
“Ayah, Bunda, aku udah ambil keputusan,”
Di tengah makan malam, tiba-tiba Elvina membuat kedua orangtuanya bingung karena mendengar ucapannya itu.
Setelah Elvina pikir-pikir, memang sebaiknya Ia coba membuka hati untuk laki-laki lain, barangkali dengan begitu Ia bisa cepat pulih dari luka di masa lalu. Dan Ia ingin memberikan kesempatan itu untuk dosennya sendiri yang sudah berkata di depan orang tuanya bahwa dia ingin mengajak Elvina ke jenjang yang lebih serius, dan dia tidak masalah bila Elvina harus belajar dulu mencintainya.
“Keputusan apa, Nak?”
“Aku mau serius sama Pak Vano, tapi aku belajar untuk terima dia dulu ya, aku nggak mau langsung nikah dalam waktu dekat. Aku pengen nyaman dulu sama dia, barangkali rasa cinta itu datang,”
Senyum Dini dan Arman langsung terbit mendengar ucapan putri mereka yang tanpa disangka-sangka sudah mulai bisa berpikir jernih. Semoga saja tak berubah pikiran, dan kembali menetap pada cinta yang lama, yang sudah menyakitinya begitu dalam.
“Bagus kalau begitu. Memang udah seharusnya kamu buka hati, orang yang kamu pikirin aja udah bahagia sama yang lain, terus kenapa kamu harus mentok di dia mulu, Nak? Ya bagus kalau kamu udah mulai sadar. Bunda senang dengarnya. Bunda yakin, Vano juga senang dengarnya. Dia ‘kan memang nggak maksa kamu untuk nikah dalam waktu dekat, tapi dia pengen kamu belajar untuk menerima dia, kalau kamu mau, dia juga berharap kamu bisa belajar balas perasaannya. Dia kasih kesempatan untuk itu kok, dia memahami kalau kamu memang perlu waktu,”
*****
“Abang, kenapa sendirian di teras? Abang lagi galau ya?”
Davina menghampiri Vano yang sedang menyendiri di teras rumah mereka sambil menikmati secangkir kopi dan merokok.
__ADS_1
“Ih abang kok ngerokok? Abang pagi galau beneran ya?”
“Ssttt jangan kencang-kencang kalau ngomong, Dek. Nanti didengar sama Papa Mama, Abang diomelin ngerokok,”
“Ya lagian tumben pegang rokok, kapan belinya tuh? Dan beli dimana?”
“Udah beberapa hari yang lalu, baru dibuka sekarang. Nggak lagi galau, lagi kepengen aja, Dek. Kamu ngapain ke sini? Udah sana masuk,”
Vano menyuruh adiknya masuk ke dalam rumah supaya tidak mengganggunya yang lagi menyendiri, menikmati angin malam sambil menyesap tembakau.
Davina sangat jarang melihat Vano merokok karena sesungguhnya Vano memang bukan orang yang kecanduan dengan tembakau itu. Yang Ia tahu, kalau Vano sedang kepikiran dengan sesuatu, atau tidak baik-baik saja, barulah Vano menyentuh benda kecil berasap itu.
Alih-alih menuruti titah kakaknya untuk masuk ke dalam rumah, Davina justru duduk berhadapan dengan abangnya.
“Nggak ada, udah sana masuk. Ngapain sih di sini? Ntar jadi perokok pasif, bahayanya lebih dari perokok aktif lho,”
“Ya ‘kan cuma sesekali doang. Walaupun aku sebenarnya nggak suka banget cium asap rokok tapi aku penasaran Abang kenapa? Kayak lagi ngelamun tadi,”
“Ya biasalah, lagi capek aja. Pengen tenang pikirannya, ya udah begini deh. Sendirian di teras malam-malam, minum kopi, ngerokok,”
__ADS_1
“Lagi ada masalah di kampus?”
“Nggak, sejauh ini aman-aman aja,”
“Apa masalah sama El?”
“Nggak juga. Abang lagi pengen menyendiri aja, Dek. Nggak bisa tidur juga jadi ya udah ke sini deh,”
“Capek ya jadi dewasa, Bang? Capek kerja, capek mikirin masa depan, capek mikirin jodoh, iya aku paham, makanya aku belum siap jadi dewasa kayak abang,”
“Hahahaha sok tau kamu ah,”
“Lho kok sok tau? Aku emang tau, jadi dewasa itu emang melelahkan. Nanti kalau abang udah punya istri, lebih capek lagi lho, nambah lagi beban, Abang udah siap?”
“Siap lah, ‘kan udah dipikirin dulu sebelum berani ngomong. Ini Abang emang lagi capek aja karena minggu ini lumayan padat, dan lagi pengen menyendiri,”
“Bukan karena galauin El ‘kan?”
“Nggak, kenapa harus galau karena El?”
__ADS_1
“Ya karena dia belum mau diseriusin sama Abang lah,”