Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 108


__ADS_3

“Aku sendiri apa? Udah dibilang aku enggak akan macam-macam. Dia itu orang kantor,”


“Tapi masa iya jam segini telepon kamu? Hah?”


“Karena urusan kerjaan, bukan yang lain. Wajar aja lah, lagian enggak aku jawab juga ‘kan,”


“Aku enggak percaya, Mas! Kamu udah mulai macam-macam rupanya ya,”


“Macam-macam apaan sih, enggak jelas, cari ribut muluk,”


Vano menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya kemudian Ia membelakangi Elvina yang kesal bukan main dengan Vano. Ia tidak terima Vano bersikap cuek seperti ini padahal Ia perlu diyakinkan.


“Aku cemburu karena aku cinta sama kamu. Terus kalau kamu apa? Kamu cemburu juga? Kenapa cemburu? ‘Kan kamu enggak cinta sama aku, harusnya ya jangan cemburu dong. Tolong ya, berhenti bahas apapun!”


Elvina menahan erangan kesalnya. Ia ingin berteriak kesal. Mungkin kalau di rumah sudha Ia lakukan, tapi ini di rumah orangtuanya. Takut suaranya sampai pada telinga Dini yang biasanya keluar kamar jam segini untuk menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Elvina bergegas meninggalkan tempat tidur. Vano mengintip dibalik celah selimut. Kemudian Ia mencibir Elvina yang akan menekan tuas pintu.


“Ngadu deh ngadu,”


“Siapa sih yang mau ngadu? Kamu jangan asal ngomong bisa enggak?! Kamu pikir aku bakal ngadu ke siapa?”


“Biasanya kamu tuh suka ngadu, atau ngomong yang jelek-jelek soal aku ke orangtua kamu atau ke orang lain juga gitu,”


“Jangan nuduh! Mulut kamu tuh dijaga. Enggak ngangkat topik lain demi ngalihin soal Delila selingkuhan kamu itu,”


******


“El, Vano udah bangun belum? Ajakin shalat bareng ayah di masjid, bangunin sana,”


“Udah bangun dia dari tadi. Bentar ya, Yah. Aku panggil dulu,”

__ADS_1


Arman menghampiri anak dan istrinya yang tengah di dapur. Elvina membuat susu sedangkan Dini membuat roti bakar.


Elvina membuat susu untuk penghuni satu rumah. Mereka akan sarapan bersama nanti. Kebetulan ayahnya menyuruh Ia untuk memanggil Vano dan kegiatannya sudah usai, maka tanpa banyak bicara lagi Ia langsung bergegas ke kamar memanggil Vano.


Ia tiba di kamar melihat Vani tengah duduk di tepi ranjang dengan wajah dan rambut yang basah, rupanya habis berwudhu karena celana juga dilipat ke atas.


“Kamu diajakin papa shalat bareng di masjid tuh, jangan main hp! Udah adzan, dengar enggak?”


“Dengar, ini mau shalat,”


Vano segera melepas ponselnya. Ia letakkan di atas nakas kemudian Ia meraih sajadah dan menurunkan celananya yang sempat Ia lipat ke atas.


Vano pergi dari kamar, Elvina menatap ponsel suaminya penasaran. Entah mengapa Ia berpikir kalau tadi Ken tengah berkirim pesan dengan wanita yang namanya Delila sebab tadi jari suaminya tampak sibuk menari di atas layar ponsel. Tapi begitu Ia lihat riwayat aplikasi yang dibuka suaminya, ternyata hanya email saja yang baru dibuka Vano. Ia lihat isi email Vano adalah tentang pekerjaan semuanya.


Elvina menghembuskan napasnya dengan kasar kemudian Ia mengembalikan ponsel Vano. “Jangan salahin gue yang curigaan begini. Karena dia juga enggak bisa percaya ke gue seratus persen,”

__ADS_1


Sejujurnya Elvina masih kepikiran soal Dalila yang menghubungi Vano tadi. Ia dibuat sangat penasaran dengan sosoknya dan apa benar dia adalah orang kantor seperti apa yang dikatakan Vano? Entah mengapa Ia ragu.


__ADS_2