Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 58


__ADS_3

Makan malam kali ini terasa berbeda. Suasana nya tidak sehangat biasa, Elvina tahu ini terjadi karena kedua orangtuanya masih kecewa padanya yang telah mereka anggap mempermainkan pernikahan.


Setelah Ia dimarahi oleh mereka, ketika tak sengaja adu tatap pasti mereka buang muka, dan tak mengeluarkan satu patah katapun kepadanya. Dan itu membuat Elvina akhirnya juga sungkan untuk bicara.


Hubungan antara Ia dan kedua orangtuanya tidak pernah memanas seperti ini sebelumnya. Dan jarang juga mereka semarah itu padanya.


Elvina bisa paham. Marahnya mereka itu karena sudah menyangkut rumah tangganya dan Vano. Debagai ornagtua pasti ingin pernikahan anaknya baik-baik saja.


“Yah, Bun, aku habis makan malam ini boleh ngajak El pergi sebentar?”


Suara Vano memecah situasi heming yang ada di meja makan. Biasanya mereka akan saling berbincang satu sama lain dnegan hangat setiap makan di meja makan selama Elvina dan Vano menginap, tapi malam ini benar-banar beda.


“Kemana, Van?” Tanya Arman.


Elvina perhatikan, interaksi antara kedua orangtuanya dengan Vano tidak ada yang berubah. Benar, kedua orangtuanya hanya kecewa padanya saja, tidak menyangkut pautkan Vano. Karena yang mereka anggap salah memang Elvina. Justru mereka bersyukur memiliki Vano sebagai menantu. Benar-bsnar pengertian sekali. Tidak pernah juga membagi prahara rumah tangga kepada mereka selaku ornagtua Elvina padahal sebenarnya kalau Vano mau, Vano bisa saja sering melaporkan kepada mereka tentang bagaimana Elvina menggilanya Elvina akan sosok Rendra bahkan setelah menikah sekalipun.


Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Yang Vano bagi hanya kebahagiaan-kebahagiaan saja, tidak pernah hal yang membuat sedih. Karena kebaikan Vano itu membuat Arman maupun Dini merasa bersyukur memiliki Vano.


“Aku liat tadi mau ada pasar malam kayaknya. Di pinggir jalan sebelum masuk komplek sinis, Yah,”


“Oh iya menang di sana rajin ada pasar malam. Jalanan biasanya ditutup tuh, terus dialihin deh,”


“Aku boleh ke sana ‘kan, Yah? Aku seklaian mau ajak Elvina juga,”


“Iya boleh,”


“Makasih, Yah,”


Mau membawa istri pergi saja izin. Padahal Elvina itu sudah menjadi haknya. Tapi karena Vano sangat menghargai orangtua Elvina, tidak mau asal membawa anak mereka pergi makanya Vano izin terlebih dahulu.


“Ayah sama Bunda mau seklaian ikut juga nggak?”


“Nggak dej, udah sering juga ke sana?”


“Oh gitu, mau nitip sesuatu? Mungkin Ayah Bunda mau makanan tertentu?”


“Nggak perlu, Nak. Makaish niat baiknya ya. Kalian senang-senang lah malam ini, nggak usah pikirkan ayah bunda,”


“Beneran ayah bunda nggak ada titipan? Nggak mau ikut? ‘Kan seru tuh jalan-jalan malam,”


“Ah mendingan di rumah aja kalau orangtua seperti kami ini,”


Vano tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia baru sadar, memang biasanya orangtua itu aklau sudah di rumah makansusah untuk diajak keluar lagi, rasanya malas, lelah, enggan untuk meninggalkan rumah. Lebih baik istirahat di eumah saja ketimbang harus jalan-jalan, bertemu dengan ramai orang dan mengorbankan waktu istirahat mereka. Mama dan Papanya di rumah pun begitu. Jarang sekali mau diajak ke pasar malam, atau kemana-mana kalau sudah di rumah. Berat rasnaya kalau untuk pergi lagi.


“Hati-hati ya, suka ada kejadian jambret tuh di sana. Ayah nggak nakutin cuma mengingatkan aja. Jaga baik-baik handphone sama dompet kalian,”


“Iya makasih, Yah,”


“Kamu mau ‘kan?” Tanya Vano pada istrinya yang langsung nenganggukkan kepala dan tersenyum.


Selepas makan, Elvina mengangkat piring kotor ke dapur dan Ia membersihkan meja makan.


“Udah sana kamu siap-siap, ‘kan diajakin suami kamu ke pasar malam,” ujar Dini seraya meraih kain lapt yang sedang digunakan oleh anaknya itu untuk membersihkan meja makan.


Elvina menghela napas pelan. Alih-alih eprgi, Ia justru menatap mamanya yang kini sibuk menggantikan Elvina mengelap meja.


“Bunda, aku minta maaf udah bikin Ayah sama Bunda kecewa bahkan marah sama aku,”


“Kenaoa kamu minta maafs ama kami berdua? Yang kamu lukai hatinya ‘kan suami kamu, yang kamu khianati ‘kan suami kamu, ingat ya, selagi kamu belum bisa lupain mantan kamu, maish sibuk merhatiin dia di sosmed atau apapun, bahkan masih simpan kenangan sama mantan kamu itu, sama aja kamu selingkuh, Elvina,”


“Tapi aku nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Rendra, Bun. Aku cuma belum bisa move on aja kok, itu bukan selingkuh, Bun,”


“Masih aja ngelak. Itu tetap selingkuh. Marena yang ada di hati sama pikiran kamu bukan suami kamu sendiri. Udahlah, Elvina, kamu itu salah, jangan ngelak terus, jangan ngelak kalau kamu itu selingkuh. Bunda udha bilang sama kamu, sesuatu yang busuk itu harusnya dibuang ke tempat sampah, dan kenangan kamus ama Rendra utu udah busuk jadi ngapain dipertahanin? Kasian Vano, ikut nyium busuknya,” ujar Dini dengan tajam menusuk hati Elvina. Sudah bicara tajam pun, Dini tidak yakin anaknya akan paham.


Elvina memutuskan untuk naik ke kamarnya bersiap ke pasar malam. Tiba di kamar, Ia melihat suaminya sedang menggunakan parfum.


“Mas, kita jadi?”


“Iya jadi,”


“Ya udah aku siap-siap dulu,”


“Okay, kamu udah selesai bantuin Bunda?”


“Bunda suruh aku untuk ganti baju aja jadi ya udah aku naik deh?”


“Ya udah cepat ganti baju, saya tungguin,”


Elvina memilih baju untuk dirinya pergi ke pasar malam bersama sang suami. Setelah itu Ia segera mengenakannya. Setelah mengganti pakaian, Ia langsung berdiri di depan cermin mengikat rambutnya, setelah itu menggunakan pelembab bibir dan parfum.


“Ayo Mas,” ajak Elvina yang langsung membuat Vano menatapnya, semula Vano sedang mengecek ponselnya.


“Udah?” Tanya Vano


Elvina menganggukkan kepalanya. Ia lantas mengambil tas kecilnya dan memyimpan ponsek sedta dompetnya di dalam sana.


“Nggak usah bawa tas, El. Taruh aja handphone kamu di saku baju depan kamu tuh, dompet juga nggak usah saya rasa. Orang cuma dekat kok. Bawa aja beberapa lembar uang buat beli sesuatu di sana. Saya juga gitu soalnya,”


“Okay, Mas. Untung aja aku udah pakai baju yang ada saku. Mas nggak ngomong eka ku dari tadi sebelum aku pilih baju,”


“Iya maaf saya lupa. Ya udah yuk berangkat sekarang,”


Vano langsung mengajak istrinya keluar dari kamar tak lupa Ia berpesan sambil menutup pintu kamar “Nanti di sana jangan sibuk sendiri ya, takutnya kamu hilang,”


“Ya ampun masa aku hilang sih, Mas? Aku ‘kan bukan anak kecil lagi, hafal jalan pulang. Itu udah nggak jauh dari rumah aku ini,”


“Ya takutnya kamu diapa-apain orang. Udah jangan bantah dengerin aja apa kata saya,”


“Iya okay, Mas,”


Vano membukakan pintu untuk istrinya setelah memastikan istrinya itu duduk dengan nyaman Ia sengaja selalian memasangkan sabun pengaman dan posisi wajah mereka yangs angat dekat membuat Elvina gugup. Tapi beruntungnya hanya sebentar, karena setelah memasangkan sabuk pengaman, Vano langsung masuk juga ke dalam mobil.


“Mas, kita kenapa naik mobil? ‘Kan dekat banget, Mas. Nanti mobil taruh dimana?”


“Ada tempat parkir deh saya liat, lagian cuma bentar aja kok,”


“Kenapa kita nggak naik motor aja sih, Mas? Naik motor yuk, aku udah kangen juga naik motor aku sendiri,”


Vamo yang semula akan menstarter mobilnya langsung menatap istrinya yang membujuk untuk naik motor saja ke pasar malam itu.


“Ayo, Mas. Kita lebih baik naik motor aja ketimbang naik mobil ntar susah parkirnya. Ayo motor aja,” ajak Elvina sambil meraih tangan suaminya dna Ia guncang-guncang pelan.


“Kamu yakin?” Tanya Vano pada istrinya yang langsung mengangguk yakin. Malah Elvina lebih yakin naik motor daripada mobil. Kenapa? Karena motor ukurnanya lebih kecil, lebih mudah untuk mencari tempat parkir, dan lagipula tidka pelru ke apsar malam saja harus menggunakan mobil.


“Tapi kamu nggak apa-apa kalau misalnya naik motor? Nggak dingin emangnya?l


“Ya nggaklah, Mas. Aman kok. Udah yuk kita naik motor aja,” sekali lagi Elvina meyakinkan suaminya.


Akhienya Vano menganggukkan kepalanya dan Elvina langsung berseru senang. Elvina dan Vano keluar dari mobil bersamaan.


“Saya ambil kunci motor kamu dulu did alam, sekalian kembaliin kunci mobil ke kamar ya? Kamu tunggu sini atau masuk lagi?” Tanya Vano pada istrinyanyang antusiasnya bertanbah hingga dua kali lipat ketika Ia setuju mereka pergi dengan kendaraan roda dua.


“Aku di teras ini aja, Mas,”


“Ya udah saya ke dalam dulu bentar,”


“Kunci motor aku didekat tv ya, di tempat kunci-kunci,” ujar Elvina pada suaminya yang langsung mengangguk paham.


Vano segera bergegas ke ruang keluarga dimana kunci kendaraan dikumpulkan di sana smeua. Kebetulan Ia melihat ayah mertuanya di ruang keluarga sekalian Ia izin membawa motor Elvina.


“Yah, aku izin mau bawa motor Elvina ya, El mau naik motor dan aku sama El takut bingung juga mau parkir dimana,”


“Oh iya boleh dong, hati-hati ya,”


“Siap, Yah,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, tadi udah cium tangan sekarang cium tangan lagi hahaha,” ucap Arman ketika menantunya pamit lagi kepadanya.


“Oh iya ya, lupa aku, Yah,”


“Nggak apa-apa, hati-hati ya, kalau bisa pulang jangan terlalu malam,”


“Iya siap, Yah,”


Vano langsung bergegas keluar menemui istrinya yang sudah menunggu di teras rumah. Melihat Vano keluar menjinjing kunci motornya, Elvina berpteouk tangan pelan.


“Yeayy mau naik motor berdua, aku yang nyetir,” ucap Elvina hendak meraih kunci motornya namun langsung dijauhkan oleh Vano.


“Enak aja, nggak ya! Saya yang nyetir,” ujar Vamo dengab tegas. Mana mungkin Vano membiarkan istrinya yang membawa motor. Lalu Ia si belakang? Tidak ada fungsi apa-apa. Lebih baik tidak usah pergi seklaian kalau Elvina yang bawa motor.


“Kok Mas sih yang bawa motor?”


“Ya emang harus saya karena kamu perginya sama saya,” ujar Vano sambil merangkum wajah istrinya itu dan mencium hidungnya sekilas.


“Ih jangan dicium-cium?”


“Emang kenapa? Jijik dicium sama suami sendiri? Hmm?”


“Bukan,”


“Terus?”


“Ya kalau diliat ayah bunda gimana?” Tanya Elvina sambil matanya melotot. Vano menoleh ke sekitar, tidak ada orang, pintu rumah juga tertutup dan Ia yakin mertuanya tidak kerajinan mengintip mereka dari jendela.


“Orang aman kok,”


“Ya udah ayo ah buruan,”


Elvina menarik lengan suaminya supaya segera naik ke atas motornya. Vano langsung memberikan helm kepada istrinya itu dan segera menggunakannya di atas kepala barulah Ia naik ke jok motor.


“Legangan ya, saya mau ngebut,”


“Ih nggak mau ah. Jangan ngebut-ngebut! Awas aja kalau ngebut. Aku loncat di tengah jalan nanti,”


“Heh sembarangan kalau ngomong. Awas ya kalau macam-macam,”


“Ayo buruan berangkat,”


“Kamu nggak sabaran banget sih,”


Vano langsung menstarter motor dan melaju dengan kecepatan normal. Tidak lama kemudian mereka sampai di lokasi pasar malam.


“Yeayy sampai juga akhirnya,”


“Senang banget kayaknya,”


“Ini wortama kalinya aku ke sini,”


“Hah? Masa iya? Kamu ‘kan tinggal di sekitar sini amsa baru pertama kali,”


”Maksud aku, pertama kalinya sama kamu, Mas,”


“Oalah kirain benar-benar baru pertama kali datang ke pasar malam ini,”


“Sering kalau waktu belum nikah,”


“Sama siapa?”


“Sama Ayah Bunda, nggak dibolehin kalau sendiri. Mereka rela-relain nahan ngantuk demi temenin aku, padahal aslinya aku tau banget mereka malas keluar-keluar kalau malam tapi mereka nurutin kalau aku pengen ke pasar malam, jarang juga sih sebenarnya,”


“Kok tadi saya ajakin nggak mau ya?”


“Ya ngapain, Mas? Aku ‘kan udha ada uyang jagain. Jalau dulu belum ada yang jagain, jadi mau nggak mau kereka yang jalan temenin aku walaupun malas banget pasti apalagi kalau udah ngantuk. Nah sekarang ‘kan ada kamu jadi mereka nggak usah ikut lah, mereka udah percayain kamu untuk jagain aku,”


“Oh iya juga ya. Begitulah kalau punya anak perempuan, harus dijagain banget,”


Elvina menarik tangan suaminya untuk menghampiri penjual cilok. “Kamu mau kemana sih? Mau beli itu?” Tanya Vano.


“Iya, Mas,”


“Nggak kenyang emangnya? Bukannya tadi udah makan?”

__ADS_1


“Ih emang kenapa sih? Mas takut aku gendut? Hah?”


“Bukan gitu, kok kamu salah paham sih? Saya takut aja kamu kekenyangan terus kamu muntah,”


“Apa sih, Mas, aku nggak bakal muntah,”


“Emang aku hamil apa?”


“Sewot banget,”


Vano mencubit pipi istrinya itu tanpa menyakiti hanya untuk meluapkan gemasnya karena Elvina jetus menjawabnya.


“Bang, beli lima ribu ya?”


“Pedas?”


“Iya pedas,”


“Kamu mau nggak, Mas?”


“Nggak,”


“Satu aja lima ribu, Bang,”


“Siap, Neng,”


Cilok pesanan Elvina tengah dipersiapkan. Elvina segera mengeluarkan uang untuk membayar.


“Pas uangnya, makasih ya, Bang,”


“Sama-sama, Neng, semoga sehat terus ya bayinya,”


“Hah? Bayi? Emang saya—“


“Lah tadi nyebut-nyebut hamil, kirain saya lagi hamil,”


Elvina langsung melirik Vano yang tersenyum mendnegar ucapan penjual itu dan dalam hati Vano aminkan.


“Nggak! Saya nggak hamil kok,”


“Oalah ulya udah kalau gitu saya doain semoga secepatnya hamil ya,”


“Aamiin, makasih dia baiknya, Bang,” jawab Vano setelah itu merangkul bahu istrinya dan mereka berjalan menjauh dari penjual cilok.


“Mas, kok kamu tadi senyum-senyum sih? Terus kenapa aamiin? Emang kamu mau punya anak dalam waktu dekat? Katanya nggak berharap banget, nggak maksa aku,”


“Ya memang saya nggak mau maksa kamu kok. Saya nggak berharap banget supaya nggak kecewa, dan nggak bikin kamu tertekan. Tapi apa salahnya doa baik itu di aamiin kan?”


Elvina langsung kepikiran, bagaimana kalau Ia hamil? Apa suaminya akan senyum-senyum seperti tadi? Kelihatannya sekarang Vano mulai menunjukkan ketertarikan untuk menjadi seorang ayah.


“Kamu kayaknya udah pengen punya anak ya, Mas?”


“Kalau dikasih nggak nolak, belum dikasih ya nggak apa-apa,”


“Soalnya beberapa hari laku kita mall kamu tertarik banget ngeliatin baju anak-anak. Padahal ‘kan tujuan kita ke mall itu karena mau beli baju kamu,”


“Ya karena menurut saya modelnya bagus-bagus jadi saya tertarik untuk liatnya,”


“Sebelum nikah emang gitu?”


“Hmm nggak tau, saya nggak sadar,”


“Mana yang diliat baju anak perempuan lagi,”


“Iya nggak apa-apa dong. Memang salah ya kalau saya pengen ngeliat-liat baju anak perempuan? Saya tertariknya liat baju anak perempuan,”


“Apa kamu pengen punya anak cewek?”


“Apa aja sebenarnya nggak masalah buat saya yang terpenting dia sehat,”


“Oalah kirain spesifik pengen anak pertama itu peremluan,”


“Nggak, apa aja. Udahlah kenapa jadi abahs anak? Saya nggak mau salah-salah jawab terus nanti kamu malah salah paham. Saya nggak mau dibilang maksa, atau bikin kamu tertekan,”


“Ya ‘kan aku cuma mau nanya aja,”


“Takut ada ucapan saya yang bikin kamu terisnggung jadi mendingan nggak usah bahas itu dulu tih kamu juga belum mau ‘kan?”


Elvina mendengus, memang apa salahnya Ia bertanya? Ia hanaya penasaran saja suaminya itu punya keinginan soal jenis kelamin anak atau tidak, kenapa dia jadi tertarik melihat baju anak kecil? Intinya ia hanya penasaran saja.


“Hei kok langsung diam? Ngambek sama saya?”


“Hmm? Nggak lah ngapain ngambek?”


“Ya gara-gara saya stop obrolan soal anak,”


“Nggak, Mas. Aku nggak ngambek kok,”


“Dimakan dong ciloknya,”


“Eh iya lupa,”


Elvina terkekeh karena baru sadar cilok miliknya belum dimakan. Pertama kali Ia minta suaminya untuk mencoba.


“Jadi saya kelinci percobaan nih?”


“Nggak, biar Mas cobain pertama, aku terakhir. ‘Kan suami itu kepala, jadi nomor satu. Baru deh aku,”


Vano melahap cilok itu dan langsung menganggukkan kepalanya. “Enak,” ujarnya.


Elvina juga mencicipi dan Ia mengangguk setuju “Iya enak ya, pas gitu pedasnya, bumbu juga banyak,”


“Kamu langsung semangat ngajak saya beli cilok, kayak krmag ngidam aja,”


“Emang aku ngidam tapi bukan ngidam karena hamil ya, karena emang aku udah kangen banget sama cilok. Lama aku nggak beli cilok, Mas,”


“Emang terakhir kapan?”


“Yanitu mah baru,”


“Tapi lama menurut aku yang sering banget jajan cilok, Mas,”


Vano terkekeh melihat Elvina cerita smabil makan, menggemaskan sekali di matanya. Vano mengusap puncak kepala istrinya itu kemudian Ia kecup singkat.


“Kemana lagi nih kita?”


“Beli rambut nenek, Mas,”


“Hah? Rambut nenek? Makanan apa itu?”


“Gulali gitu lho, yang manis,”


“Kok rambut nenek sih?”


“Ya karena bentuknya kayak rambut nensk, Mas,”


“Ada-ada aja kamu, El,”


Vano menuruti keinginan istrinya untuk membeli makanan yang menjadi salah satu kesukaan Elvina saat kecil.


“Yeayy makasih, Mas,”


Elvina senang seklai ketika dibelikan dua plastik oleh suaminya itu. Setelah membeli makanan manis itu mereka lanjut melihat-lihat isi pasar malam.


“Kamu nggak mau cerita sesuatus aka saya gitu? Biar kita ngobrolnya banyak, nggak diam-diam aja,”


“Nggak dnak ah ngobrol rame orang,”


“Ya nggak apa-apa,”


“Eh aku mau tanya sesuatu sama kamu, Mas!”


Tiba-tiba Elvina mendongak menatap suaminya yang lebih tinggi ketimbang dirinya. Elvina mendadak berseru, jadi membuat Vano kaget.


“Tanya apa?”


“Kamu bilang kalau kamu ngikutin aku ya pas di mall?”


“Iya,”


“Jadi kamu liat aku ketemu sama Rendra dong, Mas?”


“Iya saya liat, emang kenapa?”


“Seriusan?”


Vano menganggukkan kepalanya. Mana mungkin Ia bohong. Ia benar-banar melihat dengan nata kepala sendiri kalau Elvina bertemu dengan Rendra. Entah snegaja atau tidak yang jelas Ia melihat mereka sempat bicara untuk beberapa saat sebelum akhirnya Elvin memutuskan untuk meninggalkan Rendra.


“Terus kamu diam aja gitu?”


Vano terkekeh, Elvina berharap Ia melakukan apa memangnya? Ia mendatangi Rendra, meninju Rwndra, menghabisi Rendra di tempat umum? Oh tentu Vano tidak akan bertindak sebodoh itu. Ia diajarkan untuk sopan santun dan diajarkan untuk bisa menghargai sesama makhluk, termasuk menghargai nama baiknya sendiri. Kalau Ia datangi Rendra, Ia beri pelajaran untuk Rendra, dan Ia memaki Elvina, tidak ada jaminan Elvina langsung bisa melupakan Rendra.


“Kamu maunya saya ngapain?“


“Kamu bukannya cemburu ya?”


“Kalau itu udah jelas jawabannya. Ya, saya cemburu lah pasti. Siapa sih yang bggak cemburu liat istrinya akrab sama mantan pacarnya. Tapi saya bisa apa selain ngeliat kalian dari kejauhan? Saya nggak mau berbuat aneh-aneh. Saya biarin aja kalian ngobrol sampai selesai, dam setelah itu saya ngikutin kamu pulang dmegan hati yang sedih. Sampai rumah saya harus keliatan baik-baik aja,”


Elvina meringis merasa bersalah. Ia langsung menggenggam erat satu tangan suaminya dan itu membuat Vano bingung.


“Kenapa?”


“Aku minta maaf. Tapi pertemuan aku sama Rendra tadi benar-banar nggak sengaja kok, Mas. Aku juha kaget liat dia. Dan dia ngajalin aku ngomong. Ya udah deh aku ladenin,”


Vano menganggukkan kepalanya. Ia sudah dapat jawabannya kalau ternyata pertemuan antara Elvina dan Rendra adalah kejadian yang tidak disengaja.


“Kamu percaya sama aku ‘kan, Mas?”


“Percaya, saya percaya kok sama kamu,”


“Aku kaget ketemu dia. Benar-banar nggak nyangka kalau bakal ketemu dan dia ngajakin aku ngobrol. Aku nggak tau kalau tenryata kamu ngikutin aku,”


“Ya kalaupun kamu tau, emangnya kamu peduli?” Tanya Vano sambil tersneyum tipis, dan Elvina bisa melihat kesedihan di senyum itu.


“Mas, aku minta maaf,”


“Jangan bahas dia lagi ya. Saya nggak mau bahas siapapun kalau lagi berdua, apalagi dia,”


Elvina kenganggukkan kepalanya. Ia paham perasaan Vano. Tapi anehnya Ia tidka bisa membuka pikiran dan hatinya ia sadar kalau suaminya terluka tapi Ia masih juga belum bisa melupakan Rendra.


“Kamu nggak penasaran sama apa yang kami bahas pas ketemu, Mas?”


“Untuk apa sih kamu tanya kayak gitu? Memang penting ya untuk saya tau? Hmm? Yang ada saya makin terluka, El. Kamu emmang maunya begitu ya kayaknya,”


“Eh nggak, Mas. Aku cuma nggak mau aja nutupin kalau emang kamu mau tau,”


Vano langsung melepaskan rangkulannya di bahu Elvina. Sebelumnya Ia nyaman menyandarkan tangannya di bahu perempuan itu tapi karena pembahasan tentang Rendra masih juga belum selesai, Ia jadi kesal sendiri.


“Mas kok duluan sih? Tadi katanya aku yang nggak boleh jauh-jauh takut hilang, eh ini Mas sendiri juga jauh-jauh!”


Slvina memarahi suaminya yang berjalan lebih dulu di depannya. Ia kesal melihat itu padahal sebelumnya Vano berpesan padanya sulaya jangan jauh-jauh karena Vano takut Ia hilang, sekarang Vano yang malah menjauh.


“Kamu emangnya mau aku hilang? Jangan duluan dong,”


“Kamu bikin saya kesal sih udah dibilang jangan bahas dia, masih aja. Benar-benar nggak mau banget ya menghargai perasaan suami kamu? Hmm?”


“Aku minta maaf, udah dong jangan marah. Ah kamu marah terus deh,”


Elvina menarik tangan Vano untuk Ia rangkul. Vano menggelengkan keoalanya pelan. Apa kata Elvina barusan? Ia marah terus? Bagaimana tidak marah kalau dipancing dnegan nama saingannya sendiri.


“Saya nggak akan marah kalau nggak ada sebabnya, kamu yang bikin saya marah. Mas aiya sih nggak bisa banget untuk jaga mulut? Saya ‘kan udah bilang jangan bahas siapapun apalagi dia. Kalau kamu bisa jaga mulut kamu supaya nggak bahas dia, artinya kamu juga bisa jaga hati saya,”


“Iya-iya aku minta maaf,”

__ADS_1


“Maaf terus, tapi diulangi lagi,”


Elvina mencari pengalihan supaya suaminya itu tidak kesal lagi. Ia mengajak suaminya ke tempat kopi.


“Ada kopi tuh, Mas. Ke sana yuk,”


Vano patuh saja ketika tangannya ditarik omeh istrinya untuk menghampiri stand kopi. “Kamu mau ap, Mas?”


“Yang ngajak saya kesini siapa?”


“Aku,”


“Terus kenapa nanya saya mau apa?”


“Ya biar kamu minum kopi, aku juga mau. Ayo kamu mau yang mana?” Tanya Slvina pada duaminya yang tadinya belum paham tapis etelah dijelaskan barulah Ia paham. Ternyata istrinya sedang mencari pengalihan.


“Hot frapuccino satu ya,”


Vano sudah memesan, dan Elvina tidak mau kalah. Ia pesan menu serupa. Karena merasa disama-samakan, Vano langsung menoleh ke istrinya.


“Kamu ngikutin saya?”


“Hehehe iya, biar couple,”


“Hot ya?” Tanya pelayannya.


“Iya,”


“Saya es, saya nggak mau panas,” jawab Elvina yang kali ini beda pilihan. Duaminya memilih panas, sementara Ia ingin dingin.


“Nggak, Mba. Samain aja, dua-duanya panas,”


“Ih Mas—“


“Mba, dua panas ya,”


“Baik, Mas,”


Elvina menatao tajam suaminya. Ia tidak terima jetika keinginannya adalah minuman dingin tapi malah diganti panas oleh suaminya.


“Kok aku panas sih? Aku maunya dingin,”


“Biar sama, ‘kan barusan kamu ngomong biar couple,”


“Ya tapi aku maunya dingin, nggak panas. Kalau menunya sama tapi aku ‘kan boleh dong milih panas atau dingin,”


“Panas aja, Elvina. Ini udah malam, kamu jangan minum es takut kamu batuk, lagian ini udah dingin lho,” ujar Vano dengan lembut memberi pengertian untuk istrinya itu. Ia punya alasan kenapa Ia melarang Elvina untuk memilih dingin. Mengingat ini sudah malam jadi Vano tidak mau istrinya minum yang dingin saat malam hari. Udara malam saja sudah cukup dingin, Elvina malah mau menambahkan rasa dinhin itu dengan minumannya.


“Ini dua-duanya panas, Mas,”


Vano segera mengeluarkan uang setelah itu Ia berikan salah satu gelas keoada istrinya yang langsung memalingkan muka tapi tangannya menerima.


Elvina masih tidak terima karena Ia sudah membayangkan akan minum yang dingin tapi bayangannya itu digagalkan oleh suaminya.


“Minum aja dulu itu ya,”


“Nggak tau ah, aku malas sama kamu, Masxl


“Besok siang tuh cocok minum yang dingin soalnya panas ‘kan. Nah kalau sekarang udah malam, mana cocok minum dingin. Yang ada juga kamu sakit nanti,”


“Kamu emang parah banget sih, Mas,”


“Hadeh, parah gimana sih? Saya cuma nggak mau kamu sakit, El,”


Vano mengajak istrinya untuk duduk di dua buah bangku milik penjual girengan. Mereka tentunya sekalian membeli girengan juga biar enak untuk menumpang tempat duduk.


“Suami istri ya?” Tanya penjual gorengan ketika menyerahkan bakwan, risol, pisang goreng, dan ubi goreng dalam plastik kepada Elvina.


“Iya, Bu,”


“Asli orang sini?”


“Kebetulan orangtua saya tinggal di komplek depan itu, Bu,”


“Oalah, dekat ya,”


“Iya lumayan,”


“Tinggal sama orangtua berarti ya?”


“Saya ikut suami tinggal sama mertua,”


“Jauh dari sini?”


“Nggak juga, Bu,”


“Oh, udah punya anak berapa, Neng? Keliatannya masih muda banget,”


“Belum, Bu,”


“Oh belum, iya deh pacaran aja dulu ya. Toh masih muda ini, masih banyak waktu. Ini nikahnya dijodohin atau gimana?”


“Nggak, memang saya yang mau nikahi istri saya,”


Kali ini Vano yang bersuara. Jangan sampai dikiran mereka menikah karena dijodohkan. Ih tidak bisa, Vano harus dengan gagah mengakui kalau Ia meminang istrinya atas keinginan sendiri bukan atas dasar perjodohan.


“Masih kuliah ya, Neng sama Mas nya?”


“Saya masih kuliah, Bu, kalau suami saya udah ngajar,”


“Wah keren ngajar dimana?”


“Di kampus saya sendiri,”


Ibu penjual gorengan itu membelalakkan kedua matanya terkejut. “Beneran nih?”


“Iya beneran, Bu,”


“Wah jodohnya sama dosen sendiri ya ternyata. Keren banget, kayak kisah di novel-novel ya, nikah sama dosen sendiri. Saya pikir mah di dunia nyata nggak ada yang begitu. Secara dosen ‘kan dewasa ya, biasanya cati yang dewasa juga, nah kalau sama mahasiswa nya harus sabar banget ngadepinnya, iya ‘kan, Mas?”


Vano hanya tersenyum menanggapi ucapan dari penjual gorengan itu. Jujur Vano merasa risih banyak ditanya-tanya. Tapi kalau Ia tiba-tiba pergi demi menghindari pertanyaan, rasanya tidak sopan sekali.


“Tiap hari kalau di kampus berarti ketemu terus dong ya?”


“Iya hampir tiap hari, kalau di rumah sih jangan ditanya ya, emang tiap saat ketemu,”


“Iya deh saya doain semoga hubungan kalian langgeng ya, bahagia gerus, secepatnya punya anak biar ngerasain gimana senangnya punya anak. Wakaupun kagok apalagi bagi kalian yang masih muda, tapi nanti jadi kesenangan deh punya anak, percaya sama saya. Tapi kalau sekarang mau fokus pendidikan dulu juga nggak masalah sih, biar nanti punya anak fokus ya ngurusnya,”


“Iya, Bu,”


Pbrolan akhirnya selesai juga karena si ibu penjual gorengan harus melayani orang yang beli. Beruntungnya setelah pembeli pergi, Ibu itu tidak tanya-tanya lagi.


Setelah minuman maisng-masing habis, dan dua buah ubi gor eg juga mereka habiskan, mereka berdua beranjak meninggalkan kursi.


“Makaish banyak ya, Bu,”


“Sama-sama, langgeng terus ya kalian,”


“Aamiin makasih doanya, Bu,” ujar Elvina.


“Iya sama-sama,”


Elvina dan Vano berjalan bersampingan lagi. Tidak ada yang menarik lagi bagi mata masing-masing, akhirnya Slvina menyampaikan keingiannnya pertama kali.


“Pulang yuk, aku udah capek nih, ngantuk dan nggakalagi yang menarik,”


“Cuma beli itu doang jadinya?”


“Ini maish ada girengan buat ayah bunda barangkali mereka mau,”


“Beliin apa lagi ya buat ayam bunda?”


“Jata aku ih udah cukup gorengan ini, Mas. Mereka ini kayaknya udha tidur deh, syukur-syukur mau nyobain gorengan yang masih panas ini,”


“Ya udah kita pulang yuk,”


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Vano tidak tega juga nelihat Elvina kengeluh lelah dan mengantuk. Matanya memang tidak bisa bohong. Kelihatan sekali sudah mengantuk.


“Mas nggak ngantuk ‘kan?”


“Nggak,”


“Hati-hati bawa motor ya, Mas,”


“Iya tenang aja. Kamu pegangan ya, jangan ngantuk ya,”


“Iya, aku nggan ngantuk kok,”


Elvina melingkarkan tangannya di pinggang sang duami dan Ia berusaha melawan belaian angin yang membuatnya mengantuk.


“Bentar lagi sampai nih jnagan tidur,”


“Nggak, Mas. Takut banget aku tidur deh kayaknya,”


“Iyalah, takut kamu kenapa-napa,”


“Nggak, tenang aja udah,”


Vano mengingatkan istrinya untuk tidak kengantuk karena kalau sampai itu terjadi bahaya, mereka menggunakan motor. Andai saja naik mobil, mau Elvina tidurpun tidak masalah bagi Vano.


Setelah sampai di rumah, Elvina menghela napas lega begitupun suaminya. “Ngantuk aku,” gumam Elvina sambil melepaskan helm. Vano menepuk lembut pipi istrinya itu.


“Kenapa sih,”


“Nggak apa-apa biar sadar, mata kamu udah nggak bisa dikondisikan lagi itu, El. Ya udah masuk sana,”


“Kamu mau kemana? nggak mau ikut masuk juga?”


“Mau markirin motor yang bener, kamu duluan aja


Elvina menganggukkan kepalanya lantas masuk ke dalam rumah, sementara suaminya sibuk dengan motor dulu.


“Udah jalan-jalannya?”


Elvina kaget ketika bundanya ada di meja makan, niatnya ingin meletakkan gorengan yang Ia beli di meja makan. Ia pikir bundanya sudah tidur tapi ternyata belum.


“Udah, Bun. Ini aku sama Mas Vano beli gorengan,”


“Nggak usah harusnya, ngapain repot-repot orang udah makan kok,”


“Mas Vano yang beliin sebenarnya, Bun,”


“Gimana? Udah dibuat sejangs ama Vano ‘kan? Masih jahat juga sama dia? Ya udah selamat menyesal deh nanti,”


Setelah berkata seperti ini Dini bergegas meninggalkan ruang makan dan Elvina yang terdiam.


Elvina menatap meja makan dengan tatapan kosong. Bundanya masih kesal ternyata. Nada bicaranya saja tidak bisa dibohongi.


“Hei kok di sini? Nggak naik ke atas? Katanya udah ngantuk,”


Elvina menatap suaminya yang baru saja melewatinya smabil mengusap kepala belakangnya.


“Aku abis narok ini,”


“Ydah pada tidur ya? Ya udah biarin aja di meja makan, besok dipanasin, tapi ialau udha nggak enak ya dibuang aja,”


“Jangan dibuang, sayang. Besok pasti nggak basi kok. Bunda pergi nggak mau makan ini, nggak tau karena kenyang, ngantuk, atau masih marah sama aku, tapi kayaknya sih masih marah ya,”


Vano mengambil air minum lalu meraih tangan Elvina mengajaknya untuk ke kamar. “Omongan Bunda itu untuk kebaikan kita juga, jangan kesal sama Bunda. Daripada kesal mending pikirin caranya supaya Bunda nggak marah lagi sama kamu,”


“Ya mana bisa, Mas? Orang Bunda marah ke aku gara-gara Rendra,”


“Ya udah terus kenapa masih Rendra lagi-Rendra lagi? Udah tau Bunda nggak suka. Saya sendiri juga bingung sama kamu,”

__ADS_1


__ADS_2