
“Lo datang sendiri aja, Van?”
“Yoi, ‘kan yang lain juga begitu,”
Vano langsung bertemu dengan pemilik acara yang sedang berlangsung sekarang ini. Vano bahagia bisa datang ke acara salah satu temannya.
“Padahal ada juga yang ngajak istri, Vano,”
“Ah bini gue belum tentu mau,”
“Coba lo ajakin,”
“Sendiri aja, lebih aman, nyaman, tentram,”
Daripada Ia ajak Elvina dan Elvina belum tentu terima ajakannya, lebih baik Ia pergi sendiri saja, lagipula kebanyakan teman-temannya juga pergi sendiri tanpa pendamping.
“Eh di anniv gue yang kelima ini, gue dapat anak kedua, Van. Bini gue hamil,”
“Eh serius? Congrats, Yes, Ga,”
“Iya thanks ya, Van, udah sempatin waktu untuk datang, sorry kalau ngerepotin,”
“Enggak dong, turut bahagia pokoknya semoga kehamilan lo lancar-lancar aja sampai waktunya si bayi lahir ya,”
Yesinta dan suaminya Aga mengamini doa Ken yang kedengaran tulus. Pria yang datang tanpa istri itu kelihatan benar-benar ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasa sekarang karena di perayaan ulang tahun pernikahan, dapat kabar akan dapat momongan yang kedua.
Vano dipersilahkan pemilik acara untuk menyantap hidangan restoran yang disajikan prasmanan.
__ADS_1
Vano menempati sebuah meja dan ditemani oleh Aga. Vano makan sambil sesekali berbincang dengan Aga.
“Ulang tahun pernikahan kali ini istimewa banget dong, Ga?”
“Tiap tahun sih Alhamdulillah istimewa, Vano. Cuma emang enggak sangka aja sih, tahun ini bakal dapat yang kedua,”
“Enak lo mah udah yang kedua,”
“Gue doain lo juga segera dapat, Van. Santai aja, orang masih muda juga, masih banyak kesempatan,”
“Masalahnya sampai kapanpun juga enggak bakalan jadi kalau yang punya rahim enggak mau,”
Tentu saja kalimat itu tidak Vano keluarkan dari mulut. Ia hanya bicara dalam hati saja demi memastikan keadaan rumah tangganya tidak diketahui oleh siapapun.
“Yang penting sehat, panjang, umur, bahagia, dah itu aja yang penting, Van. Masalah anak mah udah ada yang ngatur. Ada alhamdulillah, enggak ada juga enggak masalah. ‘Kan yang penting yang gue sebutin tadi,”
“Ya biar lo enggak pusing masalah itu, Vano. Berpikir positif aja kalau lo belum dikasih anak, berarti lo masih disuruh pacaran dulu sama istri,”
*****
Elvina memilih memainkan ponsel selama menunggu Vano keluar dari restoran. Sesekali Ia akan mengamati pintu keluar restoran. Begitu melihat Ken sudah selesai menghadiri acara di dalam restoran, Elvina langsung menyimpan ponselnya sebab Ia harus mengikuti Ken lagi. Entah mau kemana lagi lelaki itu setelah ini. Apalah langsung ke rumah atau justru singgah dulu ke tujuan lain.
Beberapa menit perjalanan, Elvina mulai menyadari kalau suaminya memiliki tujuan bukan pulang ke rumah. Ini bukan jalur ke rumah mereka, artinya Vano punya tujuan lain sekarang dan Elvina benar-benar tidak sabaran mengetahui kemana lelaki itu akan pergi.
Vano menghentikan mobilnya di sebuah minimarket. Ia melihat Vano masuk ke dalam. Elvina tidak bisa ikut masuk sebab takut ketahuan oleh lelaki itu. Akhirnya Ia menunggu di dalam mobilnya saja.
Tak lama kemudian Ia melihat Vano keluar dengan menjinjing tas belanjaan dan di sebelahnya ada seorang wanita mengenakan masker dan topi. Mereka nampak berinteraksi sebentar sebelum masuk ke dalam mobil dan melesat pergi. Elvina kembali melajukan roda mobil membuntuti suaminya.
__ADS_1
“Mau kemana dia kira-kira ya, penasaran banget gue,”
Elvina masih menjaga jarak aman supaya Ia tidak ketahuan mengikuti Vano. Mereka memasuki sebuah komplek perumahan. Kemudian Vano menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.
Vano keluar dari mobil dan mengantar perempuan itu serta belanjaannya hingga di depan pagar. Barulah Elvina paham, ternyata suaminya mengantar perempuan itu pulang. Elvina memotret mereka langsung.
Kecurigaannya kali ini terbukti benar lagi. Elvina memilih pergi. Sudah cukup Ia mencari tahu tentang kelakuan Vano di belakangnya dan yang membuatnya tak habis pikir adalah Vano masih terus mengelak. Padahal sudah jelas buktinya.
*****
“Eh Pak Vano udah pulang ternyata. Ibu mana, Pak? Tinggal ibu nih yang belum sampai rumah,”
Vano baru tiba di rumah langsung mendengar kalau Elvina belum sampai rumah. Amih bawa berita yang langsung membuat Ia khawatir. Ini sudah masuk waktu malam dan Elvina belum pulang.
“Kok belum pulang?”
“Iya, Ibu ‘kan tadi pergi enggak lama Pak Ken pergi, kelihatannya buru-buru juga, Pak. Tapi sampai sekarang belum sampai, malah Pak Vano duluan yang udah sampai di rumah,”
“Kenapa kamu biarin dia pergi?”
“Saya enggak enak mau larang, Pak. Lagian Ibu buru-buru banget,”
Vano berdecak pelan. Kemana istrinya itu? Pergi setelah dirinya pergi tapi malah Ia yang tiba lebih dulu. Mana ini sudah malam, Ia khawatir terjadi sesuatu pada Elvina.
Dengan cepat Vano menghubungi istrinya itu berharap langsung mendapat jawaban. Namun sayang tidak. Vano mengirimkan pesan juga tapi tentu tidak langsung mendapat jawaban karena telepon saja tidak dijawab oleh Elvina.
****
__ADS_1