Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 86


__ADS_3

Elvina menekan tuas pintu dan matanya membola kala melihat Vano yang sudah pakai kemeja dan celana bahan malah berbaring lagi di tempat tidur.


"Ya ampun Mas, kok tidur lagi?!" Elvina sampai berseru kesal bertanya pada suaminya. Vano benar-benar tidur lagi! coba bayangkan akan seperti apa bentuk pakaian kerjanya nanti? padahal sudah Ia buat licin dan rapi sedemikian rupa, tapi malah dipakai untuk tidur.


Astaga


Elvina menghampiri sang suami. Dengan perasaan jengkel Ia menggelitiki telapak kaki Vano tapi dasarnya lelaki itu sudah pulas dan kakinya kebal, maka tidak terpengaruh sama sekali dengan gangguan kecil dari Elvina.


Tidka biasnaya Vano tidur lagis etelah berpakaian untuk ke kampus. Biasanya kalau sudha bangun maka tidka ada tidur lagi setelahnya. Ini malah tidur lagi setelah rapi.


Elvina akhirnya menepuk bokong suaminya dengan geram. Berhasil! Vano berhasil terjaga dan Ia tentu kaget karena tiba-tiba rasa panas menjalar di sekitar belakang.


"Kamu KDRT banget,"


"Apaan! aku mukulnya enggak kencang kok,"


"Tapi lumayan perih, El," ujar Vano smabil mengusap jejak kekerasan yang dilakukan oleh sang istri.


Elvina tidak mampu menahan tawanya. Ia tidak bisa melihat wajah merengut Vano yang lucu di matanya. Vano masih juga mengelus bagian belakangnya yang masih sedikit meninggalkan jejak dari perilaku yang Ia sebut sebagai KDRT.

__ADS_1


"Maaf ya,"


"Enggak ah. Kamu KDRT sama suami,"


"Ya habisnya Kenapa tidur lagi? bajunya berantakan nanti dong, Mas,"


"Saya ngantuk. Tadi niatnya cuma mau baringan bentar habis pakai baju. Tapi malah ketiduran," kekehnya diakhir cerita.


Ia menatap istrinya dari atas sampai bawah.


"Mandi sana! bau masakan ih. Enggak enak,"


Melihat alis Elvina bertaut dan bibirnya merengut, Vano tertawa. Ia menarik Elvina hingga duduk di sampingnya kemudian tangannya mengusap rambut Elvina. Ia bicara seperti tadi supaya Elvina bergega smandi dan tidka mengganggunya yang masih ingin terlelap sebentar mengingat waktu mengajarnya belum terlalu dekat.


"Jahat banget ih, makanya jangan nonton bola mulu jadinya kesiangan kan,”


"Lah beneran ngambek? Saya bercanda, istriku Elvina,"


"Enggak tahulah. Aku malas sama Mas,"

__ADS_1


Vano terperangah menatap Elvina yang kini berjalan ke kamar mandi. Vano panik dan cepat-cepat menyusul.


Ia memeluk Elvina dengan erat. Seerat cintanya untuk Elvina. Ia mencium kening Elvina berkali-kali.


"Sumpah saya cuma bercanda. Kamu jangan marah ya. Tadi udah saya bilang, kamu mau bau apa aja aku suka. Apalagi bau masakan. Masakan kamu 'kan enak," rayunya seperti buaya darat hingga Elvina merotasikan bola matanya. Ia berbalik menatap suaminya yang tadi memeluk dari belakang.


"Aku enggak pernah bau ya! tadi Mas bilang aku bau apa aja, Mas tetap suka. Aku enggak pernah bau kok!" cetusnya sebal. Kapan dia pernah bau? paling-paling kalau habis masak saja. Tapi bukankah itu wajar? perempuan kalau tidak pernah berhasil memindahkan aroma masakan ke badannya artinya tidak benar-benar totalitas di dapur. Begitu kalimat yang sering Elvina dengar.


"Iya, El. Kamu selalu harum layaknya bunga. Saya cuma bercanda, ya ampun. Sensi banget kamu nih. Kenapa sih? lagi datang tamu bulanan? Lagian saya ngomong kayak tadi supaya kamu tuh nggak ganggu saya,”


"Enggak, sok tahu Mas nih, aku nggak datang bulan kok,”


"Hamil berarti,"


"Ih apaan sih? makin ngaco,"


ELVINA meninggalkan suaminya ke kamar mandi. Kalau Ia terus bersama Vano, bisa-bisa Ia tidak mandi dan tidak mengajar hari ini.


"El, maaf ya. Jangan marah, saya bercanda aja," Vano lagi-lagi menegaskan maksud ucapannya tadi yang hanya usil saja pada Elvina bukan niat mengejek. Ia takut Elvina benar marah padanya.

__ADS_1


“Nggak! Aku nghak marah. Karena kamu suka usil orangnya, jadi aku nggak ambil hati,”


“Duh dewasa banget istri saya,”


__ADS_2