
“Eh, kok bisa ketemu Elvina di sini. Dunia sempit banget kayaknya ya,”
Elvina tersenyum masam ketika bertemu dengan Delila dan ibunya di sebuah restoran makanan jepang yang sedang menjadi tempat persinggahan Ia dan Amih setelah belanja sebelum pulang ke rumah.
Ketika Ia dan Amih sedang menunggu makanan datang, kebetulan Delila beserta ibunya melintasi mejanya.
“Elvina gimana kabarnya? Baik?”
Delila dan ibunya itu memilih meja tepat di samping Elvina dan makin membuat Elvina tidak nyaman.
“Alhamdulillah baik, Tante,”
“Vano sehat ‘kan?”
“Iya sehat, Alhamdulillah,”
“Titip salam untuk Vano ya,”
Elvina masih mempertahankan senyumnya dan Ia menganggukkan kepala. Elvina pikir setelah menyapanya seperti itu, Ibunya Delila tidak mengajaknya bicara lagi tapi ternyata tidak.
“Elvina, tante minta maaf ya untuk kesalahan yang pernah dibuat Delila dan bikin kamu jadi kesal atau benci sama Delila,”
Jujur Elvina terkejut begitu Ibunya Delila dengan tulus meminta maaf kepadanya. Elvina tebak, ibunya Delila itu sudah tahu ketegangan yang sempat terjadi diantara mereka.
“Iya, aku juga minta maaf,”
Sebenarnya Elvina juga tidak mau menjadi orang yang terpancing untuk marah. Tapi kalau ada hal-hal yang berusaha memancingnya tentu Ia tidak bisa mengelak.
“Aku sama Ibu pindah aja ya, kamu kayaknya nggak nyaman,” ujar Delila pada Elvina.
Istri Vano itu langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak masalah Delila duduk di dekatnya, awalnya Ia memang keberatan tapi kalau dipikir-pikir kenapa Ia harus keberatan? Ini ‘kan tempat umum, siapapun boleh duduk di meja sebelahnya. Dan permasalahan di antara mereka juga sudah selesai. Jadi seharusnya Ia tidak merasa keberatan lagi.
“Nggak perlu pindah, kita ‘kan bukan musuh,”
“Aku tau kamu mau nggak nyaman ada di dekat aku, Anatha,”
“Nggak kok, duduk aja di tempat yang memang kamu mau. Aku nggak merasa keberatan sama sekali kalau memang kamu mau berdampingan sama aku, kalau perlu tepat di sebelah aku aja,”
Elvina justru mempersilahkan Delila dan ibunya untuk duduk benar-benar tepat di kursi sebelahnya yang masih kosong. Supaya posisi mereka sangat dekat dan belajar untuk bersikap biasa saja.
Delila hanya memilih meja yang kebetulan letaknya berdekatan dengan mejanya bersama Amih, tapi masih ada jarak sebenarnya.
“Nggak usah, aku di sini aja, nggak jadi pindah kok,”
Elvina menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Pembicaraan mereka berakhir setelah sebelumnya Delila merasa tidak enak hati duduk dekat dengan Elvina yang pernah begitu membencinya karena menganggap bahwa Ia adalah perebut suami Elvina.
“Bu, itu Mba Delila ya? Tadi awalnya setengah mati saya mau kenalin mukanya. Saya rasa pernah ketemu tapi lupa siapa. Beneran Mba Delila?” Tanya Amih dengan pelan dan kepala yang sedikit maju, supaya hanya Elvina saja yang mendengarnya.
“Iya bener, Mih,”
“Sama ibunya ya, Bu?”
“Iya, Mih,”
“Bisa kebetulan ketemu gini ya, Bu,”
“Iya, pas banget ya,”
“Ibu masih cemburu sama Mba Del?”
“Nggak, dia deket sama Vano cuma mau bikin saya cemburu aja dan itu kerjaan Ken, Mih,”
“Hah? Yang bener, Bu? Saya baru tau,”
“Kayaknya aku belum pernah cerita ya? intinya begitulah, Mih. Aku nggak cemburu lagi, karena mereka hanya teman, dan Vano sengaja mau keliatan deket banget sama Delila supaya aku kepanasan,”
“Tuh ‘kan, Bu!”
“Ssst!”
Elvina melotot ketika Amih mengeluarkan suaranya agak keras hingga membuat Delila dan Ibunya yang tengah berbincang menoleh.
Amih langsung tersenyum canggung dan membungkuk sesaat, sebagai permintaan maaf sudah membuat obrolan antara Delila dengan ibunya menjadi terganggu.
“Pak Vano yang ngomong begitu sama Ibu?” Tanya Amih lagi masih mempertahankan suara pelannya.
“Iya, dia jujur sama aku waktu staycation terakhir kemarin,”
“Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Saya emang udah yakin Pak Ken itu nggak mungkin macam-macam sama Ibu. Tapi semoga dia nya yang nggak macam-macam ya, Bu,”
“Hah? Maksudnya?”
“Iya takutnya dia baper gitu, Bu. Istilah jaman sekarang ‘kan baper, bener ‘kan ya?”
“Ya terserah dia lah mau baper atau apa, intinya Ken cuma punya aku,”
Amih tersenyum lebar mendengar Elvina dengan tegas mengakui suaminya itu hanya miliknya seorang, tidak bisa diganggu gugat.
“Alhamdulillah saya seneng dengernya,”
****
"Kamu ingat nggak bentar lagi hari apa?"
"Ulang tahun kamu. Bisa aja ngodenya,"
Vano tertawa seraya mengedipkan satu matanya. Ia senang sekali istrinya ingat. Ia pikir seperti tahun sebelumnya, Elvina tidak ingat.
"Kamu kok bisa ingat sih, Sayang? biasanya juga nggak deh,"
"Ingat biasanya cuma pura-pura nggak ingat aja,"
"Halah bohong. Giliran aku ingetin baru inget,"
"Aku ingat kok, Mas. Buktinya sekarang aku ingat,"
"Ah syukurlah kamu ingat,"
"Kamu mau hadiah apa?"
Vano tidak tahu kalau Elvina sudah punya hadiah yang sebenarnya menurut Elvina biasa saja karena pasti Vano juga bisa beli sendiri. Tapi harapannya adalah, pemberian darinya diterima dengan baik oleh Vano tanpa memandang harga dan bagaimana barangnya.
"Nggak ada, aku nggak ngarep hadiah, ngarepnya kamu di samping aku terus,"
"Ya kalau itu nggak usah ngomong,"
"Itu harapan aku setiap saat, jadi aku nggak berharap dapat kado apa-apa dari kamu,"
"Oh berarti kalau dari orang lain berharap gitu ya?" tanya Elvina dengan senyum miringnya.
"Ya nggak dong, orang lain aja belum tentu ingat ulang tahun aku kok,"
"Kalau aku nggak kasih kado berarti nggak apa-apa ya, Mas?"
"Nggak apa-apa banget, Sayang. Udah aku bilang, aku nggak berharap kado dari kamu atau siapapun,"
"Ya udah aku nggak punya kado,"
"Nggak masalah, tapi kalau aku minta doa boleh nggak?"
"Kalau itu selalu dong,"
"Alhamdulillah didoain sama istri cantik aku,"
Vano mencium puncak hidung sang istri. Ia merasa bahagia sekali ketika mengetahui bahwa namanya ada dalam doa yang Elvina panjatkan.
"Beneran nggak nih?"
"Kamu nggak percaya sama aku, Mas?"
"Percaya kok, aku senang disebut dalam doanya kamu. Terus begitu ya, Sayang,"
"Kita emang harus saling mendoakan,"
"Aku juga doain kamu kok,"
"Ya alhamdulillah, emang begitu seharusnya,"
"I love you, Sayang,"
"Kamu nggak mau balas?"
"Balas apa?"
"Bilang cinta juga dong ke aku,"
"Aku nggak bisa, susah,"
Vano menghembuskan napasnya kasar. Apa sulitnya mengatakan cinta. Sesingkat itu tapi Elvina bilang susah.
"Susah apa gengsi?"
"Kayaknya dua-duanya,"
"Heran ya, biasanya cowok yang gengsi, ini mah kebalik. Aku sama kamu malah kebalik. Kamu gengsi dan aku nggak. Aku gampang jujur soal perasaan lah kamu kayaknya susah banget. Mesti dibuat mati-matian cemburu baru deh keluar kata cinta,"
"Eh kamu serius nggak mau kado apa-apa?"
Elvina mengalihkan pembicaraan. Lagi-lagi Ia membahas kado lagi karena tidak lama lagi suaminya akan berulang tahun.
"Nggak ada yang aku mau. Udah aku bilang barusan, aku cuma mau sama kamu aja, kamu terus di samping aku, itu udah cukup bagi aku sih,"
"Yang benar? nggak ada barang yang sekarang lagi kamu pengen?"
Vano menggelengkan kepalanya tegas. Semasa Ia kecil memang banyak permintaan sebagai hadiah ulang tahun. Tapi semakin dewasa, tidak ada lagi yang Ia inginkan sebagai kado dari orang-orang terdekatnya. Ia hanya berharap doa yang baik saja dari mereka karena itu jauh lebih berharga.
Vano menjentikkan jarinya di depan wajah Anatha yang langsung membuat Elvina tersentak.
"Kenapa ngelamun, Sayang?"
"Hah? nggak ngelamun. Kata siapa aku ngelamun?"
"Emang aku nggak bisa liat apa? kamu itu ngelamun, mikirin apa sih?"
"Kado kamu," batin Elvina yang hampir kelepasan. Bukan kado namanya kalau sudah diketahui oleh suaminya itu.
"Eh tadi kamu jadi belanja sama Amih?"
"Jadi kok, soalnya 'kan isi kulkas udah mulai habis,"
Alasan Elvina ketika pamit pergi pada Vano adalah belanja bahan-bahan pokok, padahal sebenarnya tujuan utama Elvina adalah mencari kado ulang tahun untuk sang suami.
"Terus habis belanja ngapain? langsung pulang?"
"Aku makan dulu kayak biasa,"
"Oh, baru habis itu pulang ya?"
Elvina mengangguk membenarkan. Memang setelah makan, Ia dan Amih langsung pulang, tidak ada lagi basa-basi dengan Delila. Mereka tidak sengaja bertemu ketika di restoran. Hanya bicara sebentar setelah itu tidak terlibat obrolan lagi sampai pulang. Waktu mau pulang hanya pamit saja pada Delila dan ibunya.
"Aku habis makan baru pulang. Eh tadi aku ketemu Delila lho,"
"Hah? kok bisa? kamu janjian lagi sama dia mau ketemu?"
"Nggak lah, jangan asal ngomong,"
"Ya udah biasa aja dong matanya, Sayang. Terus kenapa bisa ketemu?"
"Karena nggak sengaja. Tiba-tiba mamanya nyapa aku,"
"Ketemu dimana, Sayang?"
"Di tempat aku dan Amih makan,"
"Serius? kok bisa kebetulan begitu ya,"
"Entahlah, nggak disangka-sangka ketemu dia. Aku juga kaget banget,"
"Terus kalian ngobrolin apa?"
"Mama Delila sempat minta maaf sama aku. Nggak ngobrol banyak sih karena sambil makan juga,"
"Minta maaf? berarti dia tau soal masalah itu ya? padahal Delila nggak salah lho, aku yang salah. Mamanya dia tuh emang baik sih, aku beberapa kali ke sana sikapnya baik banget ke aku,"
"Kamu sering ke rumahnya?"
"Iya 'kan sengaja mancing kamu supaya ngikutin aku,"
Mulut Elvina terbuka dan matanya membelalak. Dalam sekejap Ia menarik daun telinga suaminya itu hingga Vano meringis.
"Sakit, El, jangan ditarik dong, emang telinga aku ini apa?"
"Jadi kamu tau kalau aku ngikutin kamu?"
"Iya dong, aku sengaja bikin kamu curiga terus akhirnya kamu kepancing deh buat ngikutin aku pergi. Dan aku juga sengaja perginya untuk ketemuan sama dia. Semuanya udah aku rancang, Na. Maaf--"
Elvina melayangkan cubitannya di pinggang Vano hingga Vano meringis kesakitan. Elvina itu kalau mencubit mekang menyakitkan sekali.
"Cubitan maut kamu bener-bener dahsyat banget, El,"
"Ya makanya jangan macam-macam sama aku!"
Elvina melepaskan pinggang suaminya. Ia kasihan melihat Vano meringis. Tidak sampai hati kalau ia mencubit lebih menggunakan tenaga, emosi dan juga lebih lama. Bisa-bisa suaminya berteriak.
"Kamu jahat banget sih,"
“Kalau nggak begitu ya aku nggak akan tau tuh gimana perasaan kamu,”
“Keterlaluan banget ternyata, sampai punya rencana kayak gitu aku nggak sangka banget,”
“Aku ‘kan memang nggak terduga orangnya,”
“Bukan nggak terduga, emang kamu tega. Kamu nggak tau aja setiap abis ngikuti kamu dan ngeliat kamu ketemuan sama dia gimana kesalnya aku. Ergh! Bawaannya pengen aku cekik dua-duanya. Bingung aku kenapa nggak mati aja orang-orang yang tukang selingkuh kayak kalian,”
“Eh, nggak selingkuh dong,”
“Tapi waktu itu mikirnya ‘kan masih selingkuh,”
Vano terkekeh tidak menduga kalau istrinya akan punya pikiran seperti itu. Terlampau emosi sampai ingin mencekik Ia dan Delila, juga menyayangkan kenapa Ia dan Delila masih saja hidup padahal jelas-jelas hobi selingkuh.
“Kamu itu orang yang nentang habis-habisan sama yang namanya selingkuh ya?”
“Hmm, kenapa tanya-tanya begitu. Mau selingkuh? Nggak masalah tapi aku kebiri mau?”
“Astaghfirullah ngilu eh!”
Vano spontan menutup bagian bawahnya dengan tangan membayangkan Elvina melakukan sesuatu terhadap masa depannya.
“Ya makanya jangan macam-macam,”
“Aman, Sayang. Eh nanti aku ulang tahun kita makan malam di luar ya,”
Elvina mengangguk setuju. Biasanya memang akan ada makan berdua bila salah satu dari mereka berulang tahun. Harusnya Ken tidak perlu bicara lagi, langsung ajak saja dirinya. Tentu Ia akan langsung bergegas pergi kalau memang makan berdua nya di luar.
“Makan di rumah atau di luar?”
“Dua-duanya,”
“Lah gimana ceritanya makan di rumah terus makan di luar juga,”
“Iya nggak apa-apa, jadi makan dulu di rumah paginya, terus malam kita keluar,”
“Lah kalau makan pagi di rumah alias sarapan mah emang udah tiap hari kita lakuin, apa bedanya?”
“Ya beda pokoknya,”
“Oh nanti aku bikin menu spesial ya?”
Elvina bicara sambil memainkan kancing baju tidur sang suami dengan usil. Sementara Vano membiarkannya, suka-suka Elvina. Ia tidak akan melarang kalau itu membuat Elvina senang.
Tidak sampai di situ saja, Elvina juga sengaja menjalankan jari telunjuknya di sepanjang lehernya hal itu membuat Vano bergidik hingga bulu romanya naik tapi tetap saja Ia biarkan. Ia ingin tahu sebatas apa Elvina bisa menjahili dirinya.
“Sayang, menu spesialnya apa tuh?”
“Nasi kuning atau nasi uduk?”
“Lah kita beli nasi tumpeng aja,”
“Nggak mau, aku mau bikin aja deh,”
“Oh gitu, ya udah terserah mau kuning atau uduk. ‘Kan yang bikin kamu, jadi yang menurut kamu gampang aja biar nggak nyusahin kamu,”
“Semuanya sih gampang kalau menurut aku,”
“Oh iya kah? Kamu udah pernah buat ya?”
“Tapi ‘kan bisa liat dari internet bahan dan langkah-langkah bikinnya,”
“Okay, berarti terserah kamu aja deh,”
“Hmm terserah aku mau masak kuning atau uduk ya,”
“Yoi, aku mah makan semuanya, Sayang,”
“Kok kamu nggak bisa diam sih?”
“Maksudnya?”
Vano berdecak pelan dan menunjuk tangan istrinya yang masih betah berbuat usil di lehernya.
“Kayaknya lagi mancing nih,”
“Mancing gimana maksud kamu?”
“Mancing ya itulah maksud aku,”
Vano menaik turunkan alisnya setelah itu mengedipkan satu matanya sambil menggigit bibir bawah. Elvina segera mendorong wajah suaminya itu.
“Pikiran kamu tuh kemana-mana terus,”
“Ya abisnya tangan kamu juga kemana-mana tuh,”
“Lah emang apa salahnya kalau aku mau pegang leher kamu? Ada larangan?”
“Ya nggak sih, cuma ‘kan aku jadi ngira kamu lagi mancing aku, El,”
“Mancing mah di empang sama, bukan di sini,”
“Pegang yang lain dong, El, jangan cuma leher,”
“Mas, aku tonjok ya. Muka kamu nyebelin banget keliatannya,”
Vano sengaja memasang ekspresi wajah nakal dan itu yang membuat Elvina kesal. Sekali lagi Ia mendorong wajah Vano bahkan tak hanya sampai di situ saja, Ia mencubit hidungs uaminya itu.
“Kenapa sih? Kok aku disakitin mulu fisiknya,”
“Ya kamu aneh lagian. Dipikir seksi apa ngedip-ngedip begitu, terus gigit bibir. Idih, kayak orang gila kamu kalau kayak begitu,”
“Gila karena pesona kamu,”
“Udah diem!”
“Kamu yang diem! Tangan kamu jangan suka iseng, dibilang kalau mau pegang-pegang jangan tanggung. Pegang yang lain dong biar nggak bosen,”
“Apa yang mau dipegang? Hah?”
__ADS_1
“Apa aja juga boleh, aku mah orangnya nerima banget. Kamu tinggal pilih mau pegang yang mana. Bibir, dada, perut, atau apa? Yang menurut kamu seksoy,”
“Bibir kamu tuh kayaknya makin dower, Ken. Sering ciuman ya?”
“Iya sering sama kamu, kayak gini nih,”
Vani langsung meraup bibir istrinya dengan cepat tanpa aba-aba hingga membuat Elvina terkejut dan tidak sempat menghindar.
*****
“Bisa-bisanya anjir! Udah gila lo, kok kepikiran mau ngerjain Elvina begitu sih?!”
Ajun menggeleng tidak habis pikir mendengar cerita Vano soal perselingkuhan pura-pura antara dirinya dan Delila yang berhasil membuat Elvina hampir membunuh dirinya sendiri karena terlampau merasa tertekan.
“Ya abisnya gue udah habis akal, bro. Ya udah gue pakai cara itu deh,”
“Tapi lo beneran nggak selingkuh ‘kan?”
“Ya nggaklah, gila. Gue bener-bener cuma mau bikin Elvina cemburu aja dan alhamdulillah berhasil, uyeyy!”
“Dih, kegirangan dia,”
“Dia tuh kerjaan marah-marah mulu kalau gue ketauan jalan sama Delila. Padahal itu cuma skenario gue supaya Elvina makin kepanasan,”
“Ih sinting ni orang. Kok bisa sih lo sejahat itu?”
“Nggak jahat, Jun! Saking pengennya gue dicemburuin sama istri, akhirnya pakai cara kayak begitu. Mantep nggak, Jun?”
“Pala lo mantep!”
“Keren ‘kan gue? Kreatif dan inovatif ya?”
“Lo tega sih kata gue,”
“Dia juga tega sama gue, Jun,”
“Jadi ceritanya lo mau balas dendam sama istri lo?”
“Bukan balas dendam, tapi gue terpaksa pakai cara itu supaya gue tau gimana isi hatinya Elvina. Gue capek lah dicuekin mulu sama dia. Kami suami istri tapi kayak bukan suami istri, kayak orang lain dalam satu rumah, Jun,”
“Tapi sekarang dia udah cinta sama lo beneran? Udah lupa sama mantannya itu?”
“Iya lah, gue percaya dia cinta sama gue. Dan dia takut kehilangan gue makanya kesal mulu kalau gue sama Delila, sampai yang paling parah mau bunuh diri dengan cara besetin kaca ke tangan, itu yang gue nggak habis pikir dan gue nggak suka banget dia bersikap kayak gitu. Gue takut banget kehilangan dia,”
“Ya gara-gara lo, dia begitu,”
“Tapi gue nggak sangka dia bakal senekat itu. Kalau kejadiannya bakal kayak begitu, gue juga nggak bakal bikin Elvina cemburu, Jun,”
“Kasian banget Elvina ya,”
“Kenapa kasian?”
“Ya karena dia dibohongin sama suaminya,”
“Ah elah, lo bikin gue makin kepikiran aja sih,”
“Lain kali jangan begitu lagi, Van,”
“Ya nggaklah, gue nggak bakal lakuin itu lagi, cukup sekali. Setelah gue tau gimana perasaan Elvina ke gue, nggak ada niat untuk ngulangi hal itu lagi,”
“Ati-ati lo, Van. Bisa jadi Elvina balas dendam,”
“Balas dendam gimana maksudnya?”
“Ya balas dendam dia bikin lo kebakaran jenggot juga,”
“Dia bikin gue cemburu gitu maksudnya?”
“Yoi, liat aja nanti,”
Vano melempari temannya itu dengan pulpen, tak hanya sampai disitu, Vano juga mengusir Ajun yang justru tidak membuat Ajun sakit hati melainkan terbahak puas.
“Kampret lo! Doa lo ngadi-ngadi aja,”
“Ya ‘kan sebagai persiapan biar lo nggak kaget,”
“Jangan, nyet! Lo jangan macam-macam deh kalau ngomong,”
Kali ini Vano akan melempari temannya itu dengan sepatu tapi Ajun lagi-lagi tertawa puas. Vano kelihatan paniknya. Dia takut Elvina benar-benar melakukan hal serupa.
“Kalau Elvina bikin lo cemburu, bukannya udah sering ya? Lo sendiri bilang begitu,”
“Tapi gue nggak mau lagi lah,”
“Nggak apa-apa, itu namanya bumbu dalam pernikahan,”
“Bumbu pala lo! Gue nggak mau ada cemburu-cemburuan lagi ah, gue mau akur terus sama Elvina. Udah cukup bumbu dalam pernikahan nya. Gue nggak butuh bumbu lagi,”
“Pasti ada nanti, Mas,”
“Iya, dan gue masih belum siap kayaknya,”
“Harus siap lah, oneng. Lo kalau nggak siap dapat bumbu-bumbu dalam pernikahan semacam berantem, main kucing-kucingan dan segala macamnya, mending jangan kawin! Eh maksud gue jangan nikah!”
“Abisnya gue udah capek berantem, Jun,”
“Iyalah, semua orang juga capek kalau berantem terus, apalagi sama pasangan. Makanya salah satu harus ada yang jadi pendingin suasana, jangan dua-duanya panas dan gede ego, kalau begitu ya bisa pisah,”
“Gue dengerin lo ngomong dari tadi campur aduk rasanya. Kadang kesel, kadang ngerasa adem juga dengar nasehat lo, seriusan deh,”
“Itulah gunanya gue di sini, Van. Tapi ngomong-ngomong gue udah mau balik ke kantor ah,”
“Bentar banget,”
“Barusan lo ngusir gue, ah nggak jelas lo,”
“Ya karena tadi gue ngeri dengar omongan lo. Elvina nggak mungkin balas dendam lah, dia mau buat gue bunuh diri gitu? Nggak bakal, dia cinta mati sama gue soalnya,”
“Tapi kalau bikin lo stres karena cemburu kayaknya sih iya. Gue yakin Elvina punya dendam kesumet sama lo, Van,”
“Jangan sembarangan kalau ngomong, udah gue bilang ya. Gue timpuk pake sepatu nih,”
“Jangan dong, Ayang,”
Vano menatap temannya dengan ekspresi jijik. Ajun terbahak sambil menepuk meja kerja Vano dan Ia bangkit dari kursi yang tadi Ia duduki.
“Dah ya, gue mau balik,”
“Balik ke kantor?”
“Yoi dong, masa balik ke kampung. Belum waktunya, soalnya belum lebaran,”
“Salam buat anak lo ya, Jun,”
“Iya, Insya Allah kalau inget gue sampein,”
“Lo nggak bawa dia ke sini ah, padahal gue udah kangen sama dia. Kangen gendong dia sama mulutnya yang suka ceriwis,”
“Ya nanti kapan-kapan ketemu lagi sama lo,”
“Gue gemes sama anak lo,”
“Jangan gemes sama anak orang aja, kapan punya anak sendiri nih?”
“Ya belum dikasih, Jun. Doain aja deh,”
“Semoga secepatnya biar jadi temannya Kay,”
“Gue mau laki, biar bisa dijodohin sama Kay ceriwis,”
“Masih jauh oy! Pikiran lo udah jodoh-jodohan aja,”
*****
Elvina menyalakan alarm di tengah malam tepat pukul dua belas malam untuk menyambut ulang tahun sang suami.
Ia turun ke lantai bawah untuk mengambil kue ulang tahun yang sudah Ia beli untuk Vano di dalam lemari pendingin.
Setelah itu Ia bawa ke kamarnya dan membangunkan Vano yang masih tertidur pulas. Tidak terganggu sama sekali ketika alarm Elvina berbunyi.
“Mas, bangun dulu deh,”
Vano bergumam, dan masih nyaman memejamkan matanya. Elvina terus berusaha membangunkan sang suami sampai Ia harus meletakkan kuenya di atas nakas kemudian menggunakan kedua tangan untuk membangunkan suaminya.
Ia menutup lubang hidung Vano dan juga memainkan bibir Vano supaya Vano merasa terusik dan akhirnya memilih bangun.
“Mas, bangun yuk,”
“Iya ini bangun,”
“Kamu susah deh dibangunin,”
“Nggak, ini udah bangun,”
Mulut mengatakan sudah bangun tapi matanya masih terpejam padahal dia sudah beranjak duduk. Elvina yang melihat itu langsung terkekeh.
Elvina segera membawa kue ke hadapan wajah Vano yang masih memejamkan mata sambil duduk bersandar di kepala ranjang.
“Mas, buka mata terus berdoa,” titah Elvina pada sang suami.
Sekarang Vano langsung membuka mata begitu Elvina berkata seperti itu. Sudah cukup Ia menutup mata, kasihan istrinya berusaha untuk membangunkan dirinya tapi Ia tidak bangun-bangun.
Dan begitu matanya menatap ke depan, langsung disambut dengan kue ulang tahun. Matanya yang semula masih terasa berat untuk terbuka sempurna, langsung terang benderang karena Ia buka selebar mungkin. Senyumnya pun tak kalah lebar. Ia menatap Elvina dan langsung memajukan kepalanya ke arah Elvina.
“Makasih ya, Sayang. So sweet banget sih, aku nggak nyangka dibangunin karena mau dikasih surprise,”
“Ini bukan surprise,”
“Surprise lah, aku kaget banget,”
“Okay, aku doa sekarang,”
Vano langsung menengadahkan kedua tangannya kemudian memejam dan mulai berdoa dalam hati. Semua permintaan di usianya yang baru Ia panjatkan kepada Tuhan.
“Aamiin,”
“Dah, sekarang potong kue,”
“Kamu nggak ada taruh lilin, Sayang?”
“Nggak usah, buruan potong kue,”
Vano menganggukkan kepala dan tangannya langsung bekerja untuk memotong kue yang dipegang oleh sang istri.
“Makasih sekali lagi ya, Sayang. Kamu baik banget deh. Rela bangun tengah malam demi mau kasih kejutan,”
“Aku pakai alarm, kamu nggak kebangun sama sekali,”
“Aku pulas banget. Tadinya malah nggak mau bangun, Sayang, tapi karena kamu suruh buka mata terus doa barulah aku buka mata,”
Vano menyuapkan potongan kue pertama untuk sang istri. Kemudian Ia menyuap kue untuk dirinya sendiri tapi Elvina segera mengambil alih.
“Aku aja yang suapin, buka mulut kamu, Mas,”
“Asik romantis banget,”
Vano segera membuka mulutnya untuk menerima suapan kue dari sang istri. Ia langsung mengacungkan ibu jarinya dan menggelengkan kepala pelan.
“Enak banget kuenya, Sayang,”
“Kue yang biasa kok, ini langganan kita,”
“Iya enak banget, makasih ya,”
“Kamu udah dua kali bilang makasih kayaknya ya,”
“Ya nggak apa-apa, abisnya aku senang banget,”
“Alhamdulillah kalau senang. Oh iya aku ada sesuatu untuk kamu, pegang dulu kuenya,”
“Aku makan lagi ya, Sayang,”
“Iya boleh,”
Vano memegang kue sementara Elvina segera bergegas ke lemarinya mengambil kado yang sudah Ia persiapkan. Vano terperangah melihat Elvina membawa dua paper bag sambil berjalan ke arahnya.
“Sayang, banyak banget,”
“Tau darimana kalau banyak?”
“Ya itu buktinya sampai kanan kiri kamu pegang,” kata Vano seraya menunjuk kedua tangan sang istri.
Elvina terkekeh dan Ia langsung mengulurkan dua kado itu pada suaminya yang meletakkan kue di nakas dan segera menerima kado pemberian sang istri yang dimasukkan ke dalam dua paper bag.
“Wuah apa nih?”
“Eh dibeliin sepatu, ikat pinggang—“
Vano menyebut satu persatu barang pemberian istrinya yang sengaja tidak dibungkus dengan kertas kado agar tidak buang waktu untuk membukanya dan juga menambah sampah di kamar.
“Suka nggak?”
“Suka banget, ada dompet juga, ada PS juga. Ih kamu hebat banget milihnya. Makasih ya, Sayang,”
“Sama-sama, beneran suka nggak?”
“Suka banget, El. Semuanya bagus-bagus. Kalau soal kayak ginian kamu mah nggak bisa diraguin. Tapi kok kepikiran beliin aku PS sih?”
“Dikasih saran sama Amih,”
“Ya ampun, niat banget, aku seneng deh ulang tahun ini rasanya beda,”
“Beda gimana?”
“Ya beda aja, karena kamu ingat, terus kamu mau repot-repot kasih kejutan,”
“Besok kita ke optik ya,”
“Kenapa? Kamu mau beli kacamata?” Tanya Vano yang tidak tahu kalau istrinya mengajak Ia ke optik tujuannya supaya Vano bisa berganti kacamata.
“Aku mau beliin kamu kacamata, Mas,”
“Oh jadi itu hadiah untuk aku juga ya?”
“Iya bener, ke optik besok ya,”
“Ngerepotin kamu ah. Banyak banget hadiahnya. Nggak deh, aku beli sendiri aja. Emang udah ada niat untuk beli cuma aku masih belum ada waktu dan malas juga ke optik nya,”
“Ya makanya itu besok aja, tolong sempetin waktu kamu sebentar,”
“Jangan kamu yang beli ah,”
“Emang kenapa sih? Kamu nggak ngehargain aku,”
“Eh bukan gitu, Sayang. Aku nggak mau buat kamu repot. Ini semua sudah cukup untuk aku, sekali lagi aku mau bilang makasih ya, jadi kamu nggak usah mikirin kacamata aku. Kapan-kapan aja aku belinya, kalau udah nggak males dan ada waktu,”
“Jangan nunggu nanti-nanti, Mas. Nanti mata kamu semakin nambah minusnya, lebih cepat lebih baik,”
“Iya gampang,”
“Ih jangan gampang-gampang, itu harus diutamakan lho. Soalnya kamu kerja, apa-apa semuanya pakai mata, iya ‘kan?”
“Ya udah Insya Allah nanti aku ke optik secepatnya tapi nggak mau sama kamu,”
“Harus sama aku pokoknya,”
“Abis lho duit kamu,”
“Ih apaan sih kamu, kok ngomongnya begitu? Aku nggak suka ya,”
“Aku juga nggak suka kamu terlalu habis-habisan ngadoin aku. Udah cukup banget ini, jangan beliin apapun lagi untuk aku. Jangan ngeluarin uang lagi cuma untuk kasih kado ke aku,”
“Ya emang kenapa sih? ‘Kan cuma satu tahun sekali,”
“Jangan, simpan aja uangnya,”
“Haruslah, Mas. Pokoknya besok ke optik sama aku ya,”
Vano menggeleng dan Elvina memberinya pelototan tajam. Elvina tidak suka karena suaminya menolak. Hanya satu kali setahun, apa salahnya mengeluarkan uang sedikit lebih banyak untuk kado.
“Ya udah iya, besok aku ke optik sama kamu,”
Elvina tersenyum lebar mendengar ucapan sangs suami. Ia senang karena Vano tidak menolaknya lagi.
“Besok pulang kamu kerja ya,”
“Okay, terus habis itu kita makan malam di luar ya,”
“Iya, untuk sarapan besok pagi udah aku siapin bahannya, dan Insya Allah nasi kuning bikinan aku jadi kok, semoga enak ya, dan kamu mudah-mudahan mau coba,”
“Pasti aku coba dan aku yakin bakal enak,”
“Aamiin, mudah-mudahan beneran enak. Ya udah sekarang kita tidur ya, kue nya udah nggak mau dimakan lagi nih?”
“Masih mau dong, tapi besok pagi lagi, sekarang aku udah kenyang,”
“Okay, aku masuk ke kulkas lagi ya,”
“Ayo aku temenin,”
“Aku sendiri aja, kenapa ditemenin?”
“Ya kali aja kamu takut turun sendirian,”
“Tadi aku turun sendirian, Mas,”
“Pasti takut ya? Tapi karena demi aku jadi diberani-beraniin. Nah sekarang aku temenin aja,”
Vano segera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar disusul oleh sang istri. Vano berjalan berdampingan dengan istrinya bahkan Ia merangkul Elvina supaya Elvina tidak berjarak jauh dengannya.
“Kenapa rangkul-rangkul aku sih?”
“Emang kenapa? Nggak boleh? Aku ‘kan nggak mau kamu jauh-jauh dari kamu, udah deh jangan protes, Sayang,”
Elvina membuka pintu kulkas dan meletakkan kue ulang tahun di dalam kulkas. Vano sekalian mengambil air minum.
“Mau minum nggak?”
Elvina mengangguk dan segera menerima gelas yang diulurkan Vano setelah Vano menyeruput sebagian isi gelas.
“Sekarang kita naik,”
“Ih bentar, cuci dulu gelasnya,”
“Bisa besok, El,”
“Nggak apa-apa apa susahnya cuci sebentar,” ujar Elvina seraya tersenyum. Ia tidak keberatan bila harus membasuh gelas bekas mereka minum tadi.
Barulah setelah itu mereka berdua kembali ke kamar untuk melanjutkan istirahat karena waktu hampir menunjukkan pukul satu malam.
****
“Mih, ada yang ngirimin bunga sama makanan nih untuk Pak Vano,”
Amih yang tengah bersenandung sambil bekerja di dapur langsung menoleh begitu security rumah masuk ke dapur dan memberitahu bahwa ada kiriman untuk Vano yang datang pagi ini.
__ADS_1
“Dari siapa?”
“Mba Delila,”
“Lah, kenapa ngasih ini?”
“Lho, Pak Vano lagi ulang tahun, Mih. Lupa ya?”
“Astaga, iya lupa. Pantes aja,”
Tidak lama security meninggalkan dapur, dia datang lagi dengan kotak berisi makanan dan satu paper bag di tangannya.
Amih menatapnya bingung. Baru beberapa menit mengantarkan pemberian Delila, sekarang sudah ada lagi kiriman yang datang.
“Ini dari Mba Delila,”
“Wuih pada baik banget ya sama Pak Vano, alhamdulillah semoga berkah deh,”
Amih senang sekali karena hadiah yang datang untuk Vano silih berganti di hari ulang tahunnya.
Itu berarti banyak yang perhatian pada Vano.
Amih turun ke lantai bawah bersama Vano. Setelah memasak untuk sarapan berupa nasi kuning, ayam goreng dan cumi asam manis, Elvina segera mandi. Dan kini Ia dan Vano siap untuk sarapan.
Melihat ada makanan selain yang Ia masak, Elvina merasa bingung dan tentu yang Ia tanyakan adalah Amih.
“Waktu aku beli kado, aku ‘kan ketemu dia di restoran. Aku udah pernah cerita sama kamu ‘kan? Nah saat itu dia tanya aku abis belanja apa aja dan aku bilang beli dompet untuk hadiah ulang tahun kamu. Mungkin dia tau dari situ, tapi kalau emang benar kamu nggak ngomong ke dia soal tanggal lahir kamu ya,”
“Seingat aku nggak pernah sampai ke situ deh pembahasan kita,”
“Terus apa yang kalian bahas?”
“Nggak ada selain kamu, El. Nggak pernah tuh bahas ulang tahun. Kayaknya iya deh. Gara-gara kamu ngomong begitu dia jadi tau, tapi kenapa dia tau tanggalnya banget ya?”
“Aku lupa deh kasih tau ke dia soal tanggal atau nggak. Ya udahlah nggak usah dipikirin. Intinya diterima aja hadiah dari dia sebagai bentuk menghargai,”
“Iya emang selalu aku terima, Sayang. Aku mah nggak pernah nolak pemberian orang,”
“Segala ngasih bunga, manis banget dia, coba baca dong doa dia buat kamu,”
Ketimbang penasaran dengan hadiah yang dikirimkan oleh adik dan suaminya yang pagi ini juga mengirimkan kado untuk Vano, Elvina justru lebih penasaran terhadap doa dari Delila untuk sang suami yang hari ini resmi bertambah usianya.
“Selamat ulang tahun, Vano. Doa terbaik untuk kamu ya, temanku,” ucap Vano membaca apa yang ada di depan matanya sekarang. Hanya itu yang Delila tulis di sebuah kertas kecil yang terselip di dalam bunga.
“Dia cuma bilang gitu aja?”
“Iya, nih kalau nggak percaya,”
Vano menyerahkan bunga sekaligus kartu ucapan yang diberikan oleh Delila kepada istrinya supaya Elvina percaya. Ia tidak mau Elvina curiga atau bertanya-tanya. Biar Elvina melihat sendiri secara langsung bahwa hanya kalimat singkat itu saja yang tertulis di kertas kecil sebagai pelengkap bucket bunga yang juga pemberian Delila.
“Kenapa kasih bunga ya? Manis banget lho,”
“Ya kalau nggak manis namanya bukan aku,”
“Ih aku serius ini, Mas,”
Vano terkekeh karena kekesalan istrinya yang asal menyahuti dirinya. Elvina bingung kenapa Delila malah memberikan bucket bunga.
Sebenarnya itu hal biasa untuk orang yang sedang berulang tahun, mendapat bunga dari orang lain di hari ulang tahun sudah biasa terjadi. Tapi entah kenapa Elvina cukup terusik dengan hal itu.
“Ya emang kenapa kalau aku dapat bunga? Ada larangannya kah, Sayang?”
“Tapi aneh aja gitu, ngapain coba dia kasih bunga? Kasih aja makanan,”
“Sayang, dapat bunga itu hal wajar kali. Aku ‘kan lagi ulang tahun,”
“Ya aku ikut terimakasih, cuma kenapa bunga coba? Aku aja nggak kasih bunga,”
Vano terbahak mendengar Elvina yang menggerutu setelah tahu bahwa Delila mengirimkan bunga untuknya. Padahal menurutnya hal itu tidak ada masalah. Tapi ternyata Elvina cemburu. Kelihatan dari raut wajahnya dan ucapannya.
“Ya udah jangan kesel gitu dong mukanya, santai aja, Bu. Mending makan aja yuk, aku udah lapar nih,”
“Ya ini udah makan,”
“Kamu lebih spesial lagi kok. Bunga dari dia mah nggak ada apa-apanya. Lagian aku juga nggak minta. Orang aku aja nggak pernah kasih tau ke dia kapan aku ulang tahun. Dan aku juga nggak sangka sih dia bakal kasih ini,”
“Setelah dengar kalau kamu ulang tahun hari ini, dia langsung mikirin mau kasih kado apa ternyata,”
Vano terkekeh dan menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Elvina dengan lembut. Perhatiannya Delila untuk dirinya membuat Elvina tidak suka rupanya.
“Kamu ternyata masih kesal sama dia ya, Sayang?”
“Tadinya nggak, cuma aku heran aja kenapa dia bisa kepikiran kasih makanan sama bunga untuk kamu yang mau ulang tahun,”
“Berarti tandanya dia perhatian sama aku, Sayang,”
“Ih perhatian apaan sih. Kamu sedang gitu diperhatiin sama dia?”
Vano mengangguk dengan wajah polos dan itu membuat Elvina geram. Elvina mencubit tangan suaminya disela makan karena dia sudah berani-beraninya mengangguk.
“Aduh sakit, Sayang,”
“Ya makanya jangan genit jadi orang, apa dari aku kurang? Jadi ternyata kamu emang udah berharap pemberian dia?”
“Astaga, ya nggaklah, kalau aku berharap aku udah bilang ke dia dari jauh-jauh hari kalau aku ulang tahun, kenyataannya ‘kan nggak, Sayang,”
“Kamu ngarep perhatian dari dia. Ih amit-amit ya, Mas, kamu nggak cukup banget apa yang diterima dari aku,”
Vano merasa ada hiburan di pagi hari ini. Suasana hatinya jadi semakin berwarna di hari ulang tahun. Tidak disangka Elvina akan merasa cemburu dengan hadirnya hadiah dari Delila pagi ini.
“Ini aku baru dapat makanan sama bunga doang lho, Sayang,”
“Kamu berharap dikasih apa sama dia?”
“Nggak berharap, tapi kalau dia kebetulan kasih dompet juga, gimana reaksi kamu? Tambah kesel nggak?”
“Nggak, mending kasih itu daripada bunga. Karena aku yang istri kamu aja nggak kasih bunga,”
“Lagian aku nggak suka bunga. Udah bener kamu nggak kasih aku bunga. Ini Delila kasih bucket bunga karena bingung mau kasih apa kali ya, atau yang penting ngasih aja judulnya,”
“Ya apapun itu jangan lupa bilang makasih,” meskipun tidak begitu senang Delila memberikan bunga untuk suaminya yang identik dengan lambang keromantisan, tapi Elvina tetap memperingati sang suami untuk menghargai pemberian orang dengan mengucap terimakasih.
“Iya nanti aku bilang makasih ke dia, aku chat dia,”
“Jangan lupa, nanti dikiranya kamu nggak senang dia ngasih,”
“Senang sih dapat makanan sama bunga untuk dipajang,”
“Itu bakal layu, pajang dimana?”
“Di balkon,”
“Kok di balkon? Bukan di vas bunga ruang tamu aja?”
“Tapi bakal layu juga ujung-ujungnya, Sayang. Nanti Amih repot mindah-mindahinnya. Itu di balkon kita kering kerontang ngomong-ngomong. Kamu nggak urus tanaman di pot lagi ya?”
Elvina menggelengkan kepalanya. Entah kenapa Ia lupa untuk menyiramnya padahal biasanya Ia rajin. Akhirnya karena sudah sering lupa, Ia biarkan begitu saja dan alhasil tanamannya menjadi kering.
“Eh nasi kuning aku beneran enak nih?”
Elvina meninggalkan pembahasan bunga dari Elvina dengan kembali membahas nasi kuning buatannya.
“Enak banget, aku nggak pernah bohong,”
“Oh iya itu kadonya Vano sama Elvina belum dibuka,”
“Aku lagi makan,”
“Ya udah nanti aja bukanya,”
“Ini dari Rendra sama Agatha,”
“Iya, sepatu couple ceritanya. Kira-kira kapan kita pake ini ya?”
“Entah, kapan-kapan aja kali,”
“Eh nanti aja makan di luar,”
“Ya udah terserah kamu,”
“Jangan lupa bilang makasih juga,” kata Vano mengingatkan sang istri yang langsung mengangguk patuh. Ia akan mengucapkan terimakasih untuk Rendra dan juga Agatha atas hadiah pemberian mereka.
“Aku nggak ulang tahun tapi dapat kado, alhamdulillah,”
“Rezeki istri shalihah dan baik hati,” ujar Vano yang diamini Elvina.
“Aamiin, semoga beneran jadi istri baik ya,”
“Baik dong, kamu itu baik banget, Sayang,”
“Masa sih? Aku nggak ngerasa baik ah,”
“Baik, kalau nggak baik ya nggak bakalan aku nikahin lah,”
“Ya syukurlah kalau kamu anggapnya begitu,”
“Jangan lupa siap-siap makan malam nanti ya,”
“Siap-siap kemana?”
“Siap jalan sama aku dong, Sayang,”
“Ya udah biasa jalan sama kamu mah, nggak usah terlalu siap. Kecuali kalau aku mau jalan sama—“
“Sama siapa?” Tanya Vano dengan mata melotot tajam. Elvina menahan tawanya karena Vano yang langsung cepat menanggapi ucapannya.
“Sama Cristiano Ronaldo,”
“Ya elah aku kira siapa,”
“Emang siapa kamu kiranya?”
“Jona,”
“Ih kenapa bawa-bawa Jona sih? kita ‘kan nggak lagi ngobrolin dia,”
“Ya kali aja kamu mau jalan sama dia,”
“Nggaklah, kenapa kamu mikirnya begitu?”
“Aku takut kamu beneran mau jalan sama Jona. Nggak ‘kan, Sayang?”
“Ya nggaklah, ngapain? ‘Kan dia nggak ngajak aku, Ken,”
“Oh jadi kalau diajak mau ya?”
Elvina terkekeh setelah menyudahi makannya dan didesak oleh sang suami untuk menjawab pertanyaan itu.
“Nggak,”
“Bohong, pasti mau,”
“Ya kalau diajak sama kamu mau pasti,”
“Maksudnya?”
“Kalau diajak kamu, aku mau pergi,”
“Yang aku tanya kalau diajak Jona mau nggak?”
“Nggak masalah aku terima ajakannya. Karena dia ‘kan teman aku, aku nggak mau ya kamu cemburuan, Mas,”
“Lah kamu aja cemburuan sama Delila,”
“Nggak tuh,”
“Ah masa? Ya udah berarti aku jalan aja sama Delila nanti pulang kerja, nggak jadi makan sama kamu ah,”
“Dih, ya udah. Aku juga nggak minta,” ujar Elvina dengan tatapan sinis mengarah pada Vano.
“Nggak deh bercanda, jangan ngambek dong,”
“Biarin aja kamu jalan sama perempuan lain, aku nggak masalah. Kamu ini yang dosa,”
“Nggak, Sayang. Aku cuma bercanda aja. Aku nggak bakalan jalan sama siapa-siapa, dengan tujuan selingkuh, kalau urusan kerjaan ya aku nggak janji,”
“Ya aku juga nggak bakalan larang kalau urusan kerjaan, emang pernah aku larang kamu pergi sama ini itu untuk urusan kerjaan? Nggak pernah ‘kan?”
“Iya sih, kamu selalu pengertian,”
“Aku nggak bakal usik kalau itu urusan kerjaan. Mau kamu jalan sama perempuan ini atau itu kalau untuk kerja ya silahkan aja. Masalahnya kalau sama Delila waktu itu kerjanya kamu cuma ngobrol, terus ketawa, terus sok-sokan mesra. Ya gimana aku nggak panas liatnya? Sementara kamu juga nggak terima kalau aku dekat sama yang lain, aku temenan sama Jona aja kayaknya nggak suka banget,”
“Aku cemburuan itu hal biasa, Sayang, jangan heran, kamu yang cemburuan itu baru hal luar biasa karena sebelumnya nggak pernah. Jadi aku senang banget,”
Elvina menunjuk piring Vano dengan dagunya untuk menyuruh Vano menghabiskan makanannya dengan segera agar Vano bisa berangkat bekerja secepatnya.
“Kamu telat lho ini,”
“Nggak apa-apa, soalnya lagi ulang tahun,”
“Lah, apa hubungannya?”
“Jadi ini hari istimewa, nggak apa-apa kalau telat,”
“Bisa gitu ya, bikin peraturan sendiri kamu, Mas,”
“Nggak apa-apa telat sesekali, yang penting nggak setiap hari, Sayangku,”
Elvina sudah selesai makan begitupun Vano. Perempuan itu langsung membasuh piring dan gelas selepas sarapan.
“Sayang, aku mau bawa nasi kuning nya ke kantor boleh nggak?”
“Boleh, kamu mau?”
“Iya, soalnya nasi kuning bikinan kamu enak. Jadi nanti makan siang nggak harus cari-cari dulu, Sayang,”
“Ya udah aku siapin bentar ya,”
“Okay, aku tunggu,”
“Kamu nggak telat ‘kan?”
“Nggak kok, santai aja,”
“Telat juga bodo amat,” ujar Elvina dengan santai, seperti Vano tadi yang santai juga karena mentang-mentang lagi ulang tahun jadi santai saja meskipun terlambat karena merasa jarang terlambat juga, hanya sesekali saja.
“Pakai semua lauk ya, Sayang,”
“Iya, ini aku bawain semuanya, apa perlu dihabisin semua aja?”
“Eh jangan dong, Sayang. Nanti yang di rumah makan apa?”
“Ya gampang lah, serius nih kalau kamu mau, aku bawain semua,”
“Nggak usah, Sayang. Aku bawa nasi sama lauk pauk secukupnya aja,”
Elvina selesai memasukkan nasi kuning dan lauk pendampingnya di dalam kotak makanan, setelah itu Ia masukkan ke dalam lunch bag dan Ia serahkan pada Vano yang sudah menunggu di dekat meja makan mengamati Elvina yang sigap menyiapkan semuanya dengan rapi.
“Udah nih, dimakan ya,”
“Okay, makasih ya, Sayang,”
“Sama-sama,”
Elvina mengikuti langkah kaki sang suami keluar. Vano membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam mobil dan meletakkan kotak bekalnya di kursi samping kemudi.
“Salim dulu,” kata Vano seraya mengulurkan tangan kanannya pada Elvina.
Elvina mencium punggung tangan sang suami dan Vano justru balik mencium punggung tangan Elvina.
“Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati, sekali lagi selamat ulang tahun,”
“Udah semalam, Sayang, pagi ini ngucapin lagi?”
“Ya nggak apa-apa, ‘kan masih dalam rangka hari ulang tahun kamu,”
“Iya sih, makasih ya udah luar biasa banget nyambut ulang tahun aku,”
“Lebay kamu mah,”
“Emang luar biasa banget kamu,”
“Ya udah berangkat deh sana, jangan ngomong terus nanti terlambat,”
“Babay, Sayang,”
Elvina melambaikan tangannya pada Vano yang sengaja menurunkan jendela mobil. Setelah itu Vano melajukan mobilnya dengan kecepatan normal sementara Elvina masuk ke dalam rumah.
“Ibu, ini makanan banyak banget alhamdulillah,”
“Iya, berkahnya Vano ulang tahun, dimakan, Mih, jangan cuma diliatin aja,”
“Iya siap, Bu, nanti pasti saya makan,”
“Itu ada yang dari Delila juga,”
“Ibu tetap mau makan ‘kan?”
“Iya dong, emang Amih kira bakal aku buang? Jangan, sayang-sayang kalau dibuang,”
Amih terkekeh, Ia bertanya seperti itu karena Elvina pernah membuang makanan pemberian Delila, ketika sedang panas-panasnya hubungan Delila dengan Elvina karena Delila dianggap sebagai perebut Vano.
*****
“Kamu habis darimana? Kok lama? Dari rumah Vano aja ‘kan?”
Begitu sampai di rumah, Delila langsung disambut oleh sang mama yang merasa bingung karena anaknya lama sekali perginya, padahal izin untuk mengantarkan makanan serta bunga ke rumah Vano.
“Aku jalan-jalan dulu tadi, Bu,”
“Oh, terus tadi ketemu sama siapa waktu ke rumah VNo?”
“Aku kasih ke satpam aja, lebih baik begitu, jadi nggak basa-basi langsung pulang,”
“Hmm begitu, ya udah syukurlah berarti niat baik kamu sudah tersampaikan, Sayang,”
“Nggak apa-apa ‘kan, Bu, kalau aku kasih makanan sama bunga untuk Ken yang lagi ulang tahun? Aku ‘kan teman dia, dan kebetulan aku tau hari ini dia ulang taun makanya aku kasih itu, tapi kira-kira diterima sama Ken nggak ya? Terus gimana tanggapan Elvina?”
“Diterima sih pasti, Elvina juga pasti menghargai kok, kamu jangan khawatir, Sayang,”
“Aku takut malah bikin mereka bertengkar lagi,”
Ibunya Delila tersenyum tipis mendengar ucapan Delila. Anaknya itu terlalu takut menimbulkan masalah dalam rumah tangga orang dan dia senang akan hal itu.
“Ya nggak lah, ‘kan wajar kalau kamu mau kasih hadiah untuk temannya yang lagi ulang tahun,”
“Aku takut mereka berantem, karena salah paham,”
“Nggaklah, itu niat baik kamu dan Tuhan tau itu kok, jadi jangan khawatir, walaupun mereka berantem karena Elvina mungkin salah paham, mereka bisa selesaikan itu kok, Del. Tapi kalau yang Ibu liat Elvina nggak kesal lagi sama kamu kok, kalau cemburu mungkin masih dan Ibu juga berpikir kalau Elvina pasti agak ngerasa risih kamu kasih hadiah untuk Vano yang lagi ulang tahun. Tapi ya biarin aja, yang penting kamu nggak neko-neko,”
“Habisnya aku bingung mau kasih apa, jadi ya udah aku kasih bunga sama makanan aja,”
“Kasih apapun itu, mereka pasti berterimakasih kok,”
__ADS_1
“Vano udah bilang makasih di chat, Bu,”