Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 70


__ADS_3

“Serius banget natap handphone,”


“Eh aku habis posting foto liburan kita lho, Mas, Kamu mau liat nggak?”


“Pasti captionnya alay, atau nggak sok puitis,”


“Nggak lah, kamu jangan sok tau, Mas. Aku tuh cuma nulis Bali, sama tanggal hari ini aja. Udah, cuma itu yang aku jadiin caption,” elak Elvina sambil menatap suaminya dengan ketus. Salah tebak tapi mukanya Vano tetap datar saja. 


“Oalah, kirain caption yang alay dan sok puitis gitu,” ujar Vano dengan santainya.


“Misalnya kayak gimana?”


“Menikmati waktu berdua dengan suamiku yang tampan bernama Vano. Dengan ditemani suara deru ombak, dan air kelapa. Sambil aku memandangi suamiku yang begitu tampan. Dia benar-benar tampan sampai aku sulit mengalihkan pandangan,” ujar Vano seolah sedang membaca puisi 


dan itu membuat Elvina tidak mampu menahan tawanya karena tingkah suaminya memang kelewat aneh di matanya. Ia saja tidak terpikirkan akan membuat kalimat seperti itu, tapi Vano malah menduga Ia akan menulis kalimat yang terdengar sangat baku, dan itu bukan Elvina sekali. Elvina tidak bisa membuat kalimat-kalimat manis sekalipun untuk mengungkapkan perasaan. Yang terbesit di kepala ketika hendak memposting foto-fotonya bersama Vano hanya tentang tempat dan waktu memposting yaitu hari ini.


“Kamu bisa-bisanya ngira aku nulis itu. Aku sama sekali nggak kepikiran lho padahal, lagian aku nggak bisa rangkai kata,” ucap Elvina.


“Masa? saya pikir jago,”


“Nggak, mana ada kata ‘suamiku yang tampan’ ih itu mah terlalu berlebihan. Yang baca juga geli kali,”


“Lah ‘kan emang kenyataan saya ganteng, kamu aja manggil saya kayak gitu ‘kan? Ingat panggilan Mas VanGan? Itu kata kamu kependekan dari kata ganteng sama nama saya sendiri,”


“Ya tapi nggak perlu muji suami di sosial media kalau aku, muji aja langsung, nggak perlu tanpa kata-kata yang sengaja ditulis sebagai caption. Jangankan yang baca, aku yang nulis aja bakal geli. Aku orangnya nggak puitis soalnya dan nggak bisa juga nunjukkin kemesraan sekalipun hanya dari kata-kata aja,”


Ditengah kekehannya, Elvina terbatuk-batuk lagi. Ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membuang cairan yang kembali memenuhi hidung, sekaligus membuang cairan dahaknya juga yang sedikit sekali. Elvina masih belum baik-baik saja, kesehatannya masih menurun.


Disaat Elvina sedang berada di kamar mandi, Vano yang akan membaringkan badannya di atas ranjang langsung gagal melakukan itu karena kebetulan melihat layar ponsel Elvina yang berkedip dan menampilkan sekilas pesan yang masuk melalui aplikasi instagram.


Tadinya Ia tidak mau peduli, tapi karena Elvina belum datang-datang juga, Ia merasa punya peluang dan ternyata ingin tau juga pesan apa yang Elvina terima di direct message instagram. Akhirnya meraih ponsel Elvina yang tak ada password sama sekali kemudian Ia membuka aplikasi instagram dan tanpa basa-basi pergi ke fitur direct message.


Vano melihat pesan teratas yang baru masuk dari akun bernama Rendra. Ia memilih untuk tidak membuka. Tapi ada yang bisa Ia lihat sedikit isi dari pesan itu.


-Ya udah cepat sembuh ya, El. Kabar-kabarin…-


Hanya sepenggal kalimat itu yang bisa Vano baca tanpa membuka. Ia tidak mau membuka karena entah kenapa tidak begitu tertarik juga untuk melakukan itu.


Tadi hanya penasaran karena melihat ada pesan masuk di instagram Elvina. Tapi begitu dibuka Ia malah tidak penasaran lebih dalam.


Ia mengembalikan ponsel Elvina di dekat bantal perempuan itu lalu berbaring, dan tak lama kemudian Elvina keluar dari kamar mandi usai mengeluarkan cairan dahak, cairan dari hidung, sekaligus buang air kecil juga.


“Kamu mau tidur?” Tanya Elvina pada suaminya yang berbaring.

__ADS_1


“Nggak tau, pengen baringan aja tapi. Emang kenapa?”


“Aku mau banget jalan-jalan, tapi rasanya nggak mungkin soalnya aku lagi sakit,”


“Ya itu tau jawabannya, ngapain masih nanya? Istirahat yang dipikirin, bukan malah jalan-jalan,”


“Iya, tapi sebenarnya belum puas jalan-jalan di sini,”


“Ya udah puas-puasin aja, nggak usah aneh kamu tuh, lagi sakit malah mau jalan. Mau pingsan di jalan?”


Elvina spontan menggelengkan kepalanya. Tentu saja Ia tidak mau tiba-tiba pingsan. Itu akan membuat Vano susah nantinya.


“Tadi ada yang chat kamu tuh di dm, mantan kamu tentu,”


“Hah? Rendra? Oh iya dia nanya kabar aku, ya mau nggak mau aku balas, emang apa katanya?”


Vano mengangkat kedua bahunya tidak merasa tertarik untuk menjawab, biar saja Elvina yang lihat sendiri apa isi pesan Rendra.


Elvina segera meraih ponselnya untuk membuka direct message instagram miliknya. Ternyata memang ada pesan dari Rendra. Ia baca kemudian tanpa Ia balas, Ia keluar lagi dari instagramnya.


“Dari Rendra beneran. Eh iya tadi dia sempat ngajakin aku ngopi bareng mumpung masih di sini—“


“Gila aja kali. Terus kamu mau berangkat ngopi gitu sama dia? Lupa kalau lagi sakit? Kita aja nggak jadi pulang gara-gara kamu sakit terus sekarang kamu malah mau ngopi? Kamu yang bener aja, El. Waras nggak kamu tuh?”


“Ih emang aku bilang mau ngopi sama dia? Kamu belum dengar aku ngomong sampai selesai udah marah-marah aja. Emang siapa yang mau ngopi sama dia? Hah? Dengerin dulu aku ngomong sampai akhir,”


Elvina sampai terkejut ketika suaminya salah paham. Vano menganggap Ia akan menerima ajakan Rendra untuk minum kopi bersama, padahal kenyataannya Ia langsung menolak ajakan itu tanpa basa-basi dengan menggunakan alasan yang sesuai dengan kondisinya saat ini.


“Terus apa?”


“Aku nggak nerima ajakan dia tuh. Kamu jangan salah sangka dulu dong. Aku juga tau kalau aku lagi sakit, aku nggak mungkinlah ngopi sama dia. Lagipula aku nggak mungkin langsung iyain kalaupun aku sehat, karena aku belum ngomong sama kamu, aku belum minta pendapat kamu, Mas,”


Vano membuang pandangannya. Ia sudah salah sangka, belum apa-apa mulutnya sudah bicara panjang lebar memarahi Elvina.


“Lagian kurang kerjaan ngajak istri orang ngopi bareng bukannya dia udha ounya yang baru?”


“Ya nggak tau juga kenapa dia ngajakin aku ngopi bareng, Mas. Tapi aku bilang aja nggak bisa. Lain kali kalau emang bisa aku kabarin. Nanti kamu ikut ya kapan-kapan kalau aku jadi ngopi sama dia,”


“Ya ngopi aja sama kamu. Dia ‘kan mantan kamu, bukan mantan saya. Apa nggak canggung kalau ada saya juga?”


“Ya nggak lah, kamu harus temenin aku kalau aku ketemuan sama orang lain yang laki-laki. Biar nggak nimbul fitnah,”


“Ya kalau nggak mau nimbul fotnah mending nggak usha ketemuan sekalian, ribet banget,” ujar Vano dengan ketus.

__ADS_1


“Kamu mikir fotnah dari orang lah kamu nggak mikirin saya yang cemburu,” 


“Ya makanya kamu ikut biar kamu nggak cemburu, aku ‘kan udha nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Rendra,”


“Terserah kamu lah, saya nggak mau ikut campur,” 


Elvina sedih mendengar ucapan suaminya itu. Padahal Vano itu suaminya tapi entah kenapa tak mau peduli. Ia ingin melibatkan Vano karena tidka ingin ada kesalahpahaman. Ia bisa saja menolak terus ajakan Rendra tapi Ia tidak enak juga. 


“Kamu kok ngomongnya begitu sih? Kamu kayak bukan suami aku aja, aku baru kali ini lho nemuin suami yang sebodo amat kamu,”


“Saya cuma mau bebasin kamu aja, terserah mau ngapain dan sama siapapun. Saya nggak mau ambil pusing dan saya nggak akan cemburu lagi,” ujar Vano kali ini dengan nada bicara yang lebih lugas lagi. Vano lelah tidak dihargai.


Elvina menghembuskan napas kasar. Setelah itu meraih ponsel sebagai pengalihan dari rasa seidhnya. Tadi sudah mau berbaring tapi karena Vano membuat suasana hatinya jadi murung, Ia malah lebih memilih untuk sibuk dengan ponsel genggamnya ketimbang berbaring di sebelah Vano yang juga sudah mengutak-atik ponselnya dalam diam.


Vano tak mengatakan apapun lagi, usai menegaskan bahwa Ia tak mau ambil pusing dengan apapun yang ingin dilakukan Elvina bersama orang lain. Elvina menangkap maksudnya, bila Ia dekat dengan laki-laki lain pun tak akan jadi masalah bagi Vano dan itu membuatnya kecewa.


“Senggak berarti itu aku di mata kamu ya, Mas. Kamu sampai nggak mau peduli sama aku,”


*****


“Vano sama El belum ngabarin udah sampai atau belum. Jadi pulang hari ini ‘kan?”


“Lah papa belum tau? Eh iya mama lupa ngasih tau ya? Tapi Vano emangnya nggak nelpon kasih tau papa kalau dia sama El belum jadi pulang karena El sakit,”


Begitu sampai di rumah usai bekerja dari pagi sampai sore, Beni langsung membahas anak dan menantunya yang Ia ketahui akan pulang hari ini.


Setelah mendengar penjelasan istrinya, Ia baru tahu. Ternyata Vano dan Elvina menunda jadwal kepulangan mereka karena Elvina sakit.


Ia benar-benar belum tau soal itu.


“Beneran nggak jadi pulang ya, Ma?”


“Iya beneran, mama bilang ke mereka tunda aja dulu daripada El kenapa-napa kalau maksain pulang,”


“Iyalah sebaiknya begitu aja. Emang Vano maksa El pulang atau El yang mau? Mereka sempat tetap mau pulang?”


“Iya tadinya kekeh mau pulang tapi alhamdulillah nggak jadi ambil keputusan itu. Kata El, Arga nggak maksa, Pa. Tapi El yang mau pulang,”


“Terus gimana keadaan El sekarang? Dan sakit apa El?”


“Demam, batuk, pilek. Masih cukup parah itu, mama sempat dengar suara batuknya tadi,”


“Oh karena terlalu padat kali liburannya. Jadi kurang perhatian sama kesehatan,”

__ADS_1


“Iya mama bilang itu karena kecapekan. Makanya lebih baik ditunda dulu pulangnya. Banyakin istirahat dan kalau udah benar-benar sehat barulah pulang, atau minimal mendingan dulu lah. Kalau sekarang kata Vano demamnya aja tinggi, mama dengar sendiri batuknya pun masih parah juga,”


__ADS_2