jawab dong. Masa aku tanya enggak dijawab?”
“Iya, buktinya aku enggak mau lagi punya barang-barang masa lalu aku,” ujar Elvina dengan lugas. Vano tersenyum lega mendengar ucapan istrinya. Ia senang, benar-benar senang sekarang. Tapi tidak begitu memperlihatkan saja karena sudah sering dikecewakan. Semoga kali ini Elvina benar-benar serius dengan ucapannya. Ia harap Elvina bisa mencintainya dalam waktu dekat dan kehadirannya bisa dihargai.
“Kamu enggak perlu khawatir. Aku enggak main-main di belakang kamu kok,” ujar Vano setelah itu Ia mencium singkat bibir Elvina dan melanjutkan langkahnya.
*********
“Kamu mau kemana sih? Kok rapi banget terus wangi banget lagi, Mas,”
Elvina bingung kenapa Vano sore ini tampil rapi. Biasanya kalau sudah mandi sepulang kerja, Ken akan berpenampilan santai dengan celana pendek dan t-shirt nya. Sekarang mengenakan kemeja lengan pendek dengan celana panjang.
“Aku mau pergi,”
Jelas saja Vano ingin pergi. Elvina tahu itu karena tidak mungkin Vano hanya diam saja di rumah ketika sudah berpenampilan seperti itu.
Yang Ia pertanyakan sekarang adalah, mau kemana lelaki itu? Dan ada urusan apa?
“Aku mau ke acara anniv temen aku, El,”
“Oh, sekarang?”
“Ya iya dong, kalau besok kenapa aku siap-siapnya sekarang?”
“Kamu tumben enggak ajak aku, Mas,”
__ADS_1
“Aku pengen datang sendiri aja, teman-teman yang lain juga begitu. Enggak apa ‘kan kalau aku enggak ajak kamu?”
Elvina diam sesaat mengamati wajah Vano kemudian turun ke sekujur tubuh suaminya yang terbalut sempurna dengan pakaian formalnya.
“Kenapa ngeliatin aku begitu? Aku ganteng banget ya?”
Elvina memutar bola matanya. Bukan tampan, tapi Ia sedang ragu percaya atau tidak dengan suaminya. Semenjak mengetahui Vano waktu itu membohonginya, Ia sulit percaya pada lelaki itu. Memang benar kata orang, sekalinya berbohong akan sulit dipercaya.
“Beneran ada acara anniv teman ya?”
“Beneran dong, aku mana mungkin bohong? Kamu enggak percaya?”
Elvina menganggukkan kepala jujur. Ia memang tidak percaya, sulit sekali. Bawaannya curiga terus kalau melihat Vano sudah berpenampilan beda.
“Ya terserah kamu sih kalau kamu enggak percaya. Yang penting aku enggak bohong. Aku pamit pergi dulu ya,”
“Pulang cepat banget, sebelum jam tiga udah sampai rumah eh enggak taunya karena mau ada acara,”
“Iya, emang kenapa? Setelah aku pergi, kamu mau aku ajak kemana?”
Elvina menggelengkan kepalanya. Ia tidak minta diajak kemanapun, Ia hanya tengah menyindir Vano saja. Ternyata karena ada maksud makanya pulang cepat sekali dari jam biasanya.
Elvina mengantar suaminya hingga tiba di depan pintu rumah. Vano mengulurkan tangan karena pikirnya Elvina ingin mencium punggung tangannya tapi Elvina hanya diam saja tidak menerima uluran tangannya.
“Ya udah,” kata Vano yang tidak mempermasalahkan sikap istrinya.
“Hati-hati,” pesan Elvina sesaat sebelum suaminya melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Elvina kembali memiliki keinginan untuk membuktikan rasa curiganya terhadap Ken. Ia memutuskan untuk mengikuti Vano lagi.
Ya, tidak ada keraguan dalam diri Elvina untuk mengekori suaminya itu. Ia benar-benar ingin tahu apakah benar Vano hadir ke acara anniversary temannya atau justru malah punya tujuan lain.
“Bu, mau kemana?”
Amih bertanya pada Elvina yang berjalan cepat dengan menjinjing tas juga kunci mobil di tangan sembari menuruni anak tangga dengan tergesa.
“Aku mau pergi sebentar, jaga rumah ya, Mih,”
“Okay siap, Bu. Hati-hati ya, Bu,”
Elvina sudah tidak dengar lagi apa yang dikatakan Amih karena perempuan itu sudah berjalan cepat menerabas Amih yang kebingungan.
“Mau kemana si Ibu ya? Kok buru-buru amat kayaknya,”
“Padahal Pak Ken baru aja pergi. Apa mau nyusul kali ya? Ah entahlah,”
Amih menutup pintu dengan rapat. Ia melaksanakan tugas Elvina tadi yaitu jaga rumah dengan baik.
****
Vano menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah. Otomatis Elvina yang masih setia mengikuti mobil suaminya juga menghentikan mobilnya dengan jarak yang aman.
“Hampir aja tadi gue ketinggalan jejak, kalau beneran enggak kekejar, gue enggak bakal ada di sini sekarang,” gumam Elvina yang awalnya sempat kesal. Dari rumah Ia sempat kesulitan menemukan mobil Vano, tapi untungnya berhasil menyesuaikan posisi tak jauh dari mobil Vano.
Vano tidak singgah-singgah kemanapun dulu tadi. Lelaki itu benar-benar hanya datang sendiri ke restoran itu. Setelah tidak lama Vano masuk, Elvina menyusul tapi sayangnya Ia ditanyakan undangan.
“Undangan apa?”
“Lho? Undangan acara yang sedang berlangsung, Ibu. Sekarang ‘kan restoran ini lagi dibooking untuk acara ulang tahun pernikahan,”
Elvina berdecak pelan. Ia mana punya undangan itu. Rupanya harus masuk dengan undangan.
Akhirnya Elvina kembali lagi ke mobil, tidak jadi memata-matai suaminya sampai ke dalam restoran.
Tapi kecurigaannya tentang satu hal sudah terjawab. Vano tidak bohong, memang lelaki itu datang ke sebuah acara. Ia sempat berpikir Vano ingin pergi berdua dengan perempuan lain yang sedang dekat dengannya sekarang.
Elvina tidak pulang, melainkan ingin menunggu suaminya sampai keluar dari restoran. Nanti selepas hadir di acara yang digelar di restoran ini, Elvina penasaran Vano ingin kemana lagi. Apakah langsung pulang atau ada tujuan lain.
“Ah sayang banget gue enggak bisa ikut masuk ke dalam,”
Elvina memukul pelan stir mobilnya. Kalau saja Ia bisa ikut Vano masuk ke dalam, Ia pasti bisa menjawab rasa penasarannya soal Vano yang Ia duga tengah bermain api di belakangnya. Barangkali di dalam sana Vano sibuk dengan wanita barunya, dan Elvina akan memergoki itu. Vano tidak akan bisa mengelak lagi. Ia tidak akan membuat kericuhan di acara tapi Ia akan menyerang Vano setelah tiba di rumah sampai Ken benar-benar merasa tertekan kemudian akhirnya mengakui kebohongannya. Yang membuat Elvina sampai seperti ini adalah kebohongan Vano. Ia benci sekali Vano bohong dengan bahasa tubuhnya yang begitu meyakinkan.
****
“Lo datang sendiri aja, Van?”
“Yoi, ‘kan yang lain juga begitu,”
Vano langsung bertemu dengan pemilik acara yang sedang berlangsung sekarang ini. Vano bahagia bisa datang ke acara salah satu temannya.
“Padahal ada juga yang ngajak istri, Van,”
“Ah bini gue belum tentu mau,”
“Coba lo ajakin,”
“Sendiri aja, lebih aman, nyaman, tentram,”
Daripada Ia ajak Elvina dan Elvina belum tentu terima ajakannya, lebih baik Ia pergi sendiri saja, lagipula kebanyakan teman-temannya juga pergi sendiri tanpa pendamping.
“Eh di anniv gue yang kelima ini, gue dapat anak kedua, Van. Bini gue hamil,”
“Eh serius? Congrats, Yes, Ga,”
“Iya thanks ya, Van, udah sempatin waktu untuk datang, sorry kalau ngerepotin,”
__ADS_1