
“Mau kenal dulu? Jujr ya, aku itu selalu takut kalau Abang dekat sama cewek,”
“Kenapa?”
“Ya karena aku takut Abang aku direbut,”
Elvina terkekeh, Ia memaklumi itu. Karena kalau Ia punya abang, Ia juga akan merasakan ketakutan yang serupa dengan apa yang dirasakan Davina.
Di awal Davina sudah mewanti-wanti. Jangan sampai abangnya direbut, Ia sebagai adik satu-satunya Vano punya hak untuk tetap mendapat kasih sayang Vano. Terbiasa dimanja oleh Vano, Davina takut kalau itu tak bisa Ia dapatkan lagi dari Vano.
“Dav, udah ah. Kamu ngomongnya ngelantur deh,”
“Ih kok ngelantur sih, Bang?”
“Ya emang siapa yang mau rebut Abang sih, Dek?”
“Ya kalau Abang punya pacar itu yang aku takutin, aku ‘kan jujur, Bang,”
“Iya aku paham kok perasaan kamu, Dav. Aku kalau punya abang juga gitu pasti. Sayangnya aku nggak punya abang sih,”
“Kamu anak keberapa?”
“Cuma satu-satunya,”
“Wah, kalau jadi sama Abang, Abang mesti jagain kamu banget, nggak boleh sampai lecet, apalagi nangis, bahaya. Soalnya anak tunggal tuh harus di treat like a queen,”
“Aku sama aja kayak anak-anak lain, ayah sama bundaku tetap tegas ke aku, tetap memberlakukan aturan meskipun aku anak tunggal, tetap nggak dimanja seratus persen,”
“Iya soalnya anak perempuan,”
Vano senang karena adiknya dan Elvina mulai bisa mengobrol dengan baik, semoga saja bisa menjadi akrab. Ia berharap keduanya sama-sama nyaman ketika berinteraksi satu sama lain.
“Kamu emangnya nggak punya pacar, Elvina? Kaget nggak pas Abang jujur soal perasaannya ke kamu?”
“Kebetulan aku emang single, kalau ditanya kaget ya pasti kaget banget, Dav,”
Elvina baru tahu kalau ternyata Davina itu mudah berkenalan dengan orang lain, langsung tidak sungkan mengajaknya untuk berinteraksi.
“Davina baik, gampang akrab sama orang deh kayaknya, ya walaupun mulutnya ceplas ceplos. Tapi aku suka-suka aja sama dia,”
********
“Assalamualaikum, Ma,”
“Waalaikumsalam, wuih Papa pulang. Mau makan siang di rumah ya pasti?”
“Iya dong, mumpung kosong waktunya,”
__ADS_1
“Ntar balik lagi ke kantor?”
“Kayaknya nggak deh, Ma. Eh tapi liat nanti deh, takut tiba-tiba ada yang mesti Papa selesaikan di kantor,”
Lisa senang sekali ketika suaminya, Beni pulang lebih cepat dari biasanya. Kalau ada waktu yang luang, memang Beni lebih suka makan siang di rumah, akan tetapi itu terbilang tidak sering karena sibuknya pekerjaan Beni di kantor.
“Davina udah pulang, Ma?”
“Udah, Pa,”
“Terus kemana? Tolong panggil, Ma. Ajakin makan sama Papa kalau dia belum makan,”
“Tapi dia belum sampai rumah,”
“Lho, terus kemana dia sekarang? Kata Mama udah pulang ‘kan?”
“Iya udah, tapi lagi diajakin pergi sama abangnya,”
“Oh jadi dijemput sama Vano terus diajakin pergi gitu, Ma?”
“Iya, sama Elvina juga,”
“Wah, Vano selangkah lebih maju nih kayaknya, udah ngenalin Elvina ke adiknya. Nanti tinggal kita yang reuni sama Arman sama Dini ya, Ma,”
“Iya Mama nggak sabar deh ketemu mereka. Kapan ya kira-kira?”
“Tapi kita cuma ketemu doang gitu, Pa. Silaturahmi lah istilahnya, belum mau ngomong pernikahan digelar tanggal sekian, terus acaranya gini, siapa yang diundang, nggak itu yang dibahas kok, Pa. Itu nah nanti kalau emang udah beneran mau nikah mereka nya,”
“Iya tapi tetap minta pendapatnya Vano dan pihaknya Elvina dulu,”
“Mama tuh kangen sama Dini. Aduh, nggak lama ketemu nanti pasti kalau ketemu lagi, kita banyak ngobrol deh, cerita-cerita banyak hal. Ya namanya juga baru ketemu lagi setelah sekian lama. Sampai sekarang Mama masih nggak nyangka kalau Elvina itu anaknya Dini sama Arman. Dunia berasa sempit banget ya, Pa,”
*****
“Abang, El, makasih ya udah traktir aku makan. Kalian baik banget deh,”
Elvina tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya. Tadi ketika makan bersama di sebuah restoran, Elvina tidak mau serta merta membiarkan Vano membayarkan semua tagihan bil. Ia ingin turut andil membayar, dan Vano mengizinkannya karena Vano tidak mau Elvina merasa tak dihargai. Bisa jadi Elvina tidak senang kalau semua dibayar olehnya. Maka dari itu mereka yang sudah lebih dewasa dari Davina, membayar tagihan bil, dan Davina yang ditraktir alias bebas dari tagihan bahagia sekali.
Yang biasanya semua dibayar oleh abangnya, sekarang, ada Elvina yang turut andil. Dari situ Ia mulai menilai bahwa Elvina sepertinya bukan perempuan yang semudah itu apa-apa dibayarkan oleh orang lain.
“Elvina punya gengsi, dan itu menarik,” begitu penilaian Davina tadi.
“Sekarang mau kemana?”
“Ke tempat make up boleh nggak, Bang?”
“Boleh, El mau ‘kan?”
__ADS_1
“Iya terserah Davina aja,”
“Tapi kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa, Dav, santai aja,”
“Abis itu pulang ya, Dav. Nggak lama-lama ya di sana. Abang ingetin sekarang, soalnya kamu suka lupa waktu,”
“Iya, Abang. Tenang aja aku nggak bakal lupa waktu,”
“Ya udah ayo, El,”
Davina langsung meraih lengan Elvina dan mereka berjalan lebih dulu di depan Vano yang merasa keputusannya mengajak Davina untuk pergi bersamanya dan Elvina sepertinya kurang tepat. Karena apa? Elvina malah lebih seringnya berinteraksi dengan Davina, daripada dengannya. Dekat juga dengan Davina, dibandingkan dengan Ia yang merasa seperti bodyguard mereka sekarang ini.
“Kapan-kapan maskeran bareng, mau nggak?”
“Iya boleh, lain kali ya,”
“Kalau kamu jadi sama Abang, ya pasti gampang lah kita maskeran bareng, kecuali kalau kalian nggak jodoh,”
“Dav, aku boleh tanya sesuatu ke kamu nggak?”
“Boleh dong, mau tanya apaan?”
“Emang Pak Vano pernah cerita tentang aku ke kamu?”
“Pernah lah,”
“Apa yang diceritain?”
“Tenang, bukan yang jelek-jelek kok, malah baik semua yang Abang ceritain soal kamu. Tau nggak sih, Abang tuh udah kebucinan sama kamu. Sampai aku kesal deh rasanya. Dan kamu sebagai orang yang dibucinin Abang, jangan macam-macam ya! Jangan pernah sakitin abang aku ya. Dia tuh satu-satunya abang yang aku punya. Aku nggak pernah ngomong ini ke dia, tapi kamu harus tau, aku sayang banget sama abang aku itu ya walaupun kadang dia nyebelin, tapi aku sayang. Dia itu baik, perhatian, selalu usahain apapun yang aku mau supaya terpenuhi, tapi dia suka nyebelin. Usil orangnya. Misal nih ya, aku lagi nonton, eh dia tiba-tiba nyolek kuping aku, mana aku lagi nonton horor, ya otomatis aku teriak lah. Itu cuma contoh kejahilannya dia,”
Elvina tertawa mendengar ucapan adik dari dosennya itu. Davina terang-terangan mengakui bahwa Ia menyayangi abangnya tapi terkadang abangnya itu juga jahil, jadi suka membuatnya kesal.
Elvina sedikit tidak percaya mendengar kalau dosennya itu jahil. Ternyata bisa jahil juga dosen termuda di kampusnya itu.
“Emang dosen bisa jahil ya?”
“Iya bisa lah, El. Selama ini dia nggak pernah begitu ya kalau di kelas?”
“Kalau jahil atau usil gitu sih nggak pernah, tapi bercanda sering, ‘kan supaya kelasnya nggak membosankan,”
“Oh dia cair ya kalau di kelas?”
“Iya kok, makanya jadi nggak kaku belajarnya, nggak cepat bosan juga. Kalau menurut aku malah penjelasan abang kamu itu mudah dipahami,”
“Eh nanti kalau kamu jadi sama dia, siap-siap deh diusilin. Kamu ‘kan selama ini hidup sebagai anak tunggal,pasti nggak pernah ada yang jahil ke kamu. Nah kalau nikah sama Vano, kamu kayaknya bakal ngerasain itu deh. Soalnya dia ke adiknya begitu, ke pasangan juga sih aku rasa,”
__ADS_1
“Duh, emang siapa yang bakal nikah sama abang kamu? Kenapa sejauh ini obrolannya ya?” Batin Elvina seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal sebenarnya tapi Ia bingung kenapa topik obrolan mereka sudah ke pernikahan saja, padahal Ia saja belum ada rasa apa-apa pada Vano.