
Karena ayahnya terus membujuk agar Ia menginap, dan memang Ia juga sudah lama tidak menginap di rumah orangtuanya, maka Elvina memilih untuk tidak pulang dulu ke rumahnya malam ini, melainkan bermalam di rumah orangtuanya.
Vano, suaminya juga mengikuti jejaknya, Vano sudah bilang sebelumnya kalau Ia akan mengikuti Elvina. Kalau memang Elvina mau pulang, Ia akan pulang, tapi kalau seandainya Elvina ingin menginap dulu di rumah orangtuanya, Ia pun tidak keberatan.
Sambil menunggu rasa kantuk, mereka duduk di ruang keluarga menikmati siaran televisi sambil menikmati popcorn. Suasananya sudah persis seperti bioskop, hanya saja di bioskop gelap, kalau di sana justru terang.
“Eh ngomong-ngomong ini ‘kan latar filmnya Bandung ya, mama tiba-tiba keingat Rendra. Kalau enggak salah dia berangkat malam ini ya, Yah? Tadi nggak sengaja ketemu dia dan dia cerita,”
Dini pergi dari sisi samping suaminya untuk bicara dengan Elvina. Ia tidak ingin mengganggu suami, anak, dan menantunya yang tengah menikmati film.
“Rendra ke Bandung, Yah?”
Tidak hanya Elvina, ternyata Vano juga penasaran soal Rendra yang kata Dini pergi ke Bandung. Maka dari itu Vano bertanya pada ayah mertuanya.
“Iya ada touring sama teman-teman futsalnya,”
“Terus Agatha enggak ikut?” Kini Elvina yang bertanya pada ayahnya. Elvina penasaran istri dari mantannya itu ikut atau tidak.
“Enggak lah, El. Orang lagi hamil begitu, mana mungkin dibolehin sama Rendra,”
“Touring, Yah? Berarti Agatha ditinggal?”
“Iya, Van. Itu juga setelah dia berkali-kali tanya ke Agatha untuk mastiin Agatha keberatan atau enggak dia tinggal. Eh Agatha nya santai aja. Dia bolehin, malah nyuruh Rendra pergi, katanya mumpung masih bisa keluar-keluar. Rendra juga udah tanya sama mama papa, sebelumnya ke orangtua Rendra sendiri. Kami sih terserah Agatha aja, kalau Agatha bolehin, ya pasti kami bolehin juga,”
“Tapi Agatha enggak keberatan juga ya, soalnya dia ‘kan lagi hamil,”
“Ya karena mungkin dia mikir nantinya Rendra ‘kan bakalan lebih jarang lagi pergi-pergi ngabisin waktu sama temannya. Selagi bisa sekarang kenapa enggak ‘kan? Dia enggak mau terlalu ngekang suaminya. Apalagi dia tau kalau touring itu salah satu hal yang Rendra suka,”
“Berapa lama dia di sana?”
“Nggak tau deh, dia juga kayaknya nggak cerita,” jawab Dini setelah anaknya melontarkan pertanyaan masih tentang Rendra.
Sejujurnya Vano merasa cemburu. Vano tidak senang ketika perempuan yang Ia cintai, istrinya sendiri, membahas laki-laki lain yang merupakan mantan kekasihnya. Entah itu Rendra atau Jona, Vano tidak akan pernah senang ketika mereka dekat dengan Elvina. Jangankan dekat, sekedar membahas seperti saat ini saja hati Vano terbakar rasanya.
Vano langsung menatap Elvina yang kebetulan juga sedang menatapnya, akhirnya mereka saling menatap satu sama lain. Vano berharap dengan seperti ini Elvina bisa sadar kalau Ia tidak nyaman ketika Elvina bertanya soal Rendra yang tak ada sangkut pautnya lagi dengan Elvina.
“Vano sukanya apa? Pergi sama teman-teman juga?” Tanya Arman.
Vano terkejut mendapat pertanyaan itu dari ayah mertuanya. Sedang membahas Rendra, tiba-tiba sekarang berbelok ke arahnya.
“Mas Vano mah semuanya suka. Jalan sama teman suka, jalan sama aku suka, jalan sendiri juga suka, itu buktinya seminggu enggak pulang-pulang bisa, Yah. Berarti dia suka,”
Vano mendelik ke arah istrinya. Yang ditanya siapa, tapi yang menjawab siapa. Jawaban Elvina juga seolah menyudutkannya.
Tapi beruntung ucapan Arman membuat suasana jadi tenang dan damai meskipun sebelumnya Elvina seperti memantik api amarah di dada Vano.
Memang karena siapa Vano pergi dari rumah sampai satu minggu? Karena Elvina! Elvina yang diam-diam punya niat berpisah dengannya tanpa berkata apapun padanya, lalu Ia dibuat terus menerus mengalah, siapa yang betah di rumah? Sementara di hotel Ia hidup nyaman dan tenang walaupun memang tak dipungkiri Ia tidak bisa benar-benar tenang karena memikirkan Elvina.
“Enggak apa-apa kalau sesekali Vano mau begitu. ‘Kan niatnya enggak mau yang macam-macam, hanya untuk menenangkan diri, mencairkan suasana yang panas diantara kalian. Daripada berdekatan tapi malah ribut, mending jauhan untuk sementara waktu, benar ‘kan? Enggak baik ribut terus,”
“Tuh, dengar enggak?” Sahut Vano dengan senyuman miringnya pada Elvina. Semoga saja Elvina mencerna dengan baik ucapan papanya.
“Dengar! Aku nih punya telinga dua dan syukurnya masih normal, jadi aku dengar,”
“Nah itu yang enggak baik. Ngomong kok ketus banget, siapa teman kamu bicara sekarang, Elvina? Suami kamu bukan?”
Elvina terhenyak dibuat Arman. Ayahnya itu ternyata melihat Ia memutar bola matanya dan juga menyahuti Vano dengan juteknya, maka dari itu Arman menegurnya.
“Iya maaf, Yah,”
“Jangan minta maaf sama Ayah lah. Bikin salahnya sama siapa?”
Elvina menggertakkan giginya kesal. Entah kenapa tontonan mereka sekarang malah terabaikan, dan Ia justru dituntut untuk minta maaf dengan Vank. Erghh! Tidak penting sekali. Biasanya Ia tidak pernah minta maaf kalau sudah berujar jutek seperti tadi pada Vano.
Vano melipat bibirnya ke dalam, Ia menahan tawa karena melihat Elvina yang jadi sasaran nasihat papanya, kelihatan Elvina menahan kesal. Apalagi setelah diminta ayahnya untuk meminta maaf.
__ADS_1
“Okay, sorry,”
“Lah? Begitu aja?”
“Ya terus aku harus gimana, Yah? Sujud di kaki Mas Vano gitu?”
“Ya enggak gitu dong. Minta maaf itu baik-baik, bukan kayak ngajak ribut. Mana mukanya judes banget lagi,”
Elvina menggertakkan giginya marah. Ekspresi wajahnya saja dipermasalahkan oleh papanya. Kali ini Ia benar-benar dibuat mati kutu.
“Maaf, Mas Vano,” ujarnya mengulangi permintaan maaf. Kali ini lebih sopan dari sebelumnya.
Pantas saja Vano kelihatan sudah lelah dengan Elvina dan hubungan mereka berdua, Elvina yang membuatnya seperti itu. Wajar kalau Vano berontak sesekali. Ia tidak mau Elvina terus menerus memancing kesabarannya habis. Satu sisi Vano ingin lebih sabar bertahan dengan Elvina, di lain sisi Ia juga ingin Elvina berubah menjadi lebih baik lagi, bisa lebih menghargainya itu yang paling penting. Sekalipun Elvina mungkin belum bisa membalas perasaan Vano, tapi paling tidak, keberadaan Vano bisa dihargai dengan sangat baik oleh Elvina.
“Bunda sama atah tuh berharap kalian damai-damai aja, enggak ada perdebatan lagi. Bisa hidup tenang gitu lho. Ini kayaknya mah enggak, roman-romannya masih suka berantem setelah Vano pulang. Ada masalah lagi enggak? Coba cerita sama ayah,”
“Enggak ada, Yah. Baik-baik aja kok,” ujar Vano seraya tersenyum. Ucapan adalah doa, jadi Ia berharap kalimatnya barusan menjadi kenyataannya, selamanya Ia baik-baik saja dengan Elvina.
“Ah syukurlah kalau begitu,”
“Ingat pesan ayah bunda, kalau ada masalah, diselesaikan baik-baik dengan kepala dingin, jangan emosi, bicarakan berdua. Insya Allah cepat selesai kok,”
“Iya, Bun,”
“Elvina, kamu jawab, jangan cuma diam aja, kamu tuh masih kekanakan ya kalau Bunda libat,”
Elvina langsung mendapat peringatan dari bundanya karena hanya Vano saja yang menjawab, sementara dia hanya diam, seolah tak paham, atau tak senang menanggapi ucapannya.
“Iya, Bunda,”
“Saling menghargai itu penting, kamu jangan maunya dihargai aja sama Vano sementara kamu sendiri nggak mau menghargai,”
Elvina menghembuskan napas kasar. Sepertinya posisi Ia sebagai anak kesayangan sudah mulai digeser oleh Vano sebagai menantu ayah dan bundanya. Ia kesal karena dianggap salah terus, sementara Vano sebaliknya.
********
Elvina yang akan melepas ikatan rambutnya bersiap untuk tidur menyempatkan waktu untuk menjawab pertanyaan suaminya dengan gelengan kepala.
“Enggak, jangan nuduh ya,” lanjutnya dengan mulut.
“Aku enggak nuduh, aku cuma tanya aja. Barangkali kamu cerita ke ayah bunda makanya ke sini,”
“Harusnya kamu jangan heran kalau aku ke sini. Karena ini ‘kan rumah orangtua aku. Jadi aku mau ke sini kapan aja ya terserah aku, jangan mikir kalau aku ke sini karena mau cerita apa-apa ke ayah bunda aku, Mas,”
“Ya kamu ‘kan seringnya begitu, El. Sebenarnya sih mau cerita ke ayah bunda juga enggak masalah. Aku ‘kan enggak salah. Coba diingat-ingat deh, yang awalnya curiga ke aku siapa?”
“Ya gimana aku enggak curiga? Di badan kamu itu ada aroma parfum perempuan lain,”
“Terus apa masalahnya? Bodo amat aja harusnya, kayak biasa,” ujar Vano seraya menaik turunkan alisnya. Geraham Elvina menyatu satu sama lain, tangannya juga mengepal erat.
Elvina memilih untuk tidur saja dibandingkan ngobrol dengan Vano karena pada akhirnya pasti ribut. Vano pandai mencari ribut belakangan ini.
******
“Elvina, kamu nih bisa geseran enggak sih? Aku udah mau jatuh ke lantai ini. Kamu ngambil posisi aku,”
Elvina tidur memunggungi Vano dan mengambil posisi Vano yang makin lama makin ada di pinggir tempat tidur.
“El, geser dong, jangan terlalu dempet ke aku,” ujar Vano seraya mendorong Elvina agar geser ke tempatnya sendiri. Sudah ada guling diantara mereka berdua tapi Elvina mengusir guling entah kemana.
“Sana pergi,”
“Aku tadi sakit perut banget, enggak taunya dapet,” sahut Elvina sembari bergeser ke tempatnya.
Vano menghela napas lega. Akhirnya Ia bisa tidur dengan lega, tidak sempit lagi karena tempatnya diambil alih oleh Elvina.
__ADS_1
“Sekarang masih sakit?”
“Enggak,”
Vano beranjak duduk. Ia mengusap perut Elvina dengan lembut. Padahal Elvina sudah mengatakan bahwa Ia tidak merasakan sakit lagi.
“Ngapain sih?”
“Aku bantuin supaya sakitnya enggak datang lagi,”
“Orang udah enggak sakit lagi,”
Vano menjauhkan tangannya dari perut Elvina kemudian Ia kembali berbaring di sebelah Elvina dan memejamkan mata.
Vano bisa kembali tidur sementara Elvina sulit untuk lanjut tidur setelah sebelumnya dibangunkan oleh Vano.
Elvina menoleh ke nakas sebelah kepala Vano karena terdengar getar ponsel Vano. Elvina yang penasaran dengan siapa yang menghubungi Vano, memutuskan untuk mengambil ponsel Vano.
Alis Elvina terangkat melihat nama seorang perempuan yang tidak dikenali olehnya. Terlintas di pikiran Elvina soal aroma parfum wanita yang pernah Ia hirup dari badan Vano kemarin.
“Siapa sih? Masih gelap begini telepon orang yang udah jelas-jelas punya istri,”
Elvina menggertakkan giginya kesal. Ia menatap Vano dengan marah. Vano tidak suka Ia jalan dengan yang lain tapi Vano sendiri rupanya tengah menciptakan sebuah permainan di belakangnya, itu yang Ia tidak suka.
“Mas, bangun!”
Elvina mengguncang kasar lengan suaminya agar terjaga dari tidur lelapnya yang bahkan baru mulai beberapa menit lalu setelah sebelumnya terbangun akibat merasa sesak ditekan dengan Elvina yang mengambil alih tempat tidurnya hingga Ia terpaksa tidur di pinggir.
“Elvina, jangan ganggu deh. Aku nih masih ngantuk,”
“Bangun dulu! Ada yang telepon kamu nih, namanya Delila. Siapa dia? Ngapain dia telepon kamu malam-malam begini? Lihat tuh udah jam berapa,”
“Ini mah udah masuk pagi kali. Udah hampir jam empat ‘kan?”
“Iya ngapain dia telepon kamu masih gelap begini? Enggak ada sopan santunnya banget, udah tau ini masih jam istirahat dan kamu itu udah nikah. Dia tau atau enggak soal status kamu itu? Hah?”
“Semua orang tau kalau aku udah nikah. Enggak cerewet deh, aku masih ngantuk lagian belum adzan juga,”
“Mas, bangun aku bilang! Jawab siapa Delila?!”
Vano hanya bergumam saja tak menanggapi semua ucapan istrinya. Ia membiarkan Elvina mengoceh sendirian.
“Mas!”
Elvina menarik daun telinga suaminya yang memilih cuek padahal Ia perlu jawaban dari Vano. Siapa Delila, perempuan yang telah menghubungi Vano di waktu yang tidak wajar seperti ini.
“Elvina, bisa diam enggak? Ini masih pagi, di rumah ayah bunda juga. Jangan aneh-aneh deh,”
Vano menegur Elvina yang suaranya makin menjadi. Ini bukan di rumah mereka sendiri yang bebas mau bagaimana saja. Masalahnya, ini rumah orangtua Elvina. Tidak enak kalau berisik atau mengganggu ketenangan disaat masih pagi-pagi buta.
“Kamu enggak mau jawab pertanyaan aku!”
“Kamu kenapa jadi ngurusin urusan aku sih? Penting banget soal Delila?”
“Kamu cemburunya bukan main ya, padahal kamu sendiri—“
“Aku sendiri apa? Udah dibilang aku enggak akan macam-macam. Dia itu orang kantor,”
“Tapi masa iya jam segini telepon kamu? Hah?”
“Karena urusan kerjaan, bukan yang lain. Wajar aja lah, lagian enggak aku jawab juga ‘kan,”
“Aku enggak percaya, Mas! Kamu udah mulai macam-macam rupanya ya,”
“Macam-macam apaan sih, enggak jelas, cari ribut muluk,”
__ADS_1
Vano menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya kemudian Ia membelakangi Elvina yang kesal bukan main dengan Vano. Ia tidak terima Vano bersikap cuek seperti ini padahal Ia perlu diyakinkan.