Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 128


__ADS_3

"Halo, Pak,"


"Eh Pak Vano, tumben ke pos, kenapa?"


"Enggak apa-apa mau nungguin Elvina di sini aja. Dia belum balik juga dari tadi,"


"Oh nunggu Ibu, memang pergi kemana?"


"Ke minimarket, tapi nggak balik-balik,"


"Mungkin memang belum ketemu yang dicari, Pak,"


Vano memilih untuk menghampiri penjaga rumahnya sembari menunggu Elvina. Ia duduk di depan pos keamanan sambil menyesap rokoknya.


"Tumben rokok nih yang dipegang,"


"Iya lagi pengen aja,"


Vano kembali menghubungi istrinya karena belum juga sampai di rumah padahal katanya hanya ingin membeli pembalut.


"Kemana sih? lama banget enggak balik-balik, mana udah makin sore, gue mau nyusulin juga kemana coba?" gerutu Vano dalam hatinya.


Vano langsung cepat melihat ponsel begitu ada panggilan masuk. Ia pikir dari Elvina. Ternyata dari orang lain, Delila.


"Halo, Del,"


"Istri kamu barusan datang ke sini dan dia marah-marah,"


"Astaga,"


Vano segera menjauh dari pos. Ia berdiri di taman outdoor rumah untuk bicara lebih leluasa dengan Delila.


"Pantes aja lama enggak pulang-pulang. Terus tadi ganti baju bukan kayak mau ke minimarket," batin Vano.


"Aku udah bilang kalau aku nggak mau ketemu dan bicara sama dia, tapi dia minta tolong sama security untuk ngomong lagi ke aku supaya aku berubah pikiran. Akhirnya aku temui dia. Dan kamu tentu bisa tebak dong, tujuan dia datang ke rumah aku dan mau ketemu sama aku itu untuk apa? dia marah, dia berkali-kali bilang kalau aku ini perebut. Lagian gimana dia bisa tau rumah aku sih?"


"Sorry sebelumnya. Dia udah beberapa kali ngeliat kita ketemu, dia pernah liat aku antar kamu ke rumah, ya mungkin dari situ dia tau rumah kamu. Jangan dimasukin hati omongan dia ya,"


"Dia itu paling enggak mau disuruh intorpeksi diri ya? dia enggak mau cari tau kesalahan apa yang udah bikin suaminya itu berpaling,"


*****


Kedatangan Elvina membuat Vano langsung bisa menghela napas lega. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Ia sudah khawatir sebab hari semakin sore.


Elvina keluar dari mobil tanpa kata-kata padahal Vank sudah menghampirinya. Vano kembali menunggu Elvina di pos selepas bicara dengan Delila.


“Kamu darimana? Lama banget, katanya cuma cari pembalut aja. Terus sekarang kemana pembalutnya? Enggak ada yang kamu bawa, El,” cecar Vano pada istrinya itu setelah mereka tiba di kamar.


“Elvina, kok enggak jawab aku? Mana pembalut yang kamu beli?” Tanya Vano karena Elvina belum mengeluarkan suaranya.


“Enggak ada,”


“Sebenarnya kamu itu enggak ke minimarket untuk cari prmbalut ‘kan? Kamu ke tempat lain,”


“Jangan sok tau!” Ujar Elvina seraya menatapnya tajam.


“Aku tau! Kamu ke rumah orang ‘kan? Terus kamu marah-marah sama orang itu. Kamu ini kenapa sih? Aneh banget deh,”


“Oh rupanya dia ngadu ke kamu? Iya?”


“Elvina dengar ya, aku enggak suka sikap kamu yang begini. Jangan cari masalah deh sama orang,”


“Cari masalah kamu bilang? Heh! Aku itu perlu ngomong sama yang udah berusaha ngotak-ngatik hubungan kita, memang salah aku ngelakuin itu? Hah? Aku nggak peduli salah, terus giliran aku peduli, aku mau memastikan hubungan kita baik-baik aja juga salah di mata kamu?”


“Enggak gitu caranya, kamu enggak sopan sama orang, masa datang-datang langsung nyalahin dia?”


“Aku punya etika kok, aku nggak datang langsung marah-marah. Malah kesannya aku yang ngemis waktu dia untuk ngomong berdua padahal harusnya dia dong yang temui aku dan ngakuin kesalahan terus minta maaf ke aku, ini malah kebik! Dia enggak tau diri! Salah tapi sikapnya kayak enggak buat salah apa-apa. Sebaliknya, dia malah nyalahin aku. Dia ngomong kalau aku ini mungkin istri enggak benar makanya kamu berpaling. Itu enggak pantas keluar dari mulut perebut punya orang! Tau enggak?! Apapun alasannya, yang namanya perselingkuhan itu enggak dibenarkan sama sekali,”


Vano menggelengkan kepalanya pelan menyaksikan Elvina yang melampiaskan amarahnya tidak main-main. Perempuan itu bicara panjang lebar dengan lancar tanpa hambatan dan suaranya juga tinggi, menandakan saat ini amarah Elvina sudah berada di level tertinggi.


“Memang aku izinin kamu untuk ketemu dia?”


Elvina tersenyum sinis dan menggeleng tak habis pikir. Vano mempermasalahkan kedatangannya di rumah Delila.


“Kamu pikir aku sudi datang ke sana? Hah? Aku terpaksa datang ke rumah dia karena aku udah gerah banget sama kebohongan kalian. Jelas-jelas udah ketauan, masih aja pura-pura bodoh!”


“Aku enggak selingkuh. Kamu masih nuduh aku, El?”


“Masih kurang bukti apalagi sih? Hmm? Aku enggak cuma sekali aja ketemu sama kamu!” Tekan Elvina seraya menunjuk dadanya suaminya.


“Tapi tuduhan kamu itu enggak benar sama sekali,”


Vano yang akan menyentuh pipi Elvina langsung mendapat penolakan keras. Elvina menghempas tangan suaminya.


“Coba ngomong baik-baik sama aku deh. Kamu kenapa selalu mikir kalau aku selingkuh? Apa alasannya?”


“Karena aku uda liat buktinya secara langsung, aku liat pakai mata kepala aku sendiri kalau kamu itu beberapa kali ketemu dia, terus dia rajin hubungin kamu. Apalagi kalau bukan selingkuh namanya? Hah? Itu cuma teman? Kamu pikir aku bodoh, Ken? Mana ada teman yang interaksi kayak kalian? Enggak ada!”


“Ya ampun, Sayang, tolonglah jangan debat, mending makan nasi kebuli aja deh, enak,”


Elvina benar-benar tidak dalam kondisi yang baik sekarang. Suasana hatinya hancur berantakan dan Vano malah mengajaknya bercanda padahal mereka tengah bicara serius.


“Kamu mengalihkan pembicaraan,”


“Bukan begitu, aku capek aja ngeliat kamu marah-marah terus,”


Saat Vank selesai bicara seperti itu, ada panggilan masuk di telepon genggam Vano. Ia melihat nama Delila di layar. Ia sempat melirik Elvina yang kebetulan menatapnya.


Tanpa basa-basi lagi Elvina merampas ponsel Vano kemudian membantingnya ke lantai. Ia tahu kalau yang menghubungi Vano adalah perempuan itu. Padahal baru beberapa saat lalu Ia temui dan Ia berikan peringatan tegas untuk berhenti mendekati Vano, tapi ternyata dia masih saja lancang menghubungi Vano.


Vano terkejut bukan main melihat ponselnya di lantai. Ia menatap istrinya dengan sorot mata tidak menyangka. Elvina telah mengorbankan ponselnya dimana semua yang penting ada di sana.


“Itu banyak banget kerjaan, El. Kenapa kamu banting? Hah?”


“Aku enggak peduli! Apa dia enggak jera juga ya? Baru juga aku pulang setelah ketemu dia, aku kasih peringatan ke dia supaya enggak ganggu rumah tangga kita lagi, tapi nyatanya dia bebal, keras kepala, enggak tau malu! Untuk apa dia masih hubungi kamu? Ada urusan apa? Mau ngobrolin soal hubungan pertemanan kalian? Atau hubungan gelap kalian?”


Vano berdecak tidak meladeni ucapan Elvina. Ia merunduk untuk meraih ponselnya namun Elvina langsung menginjak-nginjaknya hingga membuat Vano semakin kaget.


“Elvina! Jangan kurang ajar ya!”


“Kenapa? Aku enggak takut sama kamu!”


Vano marah, Ia benar-benar emosi sekarang. Ia menghempas kaki Elvina agar berhenti bertindak seenaknya.


“Aku enggak pernah ya ngerusak handphone kamu karena aku tau benda ini penting banget, tapi sekarang apa yang udah kamu lakuin, El? Kamu ngerusak handphone aku, semua kerjaan aku ada di sini!”


“Bukan kerjaan yang sebenarnya kamu cemaskan, tapi perempuan itu. Kamu takut dia enggak bisa hubungi kamu, nanti kalian jadi susah bertukar kabar ya?”


Vano menggertakkan giginya marah. Gerahamnya beradu satu sama lain. Daripada Ia menampar Elvina yang sudah kelewat batas sekarang ini, lebih baik Ia redakan amarah serta rasa terkejutnya atas sikap Elvina. Ia memilih untuk menjauh sementara. Ia takut hilang kendali kalau ada di dekat Elvina.


*********


“Pak, mau kemana?”


“Pergi sebentar,”


Vano buru-buru keluar dari rumah meninggalkan Amih yang kebingungan karena melihat langkah Ken yang tidak sabaran.


Tidak lama kemudian, Amih bertemu dengan Amih yang mengedarkan pandangan seolah tengah mencari sesuatu.


“Kenapa, Bu? Cari Pak Vano? Barusan aja keluar,”


“Oh keluar kemana? Dia bilang sama kamu?”


“Enggak, Bu. Cuma bilang pergi sebentar aja,”


“Oh okay,”


Elvina balik ke kamar. Ingin mengikuti Vano sebenarnya tapi Ia jengah. Bertengkar dengan Vano barusan sudah menguras tenaganya.


“Biarinlah, terserah dia mau kemana. Paling mau ketemu lagi sama selingkuhannya itu,”


Elvina terdiam sebentar kemudian Ia menangis. Dalam kesendirian, air matanya jatuh tak terbendung. Suasana hatinya saat ini sangat buruk. Pertengkaran dengan Vano karena orang lain sering terjadi belakangan ini padahal sebelumnya tidak.


Elvina buru-buru menghapus air matanya ketika nomor teleponnya dihubungi oleh seseorang yang tak lain adalah mamanya sendiri.


Elvina menghembuskan napas kasar sebelum menjawab panggilan mamanya. Ia tidak mau ketahuan sedang menangis, entah mengapa untuk saat ini apa yang Ia rasakan ingin disimpan sendirian saja.


“Assalamualaikum, Kak,”


“Waalaikumsalam, Ma,”


“Kamu sehat ‘kan?”


“Iya alhamdulillah, mama sehat juga ‘kan?”


“Alhamdulillah sehat, entah kenapa dari pagi mama kepikiran kamu terus, Kak. Tapi bener enggak apa-apa ‘kan?”


Elvina tersenyum, entah bagaimana ceritanya apa yang Ia rasakan sampai pada sang mama dan membuatnya khawatir.


“Aku baik-baik aja kok, Ma,”


“Alhamdulillah kalau begitu, Mama jadi tenang dengarnya,”


“Orang udah papa bilang Anatha sehat-sehat aja, mama enggak percaya,”


Elvina bisa mendengar suara papanya yang kini bicara pada sang istri. Arman sempat bingung karena istrinya tidak tenang memikirkan Elvina terus katanya. Ia berusaha meyakinkan bahwa Elvina baik-baik saja, dan masih seorang mengirim pesan satu sama lain, kalau Elvina sakit atau terjadi sesuatu, pasti Elvina sudah menghubungi.


“Vano ada dimana, El? Dia udah packing untuk pergi sama papa belum?”


“Mas Vano lagi di kamar mandi, Yah. Sebentar lagi packing kok, Yah,”


“Oalah belum, padahal papa mau ngeledek dia apa aja yang dibawa,”


“Baju, Yah,”


“Iya kalau itu ayah juga tau,”


“Iya paling baju aja ‘kan?”


“Iya, semua perlengkapan dia lah, kamu tau ‘kan? Kamu yang packing atau Vano sendiri?”


“Nanti mau bareng-bareng, Yah. Soalnya aku bingung dia mau pakai baju apa aja,”


“Ya udah, salam untuk Vano ya, Kak. Kalian sehat-sehat,”


“Iya, Yah,”


Obrolan Arman dengan putri sulungnya selesai. Giliran Dini yang menguasai obrolan lagi. Ia belum puas bicara dengan putrinya.


“El, mama cuma mau bilang, kalau nanti Vano pergi sama papa, otomatis ‘kan kamu keselian karena cuma ada Amih aja yang jadi teman kamu. Mending nginap di rumah mama papa ya,”

__ADS_1


“Iya siap, Bun,”


“Jangan siap-siap enggak taunya kamu enggak ke sini,”


“Sebenarnya sama aja, di rumah itu juga aku bakal kesepian ya, Bun. Soalnya ‘kan cuma ada bunda,”


“Ya enggak dong, kita bisa jalan-jalan, intinya ngabisin waktu berdua, eh bertiga kalau Elvina mau, jadi yang cowok-cowok pergi, kita juga enggak boleh kalah,”


“Aku udah kalah, Bun. Entah kenapa sekarang aku merasa kalah sama perempuan lain,” batin Elvina yang malah berpikir ke arah lain, padahal pembicaraan mamanya tidak menyinggung ke arah manapun.


“Kak, jangan lupa ke rumah ya?”


“Iya, Bun. Insya Allah aku bakal nginap di rumah mama kalau Vano memang udah pergi,”


“Dikasih izin sama Vano ya?”


“Nanti aku minta izin dulu sama dia,”


“Enggak minta izin juga enggak apa-apa kali ya. Dia kayaknya enggak peduli,” imbuh Elvina yang kali ini hanya bergumam dalam hati saja.


*****


“Itu nasi kebuli dari siapa? Kata Amih, kamu yang terima nasi kebuli ini. Enak juga lho, aku udah makan tadi, El,”


Padahal Elvina tidak bertanya apapun, mengajak bicara Vano sejak tadi juga tidak. Tapi Vano begitu aktif mengajak istrinya berinteraksi.


Kalau sudah marah, Elvina memang sulit diajak bicara sampai suasana hatinya sudah membaik barulah Ia bersikap seperti biasanya dan tidak pasif dalam obrolan.


“Beneran kamu yang terima nasi ini?”


Makan malam mereka dengan nasi kebuli. Dan ini makan malam yang sudah terlambat sekali. Vano baru pulang setelah tadi pergi.


“El, aku nanya lho. Kok enggak jawab sih?”


“Hmm,” Elvina hanya mengeluarkan suara dehemannya saja sebagai jawaban.


“Handphone aku enggak bisa dibetulin lagi. Jadi tadi aku beli yang baru deh, makanya aku pergi begitu handphone aku dibanting sama kamu,”


“Alasan, paling juga ketemu sama dia ‘kan? Kamu kasih kabar ke dia kalau handphone lama kamu udah aku buat rusak,”


“Seriusan, aku memang keluar karena urusan handphone, El. Dibetulin harganya udah sama kayak beli baru, akhirnya aku beli baru aja,”


“Enggak nanya!” Ketus Elvina yang mengundang kekehan dari suaminya itu.


“Kamu bikin nasi kebuli dong, sesekali. Penasaran, bisa seenak ini atau enggak,”


“Enggak! Aku ‘kan nggak bisa apa-apa, gimana sama selingkuhan kamu? Dia bisa apa? Pantes selingkuh, dia lebih unggul kali ya? Tapi sayang sih, sama suami orang,”


Vano menghembuskan napas pelan seraya menggelengkan kepala. Istrinya makin menjadi-jadi. Semakin jago untuk menyindir.


“Nuduh itu dosanya besar lho, El. Apalagi kalau nuduh suami. Kamu enggak takut dosa ya?”


“Enggak, karena aku enggak nuduh, aku bicara fakta. Aku ngomong berdasarkan apa yang aku liat,”


Elvina menyuap nasi kebuli dalam diam , tak mengatakan apapun lagi dan Vano juga tidak mengeluarkan sepatah katapun.


“Oh iya, nanti bantuin aku packing ya?”


“Sendiri aja, aku mau istirahat, capek!”


“Sebentar aja, aku ‘kan mau pergi sama papa,”


“Mau pergi sama siapa kek, terserah kamu, itu bukan urusan aku,”


“Aku tuh enggak jago packing, El,”


“Aku enggak peduli,”


Vano memutar bola matanya dengan perasaan jengkel. Elvina sedang buruk sekali mood nya. Padahal dia baru saja menghabiskan satu ponsel. Harusnya yang kesal atau uring-uringan adalah Vano karena benda berharganya dirusak sampai akhirnya Ia harus keluar uang untuk ganti yang baru.


“Aku jadi boros bulan ini, karena beli handphone,”


“Kenapa harus beli lagi? Pake aja handphone kamu yang lain, ‘kan punya lebih dari satu,”


“Tapi aku pengen ganti ah,”


“Ya udah enggak usah ngoceh. Duit juga banyak, enggak seberapa bagi kamu kalau cuma untuk beli handphone,”


“Enggak seberapa gimana? Dua lima aku keluarin,”


“Itu akibatnya kalau cari masalah sama gue,” tekan Elvina seraya menajamkan tatapannya ke arah Vano.


“Heh! Kok ngomongnya gue?” Vano membalas tatapan sang istri. Ia tidak suka istrinya mengubah panggilan menjadi gue. Sudah bagus aku, lebih manis dan sopan.


“Suka-suka mulut gue! Lo enggak berhak ngatur,”


“Ya enggak boleh suka-suka dong, udah bagus aku kamu aja, sejak kapan jadi lo gue?”


“Yayayaya,” sengaja Elvina mengeluarkan gumaman yang mengundang rasa jengkel di hati Vano makin membumbung tinggi.


“Sayang, nanti bantu aku packing ya? Kamu ‘kan tau apa aja yang aku butuhin,”


Sekali lagi Vano berusaha supaya Elvina bersedia membantunya. Elvina beranjak dari meja makan membawa piring bekasnya makan. Nasi yang Ia makan hanya sedikit saja sehingga cepat habis sementara Vano masih tersisa sedikit sebab porsinya lebih banyak dari Elvina.


“Enak nasinya, mau nambah ah,”


Elvina datang lagi ke meja makan dan meneguk air minumnya. Ia membuka mulut untuk menyahuti Vano yang sudah berulang kali memuji nasi kebuli pemberian Jona memiliki rasa yang lezat.


Ucapan Elvina membuat Vano terbatuk. Tadinya Elvina tidak mau cari masalah dengan mengatakan bahwa itu dari Jona, tapi karena mereka sudah terlanjur ada masalah dan bertengkar beberapa saat lalu, maka sekalian saja Ia jujur.


“Seriusan ini dari Jona? Kamu minta kirimin sama dia? Ngapain? ‘Kan kamu bisa beli sendiri, atau minta tolong aku,”


Kenyataannya Elvina tidak minta dikirimi, Jona saja yang baik hati mengirimkan makanan lagi ke rumahnya. Kemarin ayam bakar dari Jona dibuang, sekarang nasi kebuli nya dimakan bahkan Oleh Vano juga karena Vano tidak tahu kalau itu dari Jona. Mungkin kalau Vano tahu sejak awal, lelaki itu akan melakukan hal serupa dengan sebelumnya, yaitu membuangnya ke tempat sampah.


“Ih aku mau muntahin enggak bisa,”


Vano mendorong piringnya menjauh. Ia gagal mau nambah, bahkan yang masih ada di piring Ia abaikan begitu saja setelah mendengar dari istrinya bahwa nasi kebuli yang Ia nilai lezat itu adalah pemberian Jona.


“Muntahin aja, lagipula Jona enggak rugi. Jangan munafik! Kamu tadi suka, bilang enak terus bahkan mau nambah,”


“Aku bukan munafik, kalau aku tau ini dari dia, enggak bakalan mau aku makan. Takutnya udah dibaca-bacain sama Mbah dukunnya. Niat hati mau memikat kamu, eh malah aku yang kepikat, ‘kan gawat. Naudzubillah deh,”


“Jangan kebiasaan berpikiran buruk ke orang apalagi aku tau banget dia itu gimana,”


“Hati orang siapa yang tau? Barangkali dia cuma pura-pura baik aja di depan kamu, aslinya mah enggak. Dia mau rebut kamu dari aku,”


“Tuh, nuduh orang terus, dosa kamu!”


“Lah apa kabar sama kamu, Sayang? Kerjaan kamu itu nuduh aku terus,”


“Beresin meja makan ya, soalnya Amih udah tidur. Kamu yang ngajakin aku makan tadi, bahkan maksa padahal udah malam,” ujar Elvina yang ingin meninggalkan ruang makan.


“Kamu mau kemana? Ke kamar? Janganlah, tungguin aku beres-beres dulu,”


“Ya ujungnya aku yang bakal beresin, udahlah, kamu naik aja sana! Biar aku yang beresin meja makan,”


“Enggak-enggak, aku aja, kamu duduk temenin aku udah cukup kok,”


Vano ingin melaksanakan tugas yang diberikan istrinya jarang-jarang. Ia tidak mengizinkan Elvina yang melakukannya, Ia hanya ingin ditemani saja oleh Elvina.


“Kenapa? Kamu takut sendirian di dapur makanya minta temenin sama aku?”


“Enggak sih, cuma enggak pengen sendirian aja, suka iseng,”


“Emang harus hati-hati, Mas. Biasanya hantu suka sama orang yang hobi selingkuh,”


Mendengar itu, Vano langsung menelan ludahnya susah payah dan mendadak Vano merasa bulu romanya berdiri. Elvina menyebut hantu disaat sudah malam begini, ya walaupun tergolong belum terlalu malam sebab baru jam delapan, tapi tetap saja berhasil membuatnya jadi meremang.


“Jangan ngomongin dia, nanti beneran nongol,”


“Aku ‘kan cuma kasih tau kamu. Biasanya yang hobi selingkuh itu emang suka digangguin. Aku naik aja ah ke kamar, kamu sendiri di sini, katanya mau beresin meja makan ya? Enggak usah aku ‘kan? Ya udah, silakan deh, aku naik aja,”


“Aku enggak takut sama hantu karena rajin ibadah, dan aku enggak hobi selingkuh, jadi santai aja. Aku cuma pengen kamu di sini temenin aku, daripada kamu juga sendirian di kamar enggak ada aku, kalau ada yang nyolek-nyolek gimana?”


Gantian Vano yang menakut-nakutin istrinya. Elvina langsung memukul lengan Vano dengan serbet yang ada di atas meja makan.


“Nah ‘kan, dia yang takut sebenarnya,”


“Enggak! Aku juga rajin ibadah kok, jadi enggak takut,”


“Rajin emosi juga, kata orang kalau sering emosian suka digangguin sama setan kuda lumping,”


“Ih apaan sih!”


“Bercanda kok, Sayang,”


Vano langsung menjauh tatkala Elvina ingin melemparinya dengan garpu. Seram juga kalau sampai garpu itu menancap di salah satu bagian badannya.


“Jangan main-main ah sama benda tajam. Ini malam jumat lho,”


“Ya makanya kamu jangan nakut-nakutin aku!”


“Kamu duluan yang mulai, segala ngomong selingkuh-selingkuh segala, enggak jelas kamu tuh,”


“Ya aku ‘kan cuma kasih peringatan untuk kamu, Mas. Supaya kamu hati-hati aja,”


Vano membereskan meja makan dan anehnya Elvina kali ini mau menuruti ucapan suaminya. Ia diam di kursi menunggu suaminya selesai mengerjakan tugas darinya.


“Dah, beres deh. Ayo ke kamar bantuin aku packing ya,”


“Emang aku udah bilang iya? Perasaan enggak deh,”


“Ayolah, El. Kamu enggak mau banget bantuin suami deh. Tolong bantuin aku packing,”


Begitu tiba di kamar, Elvina langsung duduk di ranjang sementara Vano mengeluarkan koper dan membuka lemari lebar-lebar.


“Pilihin baju aku, El,”


“Tolong!”


“Iya, aku minta tolong,” Vano lupa menyematkan kata ‘tolong’ makanya Elvina menekan kata itu.


“Bayar berapa?”


“Aku baru aja keluar uang buat beli handphone baru, sekarang harus ngeluarin juga untuk kamu?”


“Ck! Dasar perhitungan! Sama yang lain kamu begitu juga? Kok dia mau sih sama laki-laki kayak kamu? Pelit, enggak mau keluar duit,”


“Eh kalau aku pelit aku mah enggak bakal kasih duit ke kamu. Itu tandanya apa? Aku enggak pelit, mau tanggung jawab atas kewajiban aku,”


Elvina merotasikan bola matanya. Ia terpaksa beranjak dari ranjang karena Vano menarik tangannya agar membantu.

__ADS_1


“Kamu tau enggak sih aku ini lagi kesel banget sama kamu? Hah?”


“Tau, Sayang, enggak usah diomongin juga udah ketauan kok, tapi aku minta tolong, aku butuh bantuan kamu. Kesalnya dikurangin dikit lah, okay?”


“Aku cuma pilih baju aja ya,”


“Tolong masukin juga ke dalam koper, kayak biasanya kamu packing, El. Jangan setengah-setengah lah,”


“Udah minta tolong, banyak banget maunya lagi,”


“Sesekali doang, aku ‘kan enggak setiap hari packing baju. Ikhlas ‘kan, Sayang?”


“Enggak, enggak ikhlas,”


“Hah? Serius? Jangan gitu, nanti dapatnya dosa bukan pahala kalau enggak ikhlas,”


“Nih, bawa aja ke sana,”


Elvina memberikan baju pilihannya kepada Ken dan menyuruh Vano untuk membawanya ke dekat koper supaya nanti Elvina masukkan ke dalam koper suaminya itu.


“Ini aja?”


“Ya kamu mau bawa berapa? Aku sih tinggal nyiapin aja,”


“Ya udah lima stel aja bener, enggak usah banyak-banyak,”


“Itu ada kemeja kalau seandainya ada acara, terus ada baju santainya juga,”


“Iya siap, Bu, terimakasih,”


Vano senang sekali istrinya benar-benar bersedia membantunya untuk packing, sehingga Ia tidak pusing. Sudah Ia katakan sebelumnya, bahwa Ia tidak jago packing.


“Alat mandi, parfum, pakaian dalam belum, Na,”


“Sabar dong, aku lagi liat-liat baju lagi,”


“Udah enggak usah nambah, segitu aja udah cukup,”


Elvina akhirnya menutup pintu lemari pakaian. Ken tidak mau Ia menambah stok baju yang akan dibawa ke Kalimantan, menurutnya sudah cukup dan Elvina mendengarkan.


Sekarang Elvina memilihkan pakaian dalam suaminya dan membawanya ke koper. Nanti akan Ia satukan dengan rapi.


“Apa-apa masih disiapin, sampai pakaian dalam aja masih, eh coba-coba selingkuh dia,”


“Enggak selingkuh dong,”


“Udah kamu ajarin caranya ngurus kamu?”


“Siapa?”


“Ya dia lah!”


“Yang nanya,”


“Ya udah beresin tuh sendiri,”


Elvina kesla karena sahutan suaminya itu. Akhirnya Ia beranjak namun tangannya langsung dicekal oleh suaminya yang tertawa tidak tahu malu padahal sudah malam masih saja tertawa puas begitu.


“Gitu aja ngambek, ntar aku cium nih,”


“Orang aku tanya serius, dia udah kamu ajarin caranya ngurus kamu belum?”


“Udah,”


“Eh enggak—enggak, cuma bercanda kok,” kata Vano setelah melihat tatapan tajam istrinya. Elvina langsung percaya begitu mendengar jawabannya.


“Oh begitu? Udah kamu ajarin? Apa aja materi yang kamu ajarin ke dia? Ngurus kamu dalam hal apa? Makan, ngurus baju kayak begini, atau—“


“Astaga, aku cuma bercanda, El. Jangan baper dong,”


“Enggak, aku yakin itu kejujuran dari kamu, bukan lagi bercanda,”


“Itu cuma bercanda, seriusan,”


“Tuh. Berarti serius, buktinya ngomong begitu di akhir,”


“Iyalah, terserah,”


“Tuh ngomong iyalah, berarti beneran udah bgajarin dia tentang ini itu ya? Biar nanti kalau udah nggak sama aku, dia udah nggak kagok lagi. Gitu ‘kan?”


“Kamu mau pisah dari aku enggak?”


“Ya daripada kamu main-main di belakang aku mending pisah aja, iya enggak? Aku enggak mau makan hati,”


Malam-malam membahas perpisahan. Seharusnya membahas yang bikin senang. Biasnaya pasangan suami istri ‘kan begitu. Malam menjelang tidur ada saja obrolan hangat.


“Besok antar aku ke bandara ‘kan? Waktu aku mau pergi,”


“Kamu mau aku antar?”


“Mau banget, boleh ‘kan?”


Elvina diam, ketika lengannya diguncang-guncang oleh suaminya barulah Ia menganggukkan kepala.


“Ya!”


“Santai, bos,”


“Lagian ribet banget. Tangan aku enggak usah digituin dong,”


“Ya habisnya kamu enggak mau jawab,”


“Iya aku antar,”


“Yes! Gitu dong, senang aku jadinya,”


“Enggak minta antar sama dia aja?”


“Gila aja kali, ada papa masa aku mau—“


“Oh karena ada papa aku jadi enggak berani minta antar dia, iya?”


“Enggak deh, canda,”


“Halah! Canda-canda, bilang aja kayak gitu,”


“Aku enggak paham dia siapa yang kamu maksud, aku enggak punya dia, punya nya cuma kamu,”


******


“Dasar norak! Mentang-mentang handphone baru bunyi nya sampai berisik banget,”


Elvina menonaktifkan ponsel Vano yang berdering. Ia tidak sadar kalau ada telepon dari seseorang. Karena Ia masih mengantuk akhirnya Ia matikan begitu saja tanpa melihatnya.


Setelah adzan shubuh, Elvina terbangun seperti biasa. Ia mengikat rambutnya secara asal kemudian turun dari ranjang. Ia mengambil air wudhu untuk ibadah, setelah itu membangunkan suaminya, hanya dengan mulut. Kalau tidak mempan dengan mulut biasanya Elvina pukul kaki Ken menggunakan guling.


“Ken, bangun! Udah adzan tuh, shalat!”


“Iya,”


Elvina tidak perlu harus repot membangunkan suaminya pagi ini. Sebenarnya pagi-pagi biasanya juga tidak susah. Vano agak sulit bangun pagi kalau Ia tidur terlalu malam. Semalam itu jam sepuluh Vano sudah tidur. Kemungkinan besar kalau dia tidur jam satu malam ke atas barulah Elvina harus lebih sabar sedikit membangunkan suaminya itu.


“Aku agak enggak enak badan nih kayaknya,”


“Kenapa? Demam?”


“Pusing banget, sama hidung aku mampet,”


“Ya udah istirahat aja dulu di rumah, enggak usah kerja,”


“Liat nanti dulu deh, kalau emang enggak kuat buat kerja aku bakal libur dulu,”


Mereka melaksanakan shalat berjamaah. Setelah itu Vano ingin mengikuti Elvina ke dapur. “Kamu sarapan roti aja biar langsung bisa minum obat,”


“Kamu enggak masak?”


“Tadinya aku mau beli bubur, Amih enggak usah masak,”


“Oh ya udah aku juga sama kayak kamu,”


“Tapi ‘kan bubur agak siang, jam tujuh paling cepat, enggak apa-apa?”


“Hmm ya udah deh, sekarang aku makan yang ada aja dulu biar cepat minum obat,”


“Iya itu yang aku bilang,”


“Nih roti sama selai,”


Vano duduk di meja makan, Elvina mengulurkan roti dengan selai. Vano menggelengkan kepala. Ia ingin Elvina yang membuat.


“Kok jadi kasih ke aku?”


“Ya ‘kan kamu yang mau makan,”


“Bikin dong, El. Mentang-mentang aku yang mau makan terus kamu enggak mau bikinin roti buat aku,”


“Biar kamu mandiri, jangan apa-apa disuapin,”


“Aku enggak minta disuapin tuh,”


“Bukan itu yang aku maksud! Apa-apa minta ke aku,”


“Karena kamu istri aku, masa minta ke yang lain?”


Elvina mulai mengolesi roti untuk disantap suaminya. Setelah itu Ia juga mengambilkan air putih hangat.


Melihat Ken beranjak dari meja makan, Ia bertanya, “Kemana? Mau sarapan ‘kan?”


“Ambil handphone bentar,”


“Sekalian ambil obat kamu tuh di kamar,”


“Okay siap,”


Vano bergegas ke kamar mengambil ponsel pintarnya sekaligus obat yang dipesan istrinya tadi.


“Lah perasaan semalam masih ada batre nya deh, kok ini mati,”


Vano bingung sebab ponsel pintarnya mati. Ia pikir kehabisan daya, ternyata begitu Ia tekan tombol power, langsung bisa hidup dan daya masih delapan puluh satu persen.


Vano membuka riwayat panggilan tidak terjawab sebab ada pemberitahuan begitu ponselnya aktif bahwa di jam empat pagi tadi ada panggilan masuk.

__ADS_1


“Kayaknya Elvina nih yang matiin handphone gue, karena dia nelpon. Kok lancang banget sih!”


__ADS_2