
"Anatha!"
Suara Vano memanggil Elvina terdengar menggelegar. Lelaki itu menuruni anak tangga dengan langkah tergesa kemudian menghampiri Elvina yang ada di ruang makan.
Elvina menatap suaminya bingung. Entah ada hal apa yang membuat Vano berseru memanggilnya dari jauh.
"Kenapa sih? 'kan tau aku di dapur kenapa panggil-panggil aku?"
"Kamu yang matiin handphone aku? hah?! kok lancang sih kamu!"
"Kok marah?" Elvina menatap Vano dengan tatapan tajam. Perkara ponsel dimatikan saja sampai membuat Vano marah seperti ingin menelan dirinya hidup-hidup.
"Ya gimana aku enggak marah?! kamu matiin handphone aku waktu ada yang telepon,"
"Aku matiin karena berisik! emang siapa yang telepon kamu? hm? selingkuhan kamu? okay maaf kalau memang kamu enggak suka handphone itu aku matiin. Biar enggak ganggu aku yang enggak ada urusan apa-apa sama kalian, lebih baik kamu silent handphone baru kamu itu. 'Kan bagus juga, jadi aku enggak tau kalau kalian diam-diam masih komunikasi di belakang aku,"
Vano berdecak pelan. Ia duduk dengan gerak kasar di kursi menghadap roti dan air minum yang sudah disiapkan Elvina.
"Mana obat kamu? enggak dibawa? udah aku bilang sekalian dibawa obatnya. Makanya jangan ingat sama dia mulu! obat buat diri sendiri aja sampai lupa! sibuk sama handphone aja sih kamu!" ketus Elvina seraya berlalu dari ruang makan meninggalkan Vano yang menggertakkan giginya kesal. Bukan apa-apa. Ia hanya tidak suka dengan Elvina yang lancang. Bukan sekali dua kali Elvina begitu. Pernah membaca pesan orang, pernah mematikan telepon orang juga, terus tadi mematikan ponselnya.
Elvina bergegas ke kamar untuk mengambil obat yang harus dikonsumsi Vano supaya lelaki itu sembuh. Sudah dimarahi saja Ia tetap punya perasaan. Kalau saja Ia tidak mau peduli, sudah Ia biarkan lelaki itu tidak minum obat biar tidak sembuh sekalian.
Elvina membawa obat ke ruang makan. Ia letakkan begitu saja di atas meja makan, tepat di depan Vano.
"Tuh! diminum biar sembuh dan enggak ngerepotin,"
Memang Vano saja yang bisa menyakiti hatinya pagi-pagi begini hanya karena soal handphone. Ia pun bisa. Ucapannya itu mungkin akan melukai hati Vano.
"Emang aku ngerepotin?"
"Tanya aja sama diri kamu sendiri! rela banget marah-marahin aku pagi ini cuma karena aku matiin handphone. Kesal karena jadinya telepon dia enggak kamu angkat? ya udah minta urus aja sama dia sana! kenapa masih di sini?"
"Ya udah maaf kalau bikin kamu repot;"
Elvina memutar bola matanya kemudian berlalu di dapur untuk menghampiri Amih.
"Mih, enggak usah masak ya, kita beli bubur aja untuk sarapan. Tapi kalau makan siang masak gulai aja,"
"Oh iya, Bu, siap,"
"Tapi nanti tolong temani aku ke minimarket belanja, 'kan bahan makanan udah pada mau habis juga,"
"Siap, Bu,"
"Aku antar mau enggak?" Vano mendengar suara Elvina bicara pada Amih dan Ia berinisiatif untuk mengantar istrinya ke minimarket. Barangkali dengan itu, Elvina tidak ketus lagi. Ia sedikit menyesal sudah membuat mood istrinya buruk di pagi hari. Ya walaupun memang kesal karena kelancangan Elvina itu.
"Enggak perlu,"
"Kamu mau kemana?" tanya Vano pada istrinya yang berlalu dari dapur dan ruang makan.
"Bukan urusan kamu,"
"Jangan begitu, nanti kamu kaburnya ke bar lagi,"
"Mikir dong! mana ada bar yang buka pagi-pagi gini,"
"Kata siapa? ada aja tuh,"
"Ngapain ke sana pagi-pagi? aku mau jalan pakai sepeda!"
"Oh sepedaan? tinggal ngomong gitu aja harus banget ngomel dulu. Sama aku yuk,"
"Enggak usah, tadi aja marah-marah. Lagian kamu 'kan lagi sakit, nanti ngerepotin kalau kenapa-napa di jalan,"
"Ya ampun, ngedoain aku kenapa-napa?"
Elvina mengangkat bahunya singkat kemudian melanjutkan langkah ke kamar untuk mengganti baju. Ia putuskan untuk olahraga dengan sepeda nanti setelahnya barulah cari bubur untuk sarapan. Sudah lama juga Ia tidak jalan-jalan di sekitar komplek perumahan.
"Sayang, sama aku,"
"Enggak usah sayang-sayang deh, geli aku dengarnya,"
"Waktu itu tanya kenapa aku enggak panggil sayang lagi giliran aku panggil sayang malah enggak mau,"
"Giliran udah ketauan selingkuh baru deh sayang-sayang, untuk pengalihan ya? supaya aku engga marah lagi sama kamu? supaya aku eggak ngorek-ngorek info lagi soal kamu dan selingkuhan kamu?"
"Aku ikut!"
Vano sudah meninggalkan meja makan dan Ia langsung mencegah istrinya pergi seorang diri.
"Aku ikut dong, El,"
"Aku enggak kau ngajak kamu! ngerti enggak? aku mau sendiri aja, lagian katanya kamu sakit, harusnya istirahat bukan malah keluar,"
"Aku kayaknya enggak kerja deh, aku mau sepedaan bentar sama kamu, aku enggak bakal kenapa-napa kok, tenang aja, boleh ya?"
Elvina menggelengkan kepala setelah memasang pelindung kepalanya.
Ia mulai melajukan sepeda meninggalkan suaminya yang menghembuskan napas dengan kasar.
"Padahal 'kan jarang-jarang olahraga bareng,"
"Gue disuruh istirahat? mana bisa? enakan keluar. Tapi emang masih pusing sih,"
Vano akhirnya masuk ke dalam lagi. Elvina benar-benar tidak mau olahraga bersamamya.
"Pak, sarapan kenapa enggak dihabiskan? itu obatnya di atas meja udah diminum? Pak Vano yang sakit 'kan?"
"Iya, Mih, tadi karena mau ngomong sama Elvina makanya ditinggal dulu sarapannya,"
Terpaksa Vano meninggalkan meja makan karena ingin mengejar istrinya untuk mengajak Elvina naik sepeda sama-sama tapi sayangnya Elvina tidak ingin ia ikut.
Vano melirik ponselnya yang bergetar di atas meja makan dekat dengan tangannya. Dengan cepat ia menjawab panggilan yang masuk itu.
"Halo, Del,"
"Tadi telepon aku kenapa enggak diangkat?"
"Sorry tadi Elvina yang matiin handphone nya. Ngomong-ngomong Elvina lagi enggak ada,"
Amih mendengar jelas ucapan Ken meskipun Ia ada di dapur mempersiapkan bahan masakan untuk makan siang.
"Pak Vano ngomong sama siapa itu? kok segala ngomong Ibu lagi enggak ada? emang kenapa kalau ibu enggak ada?"
Suara Vano tidak terdengaran lagi. Ia penasaran apakah Vano sudah pergi dari meja makan atau Vano memang sudah selesai bicara dengan si penelpon.
"Kenapa, Mih?"
Melihat Amih yang terkejut ketika mendapatinya masih di meja makan, Vano bertanya.
"Ah enggak, Pak,"
"Jangan bilang Elvina kalau saya teleponan tadi ya,"
Kening Amih mengernyit dalam. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Vano bicara seperti tu seolah ada yang ditutupi dari Elvina.
"Emang Pak Vano telepon siapa kalau saya boleh tau?"
"Delila,"
"Kenapa Ibu enggak boleh tau,Pak?"
"Nanti berantem,"
"Ya kalau enggak mau berantem jangan cari masalah, Pak,"
"Saya enggak cari masalah," ujar Vano seraya terkekeh ringan.
"Terus kenapa ibu enggak boleh tau? maaf sebelumnya kalau saya lancang, tapi Pak ken enggak main-main 'kan di belakang Ibu? Pak Vano masih cinta sama ibu 'kan? sayang kalau sampai Ibu dan Pak Vano kenapa-napa,"
Vano hanya tersenyum saja setelah itu meneguk obat dan air minum. Kemudian ia beranjak meninggalkan ruang makan dimana masih ada Amih yang berdiri kebingungan dengan perasaan cemas juga.
__ADS_1
"Ya Allah, lindungi pernikahan mereka. Semoga aja Pak Vano enggak macam-macam deh, kasian ibu. Padahal ibu udah mulai berubah kalau yang saya liat. Cuma karena Pak Vano suka mancing, akhirnya jadi ribut terus. Kayaknya Delila itu udah sering jadi penyebab pertengkaran mereka,"
*****
"Mba, tumben nih sepedaan, sendirian aja lagi,"
"Eh iya, kebetulan lagi pengen cari udara segar, Bu,”
"Oh, enggak sama Mas Vano?"
"Enggak, dia lagi kurang sehat, jadi aku suruh istirahat di rumah aja,"
Elvina merasa kaget ketika sedang asyik mengayuh sepedanya sendirian, tiba-tiba ada yang menghampiri dengan sepedanya juga dan beliau yang sepertinya seusia dengan mamanya adalah tetangga yang jaraknya tiga rumah.
"Oh iya nanti datang ya ke acara empat bulanan mantu saya. Hari rabu depan sih sebenarnya tapi mau bilang sekarang takut lupa lagi mumpung ketemu,"
"Iya Insya Allah kalau enggak ada halangan aku datang, Bu. Udah empat bulan ya mantunya Ibu? perasaan baru kemarin aku tau udah hamil, enggak kerasa waktu berjalan ya,"
"Iya, kamu kapan nih nyusul?"
Sudah Elvina duga akan dapat pertanyaan begitu. Malas Ia menjawabnya. Apalagi di tengah kisruh rumah tangganya yang sekarang sedang terjadi.
"Doakan aja ya, Bu,"
"Aamiin, santai aja orang masih muda kok, iya enggak? lagi nikmati masa pacaran berdua sama Mas Vano ya?"
Elvina tertawa saja tapi dalam hati menggerutu. "Pacaran? dia kali tuh yang pacaran sama orang,"
"Nanti kalau udah hamil hati-hati ya, dijaga dengan baik, Sayang,”
"Iya, Bu, terimakasih untuk pesannya,"
"Soalnya 'kan sayang kalau berakhir nggak enak. Semoga nanti kalau hamil sehat-sehat ya terus kandungannya ya, kamu juga harus sehat,"
"Aamiin, terimakasih doanya, Bu,"
"Saya ikut sedih waktu dengar kamu keguguran. Cuma saya yakin kamu bisa bangkit, lagipula masih banyak kesempatan, jangan terpukul kalau habis dikasih cobaan,"
"Iya, Bu,"
Sambil olahraga, sambil mendengar ucapan yang menyejukkan hati. Tidak sia-sia Elvina mengayuh sepedanya pagi ini. Meskipun ia sempat jengkel sedikit karena membahas anak, tapi Ia senang karena Bu Sutya tidak bicara yang tajam-tajam melukai hatinya, justru malah bijaksana sekali ucapannya supaya Ia lebih baik lagi dalam menghadapi ujian hidup.
"Eh iya, kapan-kapan ajakin Vano juga. Biasanya saya sama anak laki-laki saya cuma ini dia lagi mau antar istrinya periksa kandungan di rumah sakit,"
"Iya nanti aku ajakin kapan-kapan ya, Bu,"
******
"Mih, saya pergi sebentar. Kalau Elvina tanya kemana, bilang aja saya lagi mau ngopi di luar sebentar,"
"Lho Pak Vano bukannya lagi sakit? kok enggak istirahat aja, Pak?"
"Iya nanti aja istirahatnya, lagian saya enggak kerja ini. Saya pamit dulu, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Buru-buru banget," gumam Amih ketika melihat Vano yang melangkah cepat keluar dari rumah usai pamit dan meninggalkan pesan bila seandainya sang istri nanti bertanya soal keberadaannya.
"Hadeh, Pak Vano kalau pergi buru-buru gitu padahal lagi sakit terus tadi habis telepon perempuan lain yang enggak boleh ibu tau, pikiran saya 'kan jadi kemana-mana, gimana sama ibu coba?"
*****
"Mau makan bubur enggak?"
"Kebetulan emang mau beli, Bu,"
"Woah pas banget, ayo kita berhenti kalau begitu,"
Sepeda Elvina dan Ibu Sutya berhenti di dekat gerobak penjual bubur ayam.
Elvina melihat ada dua penjual yang satu bubur dan tak jauh dari bubur ada ketupat sayur.
"Amih mau apa ya? tanya dia lngsung deh,"
"Assalamualaikum, halo, Mih,"
"Waalaikumsalam iya, Bu,"
"Ada lontong sayur sama bubur ayam. Amih mau apa?"
"Enggak usah repot-repot, Bu. Saya mah gampang, yang ada di rumah juga bisa dimakan,"
"Enggaklah, makan yang mau aku beli aja. Amih mau apa?"
"Lontong aja deh, Bu, sebelummya terimakasih, Bu,"
"Okay lontong ya. Vano ada? tolong sekalian tanyain ke dia mau apa?"
"Pak Vano baru aja keluar, Bu. Katanya mau ngopi sebentar,"
Sejenak Elvina diam. Sakit begitu.malah keluar dan mau minum kopi? harusnya kalau memang sudah kepingin sekali minum kopi bisa di rumah saja. Entah kenapa malah keluar. Padahal katanya sakit.
"Oh ya udah, aku tutup teleponnya,"
Elvina menjauhkan ponsel dari telinga. Setelah itu Ia memikirkan makanan apa yang kira-kira Vano inginkan.
"Bubur aja kali ya? dia 'kan lagi sakit,”
“Ya udah bubur aja deh,"
Elvina memesan satu porsi bubur lagi kemudian Ia memesan lontong sayur pesanan Amih.
*****
"Gila, sampai pusing ngadepin dia kalau udah marah. Apalagi kalau udah bahas kamu, dia kayak reog persis,"
Lawan bicara Vano tertawa dan akhirnya Ken pun tertawa. Yang mereka bahas tentu saja Elvina, istri Vano yang hampir membuat Vano gila setiap kali mereka bertengkar.
"Ngomong-ngomong handphone lama jadi korban karena dia tau kamu telepon aku,"
"Oh ya? dia banting handphone kamu?"
"Iya, abis handphone aku, akhirnya terpaksa beli yang baru. Dia makin uring-uringan deh belakangan ini. Aneh banget, padahal katanya enggak cinta dan biasanya juga enggak peduli sama aku, mau aku dekat sama siapa kek. Bahkan aku punya teman perempuan terus kami dekat dan dia kayak bodo amat gitu lho. Sampai kadang aku kesel, kok dia enggak ada cemburunya sedikitpun,"
"Ya 'kan memang begitu kalau enggak cinta,"
"Iya cuma sekarang aku ngeliatnya beda. Tapi aku enggak mau mikir yang gimana-gimana sih. Dia udah sering bikin aku kecewa soalnya. Dia sering bilang mau belajar terima aku, cinta sama aku, memperbaiki hubungan tapi biasanya enggak ada perubahan apapun,"
Perempuan itu terkekeh melihat Vano yang nampak frustasi karena hubungannya dengan Elvina yang makin hari makin tidak jelas arahnya.
"Eh ada Vano. Kok di sini?"
Vano menoleh ketika namanya disebut oleh seseorang yang begitu Ia lihat wajahnya adalah Agatha.
"Bener Agatha bukan sih?"
Ia ragu karena perempuan itu mengenakan masker, topi, dan kacamata hitam. Tiba-tiba saja perempuan itu menghampirinya.
"Iya bener aku," ujarnya seraya menurunkan masker.
"Oh beneran Agatha, ngapain di sini? sendirian aja?"
"Enggak, sama Mas Rendra. Kami lagi mau makan donat sama ngopi di kafe ini. Tapi Mas Rendra lagi di toilet,"
Pandangan Elvina beralih ke perempuan yang tadi Ia lihat berbincang dengan Vano. Perempuan itu duduk tepat di depan Vano.
Pandangan Agatha pada Vano seolah bertanya "Ini siapa?"
"Eh iya kenalin, Tha. Dia namanya Delila,"
Agatha menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah pada perempuan bernama Delila itu.
__ADS_1
"Hai, aku Agatha," ujar Agatha seraya mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh Delila yang menyebut namanya juga.
"Dia kenalan aku," kata Vano memperkenalkan status Agatha.
"Delila teman kamu?"
Vano menatap Agatha dan Delila bergantian. Ia sempat diam sebentar dan mengangguk.
"Iya teman gue, Tha,"
*****
Elvina memasuki rumah dengan menjinjing kantung plastik berisikan bubur dan juga lontong sayur. Dari luar rumah Ia sudah dibuat bingung karena mobil suaminya tidak ada.
“Mih, ini lontong sayurnya,”
Amih datang menghampirinya yang membawa lontong sayur dan bubur ayam ke meja makan.
“Vano belum pulang juga? Katanya cuma ngopi sebentar ‘kan?”
“Belum, Bu. Iya tadi Pak Vano bilang mau ngopi sebentar,”
“Dia pergi dari sini sendiri? Naik mobil berarti ya?”
“Iya cuma sendiri aja kok, Bu, naik mobil,”
“Ibu udah makan?”
“Aku udah sama Bu Sutya. Tadi ketemu beliau waktu sepedaan. Aku mandi dulu ya,”
“Iya, Bu,”
Elvina pikir begitu Ia tiba di rumah, suaminya sudah tiba juga, padahal dia berkata hanya sebentar.
“Itu orang beneran ngopi apa yang lain ya? Kok mencurigakan banget. Aku keluar, dia ikutan keluar,”
Elvina diam sebentar di dalam kamar, sambil mengeringkan keringatnya. Setelah itu barulah Ia bergegas mandi. Kali ini Ia ingin sekalian berendam.
****
Rendra dan Agatha akhirnya bergabung di meja Ken dengan Delila. Atas permintaan Agatha. Tadinya Rendra tidak nyaman. Sebab ada perempuan asing yang tidak Ia kenal, tapi istrinya ingin, terpaksa Ia turuti.
“Aku pulang duluan ya,”
“Bareng aja sama aku, udah mau pulang juga nih,”
“Eh enggak usah, kamu lanjut ngobrol aja sama Agatha Rendra, aku bisa pulang sendiri kok,” ujar Delila seraya tersenyum pada Vano.
Vano yang tadinya ingin mengantar akhirnya tidak jadi melaksanakan niatnya itu sebab Delila menolak.
“Itu teman lo? Teman kerja atau apa?”
Begitu Delila menjauh, Rebdra bertanya penasaran pada Vano yang tak disangka bertemu dengannya dan Agatha di sebuah kafe.
“Iya,”
“Sorry kalau lo enggak nyaman gue tanya gitu, tapi aneh aja lo cuma berdua sama dia. Elvina enggak ikut?”
“Dia aja ninggalin gue di rumah, dia sepedaan, terus gue lagi sakit makanya enggak kerja,”
“Nah terus kenapa lo malah keluar? Katanya sakit, harusnya mah istirahat aja kali, ngapain lo keluar coba?”
“Iya, cuma gue bosan aja tadi makanya gue ke sini, terus ketemu sama dia,”
“Vano, meskipun kakak aku enggak peduli, cuek, enggak cemburu sama kamu, tapi kamu bisa sedikit hargai perasaan kakak enggak?”
“Dia kayaknya udah cemburu deh, Tha,”
“Terus kenapa kamu masih sama perempuan itu kalau kakak cemburu?”
“Ya enggak apa-apa, orang cuma teman aja kok. Dia juga punya teman dekat cowok,”
Agatha berdecak tidak senang mendengar ucapan Vano yang terdengar santai saja padahal itu menyangkut perasaan istrinya.
“Ya jangan begitulah, memang itu cuma teman kamu tapi enggak tau gimana perasaan kakak kalau tau kamu pergi sama dia, biar gimanapun kakak tetap istri kamu, kecuali kalau statusnya udah beda, terserah kamu mau gimana juga sama perempuan lain,”
“Lo nyumpahin gue berubah status nih?”
“Ya enggak gitu, cuma aku bingung aja, kok tumben aku liat kamu jalan sama teman perempuan,”
“Dia aja pernah ke bar sama teman perempuan yang satu lagi, siapa itu namanya? Aku lupa,” sahut Rendra yang tidak merasa heran, berkebalikan dengan istrinya.
“Tata? Dia mah kenal baik juga sama Elvina,”
“Tapi tetap aja lah, lo harusnya bisa jaga jarak. Ini lo jalan sama yang tadi, Elvina tau enggak?”
“Enggak jalan, emang ketemu di sini tadi,”
Rendra menganggukkan kepala. Ia pikir Ken sengaja mengajak perempuan itu ke kafe dan tanpa sepengetahuan Elvina.
“Udah, lo berdua santai aja, gue sama Elvina baik-baik aja kok,”
“Kata kamu, Elvina mulai cemburuan? Berarti bagus dong, artinya Elvina udah mulai takut kehilangan kamu, Van. Bisa jadi dia udah mulai cinta sama kamu,”
“Gue enggak tau, Tha. Gue enggak bisa ngomong lebih, nanti takutnya dibikin kecewa lagi sama dia,”
“Kamu sama El baik-baik aja ya, Van, jangan berantem terus dong. Aku tuh mau orang-orang di dekatku akur, damai, tentram, enggak ada konflik apapun,”
“Hmm,”
Vano memilih bergumam saja. Agatha tidak tahu saja kalau belakangan ini intensitas pertengkaran Ia dan Elvina justru lebih sering dan Ia sadar itu karena disebabkan oleh adanya orang lain diantara mereka berdua.
“Eh gimana kehamilan lo? Sehat?”
“Oh iya lupa, aku mau cerita, aku hamil kembar kata dokter,”
“Hah? Serius lo?”
Vano menepuk bahu Agatha dan itu membuat Rendra mengernyit tak suka. “Jangan main tepok aja! Lo laki, Agatha cewek, menurut lo pelan tapi itu bisa nyakitin, oon!”
Hubungan Rendra dengan Vano semakin lama semakin membaik dan tidak canggung lagi. Dimulai dari Rendra yang tidak mau lagi berurusan dengan Elvina, sempat membuat Ken tidak percaya dan tetap cemburu, tapi lama-kelamaan Rendra bisa meyakinkan Vano dan Agatha bahwa Ia benar-benar telah melupakan masa lalu dan ingin fokus dengan pernikahannya saja, akhirnya Vano pun lambat laun bisa membuka diri. Rasa kesal dalam hati untuk Rendra perlahan habis.
“Iya seriusan, ngomong-ngomong bener kata Mas Rendra, tepukan kamu lumayan juga ya,”
Vano tertawa dan segera meminta maaf pada Agatha yang baik, selalu berusaha menjadi penengah disaat dia tahu bahwa hubungannya dengan Elvina tidak baik-baik saja.
“Sorry, gue terlalu semangat pas dengar itu. Kok bisa sih? Resepnya apaan?”
“Enggak ada resep, orang aku sama Mas Rendra juga kaget kok, tiba-tiba dokter ngomong begitu,”
“Oh terus gimana? Sehat ‘kan?”
“Sehat, Alhamdulilalh,”
“Elvina lo kasih tau, Tha?”
“Hmm aku belum kasih tau sih, mau ngomong di chat lupa terus,”
“Lo sama dia juga jarang chattingan kayaknya. Kenapa? Lo masih cemburu sama dia ya?”
“Hmm iya sih, kadang. Aku takut kalau—ya pokoknya gitulah,”
“Elvina udah jadi milik gue, begitupun Rendra yang udah jadi milik lo. Selagi gue sama Elvina, gue enggak akan biarin dia sama yang lain, Tha, semoga nggak ada drama-drama deh,”
“Masa lalu mah enggak usah diingat-ingat lagi. Lihat aja apa yang ada di depan mata, daripada pusing sendiri,”
“Iya betul! Awas aja lo kalau macam-macam!” Imbuh Vano menyahuti ucapan Rendra yang menenangkan Agatha.
Agatha ketakutan sendiri karena Ia pernah bersama Elvina di masa lalu. Padahal Ia sudah tidak mau membuka lembaran masa lalu.
“Kamu tuh mau hidup bahagia sama aku enggak sih? Orang udah mau punya anak kok, tapi masih aja over thinking,”
__ADS_1
“Udah, Tha. Lo itu enggak usah mikirin apapun. Elvina juga enggak mau rusak kebahagiaan lo kali,”
Agatha juga tidak mau berpikir terlalu jauh tapi otaknya itu sulit dikendalikan. Masalahnya, Elvina itu masih punya rasa terhadap Rendra sampai-sampai suaminya sendiri diabaikan. Itu yang membuat Agatha cemas. Apa Ia harus pergi yang jauh supaya tidak ada Elvina lagi di hidupnya?