Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 44


__ADS_3

“Lo belajar keras amat. Santai aja kali. ‘Kan dosen lo suami sendiri,”


Elvina berdecak ketika Vika salah satu temannya yang duduk tepat di sebelahnya menegur karena Ia terlalu keras belajar.


“Meskipun suami gue dosen, tapi gue tetap harus rajin belajar, UAS nih nggak main-main,”


“Ntar juga dikasih nilai yang bagus,”


“Ish jangan ngomong begitu. Pak Vano nggak pandang buku. Liat aja ntar nilai gue gimana. Dia mah bodo amat mau gue istrinya atau bukan,” ujar Elvina seraya menutup kedua telinganya karena tengah membaca jadi baik mata dan telinga harus ditutup.


Kalau Ia tidak menutup telinga dan mata, pasti Vika masih nyaman mengajaknya mengobrol sementara Ia ingin fokus mengulas materi yang sudah semalam Ia pelajari.


Vano masuk ke ruangan kelas. Vika langsung mengguncang lengannya supaya menyadari kedatangan Vano selaku dosen mereka. Elvina yang tahu kalau suaminya sekaligus dosennya sudah masuk kelas, langsung bergegas menutup bindernya dan juga ipadnya.

__ADS_1


Vano masuk kelas dan ujian segera berlangsung. Elvina percaya diri karena Ia sudah cukup menguasai materi, Vano mengawasi semua mahasiswanya yang sedang ujian dengan mata elangnya. Tidak ada pernedaan, semua Ia awasi. Bahkan istrinya sekalipun. Vano ingin memastikan istrinya maupun mahasiswa yang lain tidak memiliki celah sedikitpun untuk melihat jawaban dari berbagai sumber.


Elvina selesai mebih cepat dariw aktu yang telah ditentukan. Elvina periksa keseluruhan memastikan bahwa semua sudah Ia isi dengan benar sesuai dengan apa yang Ia anggap benar. Lalu setelahnya Ia santai memutar-mutar bolpoin dengan jarinya tanpa suara. Setelah bosan, Elvina bertopang dagu. Apa yang Ia lakukan itu mengundang perhatian Vano.


“Elvina udah selesai atau belum? Kok malah keliatan diam-diam aja gitu? Yang lain masih mikir keras, dia keliatan udah nyantai,” batin Vano bertanya-tanya sebab istrinya beda di antara yang lainnya. Mahasiswa lain sedang kelihatan berpikir, sementara Elvina sekarang bertopang dagu sambil melamun menatap meja.


“Elvina, apa kamu sudah selesai?”


Elvina terlalu asyik melamun sampai tidak sadar kalau Vano bertanya. Teman-temannya langsung melirik. Dan tidak ada tanda Elvina sadar kalau Vano bertanya.


“Ih apaan sih, Vik?”


Tanpa tahu malu, Elvina yang kaget malah kelepasan mengeluarkan suara cukup keras di tengah suasana hening di kelas.

__ADS_1


“Apaan? Heh itu lo ditanyain sama suami lo!” Bisik Vika dengan mata melotot penuh peringatan. Elvina langsung membelalakkan kedua matanya dan menolehkan kepala yang semula ke samping kanan sekarang ke depan menatap Vano yang mengangkat alis menatap ke arahnya tanpa ekspresi di wajah.


“Lebih baik di rumah saja kalau mau melamun ya, jangan di kampus,”


“Iya maaf, Pak,”


“Kenapa kamu malah melamun disaat teman-teman kamu sedang berpikir mencari jawaban yang tepat?”


“Ya karena—karena saya ‘kan udah,”


“Udah apa?”


“Udah selesai, Pak,”

__ADS_1


“Oh serius? Kenapa cepat banget? Itu jawaban yang benar atau jawaban yang asal, Elvina?” Tanya Vano yang benar-benar tidak yakin istrinya bisa secepat itu menjawab soal yang diberikan. Ia tahu Elvina itu cukup pintar, tapi kenapa cepat sekali? Vano sampai bingung.


“Ya karena saya belajar, udah gitu belajarnya diawasin sama kamu jadi aku udah paham, Mas,”


__ADS_2