
“Baik banget sih kamu. Mau nurut apa kata suaminya. Aku senang deh, makasih ya, Elvina cintaku sayang,”
Elvina tersenyum tapi sedikit masam berdasarkan penglihatan Vano makanya Vano menghembuskan napas kasar. Padahal Ia melarang Elvina untuk pergi karena Elvina sedang kurang sehat.
“Nggak ikhlas nih nurut sama aku nya?”
“Kata siapa?”
“Lah itu senyumnya agak-agak nggak ikhlas deh keliatannya,”
“Nggak ah, aku senyum ya emang begini bentuknya,”
“Pasti dalam hati lagi ngedumel ya? Iya ‘kan? Jujur aja deh sama aku,” kata Vano sambil menarik ujung hidung istrinya.
“Emang bisa diliat darimana senyum ikhlas dan nggak ikhlas?”
“Aku tau lah. Aku bisa nilai, Sayang,”
“Kalau kayak gini ikhlas nggak?” Tanya Elvina sambil menunjukkan senyum yang lebar. Vano yang melihat itu langsung tertawa.
“Kamu ada-ada aja. Ya nggak gitu juga dong senyumnya. Lebar amat, jangan lebar-lebar kalau senyum, nanti banyak yang naksir,”
“Mana ada, senyum lebar udah kayak hantu aja. Nggak ada lah yang naksir. Jadi gimana? Udah keliatan ikhlas belum senyum aku, Mas?”
“Udah, Sayang. Udah keliatan ikhlas kok, kata aku udah keliatan ikhlas sih,”
“Berarti harus senyum lebar dulu baru dibilang ikhlas?”
“Ya nggak gitu, senyum ikhlas itu keliatan dari matanya. Tanpa harus senyum lebar kalau matanya keliatan senyum, ya itu udah ikhlas,”
“Mata aku udah senyum belum?”
“Udah kok, Cantik,”
“Ya udah, aku mau ke kamar mandi. Selesai ‘kan obrolan tentang aku yang nggak kuliah hari ini dan senyuman?”
“Udah-udah, silahkan kamu ke kamar mandi,”
“Ya udah lepas dulu dong pelukan kamu. Gimana aku mau ke kamar mandi kalau kamu nya masih meluk aku kayak begini?” Tanya Elvina sambil menunjuk tangan suaminya yang masih melingkari pinggangnya. Vano mengizinkan Ia untuk bergegas ke kamar mandi tapi tangan Ken masih memeluknya.
“Eh iya, maaf aku lupa belum lepas ya ternyata pelukan aku,”
“Iya, gimana caranya aku bisa ke kamar mandi ‘kan?”
“Mau aku temenin nggak?”
“Nggak usah, makasih, Mas. Kaki aku Alhamdulillah masih berfungsi, tangan aku juga begitu, aku masih bisa ke kamar mandi sendiri. Makasih ya tawarannya,”
Vano tertawa mendengar ucapan istrinya yang menolak dengan halus disertai alasan yang masuk akal. Memang Vano yang aneh. Tak ada hujan dan badai, tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi pengantarnya Elvina ke kamar mandi.
“Serius nih nggak mau aku temenin, El?” Tanya Vano seraya tersenyum usil menatap istrinya yang saat ini hendak menutup pintu kamar mandi.
“Ih kamu ada-ada aja. Ngapain coba nawarin mau antar aku mulu? Orang ke kamar mandi doang kok,”
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu Elvina langsung mengunci pintu kamar mandi, dan Vano tertawa lagi. Bercanda dengan Elvina benar-benar menyenangkan sekali untuknya. Maka dari itu Ia senang melakukannya. Apalagi ketika reaksi Elvina kesal. Elvina akan terlihat semakin menggemaskan kalau Ia kesal.
“Sayang, jangan lama-lama ya. Nanti aku kangen,”
“Nggak tau ah,”
“Dih kok gitu jawabnya?”
“Ya lagian aneh banget. Baru juga pisah sedetik udah kangen,”
“Kita ‘kan pengantin baru jadi masih anget-angetnya,”
“Bercanda mulu kamu,”
“Lah, emang kenyataan kok. Kita ‘kan pengantin baru, jadi masih anget-angetnya, jauh bentar aja tuh nggak bisa, maksudnya pengantin baru akur tentram saling cinta hehehe,”
Elvina tak lagi mengeluarkan suara, hanya mencibir di dalam hati “Giliran kesal sama Jona aja serem banget keliatannya, sekarang bercanda mulu,”
“Na, aku liat handphone kamu ya,”
“Liat aja, aku nggak pernah larang,”
Elvina menyahuti sambil Ia membuka pintu kamar mandi setelah buang air kecil. Vano meriah ponselnya kemudian sengaja membaringkan badan di atas ranjang.
“Aku mau mantau dulu,”
“Mantau apa?”
“Emang ada apa sama handphone aku?”
“Ya barangkali ada cowok genit yang nyasar lagi. Kalau ada yang chat kamu lagi, aku yang balas,”
“Awas aja ya kalau nomor Jona kamu blokir lagi. Dia tuh nggak salah apa-apa sama kamu tapi malah kamu blokir. Dih nggak jelas banget kamu, Ken,”
“Nggak jelas gimana? Jelaslah, aku blokir nomor dia karena dia ganggu banget. Aku nggak suka ih,”
“Kamu harus belajar berdamai sama dia. Sebenarnya kamu sih yang nggak berdamai. Kalau Jona nya nggak pernah anggap kamu musuh, malah dia anggap kamu teman dia juga karena aku kan teman dia,”
“Ogah ah temenan sama dia, yang ada aku cemburu mulu ntar,”
“Padahal nggak ada hal yang bikin kamu cemburu, aku sama Jona temenan biasa aja, lah kamu temenan sama si Tata, sama Delila bisa kan?”
“Ya tapi kamu cemburu nggak?”
“Nggak biasa aja,”
“Halah pasti dalam hati mah cemburu, ya kan?”
“Nggak, biasa aja tuh,”
“Nggak,”
“Aku mah nggak pernah cemburu,”
__ADS_1
“Apaan, inget nggak kejadian yang waktu di hotel? Perlu aku kasih unjuk rekamannya? Kan aku ngerekam eh jangan deh, bahaya buat mental kamu. Ntar kamu ulangin kejadian waktu itu,”
“Hah? Kamu rekam? Gila ya kamu?”
“Hahahahaha nggak deh, aku bohong,”
“Kirain kamu beneran rekam,” ujar Elvina.
“Kalau aku rekam juga emang kenapa? Itu kenang-kenangan, karena itu puncak kecemburuan kamu hahaha,”
“Lucu banget ya? Sampai ketawa ngakak begitu?”
Vano tak bisa menahan tawanya katena Ia ingat betul betapa cemburunya Elvina yang saat itu salah paham, mengira Ia dan Delila check in di hotel. Padahal kenyataannya tak seperti itu. Elvina saat itu benar-benar meradang bahkan ingin menyakiti dirinya sendiri. Cemburunya Elvina tidak kira-kira.
Jujur di samping rasa khawatir jarena Elvina yang salah paham dan ingin menyakiti diri sendiri, ada rasa senang dalam diri Vano setelah Ia berhasil menenangkan Elvina yang ternyata cemburu. Jarang sekali Elvina menunjukkan kecemburuannya. Dan sejak saat itu juga perasaan Elvina jauh lebih terbuka. Elvina mengaku bahwa Ia mencintai Vano. Perasaan Vano sangat bahagia tentunya.
******
-Lo blokir nomor gue ya? Kampret! Giliran gue chat pakai nomor gue biasa nggak bisa giliran gue chat pakai nomor lain bisa. Ini gue Jona woy. Gue salah apaan woy? Sorry deh kalau gue buat salah, tapi apaan dulu salah gue?-
Elvina mengangkat salah satu alisnya membaca pesan yang dikirimkan oleh nomor yang tidak Ia kenali.
“Hah? Masa sih gue blokir nomor si Jona? Perasaan gue nggak pernah blokir nomor dia deh. Masa iya gue blokir nomor temen gue sendiri,” gumam Elvina yang bingung karena Jona baru saja mengaku nomor teleponnya telah diblokir oleh Elvina.
Elvina langsung memeriksa nomor Jona yang ternyata sudah tak ada lagi di daftar kontaknya. “Ya ampun, bahkan udah dihapus juga. Lah siapa yang hapus ya? Perasaan gue nggak pernah blokir ataupun hapus nomor Jona deh,”
“Wah kayaknya kerjaan si Mas nih, ih bener-bener deh itu orang! Nyebelin banget sih,”
“MAS!”
“MAS!”
“MAS SINI DULU!”
Elvina berseru memanggil suaminya yang sedang berada di kamar mandi. “Apa sih, Sayang?”
“Sayang-sayang palamu peyang! Kamu sini dulu dong aku mau ngomong,”
“Emang sopan ngomong kayak begitu ke suami kamu, Elvina?”
“Ih bodo amat ah. Kamu nyebelin sih abisnya!”
“Apaan sih? Aku lagi mandi,”
“Sini dulu cepat lah,”
“Nggak, kalau mau ngomong sama aku, ya nanti tunggu aku selesai. Jangan maksain, mana nggak sopan banget lagi ngomongnya. Aku aja nggak penrah tuh teriak-teriak manggil kamu. Giliran ngomong ke mantan lembut banget, ke Rendra misalnya,”
“Apaan sih kok jadi bahas Rendra segala? Emang dia salah apa coba? Dia nggak ada hubungannya sama topik obrolan kita sekarang,”
“Ya makanya kalau ngomong ke aku tuh yang benar dong jangan kayak begitu,”
“Aku kesal ya sama kamu! Pasti kamu kan yang udah blokir nomor Jona dan hapus juga nomor dia? Hah? Kamu jujur aja deh. Aku heran banget deh sama kamu, Mas. Kenapa sih kamu cemburu banget sama Jona? Kamu lebay tau nggak! Dia kan teman aku kenapa kamu blokir dan hapus nomor dia coba? Aku yang nggak enak sama dia,”
__ADS_1