Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 93


__ADS_3

"Harus dirawat ya, Pak,"


"Rawat di rumah aja, Dok,"


"Enggak bisa, Pak. Lebih baik di rumah sakit aja supaya kami lebih mudah untuk mantau bapak,"


Karena keputusan Dokter tak bisa diganggu gugat, akhirnya Vano menyetujui tak bisa membantah lagi.


Itulah sebabnya Ia menghubungi Elvina untuk meminta tolong pada istrinya itu agar membawakan baju dan perlengkapan lain untuknya selama di rumah sakit sebab Ia belum tahu akan dirawat sampai kapan karena diare yang Ia alami.


Sampai di kantor, Vano yang memang sudah merasa tidak enak di bagian perut akhirnya langsung ke kamar mandi. Setelah itu, dalam kurun waktu singkat, Ia bolak balik ke kamar mandi untuk buang air besar.


Karena merasa tak kuat, akhirnya Vano ke rumah sakit meninggalkan pekerjaannya. Ternyata Ia tidak diizinkan dokter untuk pulang lagi.


Tapi sayangnya Elvina tidak menjawab panggilannya. Entah sedang apa Elvina sekarang sampai panggilannya diabaikan, bahkan beberapa kali ditolak.


Vano akhirnya memutuskan untuk menghubungi Amih saja. Mungkin Amih bisa menyampaikan permintaan tolongnya pada Elvina agar Elvina menyiapkan pakaian dan segala perlengkapannya.


"Halo, Mih. Elvina dimana?"


"Saya sama ibu lagi dijalan pulang habis dari pasar, Pak. Kenapa, Pak?"


Sayangnya Elvina sedang tak ada di rumah. Akhirnya Vano tidak jadi menyampaikannya pada Amih. Ia putuskan untuk bicara langsung pada Elvina nanti setelah Elvina sampai rumah. Tapi sayangnya Elvina tak bisa dihubungi.


Vano berpikiran positif, mungkin karena Elvina sibuk belanja, jadi Elvina tidak bisa diganggu dengan teleponnya.


"Suruh Elvina telepon saya setelah sampai rumah ya,”


Vano pikir lebih baik bicara ketika Elvina sudah sampai rumah saja, lebih aman. Kalau Ia dan Elvina bicara disaat Elvina berkendara, takut berbahaya.


Vano akan bicara langsung pada istrinya itu mengenai dirinya yang saat ini sedang berada di rumah sakit.


"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan ke ibu,"


Panggilan Vano akhiri. Amih langsung melaksanakan tugas dari majikannya itu. Yaitu menyampaikan pada Elvina bahwa Vano minta dihubungi setelah tiba di rumah.


"Ibu, kata bapak, nanti setelah sampai rumah, telepon bapak,"


"Memang ada apa sih?"


"Saya kurang tau juga, Bu. Mungkin ada yang mau diobrolin berdua sama ibu,"


"Okay, ingatkan aku aja. Vano ribet banget sih. Telepon terus deh,"


"Ada keperluan mungkin, Bu. Suami kalau telepon terus mah wajar, Bu. Daripada telepon yang lain 'kan bahaya,"


Elvina melirik Amih dengan sebal dan Amih terkekeh. Amih terkekeh dan menangkap gelagat Elvina yang seperti itu merupakan bentuk dari kecemburuan Elvina. Padahal Anatha kesal karena Vano rajin menghubunginya, menurut Elvina lebih baik hubungi yang lain saja.


****


"Ya Allah, sakit banget,"


Vano meringis seraya memegang perutnya usai keluar dari kamar mandi dan kembali buang air besar entah untuk yang ke berapa kalinya sejak di kantor sampai di rumah sakit.


"Elvina mana sih? Kok belum telepon juga, apa udah sampai rumah ya?"


Karena terlalu lama menunggu Elvina yang tak kunjung menghubungi akhirnya Vani yang berinisiatif untuk kembali menghubungi lebih dulu. Entah harus menunggu berapa lama sampai Elvina mau telepon.


"Halo, aku lagi mau telepon. Kenapa sih? Kok kamu telepon aku terus tadi, dan suruh aku telepon setelah sampai rumah,"


"Kamu sengaja abaikan telepon dari aku ya? Kamu kadang mikir enggak sih? Kalau aku telepon itu barangkali aku perlu sesuatu sama kamu,"


"Perlu apa? Kamu mau dibawakan makan siang?"


"Aku di rumah sakit. Disuruh dokter untuk dirawat karena aku diare,"


"Hah? Kok bisa?"


"Itulah sebabnya aku telepon kamu karena aku butuh kamu, tapi kamu sengaja abaikan semua telepon dan pesan aku,"


"Sejak kapan, Mas? Kamu berangkat dari rumah baik-baik aja 'kan?"


"Iya tapi di perjalanan memang merasa udah enggak enak. Terus sampai kantor langsung mulai buang air besar dan akhirnya aku ke rumah sakit. Habis itu enggak dibolehin pulang sama dokter, harus dirawat,"


"Ya ampun, okay, kamu perlu apa? Biar aku siapkan, terus aku antar ke sana sekarang,"


"Nah gitu dong, Sayang. Coba dari tadi kamu begini,"


"Kamu nyusahin aja deh,"


Siapapun pasti akan tersinggung setiap kali mendengar istri bicara begitu. Vano pun demikian. Hatinya berdenyut nyeri cuma dia yang memang terbiasa menomor duakan soal perasaan akhirnya hanya bisa buang napas panjang saja.


"Bawa keperluan aku ke sini, aku rasa kamu tau apa aja itu. Aku tunggu ya, Assalamualaikum,"


Vano tidak banyak biacra, langsung menyudahi panggilannya. Supaya Elvina pun semakin cepat ke rumah sakit membawakan segala keperluannya.


*****


"Amih, kalau orang dirawat di rumah sakit itu biasanya apa aja yang harus disiapkan selain baju dan alat mandi? Aku mendadak jadi linglung ini,"


"Hah? Siapa yang di rumah sakit, Bu?"


"Ya Vano lah, Mih. Siapa lagi?"


"Mau saya bantu, Bu?"


"Iya-iya boleh, aku linglung banget,"


"Kayaknya baru kali ini Vano dirawat di rumah sakit selain karena kejadian nabrak portal komplek waktu bulan puasa kemarin itu,"


"Ibu tenang ya, bapak pasti baik-baik aja,"


*****


Dengan menjinjing satu travel bag yang ukurannya lumayan besar, Elvina masuk ke dalam ruangan dimana Vano mendapatkan perawatan.


Vano tersenyum melihat kedatangan Elvina. Ia merasa tidak tega juga karena pengorbanan Elvina yang pasti berat sekali membawa tas itu.


"Berat ya, Sayang?"


"Iya, enggak usah tanya. Tapi enggak apa-apa demi suami,"


Vano tersenyum dan mengisyaratkan Elvina untuk mendekat padanya. Elvina meletakkan travel bag yang dijinjing tadi setelah itu menghampiri Vano.


"Gimana keadaan kamu?"


"Udah agak mendingan,"


"Kamu gimana ceritanya bisa begini sih? Aku kaget beneran lho,"


"Aku tadi udah ceritain 'kan, Sayang? Jadi aku di dalam mobil mau ke kantor itu udah ngerasa enggak enak perutnya, terus sampai kantor langsung mulai deh,"


"Kamu nginap di sini?"


"Ya iyalah, Sayang. Aku udah ngomong tadi. Aku harus dirawat kata dokter. Kamu mau nginap di sini juga?"


"Iya, apa kamu mau sendiri? Terus aku pulang?"


"Enggak, aku mau kamu di sini,"


"Ya udah berarti aku di sini aja,"


Vano tersenyum sumringah mendengar ucapan Elvina. Ia tidak sendirian di ruangan ini, Elvina akan menemaninya.


"Memang udah kewajiban istri jadi temannya suami,"


"Iya makanya aku enggak pulang 'kan. Kamu udah makan?"


"Belum, belum datang juga makan siangnya,"


"Eh lain kali jangan abaikan telepon dan pesan aku lagi ya. Aku kesal banget kalau kamu udah begitu,"


"Ya habisnya aku juga kesal karena kamu telepon terus, Mas,”


"Ya gimana aku enggak telepon kamu terus? Aku butuh kamu, Elvina. Lagian selama ini aku hubungi kamu terus karena aku 'kan mau tau kabar kamu. Terus tadi aku hubungi kamu karena aku mau minta tolong sama kamu supaya kamu datang bawa keperluan aku,"


"Ah kamu ini emang suka bikin risih aku,"


"Oh jadi kalau ditelepon suami ngerasa risih ya?"


"Iyalah,"


Elvina menarik selimut Vano hingga menutupi seluruh wajah Ken. Tujuannya supaya Vano tidak banyak bicara lagi.


"Sayang, terimakasih ya udah mau ke sini,"

__ADS_1


"Iya, sama-sama. Kalau aku enggak ke sini, nanti kamu nangis,"


"Dih? Masa nangis sih?"


"Iya, karena enggak aku temani di sini,"


"Paling cengeng aja sih, rewel macam anak bayi lagi demam,"


"Istirahat, biar cepat—-"


Elvina tersentak kaget karena tiba-tiba Vano bangkit dari baringannya dan langsung bergegas ke kamar mandi dengan membawa tiang infusnya sendiri.


Elvina menggelengkan kepalanya pelan. Diare Vano masih melanda cukup parah rupanya. Elvina bisa mendengar ringisan dari dalam kamar mandi. Vano pasti tengah merasa kesakitan.


"Mas, kamu baik-baik aja?"


"Bentar, Sayang. Mules banget,"


"Kamu tuh sebenarnya diare karena apa? Salah makan? Ada masakan aku yang bikin kamu begini ya? Perasaan tadi pagi kamu makan soto ayam buatan aku dan biasanya kamu sehat-sehat aja, kok sekarang jadi diare, Ken?"


"Enggak tau, Sayang,"


Usai buang air besar, Vano langsung bergegas keluar dari kamar mandi seraya mengusap-usap perutnya.


"Kata dokter sih bakteri. Bukan karena salah makan atau keracunan,"


"Kamu suka jajan di luar sih,"


"Enak aja, aku mah setia cuma sama satu orang dan kamu tau siapa orangnya,"


"Bukan jajan perempuan maksud aku! Tapi jajan makanan lho, Mas,"


"Oh, kirain itu yang kamu maksud,"


Vano tertawa lebar. Telinganya panas mendengar kata jajan terlontar dari mulut Elvina. Ternyata jajan makanan yang dimaksud, bukan gonta ganti pasangan.


Elvina menyuruh Vano untuk berbaring lantas Ia mengambil minta aromaterapi. Lalu Ia balurkan di perut Vano secara merata. Vano yang merasakan kenyamanan dari perlakuan Elvina langsung memejamkan mata.


"Terimakasih ya,"


"Iya, udah berapa kali bilang begitu?"


"Aku senang kamu perhatian ke aku, Sayang,"


"Biasanya juga begini kok,"


"Enggak ah, kadang cuek, sibuk sama dunia kamu sendiri,"


Mungkin karena Ia dirawat di rumah sakit, Elvina memberikannya perhatian yang lebih. Dan Ia senang sekali akan hal itu.


"Sayang, sebenarnya aku nih lapar banget lho. Cuma aku takut mau makan, takut makin parah," ujar Vano pada Elvina yang langsung duduk dengan nyaman di sofa setelah membalurkan minyak aromaterapi di perut sang suami.


Vano mengajak Elvina yang mulai sibuk dengan ponsel untuk bicara. Ada di sini kalau cuma untuk main handphone apa gunanya? Harusnya Elvina duduk di sampingnya. Mengajaknya bicara supaya Ia tidak bosan dan lupa dengan rasa sakitnya.


"Ya udah makanlah, aku bawa roti. Kamu mau?"


"Enggak ah, aku takut makin parah diarenya,"


"Ya udah terus gimana? Tadi bilangnya lapar,"


"Ya makanya aku bingung. Aku mau makan tapi aku takut,"


"Ya udah enggak usah makan selamanya aja, Mas,"


*****


“Mas, aku mau pergi sama teman-teman aku boleh enggak?" Izin Elvina setelah suaminya baru saja pulang dari rumah sakit.


"Habis itu pulang malam lagi dan mabuk lagi?"


"Enggak lah, aku cuma mau belanja sebentar,"


"Yakin cuma sebentar?"


Elvina berdecak pelan. Kemudian Ia mematikan sambungan telepon. Ia benar-benar dibuat geram dengan Vano yang terlalu menghabiskan banyak waktu. Tinggal mengiyakan apa susahnya?


"Ibu mau kemana?"


"Pergi sebentar sama teman, Mih. Kamu mau ikut?"


"Engga, Bu. Kerjaan saya belum selesai. Ibu hati-hati perginya ya, Bu,"


"Waalaikumsalam,"


Meskipun Vano belum mengiyakan tapi Elvina tetap pergi. Ketika akan melajukan mobil, ponselnya bergetar dan menampilkan pemberitahuan bahwa ada pesan masuk dari Vano.


-Boleh pergi, hati-hati dan jangan pulang malam-


Elvina mendengus kasar. Ia tak membalas pesan itu sekalipun hanya sekedar mengucapkan terimakasih. Ia tahu Vano tidak akan mungkin melarang.


*****


"Halo, Sayang, kenapa? Udah pulang?"


"Halo, Vano. Ini saya Elya temannya Elvina, saya mau kasih tau kalau Elvina di rumah sakit sekarang,"


Vano yang semula duduk bersandar, kini langsung tegap begitu mendengar berita dari temannya Elvina.


"Kenapa istri saya dibawa ke rumah sakit?"


"Jadi tadi enggak sengaja disenggol motor waktu mau nyebrang,"


"Ya Allah, okay-okay, saya ke sana sekarang. Terimakasih infonya ya,"


"Iya sama-sama,"


"Sebentar, tolong kirim alamat rumah sakitnya sekarang ke saya,"


Tanpa basa-basi Vano meninggalkan kantor untuk menghampiri Elvina yang saat ini mengalami musibah dan harus dilarikan ke rumah sakit.


"Elvina, kamu kenapa selalu aja bikin aku cemas?"


Vano mencengkram stir mobil. Selain sering dibikin kesal oleh Elvina, Vano juga sering dibikin khawatir oleh perempuan itu.


****


"Lo ngapain kasih tau suami gue sih? Nanti mulutnya nyerocos,"


"Ya wajarlah dia tau. Lagian nyerocos gimana? Dia tuh pasti khawatir sama lo, El,"


Elvina menghembuskan napasnya dengan kasar. Kemudian memejamkan mata dengan lengan terlipat di atas kedua matanya.


"Tulang kaki lo agak retak, El. Jadi harus siap-siap banyak duduk, enggak bisa kemana pun dulu,"


"Iya, Vano pasti enggak akan ngizinin gue kemana-mana dalam waktu dekat,"


"Lagian lo sih, kenapa enggak bisa pelan nyebrangnya? Main nyerobot aja mau nyamperin gue,"


"Gue udah lihat kanan kiri, El. Masih salah juga? Emang motor itu yang sialan. Main ngebut aja akhirnya nyenggol gue,"


"Udah-udah, jangan ngedumel lagi. Sekarang lo istirahat dulu, paling sebentar lagi Vano sampai,"


*****


"Aku selalu minta kamu untuk hati-hati tapi kamu masih aja teledor sampai kayak begini kakinya,"


"Iya aku minta maaf,"


"Untung kaki kamu cuma retak aja, Sayang. Kalau lebih dari itu gimana?"


"Kamu jangan ngomong begitu dong, omongan itu doa lho,"


"Aku lagi bersyukur ini, karena kamu enggak kenapa-napa,"


Vano menempatkan Elvina di posisi yang menurut perempuan itu nyaman.


"Kamu 'kan udah pulang nih. Tapi bukan berarti kamu bisa macam-macam ya. Istirahat, kaki kamu jangan dibuat kelelahan dulu, Elvina. Karena lagi pemulihan. Mau cepat kembali normal 'kan?"


"Iya, aku ngerti, kamu tenang aja,"


"Makanya jangan galak-galak sama suami kamu sendiri. Akhirnya kayak begini 'kan? Ini karma kali nih,"


"Ih kamu kalau ngomong enggak pernah bener ya?!"


Plak

__ADS_1


Elvina menampar lengan suaminya yang sedang menatap kakinya dengan wajah ngilu.


"Aku ngilu lihat kaki kamu, Sayang. Pasti sakit banget ya?"


"Enggak, biasa aja kok,"


"Beneran? Aku tabok berarti enggak apa-apa?"


Vano mengangkat tangannya di atas kaki Elvina yang diperban. Elvina langsung berseru panik.


"Jangan!"


Vano tertawa lebar. Ia hanya ingin membuat Elvina lepas dari rasa sakit dengan cara diajak bercanda.


"Kalau sakit ngomong ya,"


"Emang kamu mau ngapain? Bisa sembuhin kaki aku?"


"Ya paling aku tabok aja sih, supaya sembuh,"


"Niat kamu itu enggak benar banget,"


Vano tidak melakukan apa yang Ia sebutkan, justru lelaki itu mengusap kaki Elvina dengan lembut.


"Sembuh ya kaki istriku,"


Elvina berdecak kesal dan mengusir tangan Vano dari kakinya. Elvina takut Vano tiba-tiba dalam mode jahil. Ia akut kakinya dicengkram.


"Aku padahal mau usap-usap supaya rasa sakitnya hilang lho,"


"Enggak usah, aku takut kamu bikin kaki aku tambah sakit,"


"Ya enggak mungkin lah, Sayang,"


Vano mencium bibir Elvina sekilas. Kemudian mengusap kaki Elvina lagi. Elvina yang melihat Vano serius tidak ingin bermain-main akhirnya membiarkan lelaki itu mengusap kakinya.


"Pokoknya lain kali harus lebih hati-hati ya. Terlepas kamu yang salah atau pengemudi nya yang salah, intinya aku enggak mau lihat kamu begini lagi, Sayang. Aku panik tau enggak? Aku udah mikir yang jelek aja,"


"Kamu sempat mikir aku mati ya? Kamu senang dong?"


"Gila aja kali, istri mati masa suami senang?"


"Ya barangkali aja,"


Vano mengusap pipi Elvina kemudian menyampirkan anak rambut Elvina yang jatuh ke balik telinganya.


"Enggak lah, Sayang. Justru aku takut banget kehilangan kamu. Meskipun kamu itu musuh berkedok istri, tapi aku tetap cinta sama kamu. Aku enggak mau istri aku kenapa-napa,"


"Kamu mikir kalau aku di rumah sakit udah kritis? Enggak taunya cuma kaki aja yang retak,"


"Eh ini lumayan serius lho. Bukan sembarang jatuh aja terus berdarah. Ini retak, kamu jangan terlalu menyepelekan. Makanya aku bilang, kamu harus banyak istirahat, enggak boleh keras kepala kalau dikasih tau,"


Elvina mengangguk cepat. Ia pun tidak mau terlalu lama terjebak dalam kondisi yang lemah seperti ini. Ia terbiasa aktif, tiba-tiba harus kehilangan fungsi kakinya untuk sementara waktu.


"Oranh bed rest karena hamil, lah aku karena begini,"


"Mau hamil juga? Ayo!"


Elvina mendorong wajah Ken yang bersemangat sekali hingga berpaling ke samping. Ia berkata seperti itu bukan karena mau mengandung juga sama seperti Elvina tapi Ia meratapi nasibnya.


"Jangan bahas hamil lagi, please,"


"Lah kamu yang mulai kok. Aku 'kan cuma mau nurutin aja kalau memang kamu mau,"


"Aku enggak mau, dan pikirin kaki aku, Mas! Jangan pikirin anak muluk. Aku sampai bosan dengarnya,"


"Jangan ngomong gitu lah, nanti Tuhan marah sama kamu lho,"


"Aku bosan dengar kamu bahas anak terus. Semalam minta aku supaya enggak minum pil. Maksudnya apa coba? Biar aku hamil ya? Kali aja dikasih walaupun sekali enggak minum, begitu 'kan?"


"Iya, begitu niatnya. Tapi kamu keras kepala. Jadi ya udah, aku harus nahan kesal aja waktu lihat kamu tetap minum,"


****


"Aku enggak datang ke acara ulang tahunnya Tata deh, Sayang. Kamu soalnya lagi sakit,"


Vano melempar ponselnya ke atas bantal kemudian lanjut mengeringkan kepalanya yang basah sehabis mandi.


Elvina meraih ponsel suaminya untuk melihat undangan yang dikirimkan Tata pada Vano supaya Vano hadir ke acara ulang tahunnya.


"Datang aja, 'kan udah diundang, Vano," ujar Elvina pada suaminya itu. Menurutnya tidak enak kalau sudah diundang tapi tidak datang. Apalagi yang namanya ulang tahun cuma satu kali dalam satu tahun dan Tata juga teman dekat Vano.


"Enggak lah, aku mau temani kamu aja. Malam ini kamu bakal sendirian kalau aku pergi, Sayang,"


"Ya enggak apa-apa. Aku bisa minta bantuan Amih kalau butuh sesuatu. Jadi kamu datang sana, masa enggak datang ke acara ulang tahun teman sendiri?"


"Enggak, Sayang. Aku enggak mau ninggalin kamu sendiri. Makan malam yuk,"


Elvina mengangguk. Vano langsung keluar dari kamar untuk mengambil makanan. Ia tidak mengizinkan Elvina turun ke lantai bawah untuk makan di meja makan sebab kakinya yang masih belum pulih.


Vano mengambil makanan untuk dirinya juga setelah itu Ia kembali ke kamar dengan dua porsi makan malam.


"Ini, dimakan ya. Harus habis, setelah itu minum obat. Masih nyeri 'kan?"


Vano menyentuh kaki Elvina dengan lembut. Elvina menganggukkan kepalanya. Rasanya masih nyeri sekali di waktu-waktu tertentu.


Vano mencuci tangannya dan Ia membawa wadah berisi air supaya istrinya juga bisa mencuci tangan tanpa bergegas ke kamar mandi.


"Mas, kamu datang aja ke acara ulang tahun Tata. Aku juga enggak enak lho. Soalnya dia undang aku, masa kita berdua enggak datang?"


"Dia undang kamu juga?"


Elvina mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya. Ia baru saja melihat undangan ulang tahun Tata yang dikirimkan perempuan itu.


"Enggak enak kalau kita berdua sama-sama enggak datang. Aku udah enggak datang, masa kamu juga enggak?"


"Ya udah, aku pergi deh, Insya Allah kalau enggak malas,"


"Ih harus datang! Dengar kata aku, Mas. Dia teman kamu bukan?"


"Tapi masalahnya, kamu itu lagi sakit, Elvina. Dan ini udah malam, aku khawatir mau ninggalin kamu sendiri di rumah,"


"Enggak sendiri, 'kan udah ada Amih. Jadi kamu tenang aja, okay?"


Vano menghembuskan napas kasar dan mengangguk pasrah.


"Minum aku belum dibawa?"


"Oh iya, lupa. Aku juga enggak bawa minum. Aku minta tolong Amih dulu deh,"


Vano menghubungi Amih yang langsung dijawab oleh Amih. Ken meminta tolong pada Amih agar diantarkan minum ke kamar. Vano enggan meninggalkan makanannya, oleh sebab itu meminta bantuan Amih.


Tak lama kemudian air minum untuk mereka berdua sudah datang. Keduanya mengucapkan terimakasih pada Amih yang mau direpotkan.


"Jadi kamu harus datang ya! Enggak enak sama Tata kalau kamu sama aku enggak datang ke acara ulang tahun dia,"


"Hmm iya," sahut Vano agak malas-malasan.


"Ada perlu apa lagi, Bu, Pak?"


"Enggak ada, Mih. Terimakasih ya,"


"Sama-sama, saya permisi keluar,"


Keduanya melanjutkan makan sementara Amih meninggalkan mereka berdua.


"Serius enggak apa-apa kalau aku keluar?"


"Iya, enggak masalah kok. Aku baik-baik aja. Lagipula kamu cuma sebentar aja 'kan? Enggak sampai nginap,"


"Enggak lah, yang penting udah nongol muka aku. Setelah itu aku langsung pulang, soalnya ada kamu yang nungguin,"


Vano mengedipkan satu matanya ke arah Elvina yang langsung bergidik. Vano dan mencubit gemas pipi Elvina.


"Nanti kalau kangen, tinggal telepon aja, Sayang,"


"Apaan sih? Emang kita mau pisah lama? Timbang restoran sama rumah, udah kayak mau pisah beda benua aja,"


"Ya barangkali kamu kangen sama aku. Nanti telepon aja, sekalian ingatkan aku supaya aku cepat pulang,"


"Enggak usah diingatkan, kamu pasti pulang cepat, karena kamu cemas sama aku. Benar enggak?"


"Banget, aku terpaksa ninggalin kamu. Takutnya kamu tuh perlu aku, kayak mau ke kamar mandi gitu,"


"Ada tongkat itu. Kamu tenang aja,"

__ADS_1


Elvina menunjuk tongkat yang dibeli suaminya untuk membantu Ia berjalan. Biar bagaimana pun Elvina harus tetap terbiasa berjalan atau melangkahkan kakinya supaya tidak kaku.


*****


__ADS_2