
“Abang tunggu di luar aja kali ya? Kalau udah selesai, panggil abang aja,”
“Ih emang kenapa sih nggak mau masuk aja?”
“Lah emang nggak aneh kalau Abang masuk ke tempat make up? Aneh kali, Dek. Abang nggak cocok masuk sana. Banyakan cewek tuh sejauh mata Abang memandang. Jadi makanya Abang di luar aja, nggak mau masuk toko itu,”
“Abang mau cari es krim juga deh lagi mau itu soalnya,”
“Ya udah sana,”
“Nih buat bayar, takutnya Abang belum balik dan kalian udah selesai belanja,” ujar Vano seraya menyerahkan dompetnya kepada sang adik. Davina menerima dengan senyum sumringah.
“Duh, rezeki nomplok ini mah, aku bebas beli apa aja ya, Bang?”
“Menurut kamu? Bagus nggak kalau kalap belanja yang sebenarnya nggak diperlukan?”
“Erghh, nyebelin banget. Mode dosennya balik. Mode abang baiknya hilang. Ya udah deh, aku masuk dulu,”
Vano terkekeh menyaksikan adiknya menggerutu. Walaupun Ia beri kepercayaan untuk memegang dompetnya, Davina harus tahu batasan. Bukan karena Ia pelit, tapi Davina harus bisa membeli yang memang diperlukan, jangan semuanya dibeli. Ajaran orangtua mereka juga seperti itu.
“Ya udah yuk kita masuk, biarin aja Abang pergi cari es krim,”
“Pak Vano yakin nggak mau ikut masuk aja?”
“Nggak, El. Lebih baik saya di luar, cari kesibukan lain daripada ikut kalian milih skincare, bisa ikutan pusing saya,”
“Tapi saya nggak mau beli apa-apa sih sebenarnya,”
“Udah nggak apa-apa ayo masuk aja. Pasti ada yang kamu takdir nanti. Ayo masuk, nggak usah mikirin Abang,”
Davina langsung meraih lengan Elvina mengajak Elvina untuk masuk ke salah satu tempat yang seperti surga untuk kaum perempuan. Ada make up, skin care yang lengkap. Kalau masuk sana, memang bawaannya ingin beli semua. Makanya ketika dapat dompet abangnya, Davina langsung berseri-seri. Tapi setelah diingatkan untuk tidak berlebihan dalam belanja, Ia dibuat sadar.
“Dav, emang kamu mau beli apa?”
“Kebetulan serum aku udah mau habis, terus masker aku juga, dan—-oh iya micellar water aku juga udah sisa dikit,”
“Kamu make up tiap hari kalau sekolah?”
__ADS_1
“Nggak, cuma pakai sunscreen, moisturizer, body lotion, lip balm, parfum. Udah gitu doang sih, kalau kamu?”
“Iya sama,”
“Nanti ajarin aku make up ya. Kamu bisa ‘kan? Aku bisa sih sebenarnya tapi nggak jago. Orang belajarnya dari video-video di sosial media gitu. Terus pas dicoba di muka aku kok kadang hasilnya nggak sama kayak di video itu sih? Kamu kayak gitu juga nggak?”
Elvina tersenyum mendengar curahan hati Davina. Ternyata menyenangkan juga bisa sedekat ini dengan Davina. Obrolan mereka nyambung mungkin karena usia yang tak jauh beda. Keluhannya Davina sama seperti dirinya yang suka merasa aneh juga kenapa hasil make up nya tidak sebagus hasil make up orang-orang di video yang Ia tonton. Kadang, terlalu percaya diri atau yakin bisa memiliki hasil make up sebagus mereka para pembuat konten video tapi ternyata suka mengecewakan.
“Ajarin ya,”
“Aku juga nggak jago, Dav. Sama kayak kamu, suka dikecewakan sama ekspektasi sendiri. Hahaha,”
“Ih kok sama sih? Masa iya kamu nggak jago make up? ‘Kan kamu udah lebih di atas aku nih umurnya, pasti lebih bisa,”
“Tapi kenyataan nya umur nggak menentukan pintar atau nggaknya kita make up. Apalagi aku bisa dibilang nggak terlalu sering make up, paling kalau cuma ada acara, atau lagi kepengen banget. Karena nggak terlalu sering, akhirnya kikuk kalau udah pegang make up, dan nggak jago-jago,”
“Ya udah nggak apa-apa, Abang terima kamu apa adanya kok. Kamu udah cantik walaupun tanpa make up,”
“Pak Vano, saya minta tolong, antar saya ke kampus ya, Pak. Saya mau ambil motor saya,”
“Kamu yakin? Nanti saya minta tolong orang aja untuk bawa motor kamu ke rumah, sekarang saya antar kamu langsung ke rumah, nggak usah ke kampus, El,”
“Ya udah kalau begitu maunya kamu. Berarti kita ke kampus ya?”
“Iya, Pak,”
“Emang kenapa sih nggak mau diantar langsung ke rumah aja? Masa ke kampus lagi,” ujar Davina yang kalau ada di posisi Elvina inginnya pasti langsung diantar ke rumah. Karena apa? Tidak perlu lagi lelah mengendarai motor ke rumah. Bisa langsung istirahat.
“Soalnya nggak mau ngerepotin. Enakan juga pulang naik motor,”
“Nggak ngerepotin sama sekali sebenarnya, El. Kamu jangan bicara begitu, santai aja,”
“Nggak apa-apa, Pak. Saya maunya pulang naik motor aja,”
“Okay, hati-hati ya. Maaf kalau seandainya ada ada yang kurang berkenan di hati kamu selama kita bareng-bareng tadi,” ujar Vano seraya melirik Elvina yang duduk di belakangnya melalui kaca di depannya.
“Kamu senang nggak ketemu sama aku, El? Jalan sama aku terus dengar kecerewetan aku senang nggak?”
__ADS_1
“Aku senang banget kenal sama kamu. Kamu baik anaknya. Kita bisa jadi teman ‘kan ya?”
“Bisa dong,”
“Temenan sama anak SMA itu seru banget ternyata,”
“Yang bener?” Davina ragu mendengar ucapan Elvina. Benarkah berteman dengannya menyenangkan? Bukan menyebalkan?
“Iya beneran. Kapan lagi ‘kan temenan sama anak SMA yang umurnya hampir sama gitu,”
“Masih muda ya, nggak kayak Abang udah tua,”
“Eh sembarangan kalau ngomong,”
Davina mencibir abangnya yang tidak terima dikatakan tua. Vano menganggap usianya adalah dewasa, belum tua. Adiknya sembarangan saja mengkategorikan Ia ke dalam usia yang tua.
“El, kamu tipenya cowok yang usia di atas kamu, atau di bawah kamu?”
“Aku nggak tau. Sedikasihnya aja, emang kenapa, Dav?”
“Ya nggak apa-apa sih. Aku penasaran aja,”
“Kalau kamu sendiri gimana? Tipe nyanyang lebih dewasa dari kamu atau dibawah kamu?”
“Ih kok nanya aku?”
“Nahloh, jawab dong, Kak El aja udah jawab tadi,” Vano tersenyum seraya melirik ke sebelah kiri dimana adiknya duduk dan tiba-tiba jadi resah.
“Aku ‘kan masih SMA jadi nggak boleh jawab pertanyaan itu dulu,”
Vano dan Elvina terkekeh karena Davina menolak untuk memberikan jawaban entah karena apa padahal ini hanya tentang tipe.
“Cuma tipe aja, Dav. Kadang tipe nggak sesuai sama kenyataan nanti. Misal nih, ada yang tipenya cowok gondrong, tapi nanti dapatnya cowok yang nggak rambut gondrong. Nah kalau kamu tipenya gimana? Ini kita lagi bicarain usia tapi ya. Kamu ‘kan udah SMA pasti udah ada bayangan tuh soal tipe pasangan. Kalau untuk punya pasangan sih, aku saranin jangan dulu. Soalnya kalau sakit hati bisa bikin konsen kamu dalam hal pendidikan tuh jari buyar. Aku udah pernah ada di posisi itu soalnya, jadi aku nggak mau kamu kayak aku juga,”
Vano tersenyum ketika mendengar Elvina memberikan saran untuk adiknya, Davina. Itu tanda kalau Elvina perhatian pada Davina yang memang untuk sekarang sebaiknya fokus pada pendidikan dulu, tapi pasti sudah ada bayangan ingin mencari pasangan yang seperti apa. Jujur, Vano pun merasa sangat penasaran.
“Aku sukanya yang seumuran,”
__ADS_1
“Oh gitu, satu sekolah juga nggak?” Tanya Elvina yang langsung membuat Vano paham. Makanya Vano tertawa. Elvina sepertinya sedang mencari tahu secara halus.