
“Semoga kita nggak jadi sebatas sahabat aja ya, Din,”
Melihat raut wajah Dini yang bingung belum paham maksud ucapannya, Lisa terkekeh sambil menepuk paha sahabatnya itu.
“Masa kamu nggak paham maksud aku?”
“Kita ‘kan emang udah keluarga, jangan sahabat lagi dong,”
“Iya, besan maksud aku,”
Para orangtua itu tertawa sementara Elvina meringis dalam hati. Karena orangtuanya dan juga Vano sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan mereka bersahabat, artinya kemungkinan besar Ia tidak dilepas lagi, alias benar-benar akan berlanjut ke tahap yang lebih serius bersama Vano.
“Kamu udah dengar ceritanya Elvina soal Vano?”
“Udah-udah, Elvina langsung cerita ke kami, kalau ada dosennya yang terang-terangan jujur kalau beliau itu punya perasaan ke Elvina. Tanggapan aku sama Mas Arman sih lumayan kaget ya. Nggak kepikiran aja gitu, bisa-bisanya anak kami ditaksir sama dosen. Padahal banyak yang lebih cantik, lebih berprestasi, Elvina sendiri juga mengakui itu. Dia kaget dan merasa nggak percaya kalau dia yang selama ini datang ke kampus dengan tujuan kuliah, nggak mau aneh-aneh, nggak pernah mau cari perhatian, eh nggak taunya malah udah diperhatiin sama pak dosennya,”
Vano tersenyum menatap Elvina. Padahal banyak kelebihan yang ada di dalam diri Elvina tapi kenapa Elvina malah insecure? Ia bingung. Apa yang disebutkan oleh bundanya Elvina barusan adalah beberapa yang membuat Vano jatuh hati. Elvina memang mahasiswi yang terbilang positif, tidak pernah membuat masalah, kelihatan fokus untuk kuliah, bukan untuk yang lainnya disaat teman-teman Elvina ada saja yang keluar dari kampus karena satu dan lain hal, atau belajar tidak sungguh-sungguh, Elvina tetap punya prinsip sendiri. Ditambah lagi kesederhanaan perempuan itu yang ternyata tidak hanya membuat Vano saja yang jatuh hati, melainkan Davina pun merasa demikian. Kenapa? Karena Davina sendiri sudah bisa menilai Elvina bukan anak sembarangan, tapi ke kampus naik motor, penampilannya seperti mahasiswi kebanyakan saja, tidak menunjukan sisi ‘lebih’ yang dimiliki.
Davina sempat membayangkan perempuan yang sudah membuat abangnya jatuh hati itu adalah perempuan yang profesinya sesama dosen, penampilannya kelihatan mewah, susah untuk beradaptasi dengan dirinya sebagai adik Vano karena merasa ‘lebih’ tapi ternyata yang disukai Vano adalah mahasiswa seperti Elvina yang tidak seperti dalam bayangan Davina.
“Vano mau serius sama Elvina, dan dia mau kenal lebih jauh dulu sama Elvina dan keluarganya. Tapi berhubung kita udah kenal banget ya, bahkan kenalnya udah keterlaluan, berharap Elvina mau diajak serius sama Vano,”
“Vano, memang apa yang buat Vano tertarik sama Elvina? Padahal ‘kan Elvina ini mahasiswi nya Vano, sedangkan Vano pasti banyak kenalan sesama dosen yang mungkin lebih dari Elvina dari segala aspek,”
“Elvina itu beda. Pertama kali ketemu dia, wajah tenangnya, keseriusan dia pas belajar, udah bikin aku tertarik. Begitu aku cari tau sedikit-sedikit gimana Elvina aku semakin tertarik sama dia. Aku diam-diam merhatiin dia, berusaha menilai hal yang memang pengen aku nilai dari Elvina. Kesimpulannya, Elvina beda dari perempuan lainnya. Karakter dia bikin aku jatuh hati, sikapnya dia juga santun, nggak berlebihan sama saya selalu dosen. Disaat banyak teman-temannya berusaha untuk cari perhatian saya, suka sama saya, Elvina biasa aja. Dia menghargai saya sebagai dosennya, nggak lebih,”
“Terus Elvina nggak pelit, Om, Tante. El belanjain aku, baik deh pokoknya. Makasih ya, El. Tapi lain kali jangan lagi. Mama Papa aku negur aku tau kemarin,” Davina menyambung ucapan abangnya. Davina menilai apa yang bisa Ia lihat. Dua kali bertemu Elvina, mereka bisa langsung akrab. Obrolan tak pernah habis, Elvina juga pembawaannya ceria, tanpa sadar sosok Elvina ini dibutuhkan juga oleh Davina yang selama ini mendambakan sosok kakak perempuan.
“Davina bilang makasih mulu ih,”
Elvina tak habis pikir. Adik dari dosennya itu berulang kali mengucapkan terima kasih seolah apa yang Ia lakukan adalah hal luar biasa saja.
“Jujur Davina ini sensi lho sama cewek yang lagi dekat sama abangnya. Dia tau aja gitu kalau cewek itu nggak cocok sama abangnya. Pasti susah buat akrab, itu ciri-cirinya. Davina ini posesif banget sama abangnya. Ya namanya juga anak bungsu, perempuan pula. Vano nya juga sayang banget ke dia jadi dia takut kehilangan Vano kalau Vano punya pendamping. Waktu awal-awal tau Vano naksir sama Elvina, dia juga rasa sinis. Eh tapi ngeliat reaksi dia setelah ketemu sama Elvina, aku jadi senang deh, Din. Mudah-mudahan aja ya semua dipermudah, kita bisa jadi keluarga yang benar-benar keluarga karena disatukan dengan tali pernikahan anak-anak kita,”
****
“El, ada kiriman nih dari Vano,”
__ADS_1
Elvina sedang sibuk di depan laptop mengerjakan tugas dan Ia terkejut ketika mamanya tiba-tiba membuka pintu kamar dan memberikan informasi sambil membawa kotak pizza di tangannya.
“Hmm? Pak Vano ngirim itu, Bun?”
“Iya, tadi kurirnya bilang kiriman ini dari Vano. Coba kamu pastikan, tanya langsung ke Vano,”
“Ngapain Pak Vano kirim-kirim makanan segala ya, Bun? Aku padahal nggak minta lho, Bun, aku serius,”
“Iya, Sayang. Emang siapa yang bilang kalau kamu itu minta? Bunda juga tau kok. Mana mungkin sih anaknya Bunda minta-minta? Orang punya uang sendiri ya kalau mau beli apa-apa tinggal pakai uang yang dipunya. Ini mungkin Vano beli ini sekalian untuk di rumahnya kali. Coba kamu tanyain aja dulu, supaya lebih pasti. Takutnya bukan beneran dari Vano,”
Elvina menganggukkan kepalanya. Tapi karena Ia sungkan menghubungi Vano langsung, alhasil Ia menghubungi adiknya Vano.
Biasanya Ia berkomunikasi dengan Vano itu soal tugas, atau hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan. Elvina belum terbiasa berkomunikasi langsung dengan Vano diluar dari tentang perkuliahan, apalagi bila Ia yang harus memulai lebih dulu.
“Halo, El, kenapa?”
“Maaf ganggu, Dav. Aku mau tanya, apa Pak Vano kirim pizza ke rumah aku?”
“Hah? Abang kirim pizza? Duh aku nggak tau, coba deh aku tanya dulu ya. Bentar, aku keluar kamarku dulu,”
Davina yang sedang berbaring telungkup di atas ranjang menonton drama korea, langsung bergegas meninggalkan kamar. Ia bergegas menghampiri kamar abangnya.
“Abang,”
“Ya udah kalau Abangnya lagi sibuk, Dav. Nanti aja,”
“Eh bentar, kayaknya dia lagi di kamar mandi deh jadi kupingnya nggak dengar,”
“Oh okay nggak apa-apa. Aku cuma mau mastiin aja soalnya takut bukan dari Pak Vano,”
“Aku rasa sih iya,”
“Takutnya dari Vano yang lain gitu,”
“Hahahaha ternyata ada Vano lain yang dekat sama kamu, El?
“Nggak ada, aku nggak dekat sama siapa-siapa,”
__ADS_1
“Ya udah berarti itu dati Vano abang aku, El. Tapi takutnya ada orang yang mengatasnamakan abang kamu padahal bukan abang kamu yang ngirim,”
“Oh iya juga sih. Okay tunggu ya, Abang belum keluar buka pintunya nih,”
Elvina berdehem mengiyakan. Ia sabar menunggu sampai Ia benar-benar dapat jawaban yang tepat.
“Abang buruan dong buka pintu kamarnya,”
Davina kembali garang mengetuk pintu kamar abangnya. Tiga detik berselang, Vano membuka pintu kamarnya dan menatap adiknya dengan wajah tanpa ekspresi menggambarkan kekesalannya.
“Kenapa sih? Ganggu aja kamu. Mana ngetuk pintu nya galak bener lagi,”
“Abang lama banget sih buka pintunya. Aku udah nungguin dari tadi tau!”
“Abang abis dari kamar mandi, emang ada apa?”
“Abang yang kirim pizza ke Elvina? Nih Elvina tanya ke aku, dan aku bingung mau jawab apa,”
“Iya, kok Elvina nanya ke kamu bukan nanya ke Abang aja,”
“Ya mana aku tau,”
Melihat adiknya sedang memegang dan kelihatan Davina sedang tersambung dengan panggilan bersama seseorang, Vano langsung bertanya “Kamu lagi telponan sama El?”
“Iya, El telepon aku buat nanya itu,”
“Iya abang yang ngirim,”
“Oh ya udah,”
“El, beneran Abang yang ngirim ya, nggak usah khawatir, itu bukan dari orang yang nggak dikenal,”
“Ok—“
“Sini pinjam handphone kamu, Abang mau ngomong sama El. Kenapa dia nggak telepon Abang langsung aja, kenapa malah ke kamu yang cerewet bukan main,”
Davina mendengus dan menyerahkan ponselnya dengan setengah hati ke abangnya yang ingin bicara langsung pada Elvina.
__ADS_1
“Ya udah aku pinjemin handphone aku untuk ngebucin, tapi jangan lama-lama, nanti langsung balikin ya. Aku mau balik ke kamar,”