Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 116


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan oleh Elvina sebelumnya, bahwa Ia akan menjadikan ayam bakar dari Jona sebagai menu makan malam. Hanya makan ayam tanpa nasi karena sebelumnya Elvina sudah makan nasi malah setelah memasuki waktu sore.


Pukul setengah sembilan Ia merasa lapar. Akhirnya memutuskan untuk mengambil ayam bakar itu.


Ia mencari di dapur tapi tidak berhasil menemukannya. Kemudian Ia ke kamar Amih untuk menanyakan pada Amih dimana Ia menyimpan ayam bakar pemberian temannya itu. Tadi Elvina meminta tolong pada Amih agar menyimpan ayam bakar itu.


“Kamu simpan dimana, Mih?”


“Anu—itu—maaf, Bu, Pak Vano suruh saya untuk buang ayam bakar itu. Jadi saya—“


“Apa?! Jadi kamu buang? Ih kok dibuang sih? Kenapa nurutin apa kata Mas?! Hah? Aku ‘kan lapar banget, Mih. Lagian sayang banget dibuang,”


“Maaf sekali lagi, Bu. Saya cuma nurut apa kata Pak Vano aja, soalnya Pak Vano bilang itu ada racunnya, jadi saya buang aja, daripada orang rumah kenapa-napa makan itu,”


“Ih kamu nih kebiasaan banget, nurut aja apa kata Mas Vano! Mentang-mentang dia yang gaji, erghh!”


Elvina menggertakkan giginya emosi pada Amih yang membuang makanan hanya karena mendengar titah Vani yang dengan sembarangan mengatakan bahwa ayam itu beracun.


“Bukan begitu, Bu. Saya khawatir kalau enggak dibuang, soalnya ‘kan Pak Vano udah ngomong kalau itu ada racunnya, makanya saya buang aja biar aman,”


Elvina berdecak kesal. Ia membali badannya dan berjalan kembali ke kamar dengan hentakan kaki yang kasar.


“Mas Vano bener-bener cari masalah aja sih. Gue lapar begini malah dipancing untuk ngomel! Keterlaluan banget itu orang, ngajak ribut aja,”


Elvina membuka kasar pintu kamar hingga Vano yang sedang bermain game di ponsel menoleh terkejut. Ia makin terkejut dan bingung setelah melihat wajah kesal Elvina.


“Kamu kenapa?”


“Kenapa-kenapa?! Kamu yang suruh Amih buang ayam bakar dari Jona?! Ih kok keterlaluan banget sih? Ayam bakar nya enggak salah, rasa cemburuan kamu tuh yang salah,”


Vano memutar bola matanya kesal. Rupanya karena ayam bakar pemberian Jona, Elvina sampai begini.


“Aku pikir karena apa, ternyata cuma karena ayam bakar dari dia? El, aku tuh cuma mau waspada aja. Takutnya itu ayam udah dijampi-jampi beneran atau udah dikasih racun, makanya aku suruh Amih buang. Jangan salahkan siapa-siapa, memang aku yang mau itu dibuang supaya kamu enggak makan,”


“Udah dibilang enggak bakalan dia mau ngeracunin aku, Mas! Dia itu kenal sama aku, kalau dia mau macam-macam, berarti dia siap dipenjara. Kamu nih kenapa sih?! Ngeselin banget deh jadi orang. Aku lapar, masa cuma makan angin sama makan hati aja ngadepin kamu?”


“Ya udah makan aja sekuteng lewat tuh. Biasanya ‘kan lewat dia di komplek. Atau kamu mau apa? Biar aku keluar bentar untuk beliin,”


“Enggak mau! Aku kesal sama kamu. Sayang-sayang buang makanan, itu mahal tau!”


“Ya mau mahal kek, murah kek, aku sih bodo amat. Daripada kamu beneran kenapa-napa karena dia, mending aku buang aja. Aku enggak percaya sama dia. Lagian, aku bisa kok beli ayam bakar kayak gitu, besok aku beliin deh, atau biar kamu puas, kamu beli sendiri, nanti aku kasih duitnya,”


Masalah uang, Elvina masih punya. Dari suaminya belum habis. Yang Ia permasalahkan sekarang adalah rasa laparnya dan kelakuan Vano yang benar-benar memancing emosi.


“Udah lah, aku tidur aja. Kamu memang tega sih, bikin aku kelaparan,”


“Dih kok tega? Aku mau beliin, kamu mau apa emangnya? Nasi goreng? Martabak? Sate ayam? Sate kuda?”


“Apaan sih! Enggak lucu tau,”


Vano menahan tawanya ketika Elvina malah semakin panas mendengar Ia menawarkan sate kuda. Sepertinya tidak ada, pikir Elvina. Ia asal bicara saja tujuannya supaya Elvina tidak marah lagi kepadanya.


“Mau apa, El? Aku beliin apa yang kamu mau, tinggal sebut aja, mumpung aku baik nih,”


“Enggak usah! Aku enggak butuh. Kelamaan kalau nunggu dibeliin. Kalau ada di rumah ‘kan enak, padahal aku udah ngebayangi ayam bakar itu masuk ke perut aku, eh malah kamu buang,”


“Ya udah aku beliin deh,”


“Beli apa?”


“Beli kulkas? Ya beli ayam bakar lah, masih tanya lagi,”


Vano terpaksa berhenti berkutat dengan game. Ia harus membuat Istrinya tidak kesal lagi. Ia akan mengganti ayam yang telah Ia buang itu dengan ayam yang baru. Dijamin tidak ada jampi-jampi dari Mbah Dukun, dan tak ada racun.


Vano keluar malam-malam begini demi menuruti keinginan Elvina sebenarnya bukan hal yang jarang terjadi. Ia terbilang sering sekali mengorbankan waktu istirahatnya demi memenuhi keinginan sang istri. Tidak apa selagi Elvina tidak menyebalkan. Masalahnya, terkadang Elvina masih saja menyebalkan setelah Ia turuti keinginannya. Entah dia tidur lah setelah Ia pulang membawa makanan, atau dia protes inilah atau itulah tentang makanan yang dibawanya. Padahal yang bikin juga bukan dirinya. Ia hanya beli, mengeluarkan uang saja, tak mencicipi dulu sebelumnya.


Amih yang akan memastikan apakah pintu rumah sudah terkunci dengan baik atau belum, dibuat terkejut begitu mendapati Vano yang berjalan cepat menghalangi niatnya untuk memastikan keamanan pintu.


“Saya mau keluar, Mih. Nanti saya aja yang mastiin kuncinya ya,”


“Oh iya, Pak. Ngomong-ngomong Pak Vano mau kemana?”


“Beli ayam bakar buat nyonya besar,”


“Oh gara-gara Ibu marah karena ayamnya dibuang ya, Pak?”


“Iya, tepat sekali. Makanya ini mau dibeliin lagi. Saya pergi dulu, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Amih mengunci pintu dan Vano sudah membawa kunci pintu rumah yang memang menjadi pegangannya setiap hari. Setelah itu Amih kembali ke kamar dan Vano melanglang buana keluar rumah malam-malam untuk mencari ayam bakar yang Vano ragu sudah tak ada lagi. Tapi Ia berharap masih ada penjual ayam bakar malam-malam begini.


Biasanya yang sering Ia lihat di pinggir-pinggir jalan kalau malam itu hanya ada nasi goreng, kebab, martabak, pecel lele, sate ayam, sate padang. Jarang sekali lihat restoran ayam bakar yang masih buka.


“Tadi si Jona tuh beli ayam bakar merk apaan sih? Kira-kira ada enggak di sini?”


Vano mengendarai mobil dengan kecepatan yang tidak tinggi supaya Ia bisa mengamati sekitarnya dengan lebih hati-hati.


“Ntar kalau gue beliin ayam di tukang pecel lele, Elvina protes. Biasanya ‘kan itu digoreng. Hadeh ribet punya istri tukang protes,”


*****

__ADS_1


Sambil menunggu Vano pulang, Elvina memilih untuk sibuk dengan masker wajahnya. Tadi mau maskeran setelah makan, rencananya begitu. Tapi karena tidak ada makanan, lebih baik Ia maskeran sekarang saja. Belum tentu Ken berhasil mendapatkan ayam bakar.


“Hadeh enak, sejuk banget ini muka. Abis ngomel-ngomel emang tepat banget maskeran setelahnya,”


Elvina memejamkan mata sesaat sambil berbaring di atas tempat tidur. Lama-lama malah terlelap, padahal niatnya cuma memejamkan mata saja supaya makin merasa rileks.


Niatnya mau main handphone sambil menunggu waktu maskeran berakhir, sekarang yang terjadi, perempuan itu malah ketiduran.


*****


“Bang, itu ayam enggak bisa dibakar apa?”


“Bisa dong, Mas. Mau berapa?”


“Alhamdulillah bisa ternyata. Ya udah minta satu ekor deh,”


Vano tidak berhasil menemukan tempat menjual ayam bakar dengan nama tertentu. Akhirnya Ia memutuskan untuk mendatangi penjual pecel lele yang biasanya selain menjual ikan lele, juga menjual ayam goreng. Ia pikir tidak bisa minta dibakar ayamnya, tapi ternyata bisa dan Ia lega sekali. Akhirnya Ia tidak harus cari kesana kemari lagi.


“Ayam aja? Nasinya enggak?”


“Enggak usah, ayam aja satu ekor,”


“Tempe, tahu, atau sate ususnya enggak juga?” Tanya satu dari dua lelaki yang tugasnya membungkus, sementara satu lainnya tengah membakar ayam.


“Boleh deh usus ayam nya, lima tusuk aja,”


Sate usus ayam dengan sambal sudah masuk ke dalam plastik, tinggal menunggu ayam selesai diolah dengan cara membakarnya di atas panggangan.


“Berapa, Bang?”


“Seratus dua puluh,”


“Boleh tambah sambal enggak? Saya bayar tambahannya,”


Vano suka pedas, apalagi Elvina. Kelihatannya sambal ayam bakar itu juga enak, makanya Vano minta tambah. Tidak cukup bila hanya lima plastik kecil-kecil. Nanti yang ada bukan Elvina saja yang protes, dalam hati pun Ia protes.


“Boleh, ditambah ya,”


Lelaki itu tidak mengambil sambal-sambal yang sudah di plastik. Ia mengambil sambal dari sebuah wadah kemudian menuangkannya ke dalam plastik yang ukurannya lebih besar.


“Udah cukup, Bang,”


“Okay siap,”


Plastik sambal itu terisi banyak kemudian langsung diikat dan dimasukkan kembali ke dalam plastik.


“Jadi berapa?”


“Seratus dua lima aja,”


“Hmm enak nih aroma nya, kayaknya Elvina bakalan suka,” batinnya.


Kalau Elvina senang dengan apa yang Ia beli, Ia akan senang sekali karena merasa dihargai oleh istrinya sendiri. Sebaliknya kalau Elvina kelihatan tidak senang atau tidak suka, Ia akan dibuat kecewa.


*****


Vano memasuki rumah dengan satu kantung plastik berisi ayam bakar dan juga satu plastik lainnya membawa minuman serta makanan ringan yang Ia beli di minimarket. Tadi sebelum pulang, vano mampir dulu di sana untuk belanja.


Vano terkejut sekali melihat istrinya terbaring dengan wajah yang melekat dengan sheet mask. Vano menggelitiki kaki Elvina supaya terjaga.


Elvina merasa tidurnya diusik akhirnya terpaksa membuka mata dan melenguh. Setelah matanya terbuka sempurna, Ia melihat Vano berdiri menatapnya dengan senyum.


“Aku pikir tadi pocong, tiduran mukanya putih semua,”


“Ini lagi maskeran,”


“Iya tau, tapi aku tetap aja kaget liatnya tadi, abisnya muka kamu putih banget, cuma keliatan mata sama bibir aja,”


“Ada ayam bakar nya?”


“Ada nih, kayaknya sih enak, semoga aja beneran enak, sama minuman juga ada nih, aku beliin buat kita makan,”


“Minuman apa?”


“Minuman alkohol,”


“Sorry ya, aku udah enggak pernah lagi—“


“Ya kali aja kamu udah kangen mabok. Waktu itu ‘kan mabok sama teman ya,”


“Ya itu karena diajakin!”


“Dasar! Mau aja diajakin. Ya udah sana, cuci muka kamu sama tangan, abis itu kita makan,”


“Beneran enak enggak tuh? Kalau enggak enak ya enggak aku makan,”


“Enak, yakin aja enak,” pungkas Vano.


Elvina segera bergegas ke kamar mandi untuk melepas sheet mask dan juga mencuci tangannya lantas keluar dari kamar mandi. Vano menyusul mencuci tangannya.


Barulah mereka duduk berhadapan dengan ayam bakar dan minuman di tengah mereka. Minumannya macam-macam, Vano beli lima botol.

__ADS_1


“Banyak banget minumannya, Vano,”


“Ya udah simpan kulkas kalau emang enggak habis,”


“Enggak beneran alkohol ‘kan?”


“Susu dan teh ternyata,”


“Iya lah, minuman kemasan enggak jauh-jauh dari itu,”


Mereka berdoa sebentar kemudian langsung tancap gas mencicipi ayam bakar yang Vano beli malam-malam karena istrinya merajuk setelah ayam bakar pemberian temannya, Ia buang dengan alasan Ia tidak mau Elvina dalam bahaya karena siapa tahu ayam bakar itu sudah dijampi-jampi Mbah Dukun dan diracuni.


“Enak enggak? Kata aku enak, beneran enak ternyata,”


Vano menganggukkan kepalanya dan mengacungkan ibu jarinya. Lalu Ia meminta pendapat sang istri.


“Enak kok,”


“Wuidih senang aku tuh dengar kamu bilang enak makanannya,”


“Beneran enak ‘kan?”


“Hmm enak dan pedasnya mantap,”


“Aku sengaja minta tambah sambal. Eh enggak pelit juga si abang kasih sambal nya,”


“Pedas, hati-hati lho, nanti sakit perut,” ujar Elvina memperingati suaminya yang memang suka pedas juga tapi tidak seperti dirinya. Vano juga terkadang tidak kuat pedas, perutnya tak selalu siap sedia bila dijejalkan dengan rasa pedas.


“Ada kamu, jadi kalau aku sakit, aku ada yang rawat,”


“Ya enggak aku rawat, karena salah kamu sendiri. Udah aku ingatkan sebelumnya kalau masih bandel ya udah terserah,”


“Ini mah enggak sepedas mulut kamu kalau lagi marah ke aku, El,”


“Apaan sih, kok disamain kayak mulut aku? Enak aja kamu!”


“Iya lagian kenapa bilang pedas? Orang biasa aja kok,”


“Iya deh yang kuat pedas. Nanti abis itu diare, keluar semua,”


“Ih jangan doain begitu dong, El. Kamu nih suka macam-macam kalau ngomong, ingat lho omongan itu adalah doa. Berarti kamu ngedoain suami kamu diare,”


Elvina tertawa dan itu membuat Ia tersedak karena tertawa dikala makan. Vano langsung mengulurkan minum kepada istrinya itu.


“Makanya jangan ketawa kalau lagi makan, apalagi kalau ngetawain suami. Dosanya lebih gede lho, El,”


“Eh kamu enggak apa-apa ‘kan? Muka sama mata kamu jadi merah, El,”


Vano berubah cemas. Raut wajahnya tak bisa dibohongi melihat Elvina yang seperti akan menangis.


“El, kamu enggak apa-apa ‘kan?”


“Enggak apa-apa,”


“Tapi kok—“


“Diem dulu, hidung aku pedas nih,” rengek Elvina agar tidak diajak bicara terlebih dahulu oleh suaminya.


Air matanya menetes. Vano membelalakan matanya. Elvina benar-benar menangis. Tapi kali ini bukan menangis karena sedih atau apa, tapi karena tersedak.


“Ya Allah, Elvina ada-ada aja sih kamu,”


Vano menepuk lembut punggung Elvina yang tengah mengatur napasnya. Usai batuk karena tersedak, Elvina jadi merasa sesak ditambah lagi rasa pedas di hidung belum hilang.


“El, kamu baik-baik aja ‘kan? Seriusan? Aku panik, El,”


Elvina menganggukkan kepala. Setelah Ia merasa lebih baik, Ia menatap Vano dengan senyumnya.


“Kenapa panik banget sih? Aku cuma kesedak aja, santai,”


“Tapi sampe keliatan sakit tadi, terus keluar air mata juga, aku ‘kan jadi makin panik,”


“Iya soalnya tersedak makanan pedas jadi makin nyelekit rasanya,”


“Makanya jangan ketawa kalau lagi makan,”


“Ya abisnya aku merasa lucu setelah ngeliat kamu kesel karena aku bilang kamu bakal diare,”


“Udah jangan makan lagi,”


“Lho kenapa?”


“Masih pedas enggak hidung kamu? Emang belum kenyang?”


“Belum, masih mau,”


“Ya udah boleh, tapi hati-hati makan nya, jangan ketawa lagi,”


“Okay,”


Vano menegur tegas istrinya kemudian menyematkan kecupan di kening Elvina tanpa sadar bibirnya terdapat noda dari bumbu ayam bakar.

__ADS_1


“Ah Mas! Kenapa kamu cium aku sih? Ada bumbu di jidat aku nih,”


“Maaf-maaf, aku lupa mulut aku kotor,” ujar Vano seraya terkekeh dan membersihkan kening sang istri menggunakan tissue.


__ADS_2