Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 79


__ADS_3

"Kamu marah, terus kamu enggak mampu buat meluapkan akhirnya nangis pas tidur,"


Ujar Vano dengan wajahnya yang datar menatap Elvina yang terpaku.


Mulutnya yang mengunyah perlahan memelan. Memang benar Ia menangis dalam tidur? kapan juga Vano melihatnya? Ia bahkan tidak sadar tentang itu.


"Hei kok malah ngelamun? habiskan makannya biar minum obat,"


Elvina mengangguk dan kembali melahap. Vano masih berdiri ditengah kamar menatap setiap sisi kamar barangkali matanya menemukan apa yang ia cari.


"Jadi touring enggak? katanya mau touring tapi sakit,"


Sebelumnya sempat ada obrolan Elvina mau ikut touring, tapi sekarang Vano ragu karena istrinya sedang sakit. Hanya touring berdua saja dengan motor.


"Jadi! aku mau ikut,"


Elvina sudah menantikan touring itu bahkan sejak masih menjadi rencana sesaats etelah menikah, belum ada kepastian. Rasanya tidak adil kalau Vano tidak ikut.


"Kalau kamu sakit enggak boleh ikut. Dan otomatis saya juga enggak pergi,"


"Aku enggak sakit, Mas,"


"Kepalamu sakit artinya kamu lagi kurang sehat,"


Vano maish sibuk mencari sesuatu dan ketika berhasil mendapatkannya Ia tersenyum dan langsung mengambil kotak obat di bawah meja yang berhadapan dengan sofa. Segera Ia mencari obat sakit kepala. Tapi tidak ada.


"Kok obatnya enggak ada, El?"

__ADS_1


"Di kotak obat satu lagi,"


Vano berdecak menutup kembali kotak tersebut. Ribet sekali, pikirnya. Kotak obat harus dipisah-pisah begitu.


"Soalnya di kotak itu udah penuh isinya. Lagian itu obat-obat untuk luka,"


"Ya udah, dimana? biar saya ambil,"


"Di laci meja rias paling bawah, Mas,"


Elvina sengaja meletakkan kotak obat itu di tempat yang mudah dicapai.


Vano segera mengambil obat sakit kepala dari sana. Ia memberikannya pada Elvina.


"Enggak habis makannya?"


Elvina menenggak air usai menelan obatnya. Vano mengangkat baki dari atas nakas. Tapi sebelum itu, Ia menarik selimut hingga menutupi kepala Elvina.


"Tidur,"


"Ihh Mas! aku gerah,"


Elvina merengek kesal karena Vano sengaja menutup kepalanya dengan selimut.


"Mana ada gerah. Ac nyala gitu kok,"


"Ya maksudnya pengap gitu. Susah napasnya,"

__ADS_1


Vano menyentuh kening Elvina dan merasakan suhunya. Elvina sampai dibuat berdebar saat tangan Vano menyentuh keningnya. Elvina tidak tahu juga sebabnya apa. Tapi kemungkinan besar karena Vano terbilang jarang berinteraksi gisik dengannya jadi Ia perlu terbiasa dulu.


"Aku keluar dulu bawa ini ke dapur. Kamu istirahat. Nanti aku laporan ke mama tentang kondisi kamu. Mama cemas banget tadi,"


"Kenapa Mas bilang ke mama kalau aku pusing? padahal aku enggak sakit,"


"Tidur! enggak usah banyak omong," Vano melotot sebelum membuka pintu kamar.


Elvina menyahutinya saja bukannya segera beristirahat. Elvina yang dapat teguran itu langsung mendengus kesal.


"Baru habis makan masa di suruh tidur,"


“Ya memang harusnya kamu tuh tidur, El. Jangan banyak ngomong apalagi capek-capek ya. Kamu harus istirahat yang cukup kalau kamu mau touring sama saya, kalau kamu susah dikasih tau kamu nggak usah ikut saya touring,”


“Kamu nggak mau ajak aku touring? Ya udah aku eprgi aja sendiri, Mas,”


“Emang kamu bisa? Hmm?”


“Bisa lah,”


“Bisa naik motor ke Puncak? Yakin nih?”


“Yakin, atau nanti sama Rendra aja,” jawab Elvina dengan ringan santai tanpa beban dan itu berhasil membuat Vano menggertakkan giginya kesal tidak terima.


“Apa kamu bilang? Pergi sama Rendr? Mantan kamu itu?”


Elvina menganggukkan kepalanya dan Vano langsung terkekeh sinis dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Jangan harap, El. Langkahin dulu ya mayat saya,”


__ADS_2