Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 17


__ADS_3

“Eh ya Allah, senang banget bisa kebetulan ketemu kamu di sini, Lis,”


Dini langsung memeluk Lisa dengan erat. Tidak disangkanya akan ada momen pertemuan antara Lisa dengan dirinya lagi, tapi kali ini di pinggir jalan.


“Kamu abis darimana? Mau kemana?”


“Aku dari rumah mau ke tempat acara nikahannya anak teman aku. Terus aku sama Vano liat Elvina sendirian di sini, duduk di atas motornya. Akhirnya kami samperin El. Ternyata motornya tiba-tiba mati dan El bilang lagi nungguin kamu, Din. Aku ajakin pulang sama aku sama Vano aja, kami antar sampai rumah tapi El nya nggak mau. Dia mau nungguin kamu aja katanya,”


“Oh ya ampun. Makasih tawarannya. Tapi emang El udah aku bilangin supaya nunggu aku di sini. Kalian udah buru-buru ya pasti? Ya udah berangkat sekarang aja takut terlambat. Makasih ya udah temenin El di sini,”


“Eh nanti pulang kondangan kita jalan yuk. Ntar aku aja yang jemput kamu sama El di rumah, gimana?”


Lisa masih belum rela kalau pertemuannya dengan Elvina dan Dini cepat selesai dikarenakan Ia harus menghadiri sebuah acara. Dan nanti sepulangnya dari acara, Ia punya waktu kosong, begitupun Vano yang sudah selesai mengajar. Ia sangat berharap Elvina maupun bundanya juga tidak sedang sibuk.


“Gimana, El?” Tanya Dini pada anaknya yang barangkali malas untuk keluar lagi, karena biasanya seperti itu kalau sudah di rumah.


“Terserah Bunda aja,”

__ADS_1


Elvina membiarkan Bundanya mengambil keputusan. Ia tidak sedang sibuk, kalau memang bundanya mau menghabiskan waktu bersama sahabat lamanya, Ia setuju. Mengingat Lisa dan Dini baru bertemu lagi satu kali kemarin, setelah sekian tahun berpisah baru sekali.


“Ya udah ayo kita makan di luar ya sekalian ngobrol-ngobrol,”


“Okay kalau gitu, nanti aku sama Vano jemput di rumah ya, El ikut ya, Nak,”


“Iya, Tante,”


“Eh jangan dijemput, ngerepotin. Aku sama El langsung ke restoran nya aja gimana?”


“Ngobrol di restoran juga bisa, Lis,”


“Nggak ah, aku mau jemput, nanti diantar pulang kok tenang aja, nggak ngerepotin sama sekali.


Lisa menepuk bahu Dini meyakinkan Dini bahwa Ia dan Vano akan datang menjemput jadi Dini dan Elvira barulah mereka ke restoran bersama. Kalau berangkat bersama ‘kan otomatis punya waktu selama perjalanan untuk mengobrol jadi lebih intim kalau di dalam mobil yang sama.


Lisa yang punya ide untuk makan bersama dengan Dini dan anaknya, jadi Lisa juga ingin menjemput mereka kemudian mengantarkan mereka pulang setelahnya.

__ADS_1


“Okay aku sama Vano pamit dulu ya kalau gitu. Sampai ketemu nanti ya. Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, hati-hati ya,”


“Kalian berdua juga,”


Lisa dan Vano kembali ke dalam mobil menuju hotel yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan Leah, anak dari teman arisan Lisa. Sementara Dini dan Elvin pulang ke rumah.


“Nggak apa-apa ‘kan kalau kita pergi sama Tante Lisa dan Vano untuk makan bareng, El?”


“Iya nggak apa-apa kok, Ma. Aku ‘kan tadi udah bilang, aku ikut Mama aja,”


“Biar kamu keluar, jangan di rumah mulu. Disuruh jalan-jalan sendiri jarang banget. Kebetulan Tante Lisa ngajakin, Mama senang banget. Mama belum puas ketemu Tante Lisa yang waktu Tante Lisa datang ke rumah kita sama Om Beni, Vano, dan adiknya. Masih kurang waktu kangen-kangenan Bunda sama Tante Lisa,”


“Bunda, kayaknya Bunda setuju ya kalau aku sama Pak Vano?”


“Bunda setuju karena Bunda udah tau bibit bebet bobotnya Vano, bahkan sampai ke orangtuanya, Bunda udah tau. Itu pertama, dan yang kedua adalah, Bunda bisa nilai kalau Vano itu memang laki-laki yang baik. Dia gentle datang ke rumah, bilang mau kenal kamu dan keluarga kamu lebih jauh, bahkan berani bilang kalau dia mau ngajak kamu serius. Keberaniannya sangat Bunda hargai. Usianya udah cukup matang, dia punya kedewasaan dalam berpikir dan bersikap. Buktinya dia nggak egois pengen kamu secepatnya balas perasaan dia, dan dia juga pengeetian kalau kamu masih perlu waktu untuk terima dia dan lupain masa lalu kamu,”

__ADS_1


__ADS_2