
“Kamu mau kemana sih? Kok rapi banget terus wangi banget lagi,”
Elvina bingung kenapa Vano sore ini tampil rapi. Biasanya kalau sudah mandi sepulang kerja, Vano akan berpenampilan santai dengan celana pendek dan t-shirt nya. Sekarang mengenakan kemeja lengan pendek dengan celana panjang.
“Aku mau pergi,”
Jelas saja Vano ingin pergi. Elvina tahu itu karena tidak mungkin Vani hanya diam saja di rumah ketika sudah berpenampilan seperti itu.
Yang Ia pertanyakan sekarang adalah, mau kemana lelaki itu? Dan ada urusan apa?
“Aku mau ke acara anniv temen aku, El,”
“Oh, sekarang?”
“Ya iya dong, kalau besok kenapa aku siap-siapnya sekarang?”
“Kamu tumben enggak ajak aku,”
“Aku pengen datang sendiri aja, teman-teman yang lain juga begitu. Enggak apa ‘kan kalau aku enggak ajak kamu?”
Elvina diam sesaat mengamati wajah Vano kemudian turun ke sekujur tubuh suaminya yang terbalut sempurna dengan pakaian formalnya.
“Kenapa ngeliatin aku begitu? Aku ganteng banget ya?”
Elvina memutar bola matanya. Bukan tampan, tapi Ia sedang ragu percaya atau tidak dengan suaminya. Semenjak mengetahui Vano waktu itu membohonginya, Ia sulit percaya pada lelaki itu. Memang benar kata orang, sekalinya berbohong akan sulit dipercaya.
“Beneran ada acara anniv teman ya?”
__ADS_1
“Beneran dong, aku mana mungkin bohong? Kamu enggak percaya?”
Elvina menganggukkan kepala jujur. Ia memang tidak percaya, sulit sekali. Bawaannya curiga terus kalau melihat Vano sudah berpenampilan beda.
“Ya terserah kamu sih kalau kamu enggak percaya. Yang penting aku enggak bohong. Aku pamit pergi dulu ya,”
“Pulang cepat banget, sebelum jam tiga udah sampai rumah eh enggak taunya karena mau ada acara,”
“Iya, emang kenapa? Setelah aku pergi, kamu mau aku ajak kemana?”
Elvina menggelengkan kepalanya. Ia tidak minta diajak kemanapun, Ia hanya tengah menyindir Ken saja. Ternyata karena ada maksud makanya pulang cepat sekali dari jam biasanya.
Elvina mengantar suaminya hingga tiba di depan pintu rumah. Vano mengulurkan tangan karena pikirnya Elvina ingin mencium punggung tangannya tapi Elvina hanya diam saja tidak menerima uluran tangannya.
“Ya udah,” kata Vano yang tidak mempermasalahkan sikap istrinya.
“Hati-hati,” pesan Elvina sesaat sebelum suaminya melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Ya, tidak ada keraguan dalam diri Elvina untuk mengekori suaminya itu. Ia benar-benar ingin tahu apakah benar Vano hadir ke acara anniversary temannya atau justru malah punya tujuan lain.
“Bu, mau kemana?”
Amih bertanya pada Elvina yang berjalan cepat dengan menjinjing tas juga kunci mobil di tangan sembari menuruni anak tangga dengan tergesa.
“Aku mau pergi sebentar, jaga rumah ya, Mih,”
“Okay siap, Bu. Hati-hati ya, Bu,”
__ADS_1
Elvina sudah tidak dengar lagi apa yang dikatakan Amih karena perempuan itu sudah berjalan cepat menerabas Amih yang kebingungan.
“Mau kemana si Ibu ya? Kok buru-buru amat kayaknya,”
“Padahal Pak Vano baru aja pergi. Apa mau nyusul kali ya? Ah entahlah,”
Amih menutup pintu dengan rapat. Ia melaksanakan tugas Elvina tadi yaitu jaga rumah dengan baik.
******
Vano menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah. Otomatis Elvina yang masih setia mengikuti mobil suaminya juga menghentikan mobilnya dengan jarak yang aman.
“Hampir aja tadi gue ketinggalan jejak, kalau beneran enggak kekejar, gue enggak bakal ada di sini sekarang,” gumam Elvina yang awalnya sempat kesal. Dari rumah Ia sempat kesulitan menemukan mobil Ken, tapi untungnya berhasil menyesuaikan posisi tak jauh dari mobil Vano.
Vano tidak singgah-singgah kemanapun dulu tadi. Lelaki itu benar-benar hanya datang sendiri ke restoran itu. Setelah tidak lama Vano masuk, Elvina menyusul tapi sayangnya Ia ditanyakan undangan.
“Undangan apa?”
“Lho? Undangan acara yang sedang berlangsung, Ibu. Sekarang ‘kan restoran ini lagi dibooking untuk acara ulang tahun pernikahan,”
Elvina berdecak pelan. Ia mana punya undangan itu. Rupanya harus masuk dengan undangan.
Akhirnya Elvina kembali lagi ke mobil, tidak jadi memata-matai suaminya sampai ke dalam restoran.
Tapi kecurigaannya tentang satu hal sudah terjawab. Vano tidak bohong, memang lelaki itu datang ke sebuah acara. Ia sempat berpikir Ken ingin pergi berdua dengan perempuan lain yang sedang dekat dengannya sekarang.
Elvina tidak pulang, melainkan ingin menunggu suaminya sampai keluar dari restoran. Nanti selepas hadir di acara yang digelar di restoran ini, Elvina penasaran Vano ingin kemana lagi. Apakah langsung pulang atau ada tujuan lain.
__ADS_1
“Ah sayang banget gue enggak bisa ikut masuk ke dalam,”
Elvina memukul pelan stir mobilnya. Kalau saja Ia bisa ikut Vano masuk ke dalam, Ia pasti bisa menjawab rasa penasarannya soal Vano yang Ia duga tengah bermain api di belakangnya. Barangkali di dalam sana Vano sibuk dengan wanita barunya, dan Elvina akan memergoki itu. Vano tidak akan bisa mengelak lagi. Ia tidak akan membuat kericuhan di acara tapi Ia akan menyerang Vano setelah tiba di rumah sampai Vano benar-benar merasa tertekan kemudian akhirnya mengakui kebohongannya. Yang membuat Elvina sampai seperti ini adalah kebohongan Vano. Ia benci sekali Vano bohong dengan bahasa tubuhnya yang begitu meyakinkan.