Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 138


__ADS_3

“Ya udah jangan ribut-ribut lagi. Yang akur kalian itu,”


“Iya, Yah,”


“Jadi gimana? Elvina mau tetap pulang? Hmm?”


“Mau,”


“Nggak, jangan dulu, Bun. Aku mau sama Elvina dulu liburan di sini, boleh ‘kan, Yah, Bun?”


Vano meminta persetujuan mertuanya agar mengizinkan Elvina tetap di sini bersamanya. Bagi Vano masalah mereka sudah selesai. Dan seharusnya Elvina tidak meminta pulang ke rumah orangtuanya lagi, tapi kenyataannya perempuan itu tetap mau pulang ke rumah orangtuanya. Kemungkinan besar Elvina masih marah dengan Vano. Terbukti dari tatapan sinisnya begitu mendengar Vano meminta izin pada kedua orangtuanya agar Elvina tetap di sini.


“Aku mau pulang!”


“Pulang ke pelukan Vano maksud kamu ya, El?”


“Nah iya, benar kata Ayah. Iya ‘kan, El?” Tanya Vano seraya menaik turunkan alisnya. Anatha menggeleng tegas. Bukan pulang ke pelukan suaminya, maksud Elvina. Tapi justru pulang ke rumah orangtuanya. Itu yang Ia inginkan sejak tadi.


“Udahlah anteng-anteng di sini kalian berdua,”


“Ih papa kok begitu? Aku mau pulang, ikut mama papa, nggak mau di sini,”


“Kenapa, El? ‘Kan semua udah beres. Vano nggak selingkuh apalagi bawa perempuan lain ke sini, apa perlu liat cctv? Kamu masih ragu sama Vano?”


“Males aku di sini,”


“Emang kenapa, El? Kasian lah suami kamu kalau cuma dia sendiri yang di sini,”


“Ya biarin aja, aku mau ikut ayah bunda pulang,”


Dini melirik menantunya yang nampak menahan kesal karena Elvina ingin pulang. Kalau dipikir-pikir kasihan juga Vano. Sudah niat untuk menginap di hotel bersama Elvina, tapi Elvina malah memilih pulang.


“Kamu di sini aja, El,”


“Kok begitu, Bun? Tadi bukannya aku boleh ikut pulang?”


“Nggak usah, Sayang. Kamu di sini aja ya, ayah bunda mau pulang dulu,”


Vano tersenyum lebar mendengar ucapan mama mertuanya yang memberi persetujuan untuk Elvina diam di hotel bersamanya.


“Kok gitu sih, Bun? Aku mau ikut—“


“Elvina, jangan begitulah. Kalau udah nikah, ya kamu harus ikut suami, dengan catatan suaminya bener. Kalau suami nggak bener ya jangan diikutin,”


“Tapi aku itu masih kesel sama dia!” Ketus Elvina seraya menunjuk wajah suaminya yang langsung memundurkan kepalanya kaget.


“Kesel sama aku kenapa? Aku ‘kan udah jelasin semuanya dan udah minta maaf juga, aku harus apalagi dong supaya kamu maafin aku?”


“Ya udah mama papa pulang dulu ya, El, Van. Baik-baik kalian di sini,”


Elvina merengut karena orangtuanya tidak bersedia mengajak Ia pulang. Ia justru dibiarkan di hotel bersama Vano saja. Padahal ingin menghindari Vano saja.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, hati-hati, Yah, Bun,”


Usai berpamitan, Dini dan Arman langsung bergegas meninggalkan sepasang suami istri yang beberapa saat lalu bertengkar di hotel karena perkara selingkuh.


“Kamu puas ‘kan aku nggak dibolehin ikut pulang sama orangtua aku? Hah?”


“Udah, jangan ngomel-ngomel, banyak dosanya lho nanti. Mending enjoy aja, iya nggak?”


Vano mengedipkan satu matanya genit ke arah Elvina yang langsung membuang mukanya ke arah lain.


“Mana handphone aku? Kembaliin sekarang! Aku mau pake,”


“Untuk apa? Hubungi mama papa minta dijemput lagi? Ya ampun, Sayang, kenapa sih nggak betah banget sama aku ya,”


“Aku bakalan bosan kalau nggak pegang handphone,”


Vano akhirnya mengembalikan benda canggih milik istrinya itu. Pikirnya sudah aman. Elvina tidak akan kemana-mana lagi. Ia tidak akan menggunakan ponselnya untuk membuat pengaduan lagi.


“Kamu yakin nggak mau makan? Kalau aku sih udah kenyang ya,”


Jujur Vano kepikiran karena istrinya yang belum makan sementara perutnya sendiri sudah kenyang.


“Aku mau makan, tapi di luar,”


“Nanti kamu malah kabur,”


“Kabur kemana maksud kamu?”


“Ya kali aja udah minta bantuan ke siapa gitu melalui handphone, alesannya mau makan di luar nggak taunya mau kabur. Kalau mama papa sih nggak bakal bawa kamu kabur tapi barangkali ada yang mau bawa kamu kabur dari aku sekarang, kalian sudah kerja sama,”


“Kamu nuduh aja kerjaannya ya. Siapa yang aku mintain tolong untuk kabur? Hah?”


Elvina tidak habis pikir Vano berpikir seperti itu. Tadinya memang iya, Ingin sekali keluar dari hotel itu. Tapi hanya melibatkan diri sendiri saja atau pulang dengan orangtua, bukan kerja sama dengan orang lain yang tidak tahu menahu apa masalah yang tengah dihadapinya.


“Ya takutnya begitu, Sayang. Kamu minta tolong Jona, bisa jadi,”


“Enak aja! Aku nggak mau ngelibatin orang ya!”


“Ya udah kalau gitu ayo makan di luar,” ajak Vano seraya mengulurkan tangannya ke arah Elvina yang menatapnya dengan datar.


“Ayo, katanya mau makan di luar,”


“Aku sendiri aja,”


“Yang bener aja kamu kalau ngomong, El. Masa iya aku biarin kamu sendirian keluar?”


“Emang kenapa? Aku ‘kan bukan anak kecil lagi, aku bisa—“


“Ya aku tau kamu bukan anak kecil lagi tapi aku nggak akan biarin kamu pergi sendiri lah, meskipun untuk cari makanan aja,”


Elvina masih tidak bergerak. Ia keberatan suaminya ikut dengannya keluar untuk mencari makanan.


“Ayo, jadi nggak? Kalau nggak mau aku antar berarti kamu nggak usah keluar, biar aku aja yang cari makanannya terus aku bawa ke kamar,”


Elvina akhirnya beranjak. Tapi Ia tidak menerima uluran tangan suaminya. Ia beranjak ke pintu lantas Vano segera menyusulnya.

__ADS_1


“Aku ikut ‘kan, Sayang?”


“Iya, katanya tadi harus sama kamu,”


“Okay nggak masalah ya berarti?”


Elvina menganggukkan kepalanya tidak keberatan lagi kalau Vano ingin mengikutinya demi menjaga dirinya.


Daripada Ia ditinggal sendirian di kamar hotel, dan Vano pergi mencari makanan, lebih baik Ia ikut Vano saja. Tidak apa Vano ikut yang terpenting Ia tidak sendirian saja di kamar hotel yang luas sehingga menimbulkan pikiran negatif dalam diri Elvina yang akan merasa takut kalau sudah ada di tempat baru, hanya seorang diri, dan tempatnya luas. Ia harus beradaptasi dulu.


******


Jujur Elvina malu keluar dengan tangan yang diperban. Beberapa orang salah fokus menatap tangannya yang habis Ia lukai sendiri itu.


Harusnya tadi Ia mengenakan baju yang berlengan panjang, jangan menggunakan baju yang lengannya sebatas siku saja.


“Kamu kenapa pegang-pegang tangan terus? Sakit banget ya? Aku ajak ke rumah sakit nggak mau,”


“Aku malu, kenapa sih orang-orang pada ngeliatin tangan aku? Padahal ‘kan ini biasa aja,”


“Orang penasaran kali ya,”


“Kayaknya gara-gara kamu bikin perban kepanjangan deh, ini tuh panjang banget perbannya, nggak sesuai sama panjang luka aku tau nggak sih!”


“Ya biarin aja, yang penting diperban, Sayang. Aku ‘kan nggak jago pakai perban, makanya aku ajakin ke rumah sakit supaya diobati lebih tepat tapi kamu nya malah nolak. Ya udah salah sendiri deh,”


Menurut Elvina lukanya tidak terlalu panjang, hanya saja memang dalam, tapi Ken memasang perban seniat itu. Panjang perban melebihi lukanya. Dan tidak kira-kira pula.


“Lain kali makanya nggak usah sok tau mau ngobatin aku deh. Daripada jadinya malah begini,”


“Yang penting kamu nggak sakit, Elvina. Jangan protes terus deh. Kamu bukannya bilang makasih malah protes. Kalau aku masa bodo ‘kan nggak mungkin, aku dosa karena kamu itu istri aku. Nggak mungkin dong aku biarin aja tangan kamu berdarah-darah. Aku tega banget kalau kayak begitu,”


“Tuh nasi goreng, mau itu ya,”


“Mau nasi goreng?”


Elvina menganggukkan kepalanya. Vano langsung mengajaknya ke tenda penjual nasi goreng.


Ternyata Elvina mau menyamakan menu makannya tadi. Sebelumnya nasi goreng sempat dibuang Elvina dengan cara mendorong piringnya hingga jatuh dan pecah.


“Kamu mau juga?”


“Nggak, aku udah kenyang,”


“Yang bener? Nanti jangan minta punya aku ya,”


“Ya nggak lah. Aku juga tau kalau kamu lagi kelaparan,”


Elvina langsung pesan satu porsi untuk dirinya sendiri dengan rasa yang pedas sekali katanya dan tanpa ada acar sayur, tidak lupa Elvina juga memesan es teh manis sebagai minumnya.


“Nggak pesan minum sekalian untuk aku, El? Cuma satu aja?”


“Mau? Pesan aja sendiri,”


“Erghh bener-bener kamu ya, aku pelintir juga bibirnya. Orang mah dipesen sekalian, udah tau aku haus,”


“Ya mana aku tau, orang nasi goreng aja kamu nggak mau, aku pikir air minum juga nggak mau,”


Vano akhirnya memesan sendiri. Karena istrinya tidak menyertakan dirinya ketika memesan air minum.


Setelah itu Vano kembali duduk di samping istrinya. Suasana tidak begitu ramai. Hanya ada tujuh orang sudah termasuk Elvina dan Vano.


“Enak ya jalan malam berdua gini, berasa pacaran aja kita. Iya nggak?”


“Pacaran palamu, orang udah nikah,”


“Iya emang udah nikah tapi kayak pacaran, kamu setuju nggak?”


“Nggak, aku nggak setuju,”


“Ya udah terserah, yang penting kata aku barusan kita persis orang yang lagi pacaran gitu. Jalan-jalan berdua terus makan di pinggir jalan. Duh so sweet banget,”


“Itu si Delila kapan temenan sama kamu? Aku nggak tau tuh,”


Vano terkekeh mendengar pertanyaan istrinya yang keluar dari jalur topik pembicaraan. Tidak ada obrolan tentang Delila sebelumnya tapi Elvina malah membahasnya.


“Emang kenapa? Kok ngomongin dia?”


“Ya nggak apa-apa, aku tanya aja, kata kamu, kalian itu temenan. Bener begitu?”


“Iya bener, apa yang aku bilang ke kamu, ya itulah kenyataannya,”


“Terus kapan kalian berteman? Aku nggak tau,”


“Hmm jaman sekolah,”


“Terus ketemu lagi kapan?”


“Ya waktu itu,”


“Waktu itu kapan? Aku mana tau kapannya,”


“Pokoknya waktu kamu mulai cemburu, nah itu aku baru ketemu lagi sama Delila. Kenapa emangnya? Kok tiba-tiba ngomongin dia sih? Jangan bilang kamu cemburu lagi ya sama dia,”


“Nggak kok, aku pengen tau pasti aja soal pertemanan dan pertemuan kalian setelah beberapa tahun nggak ketemu,”


“Ya kayak gitulah kira-kira, El. Sekarang udah tau ‘kan? Nggak cemburu lagi ‘kan, Sayang?”


“Aku tuh sebenernya nggak cemburu,”


“Ah masih aja gengsinya. Males ah kalau udah gengsi-gengsian gitu, aku aja nggak pernah gengsi kok. Mau aku bikin cemburu lagi ya? Kalau aku selingkuh beneran gimana? Mau kamu?”


Vano terkesan menekan istrinya supaya dia mau mengakui kalau memang ada rasa terbakar di dada setiap melihat kedekatan antara Vano dengan Delila.


Tapi sayangnya Elvina tetap memiliki gengsi yang cukup besar. Dia tidak mau mengakui kalau memang ada rasa cemburu terhadap Delila.


“Delila emangnya nggak ada pacar. Kok dia mau deketin kamu? Nggak ada yang cemburu emangnya?”


“Dia sih setau aku belum punya pacar,”

__ADS_1


“Gila ya, dia sampai segitunya mau bantu kamu untuk tau perasaan aku. Aku udah pernah ketemu dia langsung dan ngomong pedas sama dia,”


“Iya makanya aku bilang jangan berlebihan kalau ngomong sama dia, karena dia nggak salah. Tapi kamu tetap aja,”


“Ya kamu pikir aja pakai otak. Gimana aku nggak marah ke dia? Orang dia aja kayak perempuan yang nggak bener deket-deket sama suami orang. Kalau dia bener ‘kan dia harusnya jaga jarak sama laki-laki yang udah beristri,”


“Iya aku tau kamu salah paham. Semoga nanti nggak lagi ya,”


Ketika nasi goreng datang, obrolan mereka berhenti. Elvina mulai makan semnetara Vano menyeruput minumannya.


“Arghhh segarnya. Setelah ribut sama kamu ternyata aku haus banget dan pengen minuman yang dingin. Akhirnya kesampean juga ya,”


“Terus kalau misal dia ternyata punya pacar dan salah paham, gimana? Apa kamu bakal jelasin ke dia?” Tanya Elvina yang masih menjadikan Delila sebagai topik obrolan dengan Vano.


“Iyalah aku bakal ngomong ke pacarnya itu. Tapi kayaknya nggak deh, Sayang. Kalau emang ada yang cemburu, udah dari awal ada yang telepon aku dan ngomong sama aku,”


“Sebenarnya nggak baik lho melibatkan orang lain begitu. Apalagi perempuan gampang pakai perasaan. Apa kamu nggak takut dia bakalan suka beneran sama kamu, Vano?”


Pertanyaan Elvina membuat Vano langsung terdiam kemudian menoleh pada Elvina. Ia mendapati kecemasan di wajah Elvina yang berusaha ditutupi perempuan itu.


Elvina adalah seorang perempuan jadi Ia tahu bagaimana tipe perempuan yang memang kerap sekali melibatkan perasaan terlalu besar ketika mendapatkan yang namanya kenyamanan. Bukan tidak mungkin Delila benar-benar menyukai suaminya karena Vano baik dan menghadirkan rasa nyaman untuknya. Elvina rasa Delila makanya bertahan meskipun Ia hajar habis-habisan karena dia merasa nyaman dengan Vano. Dihampiri ke rumah sudah, dikirimi pesan olehnya juga sudah, artinya Delila benar-benar tahan banting menghadapinya.


“Jangan-jangan dia beneran suka sama kamu makanya nggak masalah kalau aku hajar,”


“Ya nggaklah, Sayang. Dia nggak mungkin begitu—-“


“Kata siapa nggak mungkin? Bisa aja, dan kemungkinan itu besar, Ken,”


“Udah deh mending kamu makan nasi gorengnya sampai habis. Kamu kalau udah cemburu jadi overthinking ya. Nggak boleh lho punya pikiran buruk ke orang. Nanti kamu dapat dosa lagi. Udah marah-marah sama orang yang nggak salah, terus sekarang nuduh dia,”


“Aku nggak dosa marah-marah ke dia. Aku nggak akan marah kalau dia nggak buat salah. Salahnya dia adalah gatel sama suami orang. Meskipun itu kamu yang mau supaya aku cemburu, tapi tetap aja lah dia dosa karena dia bikin aku marah-marah,”


“Abisin makannya terus kita balik ke hotel. Setelah itu kita langsung istirahat,”


“Apa besok kamu kerja?”


“Besok ‘kan libur,”


“Oh iya, aku lupa,”


“Kamu kayaknya kepedesan ya, El,” ujar Vano seraya menunjuk Elvina yang sering minum dan mulutnya sedikit terbuka sambil berdesis dan juga ada sedikit keringat di kening perempuan itu.


“Iya lumayan,”


“Bukan lumayan lagi itu. Udah minum mulu dari tadi,”


Vano berinisiatif untuk meraih tissue kemudian Ia hapus jejak keringat istrinya itu dengan lembut agar Elvina makan dengan nyaman.


“Padahal kita makan di ruang terbuka lho, El, tapi kamu masih aja keluar keringat begini,”


“Iya karena pedes,”


“Eh aku mau tanya, tapi sebelumnya aku mau ingetin kamu ya, awas aja kalau kamu ngulangin kejadian tadi,”


“Yang mana?”


“Kamu ngelukain diri kamu sendiri. Aku benar-benar cemas banget, Elvina. Tolong ya kamu jangan ulangi itu lagi. Aku rasanya mau pingsan tadi saking jantungannya ngeliat kamu besetin kaca di tangan. Apa yang ada di pikiran kamu tadi? Kok bisa-bisanya kepikiran ngelakuin itu? Hah?”


“Nggak tau, aku marah banget dan merasa dikecewain sama kamu dan bukan sekali dua kali aja. Terus puncak kemarahan aku ya tadi, waktu aku ngelukain diri aku sendiri, nggak tau kenapa aku tiba-tiba aja kepikiran untuk sekalian aja mati daripada kamu injak-injak terus harga diri aku sebagai istri,”


“Ya Allah, Sayang. Bisa-bisanya kamu mikir begitu, jangan diulangi lagi tolong ya, aku bisa mati kalau kamu kenapa-napa. Tadi kamu nekat banget dan aku nggak nyangka,”


“Makanya jangan macam-macam, sesuatu yang nggak kamu sangka bakal terjadi kalau udha nyangkut pautin aku,”


“Ngeri banget dengarnya,”


“Ya makanya jangan macam-macam!”


“Nggak, satu macam aja udah cukup kok, Sayang,”


“Kamu ada niat untuk poligami emangnya?”


“Ya nggak ada lah, El. Ih kamu suka aneh-aneh aja ya omongannya,”


“Aku pengen tau aja gitu. Beneran nggak ada niat poligami?”


“Nggak! Bisa-bisanya tanya kayak begitu,”


“Ya kali aja kamu ada niat untuk poligami. Udah dari sekarang aku ngomong nih ya. Kalau kamu mau nikah lagi ya udah silahkan, tapi aku mundur. Aku nggak akan sekuat itu,”


“Hei, sini denger aku ngomong,”


Vano meraih tangan istrinya kemudian Ia meminta Elvina untuk duduk menghadapnya. Ia tersenyum kemudian saat anak rambut Elvina diterbangkan oleh semilir angin, Ia langsung menyelipkannya di balik telinga.


“Aku nggak akan nikah lagi. Udah sama kamu aja, Sayang,”


“Kenapa kamu nggak mau nikah lagi? Nanti aku ‘kan bakal tua, terus belum punya anak juga, dan—“


“Sst eh! Nggak boleh ngomong begitu. Mau kamu nggak punya anak sekalipun, aku nggak masalah sama sekali, El. Yang penting bagi aku itu, kita sama-sama terus,”


“Kenapa? Kok aneh sih? Bukannya lebih senang cari yang lebih muda nanti kalau aku udah tua? Yang lebih muda dan cantik ‘kan banyak tuh. Lagian kalau yang aku liat, Delila kayaknya lebih muda daripada aku, apalagi kata kamu dia belum punya pacar ‘kan?”


“Iya cuma aku nggak mau lah sama dia. Ah kamu nih suka aneh-aneh aja. Orang udah dibilang aku nggak mau nikah lagi, sama kamu aja terus sampai tua,”


Elvina menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kata-kata Vano. Sekarang dia bilang tidak mau menikah lagi, entah kalau nanti-nanti. Mengingat Ia tidak sebaik itu untuk tetap bersama Vano, apa Vano yakin untuk bertahan di sampingnya terus? Ia tidak yakin sama sekali.


“Aku mau ketemu Delila besok, boleh ‘kan?”


“Hah? Mau ngapain?”


Vano terkejut mendengar permintaan istrinya yang ingin bertemu Delila. Padahal Ia pikir masalah sudah selesai. Vano trauma dengan momen ketika Elvina bertemu dengan Delila. Elvina selalu saja menyakiti Delila baik dengan lisannya maupun dengan gestur tubuh yang tidak pernah kelihatan menghargai Delila bahkan ketika menemukan Delila bersamanya di depan kamar hotel, Elvina sempat menjambak rambut Delila dengan kejamnya. Ia sudah sempat takut Delila akan melaporkan Elvina ke pihak berwajib, bahkan sampai sekarang masih resah. Mungkin nanti Ia akan mengirimkan pesan permintaan maaf atas sikap istrinya kepada Delila.


“Mau ngomong aja sebentar,”


“Ngomong apa cari masalah, Sayang? Aku nggak mau ya kamu malah cari masalah sama dia,”


“Eh, emang kamu pikir aku ini mau cari masalah sama dia? Yang ada juga dia kali yang cari masalah duluan sama aku. Aku cuma mau ngomong bentar aja, emang nggak boleh?! Kenapa sih takut banget aku ketemuan sama dia? Kamu masih ada yang ditutupi dari aku ya?”


“Nggak ada sama sekali, ya udah nanti aku omongin ke dia,”

__ADS_1


“Nggak perlu, aku datang langsung aja ke rumahnya. Aku mau bicara baik-baik kok, tenang aja,”


__ADS_2