
“Mas, kamu parah banget sih bikin aku malu di kelas,”
“Salah saya dimana? Saya hanya bersikap tegas dan adil aja. Kamu ‘kan mahasiswa saya juga, masa saya diam aja ngeliat kamu ngelamun, sementara teman-teman kamu keliatan pada mikir,”
“Tapi aku tuh udah selesai, Mas. Makanya aku ngelamun, mainin pulpen, ya karena aku nggak tau harus ngapain. Yang penting ‘kan aku nggak ganggu teman-teman aku, Mas. Aku biarin mereka tetap tenang ngerjain soal,”
“Tapi kamu bisa baca-baca ulang soalnya, El. Kamu bisa mikir ulang kira-kira jawaban kamu itu benar atau nggak, daripada kamu nggak jelas kayak tadi,”
Elvina berdecak karena ucapan suaminya yang masih juga menyalahkan dirinya padahal jelas-jelas Ia tidak salah. Ia sudah menyelesaikan kewajibannya yaitu mengerjakan soal ujian, Ia sudah memikirkan jawaban dengan matang-matang, jadi kalau Ia melamun, rasanya tidak masalah.
“Mas, kalau ngelamun ya nggak apa-apa kali, Mas. Kecuali kalau aku tidur terus ngorok, atau aku teriak-teriak nah itu yang nggak boleh. Emang dasar Mas mau negur aku. Kurang kerjaan ya? Atau kamu emang mau ngajakin aku ngobrol ya? Karena sungkan banyak teman-teman aku jadinya pakai cara negur segala deh,”
Vano terkekeh mendengar sindiran Elvina yang tajam sekali. Tidak terima ditegur, Elvina sekarang balik menyerangnya.
“Iya terserah apa katamu aja, El. Saya jadi pendengar yang baik aja ya,”
“Mas jangan negur aku gara-garanngelamun lagi dong, jangan negur aku kalau lagi diam. Itu aku lagi menikmati hidup aku lho, Mas,”
__ADS_1
“Menikmati hidup atau lagi kepikiran sesuatu?”
“Nggak ada yang aku pikirin sebenarnya. Cuma enak aja gitu kalau ngelamun,”
“Jangan dibiasakan, takut ada yang masuk,”
“Ih kamu ngomong apa sih, Mas?!”
Elvina mencubit lengan Vano yang sedang fokus menyetir tapi mulutnya sesekali menanggapi ucapan istrinya.
“Yang nggak-nggak, makanya jangan ngelamun, jangan suka bengong. Orang yang suka bengong tandnaya nggak punya semangat hidup, dan terlalu banyak punya waktu untuk hal yang nggak penting. Coba sibukkin diri deh, pasti nggak ada waktu buat ngelamun,”
“Iya tau yang sibuk. Tapi kenapa sih kayak ornag kurang kerjaan negur aku tadi di kelas,”
“Kok negur dibilang kurang kerjaan sih, El? Saya heran deh sama kamu. Saya cuma mau kamu serius ujiannya, kalau emang udah selesai ya dibaca-baca ulang lagi barangkali ada jawaban yang nggak sesuai. Daripada kamu ngelamun nggak jela sbegitu,”
“Mas aku udah baca-baca ulang tanpa kamu ajarin, ya abis baca ulang aku bingung mau ngapain,“
__ADS_1
“Baca ulang sampai wajtu berakhir,”
“Bosan aku kalau baca ulang mulu sampai waktu ujian selesai,”
Elvina terlalu malas mendengarkan saran dari suaminya itu. Elvina bisa dibilang suka membaca tapi mudah bosan juga. Apalagi yang baca nya diulang-ulang terus. Yang dibaca pun soal, bukan novel. Yang disukai oleh Elvina itu novel. Elvina suka baca buku yang tidak membebankan pikirannya.
“Ya udah terserah kamu lah maunya bagaimana, tapi usahakan jangan ngelamun, saya takut kamu ketempelan,”
“Kamu jangan ngomong gitu, Mas. Kamu nyumpahin aku ketempelan? Hah?”
“Jangan sampai makanya ya jangan ngelamun, kalau mikirin saya boleh,”
“Mikirin yang lain?”
“Tanya aja sama diri kamu sendiri boleh atau nggak,”
“Harusnya sih nggak boleh eh tapi susah,”
__ADS_1