
Siang ini Elvina datang ke rumah orangtuanya karena Bundanya sakit jadi Elvina ingin menjenguk. Kalau sekedar tau keadaan dari ponsel saja kurang untuk Elvina jadi Ia harus mendatangi kediaman orangtuanya untuk melihat secara langsung keadaan sang bunda.
Sampai di rumah, keadaan Dini memang sudah jauh lebih baik, sama seperti penjelasan Dini ketika di telepon oleh Elvina yang menanyakan kabarnya.
Sekarang Elvina diajak makan siang bersama oleh kedua orangtuanya. Ketika hendak memulai makan siang, tiba-tiba ada tamu yang datang. Elvina langsung beranjak meninggalkan kursi begitu bel rumah dibunyikan.
“Liat dulu siapa tamunya, El. Kalau nggak kenal nggak usah dibukain. Ingat, harus waspada,”
“Iya, Yah,”
“Kalau teman Ayah atau Bunda pasti nelpon kalau seandainya mau datang, jadi itu coba kamu liat dulu deh,”
Elvina melangkah meninggalkan ruang makan untuk membukakan pintu kalau memang tamu yang datang dikenalinya.
Elvina tidak langsung membuka pintu rumahnya melainkan mengenali tamunya dulu dari kaca jendela.
Matanya mengerjap ketika melihat sosok suaminya ada di depan pintu rumah. Elvina sampai memajukan kepalanya supaya bisa melihat dengan jelas.
“Eh itu beneran Mas Vano ternyata,”
Elvina langsung cepat-cepat membuka pintu. Perempuan itu kaget mendapati kehadiran sang suami namun Ia juga senang sekaligus tidak menyangka kalau suaminya akan datang.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam. Ih seneng banget kamu datang ke sini, Mas, siapa yang nyuruh?”
“Kok siapa yang nyuruh sih? saya yang mau sendiri lah,”
Elvina tersenyum lebar hingga matanya menyipit setelah itu Ia merangkul lengan sang suami mengajaknya masuk ke dalam sekaligus mengunci pintu lagi. Jadi setelah Elvina mengatakan Ia di rumah orangtuanya karena sang bunda sakit, Vano langsung menyempatkan waktunya untuk berkunjung juga sekalian menjemput istrinya itu kalau memang dia ingin pulang. Kalau seandainya dia tidak ingin pulang alias menginap saja juga tidak apa-apa. Mengingat bundanya sedang kurang sehat.
“Aku pikir kamu disuruh gitu, makanya mau susulin aku ke sini,”
“Nggak nyusulin kamu sih sebenernya. Saya mau tau keadaan Bunda, saya khawatir karena beliau juga orangtua saya,” ujar Vano.
“Sebenarnya saya tadi pagi juga ketemu ayah dan sebelum tau dari kamu sebenarnya saya udah tau Bunda sakit dari ayah. Saya tadinya mau ngajak kamu jenguk eh ternyata kamu udah duluan jenguk ke sini jadi ya udah saya sekalian aja,”
“Lho, kamu ketemu Ayah? Dimana? ayah kayaknya lupa cerita ke aku deh. Eh iya kamu udah makan siang? Ayo kita makan bareng,”
“Iya saya mau beli makanan terus nggak sengaja ketemu ayah yang mau beli sarapan. Kami sempat ngobrol bentar dan ayah bilang bunda lagi kurang sehat,” ujar Vano menceritakan awal mula Ia bisa tahu ibu mertuanya sakit.
“Ayah bunda dimana?”
“Di meja makan, kita lagi mau makan bareng. Kamu ikut makan ya, Mas,”
“Okay, saya kebetulan emang belum makan. Kamu yang masak tuh?”
“Iya, bunda minta sayur asem, ikan asin, sama sambal terasi. Jadi aku buatin tadi,” ujar Elvina seraya mengajak suaminya ke ruang makan.
“Eh Vano yang datang ternyata. Gimana kabarnya, Van?” Tanya Dini begitu Vano duduk di salah satu kursi tepatnya di sebelah Elvina.
“Alhamdulillah baik, Bun. Keadaan Bunda gimana?”
“Alhamdulillah udah mendingan, Van. Tau Bunda sakit dari Elvina ya?”
“Dari Ayah, tadi pagi ketemu sama Ayah. Terus ngobrol dikit Ayah cerita kalau bunda lagi kurang sehat,” ujar Vano menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya.
“Oalah dari ayah, kirain dari Elvina, kamu ‘kan juga lagi kurang sehat, gimana sekarang?”
“Udah baikan banget kalau aku, Bun,”
“Dah kita makan dulu yuk, Vano ikutan makan juga, belum makan siang ‘kan? Kalaupun udah ya nggak apa-apa ikutan makan. Hitung-hitung nambah porsi,”
“Iya makasih, Yah,”
Vano terkekeh menanggapi ucapan ayah mertuanya yang ingin Ia ikut bergabung makan siang. Kebetulan memang Ia belum mengisi perutnya. Jadi tepat sekali momennya.
Tidak disangka oleh Elvina suaminya akan menyusul ke rumah orangtuanya dan sekarang mereka makan bersama.
Ia pikir Vano akan pulang sore atau malam, dan itupun pulang ke rumah mereka. Tapi ternyata Vano datang untuk bertemu dengan bundanya Elvina yang sedang kurang sehat.
Orangtua Elvina itu sudah Vano anggap seperti orangtuanya sendiri. Ia cukup terkejut mendapati kabar bahwa ibu mertuanya sakit. Kebetulan Elvina juga menjenguk, jadi Ia sekalian juga datang ke sini untuk melihat langsung keadaan ibu mertuanya.
“Kalian nggak ada rencana mau liburan?”
“Belum nih, Yah. Belum ada waktunya. Emang kenapa, Yah?” Tanya Vano pada sang ayah mertua yang baru saja mengajukan pertanyaan soal liburan.
Vano selalu disibukkan dengan pekerjaan apalagi sudah dua hari meninggalkan pekerjaan otomatis menumpuk.
“Ya nggak apa-apa, pengen tau aja. Kayaknya belum pernah liburan yang agak jauh berdua ya? Nggak mumet ya?”
“Mumet sih mumet, Yah. Tapi nanti-nanti aja kalau Vano udah bisa,”
“Sebenarnya sama mama Lisa udah pernah ngomong langsung ke Mas Vano tapi Mas Vano yang kayaknya nggak mau liburan sama aku. Emang aneh banget Mas Vano ini. Sibuk banget, nggak ada waktu untuk liburan barang sebentar aja,” batin Elvina. Ia sendiri tidak pernah mengajak Vano liburan karena memang Vano tampaknya tidak bersedia disebabkan oleh kesibukannya.
Kalau dia memang mau, pasti tanpa Ia yang memberi aba-aba, Vano sudah mengajaknya lebih dulu.
“Ngomong-ngomong bulan madu aja lagi. Nggak ada acara bulan madu jedua nih?”
Vano dan Elvina terkekeh dan sempat melirik satu sama lain. Pembahasan bulan madu membuat mereka canggung.
Elvina dan Vano sendiri tidak mau buru-buru punya anak jadi cukup canggung kalau membahas perihal anak.
“Nanti pasti berangkat kalau emang udah ada kesempatan, Yah,” Vano menjawab seadanya. Ia tidak bisa menjawab pasti karena memang belum ada kesempatan untuk pergi bulan madu dengan istrinya. Tapi kalau dia menjawab langsung terang-terangan seperti itu rasanya tidak enak didengar.
“Iya apapun yang terbaik untuk kalian, Ayah Bunda dukung. Kalau memang lebih nyaman bulan madunya di rumah aja ya nggak apa-apa. Intinya ‘kan yang penting sama-sama terus, bener nggak? Nggak bisa dipaksain juga kalau belum ada peluang,”
Makan siang mereka berakhir dan Dini langsung pamit ke kamar, sementara Vano dan Arman memilih ke ruang keluarga berbincang berdua, sedangkan Elvina sendiri mencuci piring kotor dan Bibi membantu menyimpan piring-piring tersebut.
*******
Vano dan Elvina sudah tiba di runah dimana mereka tinggal setelah melalui perjalanan yang tak begitu jauh dari kediaman orangtua Elvina.
Vano keluar lebih dulu sementara Elvina menyusul seraya menjinjing paper bag berisi kotak yang di dalamnya ada kue buatan sang bunda.
“Mas, mau nyobain kue Bunda nggak? Kalau nggak, mau aku simpan nih,”
“Nanti aja,”
Elvina menganggukkan kepalanya. Ia segera meletakkan kue itu di dapur dan menyusul Vano ke kamar.
“Istirahat, Mas,” ujar Elvina pada sang suami yang berdiri di dekat nakas sedang sibuk dengan ponselnya.
“Mas, aku atau kamu duluan yang masuk kamar mandi?”
“Kamu tapi jangan lama ya,”
“Ya aku emang nggak pernah lama kalau mandi. Yang jelas aku bersih, tapi cepat,”
“Masa iya?” Tanya Vano sambil tersenyum mengangkat satu alisnya.
“Dih nggak percayaan banget. Aku pasti bersih lah kalau mandi. Dan tentunya wangi, mau cium?”
Elvina menatap Vano dengan senyum usilnya. Vano dulu yang memulai dengan melontarkan komentar tentang cepatnya Ia bila mandi. Ia ladenin dengan mengusili Vano.
“Ya udah sana mandi, kenapa natap aku sinis gitu sih?”
“Lagian kepedean banget. Emang kamu pikir saya mau cium kamu gitu?” Tanya Vano dnegan sinis dan itu membuat istrinya kesal. Ternyata lelaki itu bisa juga bersikap menyebalkan.
“Cium apa dulu nih yang kamu maksud? Cium bibir? Lah aku mah nggak kepedean. Yang aku maksud ‘kan cium ketek aku, buat buktiin aku beneran wangi atau nggak,”
“Ngelantur omongannya. Dasar jorok kamu!” Omel Vano yang membuat Elvina terbahak dan setelah itu Vano menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Vano kelihatannya kesal sekali karena istrinya menggodanya seperti itu.
“Makanya nggak usah ngeraguin kewangian aku, Mas. Walaupun mandi cepet nih, tetap aja aku wangi dan bersih, tau nggak?”
“Ya abisnya nggak kayak cewek-cewek kebanyakan yang suka mandi lama,” ujar Vano.
“Beda lah, tiap orang ‘kan beda-beda. Tapi aku kadang juga lama kok kalau mau berendam gitu, atau pakai body scrub. Cepat kalau lagi emang malas terlalu lama di kamar mandi, nggak berendam dan nggak pakai scrub. Emang kamu tau darimana cewek biasanya mandi lama?” Tanya Elvina dengan nada curiga.
“Ya taulah, saya punya mama, saya punya adek mereka kalau siap-siap suka lama karena mandi mereka lama makanya saya suka makan hati kalau pergi bareng mereka, untung sayang sama mereka, kalau nggak udah emosi aya,”
“Aku kadang juga kayak gitu. Aku kirain mantan kamu yang mandinya lama. Kalau mantan kamu gimana, Mas? Lama juga? Terus kamu nungguin mereka mandi?” Tanya Elvina dengan usil.
“Orang gila! Ngapain saya nunggu mantan mandi? Ya nggaklah,”
“Lah kok tau kalau mandinya lama. ‘Kan nggak satu kamar, nggak satu rumah,”
__ADS_1
“Kalau janjian sama orang-orang terdekat saya yang perempuan suka pada telat datangnya karena mandi. Saya udah sampai, mereka masih mandi katanya. Dari situ saya simpulin emang kayaknya cewek suka banget mandi lama,”
“Nggak semua, Mas Vano. Jangan disama ratakan. Kalau aku orangnya mau yang cepat aja,”
Vano juga tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi. Begitu Vano keluar, giliran Elvina yang mengomentari.
"Kamu bersih nggak tuh mandinya? kok cepet? ikut-ikutan aku aja sih,"
"Duh Elvina, saya memang kalau mandi cepat, lagian saya laki-laki. Wajar aja kalau mandi cepat, kamu kayak baru kenal saya aja sih,”
"Nggak mau 'kan dikomentarin? makanya jangan ngomentarin aku, Mas Vano yang ganteng aku singkan hadi Mas VanGan,"
"Sekali lagi kamu nyebut saya Mas VanGan, saya bakal---"
"Cium? ah ngomong itu mulu tapi nggak pernah dicium beneran," selak Elvina dengan ekspresi wajah yang menantang. Sesekali Elvina tantang lelaki itu.
"Nanti kalau udah kelepasan beneran baru deh nangis, ngadu," sindir Vano.
"Hah? ngadu? siapa yang ngadu? aku ngadu ke siapa?"
"Ngadu ke orangtua,"
Elvina terkekeh mendengar penuturan sang suami. Mana mungkin Ia dicium malah laporan ke orangtua. Mau lebih dari itu pun tidak akan dipermasalahkan oleh orangtuanya karena Vano itu suami Elvina, anak mereka.
"Kamu ngomong apa sih? yang ada aku diketawain sama Ayah Bunda kalau aku ngadu habis dicium kamu. Ah kamu ada-ada aja deh,"
"Bercanda, jangan pernah ngadu kayak gitu ya. Malu-maluin banget soalnya,"
"Ya iyalah aku juga paham, Mas VanGan,"
Elvina sengaja memanggil suaminya dengan sebutan itu lagi karena rupanya menyenangkan juga membuat suaminya itu merasa kesal.
"Elvina! kamu kenapa sih kayak ngeledek banget? udah saya bilang jangan manggil Mas VanGan tapi kamu masih aja keras kepala,"
"Ya biarin aja, suka-suka aku lah," Kali ini Elvina menantang. Hal itu membuat Vano menggertakkan giginya geram. Dengan cepat Ia menarik pipi Elvina hingga perempuan itu meringis.
"Ih sakit!"
"Lebay, orang cuma pelan aja kok,"
Vano berbaring di atas ranjang dan langsung dapat peringatan oleh istrinya.
"Sholat Ashar belum. Sholat dulu, Mas,"
"Kamu udah?"
"Belum, ini aku mau ambil wudhu. Tadi lupa sekalian ambil wudhu," ujar Elvina seraya memasuki kamar mandi lagi kali ini bukan untuk mandi melainkan mengambil air wudhu.
Elvina keluar dari kamar mandi dan setelah itu menggelar sajadah dan mengenakan mukenanya.
"Eh El, kamu nggak mau bareng sama saya sholatnya?"
Elvina yang akan mengangkat tangannya untuk memulai sholat akhirnya tidak jadi karena suara Vano yang bicara kepadanya.
"Bareng apa?"
"Bareng sholatnya. Tumben nggak ngajakin saya, kenapa?" tanya Vano dengan salah satu alisnya yang naik.
"Ya udah buruan, aku pikir Mas mau belakangan, aku mau sholat sekarang ini,”
"Iya sabar, kaki saya lagi agak kesemutan, bareng ya, jangan suka sendirian gitu dong,”
"Emang sebenarnya jarang sih makanya kalau kamu lagi ada di rumah suka aku ajakin tapi kamu sering sewot nyuruh aku sholat sendiri aja," ujar Elvina bukan maksud menyindir. Tapi Ia hanya sekedar mengingatkan suaminya dengan sikapnya sendiri ketika Ia ajak untuk melaksanakan ibadah sholat bersama. Padahal Elvina ingin selagi suaminya di rumah, mereka sholat bersama. Hanya saja Vano sering tidak memiliki keinginan serupa. Vano sering enggan menjadi pemimpinnya dalam melaksanakan sholat.
"Ya karena kamu suka nggak sabaran juga sih, udah gitu ngajakin sholat bareng kayak ngomel. Gimana saya nggak kesal kadang. Ya emang sih saya salah karena nyuruh kamu akhirnya sholat sendiri tapi kamu jangan kayak ngomel juga ngajakin saya sholat, seolah saya malas aja kalau sholat. Ya udah bentar, saya ambil wudhu dulu,"
Vano beranjak meninggalkan ranjang menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Elvina yang mendengar penuturan sang suami dan sigapnya Vano ke kamar mandi tanpa banyak berkata-kata, Ia tersenyum tipis.
"Aku senang kita ngelakuin apapun bareng-bareng semkga secepatnya aku bisa cinta sama kamu ya, Mas,," batin Elvina yang sangat bahagia karena kali ini suaminya tidak menolak untuk sholat bersama bahkan dia yang mengajak. Ia tidak disuruh sholat seorang diri lagi.
Setelah Vano keluar dari kamar mandi mengambil air wudhu, sajadah sudah digelar oleh Elvina dan Vano langsung berdiri di atas sajadah tersebut yang posisinya tepat di depan Elvina.
******
Vano baru saja menghabiskan waktunya di balkon kamar seorang diri. kembali ke kamar dan Ia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di atas sana.
"Kamu mau kerja atau belum terserah kamu. Yang penting kayak biasa baju kerjanya udah aku siapin ya," ujar Elvina yang dibalas dengan anggukan oleh sang suami. Berhubung Vano baru habis sakit jadi Elvina tidak tahu keputusan suaminya mau bekerja atau tidak esok hari, yang penting sudah Ia siapkan perlengkapannya
"Makasih ya, El,"
"Sama-sama, duh padahal cuma dengar kata makasih ya, El aja aku udah senang bukan main, apalagi kalau dengar kalimat lain yang manis, dipastikan aku meleleh kayak ice cream. Kayak misalnya makasih ya El cantik,”
"Tingkah kamu suka aneh ya. Udah bisa godain saya,”
"Aneh gimana?"
"Ya kayak barusan. Nyamain dirinya sendiri kayak ice cream. Itu 'kan aneh,"
"Aku sih berharap kamu bilang cantik eh malah dibilang aneh,"
"Ya lagian masa nyamain dirinya sendiri kayak ice cream. padahal beda jauh, kalau ice cream seringnya manis, kalau kamu---"
"Apa? asem kecut? enak aja kamu!"
Vano tertawa lebar mendengar protes Elvina. Padahal Ia tidak akan mengatakan itu, hanya saja Elvina terlalu jauh berpikir atau memang sensitif sekali jadi protes dengan galak tapi di satu sisi sedih karena suaminya seperti sengaja ingin mengejeknya.
"Kamu jahat banget sih sama aku, Mas,”
"Hah? maksudnya?"
"Kamu mau ngomong aku asam kecut ya sebenernya? tapi kamu masih pikir-pikir ya?”
"Nggaklah, saya cuma bercanda aja kok. Jangan dimasukin ke hati ya. Ini 'kan bercandaan aja, El,"
"Aku manis kayak ice cream?"
"Hah? nggak juga sih,”
"Ih berarti bener dong kamu sebenernya mau ngeledek aku kalau aku ini nggak sama kayak ice cream karena ice cream kebanyakan manis, dan kamu mau ledekin aku asam kecut,"
Vano tertawa lebar mendengar penuturan istrinya yang memasang ekspresi wajah merengut.
"Kamu kenapa sih? mikir jelek aja ke aku. Emang siapa yang mau ledekin kamu? itu mah emang pikiran kamu aja kali,"
"Ya udah, aku mirip ice cream berarti 'kan? manis-manis gitu, atau aku cantik?"
"Ya nggak,"
"Ish nggak jelas jawabannya. Kamu bilang nggak tuh maksudnya nggak apa? aku belum paham, ya udah lah daripada pusing mikirin omongan kamu mending aku buka handphone aja,"
Alih-alih melanjutkan obrolan dengan sang suami, Elvina memilih untuk menjelajahi sosial media.
"Duh, liat orang pada liburan sama suaminya, aku jadi pengen deh," Elvina hanya bisa membatin ketika melihat salah satu postingan seorang teman lamanya yang sedang berlibur ke negeri Sakura bersama suami dan keluarganya.
Elvina melihat foto-foto yang diposting oleh teman lamanya itu sambil berharap dalam hati Ia bisa segera menyusul.
Beralih ke temannya yang juga sedang liburan ke negara yang identik dengan patung singa. Elvina semakin ingin liburan kalau sudah melihat orang lain memposting momen-momen liburan mereka.
"Bahaya emang liat postingan orang ya. Bawaaannya jadi kepengen terus. Kalau yang diposting adalah makanan, aku kepengen yang diposting tentang liburan otomatis aku juga kepengen liburan. Dasar manusia banyak mau," batin Elvina berkata-kata untuk dirinya sendiri yang tiba-tiba mengaitkan postingan liburan teman-temannya dan juga ingat pertanyaan papanya soal berlibur dengan Vano.
"Mama udah nyuruh aku sama Mas Vano liburan bareng, barusan Ayah juga kayaknya ngodein suruh aku sama Mas Vano liburan bareng, tapi Mas Vano belum jelas nih rencananya dia kayaknya masih sibuk banget," batin Elvina lagi.
Vano tiba-tiba berdehem setelah mengamati apa yang sedang dilihat oleh perempuan di sebelahnya itu di layar ponselnya.
Elvina menggulir layar untuk melihat postingan lainnya. Nanti keinginannya untuk berlibur semakin menggebu kalau melihat postingan orang-orang yang sedang berlibur. Tapi ujungnya Ia kembali melihat postingan temannya yang lain dan sedang liburan juga tapi ke Bali.
"Liburan?"
"Siapa?"
"Itu yang barusan kamu liat postingannya,"
"Oh iya, dia teman lama aku. Lagi ke Bali, fotonya di pantai bagus-bagus banget,"
"Oh, jadi kepengen liburan juga?"
__ADS_1
Elvina menatap suaminya kemudian menganggukkan kepalanya. Vano bertanya jadi Ia jawab. Bukan niat untuk melempar kode supaya Vano mengajaknya liburan.
"Ya udah liburan sendiri aja sana,"
Elvina mendengus dan merotasikan bola matanya. Kalau Ia mau liburan sendiri saja, sudah Ia lakukan sejak Ia dikode untuk liburan oleh orangtua dan juga mertuanya. Masalahnya mereka ingin Ia dan Vano yang liburan bukan Ia sendiri. Apa kata mereka kalau ia pergu berlibur sendiri.
Kenyataannya Ia tidak mau melakukan sesuatu yang menyenangkan hanya seorang diri, melainkan mau berdua dengan suaminya, maka Ia tidak ada niat untuk liburan sendiri saja.
"Biasanya kalau perempuan udah nikah nih, jarang yang mau liburan sendiri dan lagipula suami juga biasanya nggak kasih izin,"
"Ya kalau liburan sama saya 'kan nggak mungkin bisa," ujar Vano yang membuat istrinya menghembuskan napas kasar.
"Nggak mungkin bisa kalau nggak niat nyari peluangnya. Sebenarnya bisa aja diusahakan tapi kayaknya kamu emang nggak mau banget, keberatan banget liburan sama aku," Elvina menggerutu dalam hati. Vano hanya malas libiran dengan Elvina karena pada akhirnya mereka akan sibuk dengan duani maaing-masing, jadi untuk apa juga berlibur.
Vano menyuruh istrinya liburan sendiri saja. Padahal yang Elvina inginkan adalah berlibur dengan suaminya. Ia tahu Vano sibuk tapi sebenarnya bisa kalau memang Vano niat mau liburan. Vano tinggal mencari waktu yang tepat, Ia mengosongkan waktu ketika pekerjaan lumayan sedikit setelah itu mereka liburan sendiri.
"Sana liburan sendiri aja,"
Vano lagi-lagi menyuruh istrinya untuk liburan sendiri. Elvina jadi kesal mendengar ucapan suaminya.
"Apaan sih, aku nggak mau liburan sendirian. Jangan maksa aku deh," ujar Elvina yang hatinya panas karena suaminya terhitung sudah dua kali menyuruh Ia berangkat liburan sendir saja.
"Lah kok maksa? Saya 'kan nyuruh kamu untuk liburan sendiri karena kayaknya kamu kepengen,"
"Emang aku pengen,"
"Ya udah makanya liburan sendiru soalnya aku nggak bisa temenin kamu,"
"Nggak usah ngomong apa-apa deh. Kalau nggak bisa temenin aku ya udah nggak perlu nyuruh aku untuk liburan sendiri, paham nggak?"
Elvina mendengus kemudian meletakkan ponselnya di nakas, lalu berbaring memunggungi Vano seraya menarik selimut hingga menutupi badannya dari atas sampai bawah. Vano yang satu selimut dengan Elvina mendengus kemudian menarik selimut itu.
"Ih apaan sih? aku mau istirahat,"
"Ya jangan narik-narik selimut,"
"Biarin aja suka-suka aku,"
"Berdua selimutnya, El,"
"Kamu berisik banget,"
"Disuruh liburan malah sewot. Aneh banget kamu,"
"Ya iyalah, kamu mikir nggak sih sebelum ngomong? aku ini punya suami masa disuruh libur sendirian dengan entengnya sama suami aku sendiri. Lagian kamu 'kan udah liat gimana gelagat aku waktu kamu ngomong kayak gitu. Kamu bisa tau harusnya kalau aku ini nggak suka kamu suruh liburan sendiri. Eh kamu nya malah tetap aja nyuruh aku liburan,"
"Ya udah kalau nggak mau. Soalnya ayah kamu kayaknya pengen kita liburan, mama aku juga begitu waktu itu sempat nyinggung soal liburan bulan madu gitulah. Daripada nungguin aku belum jelas kapan pastinya mendingan kamu berangkat sendiri aja. Lagian ya aku malas liburan sama kamu, ujungnya apsti sibuk sendiri, trauma juga pas liburan kemarin ketemu mantan kamu,” ujar Vano pada istrinya itu.
Alih-alih mewujudkan apa yang dibicarakan oleh orangtua dan mertua, Vano justru menyuruh istrinya saja yang liburan sementara Ia ingin tetap bertahan dengan kesibukannya.
"Aku juga nggak minta liburan ke kamu 'kan? aku tau kamu orang yang sibuk, jadi aku nggak mau minta ini itu. Tapi bukan berarti kamu bisa nyuruh aku untuk liburan sendiri dong, aku nggak mau. Kalaupun liburan, aku mau sama kamu, ditemenin sama kamu karena aku istri kamu dan emang seharusnya suami dampingi istri kemana-mana 'kan? ya kalau bisa, tapi kalau nggak bisa juga nggak masalah. Aku nggak maksa tapi kamu juga jangan paksa aku untuk liburan sendiri. Intinya aku nggak mau,"
Ponsel Elvina di nakas bergetar dan Elvina langsung bergegas mengambilnya.
Elvina membuka satu pesan masuk dari teman semasa SMA nya. Temannya itu mengirimkan undangan pernikahannya disertai dengan kata yang ditujukan khusus untuk dirinya.
-El, datang ke acara nikahan gue ya, ajakin suami lo juga. Makasih sebelumnya-
"Woah Dewi mau nikah? ih ya ampun seneng banget dengernya,"
Vano mengernyit menatap istrinya yang bergumam sembari menatap ponselnya sendiri.
"Siapa yang mau nikah? kamu mau nikah lagi? kok saya dengarnya kayak gitu,"
Elvina menatap suaminya dengan tatapan sengit. Jelas-jelas ia tidak berkata seperti itu.
"Kata aku mendingan kamu cek telinga kamu ke dokter deh biar bisa diobatin segera,"
"Enak aja! emang kamu pikir saya budek apa?"
"Iya, aku nggak ada tuh ngomong mau nikah lagi. Kamu kali yang lagi ngirim kode ke aku mau nikah lagi ya? hmm? tapi kamu putar balik jadi aku yang seolah-olah ngomong begitu padahal teman aku yang mau nikah dan dia ngirimin undangan. Aku nggak bilang mau nikah lagi, makanya telinga kamu perlu dicek, Mas,"
"Nggak sopan mulutnya ya,"
"Lah kamu duluan yang ngomong aneh-aneh. Sejak kapan aku bilang kalau aku mau nikah lagi? aneh banget kamu nih, giliran disuruh cek ke dokter malah sewot,"
Elvina menyudahi perdebatannya dengan sang suami setelah itu ia membalas pesam yang dikirimkan oleh temannya bernama Dewi yang baru saja mengirimkan undangan permintaan agar Ia mau hadir sebagai tamu undangan di acara pernikahan Dewi yang akan digelar di sebuah ballroom hotel.
"Nanti temenin aku kondangan ya?"
"Nggak, kamu sendiri aja," ujar Vano dengan ketus dan tanpa basa-basi menolak permintaan Elvina.
"Kenapa kamu nolak? aku 'kan pengen kondangan sama kamu. Kayaknya nggak mau banget kondangan sama aku, emang kenapa sih? aku nggak akan bikin kamu mapu kok?temang aja jangan khawatir. Aku pasti bisa bawa diri aku dengan baik,"
"Apaan sih, ngelantur kalau ngomong. Mabok kamu ya? Kamu kalau kondangan sama saya malah suka insecre sendiri ‘kan? Mending sendiri aja sana,”
"Ya habisnya kamu berat banget mau temenin aku kondangan. Waktu rekan kerja kamu yang gelar acara nikahan anaknya, kamu nggak hadir, aku pun akhirnya nggak hadir, padahal diundang juga,”
"Itu nggak usah dibahas lagi, Elvina,"
"Aku akhirnya juga ikut nggak hadir padahal aku diundang. Aku sampai sekarang nggak paham alasan sebenarnya kamu nggak mau hadir. Entah karena kamu malu mau ngajakin aku atau karena emang ada halangan lainnya yang bikin kamu akhirnya nggak bisa hadir,"
"Kamu udah tau 'kan pas acara itu aku lagi ada rapat dan lagian aku juga udah minta maaf kok sama Pak Irwan nya kalau aku nggak bisa hadir ke acara nikahan anaknya. Aku nggak mau kamu insecure diajakin kondangan suka bandingin diri sendiri sama orang lain,”
"Bukan karena emang nggak mau ajak aku?"
"Selain aku lagi rapat, sibuk kerja, aku emang malas ajak kamu marena insecure kamu itu,”
Elvina tersenyum mendengar ucapan sang suami yang kembali terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tidak suka Ia yang tidak percaya diri.
"Ya udah jadi sekarang intinya kamu nggak mau temenin aku ke acara nikahnya Dewi teman aku? dia teman kuliah aku dan emang lumayan dekat juga sama aku. Aku pengen bangtet datang kalau nggak ada halangan apapun dan pengennya datang sama kamu,"
"Apa nggak canggung ngajakin saya? di sana pasti banyak teman SMA kamu 'kan?"
"Iya, emang kenapa? nggak akan canggung, kami semua 'kan tetap sering komunikasi di grup,"
"Emang nggak diomongin orang kalau kamu datang kondangan sama saya?"
"Ya nggaklah, aku 'kan udah nikah, jadi kalau datang ke acara orang sama suami sendiri ya nggak masalah, kecuali kalau aku perginya sama suami orang. Nah itu baru nggak boleh. Kenapa kamu malah mikir kalau kita bakal diomongin? ya nggak akan lah, teman-teman aku semuanya orang baik dan lagipula nggak ada alasan mereka ngomongin karena kita udah nikah, nggak masalah aku ajakin kamu untuk datang. Mereka juga 'kan uda kenal sama kamu,"
"Orang baru sekali ketemu, waktu acara pernikahan kita,"
"Iya berarti 'kan udah kenal jadi nggak perlu takut canggung atau diomongin lah,"
"Saya kayaknya nggak mau ikut, kamu pergi kondangan sendiri aja," ujar Vano yang menimbulkan kekecewaan di hati Elvina. Padahal Elvina berharap suaminya bisa menemani Ia ke acara pernikahan Dewi, teman kuliahnya. Ia dan Vano belum pernah pergi bersama ke sebuah acara temannya.
"Datang sama aku dong, Mas. Tolong, aku mohon banget nih. Biar aku ada temannya,"
"Ya ampun nggak usah ditemenin. Lagian di sana pasti kamu banyak teman, kamu nggak akan ngerasa kesepian tenang aja,"
"Ih tapi aku mau pergi sama kamu. Emang kenapa sih kamu nggak mau temenin aku?"
"Ya karena menurut aku nggak penting aja. Apalagi itu acara teman kamu, jadi kamu aja yang datang. Nanti dis ana kamu insecure, kamu malah bikin saya pusing karena kamu suka bandingin diri kamu sama orang lain yang kata kamu lebih dari kamu,”
"Cuma sebentar, janji deh. Dan aku nggak bakal insecure, pliss temenin aku,”
"Kamu yakin, Elvina? Lagian emang kenapa saya harus ikut? emang kondangan kayak gitu jadi ajang pamer pasangan ya?"
Elvina tersinggung ketika keinginannya untuk ditemani oleh Vano malah dianggap sebagai cara untuk pamer pasangan.
"Kamu jangan ngomong kayak gitu ya. Aku ngajakin kamu karena biar ada teman, kamu kok mulutnya jahat banget sih?"
"Ya lagian maksa banget," sahut Vano dengan ketus.
"Nggak perlu jahat mulutnya kalau emang kamu nggak mau temenin aku hadir ke acaranya Dewi, mana ada ajang pamer pasangan. Pikiran kamu tuh buruk terus kalau soal aku,"
"Ya barangkali aja kamu mau unjukkin ke semua orang kalau suami kamu ini ganteng,"
Elvina merotasikan bola matanya mendengar penuturan sang suami. Vano yang terlalu percaya diri malah jadi menyebalkan di mata Elvina.
"Lagian kamu di sana nggak akan kekurangan teman. Soalnya banyak teman kamu juga pasti. Mungkin banyak mantan kamu juga yang datang,"
"Apaan sih, mulutnya nggak bisa dijaga banget," ujar Elvina yang sudah terlanjur kesal karena suaminya melantur omongannya.
"Lah emang bener 'kan? saya yakin banyak mantan kamu yang datang, jadi kamu nggak usah ngerasa kesepian nanti. Ngobrol aja sama teman kamu, sama mantan kamu itu. Nggak usah ajakin saya, lagian saya sibuk dan menurut saya ada yang lebih penting ketimbang datang ke acara teman kamu itu,"
__ADS_1
"Apa yang lebih penting? kerjaan?"
Vano menganggukkan kepala. Tentu saja yang lebih penting dari acara itu adalah pekerjaannya. Vano enggan hadir karena Ia mengutamakan pekerjaan. Dibanding harus bertemu mantan kekasih istrinya, lebih baik Ia tidak datang saja sekalian.