
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pernikahan antara Vano dan Elvina berlangsung dengan meraih dan berjalan lancar sampai akhir. Semua tamu ikut bahagia dengan pernikahan antara dosen dan mahasiswinya itu.
Rata-rata teman Elvina yang diundang hadir untuk turut serta memeriahkan acara, begitupun dengan teman-temannya Vano yang didominasi oleh dosen. Baik itu dosen dari kampus dimana Ia mengajar sekarang maupun kampus-kampus lain karena kenalan Vano yangs esama dosen lumayan banyak juga ternyata. Sampai tadi Elvina merasa sedikit tidak percaya diri.
Karena lingkar pertemanannya Vano itu, semua orang berpendidikan tinggi, dukses, karir cemerlang. Sementara Ia lulus kuliah saja belum. Apa-apa masih mengandalkan orangtuanya.
“Kamu bahagia nggak, El?”
Setelah tiba di kamar, baik Elvina maupun Vano sama-sama gugup sebenarnya. Tapi mereka berusaha untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya sulit sekali. Keduanya bergantian mandi. Setelah itu makin bingung mau bersikap seperti apa. Ketika Vano keluar dari kamar mandi, Vano nelihat Elvina sedang mengeringkan rambutnya di delan cermin.
Elvina yang merasa diperhatikan tentunya makin gugup, tapi Ia tetap saja pura-pura sibuk sendiri.
Selama ini interaksi mereka wajar saja, bahkan terkesan dingin karena bisa dibilang jarang mengobrol berdua, apalagi di suatu tempat tertutup hanya berdua. Lalu tiba-tiba sekarang harus ada di dalam kamar yang sama, baru melaksanakan pernikahan, jadi rasanya pasti campur aduk.
“Iya, Pak,”
Untungnya ada yang bisa mencairkan sedikit suasana di antara mereka, yaitu ucapannya Elvina.
Bisa-bisanya Elvina masih menyebut Vano dengan sebutan ‘pak’ itu terkesan aneh sebenarnya, bukan seperti suami istri.
__ADS_1
Vano tertawa dan itu membuat Elvina mengernyitkan keningnya bingung. Letak lucunya dimana? Kenapa Vano tiba-tiba tertawa. Pertanyaan itu langsung berputar di benak Elvina.
“Pak Vano kenapa ketawa?”
“Kamu merasa nggak sih ada yangs alah dari ucapan kamu?”
“Apa itu?”
“Kamu kenapa manggil saya Pak? Menurut saya kurang tepat sih, El,”
“Kurang tepat gimana? ‘Kan emang selama ini panggilan saya ke Pak Vano begitu,”
Elvina selesai mengeringkan rambut dan menatap ke arah Vano melalui pantulan cermin. Vano duduk di tepi ranjang menatap ke arahnya sejak tadi.
“Jadi saya salah ya? Saya harus ubah panggilan?”
“Ya sebaiknya begitu,”
“Okay, jadi saya harus panggil apa? Menurut Pak Vano bagusnya apa? Dan sopannya apa? Jangan cuma bagus tapi harus sopan, harus yang baik juga,”
__ADS_1
Vano tersenyum mendengar istrinya meminta pendapat. Itu tanda bahwa Elvina menghargainya yang ingin panggilan untuknya dirubah.
“Hmm panggil nama boleh kok,”
“Jangan, ‘kan tadi saya bilang yang sopan, yang baik. Masa panggil nama?”
“Ya terus apa dong? Saya juga bingung, jujur,”
“Apalagi aku,”
“Masa aku panggil kakak?”
“Terserah kamu lah mau panggil saya apa,”
“Mas aja boleh nggak?”
Jangan ditanya seberapa besar rasa senangnya Vano mendengar itu. Hatinya menghangat ketika mendnegar Elvina menyebutnya dengan Mas, terdengar lembut di telinganya dan itu cocok menjadi panggilan dari Elvina untuknya.
“Saya senang dnegar kamu panggil saya dnegan sebutan itu. Makasih ya udah mau menghargai saya,”
__ADS_1