Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 88


__ADS_3

“Makannya santai aja, El, sampai celemotan gini,”


Elvina meringis malu ketika suaminya membersihkan sudut bibirnya yang sedikit kotor karena es krim.


“Ya namanya juga anak kecil berkedok dewasa, Mas,”


Vano terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Kemudian Ia kulum jarinya yang tadi Ia gunakan untuk membersihkan es krim di sudut bibir sang istri.


“Itu ‘kan dari bibir aku, ngapain masuk ke mulut kamu?”


“Nggak apa-apa, halal,”


“Ih jangan, itu bekas istri tau. Ntar aku dosa lagi,”


“Orang saya yang mau kok, rasanya jadi tambah manis ya?”


“Hah? Masa sih?” Tanya Elvina dengan wajah polosnya. Vano terkekeh dan menganggukkan kepala. Melihat wajah polos Elvina, perut Vano tergelitik untuk tertawa.


“Beneran?”


“Iya beneran lah, masa bohong?”


“Kok bisa?”


“Ya karena bibir kamu kali ya, jadi rasanya makin manis,”


“Ya elah, bisa aja,”


Vano terbahak karena mendengar Elvina bicara seperti itu sambil merotasikan bola matanya jengah.


“Tapi beneran lho, rasanya makin manis,”


“Ah udahlah, aku paling nggak bisa dengar kamu ngomong gitu,”


“Kenapa? Mual ya?”


“Nggak, aneh aja gitu,”


“Orang saya serius kok, rasa es krimnya jadi lebih manis ya mungkin karena dari bibir kamu,”


“Udah stop jangan ngomong yang aneh-aneh ih, aku nggak mau dengar,”


“Ya emang kenapa sih? harusnya senang kalau saya ngomong yang manis-manis,” Vano senang bisa menghibur istrinya yang khawatir dengan papanya. Ia ingin menghadirkan senyum di wajah Elvina yang mengkhawatirkan kondisi papanya. Mau sakit apapun, Elvina selalu khawatir. Apalagi saat ini papanya sampai dirawat di rumah sakit tapi beruntungnya kondisi sang papa perlahan membaik.


“Iya senang sih tapi aneh aja,“


Elvina tersenyum mengamati istrinya yang sudah bisa sumringah. Dibelikan es krim saja kelihatan bahagia sekali. Diajak ke timezone juga bahagia.


“Bahagia kamu itu sederhana banget ya, El,”


“Iya, kamu baru sadar ya?”


“Iya saya baru sadar, selama ini saya terlalu nutup mata.


“Maafin saya ya, baru sempat bikin kamu bahagia sekarang,” ujar Vano sembari mengusap punggung tangan istrinya yang ada di atas meja.


Elvina tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu Ia menggenggam tangan Vano dengan lembut.


“Kamu kok minta maaf sih? Selama ini kamu tuh udah bikin aku bahagia malah harusnya aku lah yang minta maaf belum bisa jadi istri yang baik, belum cinta sama kamu, suka kebayang-bayang masa lalu,”


“Saya juga banyak kurangnya, pasti pernah bikin kamu nggak bahagia. Maafin saya juga ya, jadi kita sama-sama minta maaf nih ceritanya,”


“Saya tunggu cinta kamu ya, El,”


“Kamu kayaknya tergila-gila banget sama es krim,” ujar Vano


“Iya emang dari dulu tergila-gila sama es krim, kalau minum es krim tuh nggak bisa kalem, selalu semangat,”


“Nggak apa-apa, malah saya senang ngeliat kamu lahap, soalnya selama ini saya tuh hampir nggak pernah liat kamu lahap makan sesuatu,”


“Ah masa sih? Perasaan aku kalau makan lahap terus deh,”


“Nggak, kayaknya saya hampir nggak pernah ngeliat lo makan lahap, saya juga bingung kenapa,”


“Kamu kebetulan ngeliatnya yang kurang lahap,”


“Nggak lah, orang saya sering makan sama lo kok, apalagi belakangan ini ‘kan saya udah makan di rumah mulu,”


“Tapi aku lahap terus, Mas,”


“Ya tapi nggak selahap minum es krim ini,”


“Karena es krim jarang, jadi sekalinya ketemu keliatannya lebih lahap, begitu kali ya,”


“Oh iya bener juga kamu,”


“Iya makanya jangan bilang nggak lahap, orang lahap kok, tapi kalau minum es krim lebih lahap karena emang jarang ketemu es krim,”


“Ini kita jadi makan ramen, El?”


“Jadi dong, kamu nggak keberatan ‘kan?”


“Nggak lah, masa saya keberatan,” jawab Dio sambil tersenyum menaik turunkan alisnya. Shena mengajaknya makan pizza di Italia atau kebab di Turki rasanya Vano tidak akan keberatan. Ia menganggap apapun kebaikan yang Ia lakukan saat ini untuk Shena itu sebagai penebusan atas dosa-dosanya yang terdahulu pada Shena.


“Mas aku punya pertanyaan yang random untuk kamu,” ujar Shena seraya menatap suaminya dengan serius.


“Random tapi mukanya serius, gimana sih?”


“Ya ini random tapi—penting,”


“Oh okay apa pertanyaan kaku?”


“Kalau aku pengen makan rendang di Padang langsung, kamu keberatan atau nggak?”


Vano tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Yang benar saja. Makan rendang di Padang langsung tidak ada berat-beratnya untuk Vano. Malah nanti akan Ia anggap sebagai liburan.


“Ya nggak lah,”


“Hah? Seriusan kamu?”


“Iya saya nggak keberatan tuh,”


“Tapi ‘kan— itu jauh banget dari Jakarta,”


“Ya jangankan Padang Jakarta, Jakarta Italia aja gue jabanin, hitung-hitung liburan, ya nggak?”


Vano menaik turunkan alisnya sambil menatap sang istri yang kebingungan. Padang saja sudah kejauhan menurut Elvina, ini Vano malah membahas Italia.


“Kok makin jauh ke Itali? Emang mau ngapain ke sana?”


“Ya misalnya kamu mau makan pizza langsung di sana, ayo aja saya nggak keberatan,”


“Ih yang bener aja kamu, itu ‘kan jauh banget tau,”


“Iya saya tau emang itu jauh, El,”


“Ya terus kenapa kamu nggak keberatan kalau misal aku minta ke sana? Itu ‘kan jauh banget,”


“Ya nggak apa-apa hitung-hitung liburan lah, gue seneng liburan apalagi sama lo,”


“Abis duit ke sana cuma karena mau makan pizza,”


“Nggak apa-apa dong, bikin senang hati kamu, El,”


“Hmm ini serius kalau misalnya tiba-tiba aku pengen makan rendang di Padang langsung, kamu nggak keberatan?”


“Iya beneran masa saya bohong sih?”


“Ya ampun itu ‘kan jauh banget,”


“Udah saya bilang tadi, hitung-hitung kita liburan, El. Emang kapan kamu mau ke padang?”


“Hah? Nggak? Ini tuh cuma nanya aja, Mas. Aku nggak serius, kamu anggap serius omongan aku?”


“Iya saya kira serius,”


“Hahahaha polos banget,”


“Tapi kalau serius juga nggak apa-apa kok, El. Saya temenin kamu ke sana, pokoknya kamu mau kemanapun saya temenin, pasti saya temenin okay?”


“Iya okay,”


“Jadi kalau misalnya kamu mau beli makanan di suatu tempat, kamu jangan sungkan ngomong sama saya biar kita bareng-bareng ke tempat itu okay?”


“Siap, Pak bos,”


“Hitung-hitung kita liburan, eh honeymoon deh biar kedengeran lebih mesra gitu ‘kan,”


Elvina terkekeh, sepertinya kalau mereka liburan lagi sebutannya bukan honeymoon melainkan babymoon karena Elvina sudah membawa manusia kecil di dalam perutnya.


“Tapi ya kalau misalnya kamu beneran mau makan di suatu tempat yang lumayan jauh, kamu kayak ibu hamil yang lagi ngidam aja, El,”


“Kenapa? Kamu nggak suka nurutin ngidam aku?”


“Hah? Gimana-gimana?”


“Nggak, aku cuma nanya kalau aku hamil dan ngidam kamu nggak mau nurutin gitu?”


“Kamu ngidam? Tadi kayaknya kamu ngomong soal ngidam gitu, emang kamu lagi ngidam, El?”


“Ya nggak sih, aku ‘kan cuma nanya aja, Mas,”


“Lah terus?”


“Aku cuma nanya aja soalnya aku penasaran sama jawaban kamu. Kalau misal aku beneran ngidam nih pengen makan sesuatu di tempat yang jaraknya lumayan jauh atau bahkan jauh banget, kamu beneran mau nurutin atau nggak? Aku cuma mau dengar jawaban kamu aja,”


“Nggak ngidam pun saya turutin apalagi ngidam, ya pasti saya turutin lah,” jawab Dio dengan gegas dan itu mengundang senyum Elvina terbit.


“Beneran?” Tanya Elvina pada suaminya yang langsung menganggukkan kepala.


“Beneran lah,”


“Walaupun kamu capek, kamu habis uang, kamu bakal tetap nurutin kemauan aku?”


“Iya tetap, saya pengen bikin kamu senang. Saya nggak bisa aja ngeliat kamu sedih, kayak sekarang nih contohnya. Jangan sedih ya, Papa Insya Allah secepatnya keluar dari rumah sakit. Lagian ‘kan keadaan Papa udah semakin membaik, El,”


Elvina tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Hatinya menghangat dan matanya berkaca. Vano tulus sekali kelihatannya. Dari cara Vano menatap, Vano bicara, dan kini menggenggam tangannya, Vano kelihatan benar-benar tulus ingin membahagiakannya. Vano selalu ada disaat Ia merasa perlu seseorang.


“Maaf kalau saya selama ini mungkin kesannya cuek, atau nggak perhatian sama kamu ya,”


“Iya aku maafin kok. Yang udah lalu jangan dibahas lagi. Tapi sebenarnya kamu nggak cuek kok. Oh iya es krim aku udah habis nih, kita makan ramen yuk,”


Vano mengangguk, es krim miliknya tidak habis dan hendak Ia buang namun Elvina melarangnya.


“Ih kenapa nggak kasih ke aku aja sih? Aku ‘kan suka, malah mau dibuang,”


“Ya ngapain kamu mau bekas saya?”


“Nggak apa-apa dong, bekas suami sendiri ini, ya wajar, kecuali bekas suami orang tuh baru nggak boleh,”


“Heh! Bawa-bawa suami orang, awas kamu ya,”


Elvina terkekeh melihat tatapan tajam suaminya. Elvina langsung mencubit lengan Vano sambil mendinginkan suasana yang semula agak memanas karena Vano tak suka dengan celotehannya yang padahal niat untuk bercanda.


“Aku bercanda, jangan dimasukin ke hati lah,”


“Ya lagian nggak lucu amat sih,”


“Ya udah aku minta maaf kalau nggak lucu,”


“Saya cemburu ya, El. Jangan ngomong yang lain kalau lagi sama saya,”


“Okay baik, Pak bos, eh tapi barusan kamu bilang apa? Kamu cemburu?”


Vano menganggukkan kepalanya. Ia tidak ragu menyampaikan perasaannya. Ia cemburu jadi Ia mengutarakannya.


“Cie yang ngaku cemburu,” goda Elvina sambil menjawil dagu suaminya. Es krim sisa suaminya sudah berhasil Ia habiskan sekarang Ia membuang cup nya di tempat sampah dan mereka melanjutkan perjalanan ke tempat makan ramen.


“Iya ngaku lah ngapain ditutup-tutupin ‘kan selama ini juga sering ngaku,”


Setelah tiba di restoran Jepang, mereka langsung menempati salah satu meja atas pilihannya Elvina sendiri. Setelah duduk, tiba-tiba Vano meraih tangan Elvina dan berdehem hendak mengutarakan sesuatu dan Elvina bingung dibuatnya.


“Kamu—kenapa? Mau—ngapain?”


“Cuma mau ngobrol, kenapa tegang banget sih? Kayak lagi mau akad nikah aja. Kita udah ngelewatin itu, El jadi kamu jangan tegang-tegang,”


Elvina terkekeh mengalihkan rasa gugupnya karena Vano tiba-tiba meraih tangannya dan menatapnya dengan serius.


“Hmm kamu mau ngomong sesuatu ya kayaknya?”


“Iya,”


“Mau ngomong apa? Kayaknya penting ya, Mas?” Tanya Elvina dengan ragu-ragu, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Vano.


“Okay kamu mau ngobrolin apa, Mas?”


“Saya cinta sama kamu,”


Elvina meneguk saliva nya susah payah ketika mendengar pernyataan itu terlontar dari mulut suaminya.


“Kamu lagi ngomong serius ya ini? Kan udha pernah ngomong,”


“Ya masa nggak boleh ngomong lagi sih,”

__ADS_1


“Kamu nyatain cinta jadi aku agak gugup,”


“Saya cinta sama kamu, Elvina,”


“Iya aku udah tau, Mas? Sejak kapan sih? Aku pengen tau pastinya deh. Kata kamu sejak awal ketemu, kamu udah tertarik tapi aku nggak pernah tau deh pastinya kapan,” ujar Elvina.


“Hmm sejak—gue juga nggak tau sejak kapan. Intinya gue cinta sama lo, gue takut kehilangan lo, dan gue mau bahagiain lo, Shen. Semoga kita bisa saling cinta ke depannya ya, El,”


Elvina mengangguk dengan mata berkaca. Karena tidak mau dilihat orang lain menangis, dengan cepat Elvina menghapus air matanya. Ia terharu melihat kesungguhan di mata Vano ketika mengutarakan keinginannya barusan.


“Iya, aku mau mulai semuanya dari awal sama kamu, Mas. Tapi kasih aku kesempatan ya? Jujur aku juga nggak tau kapan bisa cinta sama kamu,”


Vano langsung tersenyum mendengar perkataan istrinya. Ia langsung merangkum wajah sang istri kemudian bertanya “Ya belajar makanya ‘kan?” Tanya Vano yang langsung dijawab dengan anggukan oleh istrinya itu.


“Iya, tapi aku masih aja belum bisa,”


Sejujurnya Vano sedih mendengar itu tapi Ia berusaha untuk tetap tersenyum. Perasaan tidak akan bisa dipaksakan sampai kapanpun.


Vano beranjak ingin memeluk istrinya yang duduk di depannya, mereka dipisahkan oleh meja, tapi karena larangan sang istri akhirnya Vano tidak jadi melakukannya.


“Ini di tempat umum jangan peluk aku sembarangan ah,”


“Ya udah deh di rumah aja nanti,” ujar Vano dengan wajah murung, Ia setengah tidak ikhlas dilarang memeluk istrinya. Yang mengeluarkan larangan juga Elvina sendiri.


“Eh aku mau tanya soal yang tadi. Boleh nggak?”


“Tanya soal apa, Sayang?”


Elvina menahan senyum salah tingkah ketika dipanggil dengan sebutan ‘sayang’ oleh Vano. Seharusnya detak jantungnya biasa saja tidak perlu ribut seperti ini, hanya karena dipanggil mesra oleh sang suami. Sebenarnya wajar kalau dipanggil ‘sayang’ oleh suami. Tapi karena memang tidak biasa mendengar jadi salah tingkah sendiri.


“Tanya apa? Kok malah diam?”


“Aku mau tanya, kamu beneran bakal nurutin kemauan aku kalau misalnya aku mau ke suatu tempat untuk nyobain makanan?”


“Iya beneran, yah ampun nggak percaya banget. Mau saya buktiin sekarang? Hmm?”


“Hmm jangan deh,”


“Lah terus?”


“Aneh aja gitu kok kamu mau nurutin kemauan aku? Okay lah kalau kamu bilang mau bikin aku senang tapi ‘kan rugi buat kamu,”


“Kok rugi? Nggak ada kata rugi kalau buat istri. Kamu pikir saya nggak serius gitu?”


“Hehehe okay aku kira kamu bercanda. Abisnya aneh aja gitu, kok kamu mau pergi ke tempat jauh demi nurutin kemauan aku? Padahal ‘kan kamu bisa nolak harusnya


“Ya karena saya pengen bikin kamu senang. ‘Kan tadi udah saya jawab begitu, El,”


“Tapi jangan deh, nanti kamu nyesal lho,”


“Hah? Kok nyesal?”


“Iya nyesal, habis uang, habis tenaga demi nurutin mau aku yang aneh, timbang makan rendang aja harus ke Padang,”


“Lho nggak apa-apa. Walaupun nggak ngidam, saya tetap bakal nurutin, apalagi kalau ngidam kasian lah anak kita kalau nggak diturutin. Tapi kamu sekarang belum hamil ‘kan? Belum ngidam ‘kan?”


“Ya ampun pertanyaan kamu. Belum lah!”


“Mau lagi ngidam atau nggak, pokoknya kalau kamu lagi kepengen sesuatu kamu jangan sungkan ngomong ke saya ya,”


“Okay,”


“Bakal saya turutin,”


“Makasih ya,”


“Sama-sama, saya senang saya bisa jadi sedikit berguna buat kamu. Disaat kamu punya keinginan dan kamu ngomong ke saya, saya bakal berusaha untuk nurutin. Nah kalau berhasil, saya sedikit berguna jadi suami,”


“Ih kok sedikit? Ya nggak sedikit dong. Kamu itu berguna banget untuk aku,”


“Masa sih?”


“Iyalah,”


“Cium dulu dong kalau begitu,”


“Hadeh! Jangan mulai deh,”


Vano tertawa karena Elvina melotot ke arahnya. “Kamu jangan galak-galak gitu dong, saya jadi takut tau,”


“Ya makanya jangan aneh-aneh deh, orang lagi di tempat makan juga masih bisa ya nagih ciuman,”


“Ya udah deh ntar di rumah aja, boleh ‘kan?”


“Nggak tau ah, otaknya kesitu mulu deh,”


“Ya ampun emang otak saya ke situ mulu apa? Enak aja, saya otaknya masih bener kok, El, nggak ke **** mulu—-“


“Ssstt! Jangan ngomong aneh-aneh bisa nggak sih? Aku nggak ngomong itu ya, maksud aku tuh otak kamu mikirin ciuman mulu, bukan itu!”


Beruntungnya Vano bicara pelan kalau tidak, bisa malu sekali mereka. Terutama Elvina yang takut orang berpikir otak suaminya jorok alias kotor membahas hal seperti itu di tempat umum.


“Maaf-maaf, tapi nggak ada yang dengar kok, El. Kamu tenang aja,” ujar Vani sambil terkekeh.


“Ya udah ayo buruan di abisin tuh,”


Mereka makan dengan tenang, tak ada obrolan lagi, tapi di pertengahan makan, tiba-tiba Vano mengangkat topik pembicaraan.


“Jadi kamu mau kemana?” Tanya Vano pada istrinya yang langsung bingung ketika ditanya ingin kemana.


“Maksud kamu?”


“Jadi kamu mau kemana, Eltik alias Elvina cantik,”


“Aku nggak kemana-mana lah, emang kamu pikir aku bakal kemana coba?”


“Ya ‘kan tadi kita udah bahas jalan-jalan sesuai dengan request kamu, nah sekarang tujuan kamu mau kemana?”


“Belum kepikiran,”


“Yah, kirain udah kepikiran mau kemana nya, El,”


“Belum ah, aku bingung,”


“Ya udah cari-cari referensi dulu yang seru buat liburan berdua,”


“Ke Padang untuk makan rendang asli di sana boleh juga tuh, El,”


“Iya tapi kapan ya?”


“Mau pulang saya dari Lombok nggak?”


“Hah? Seriusan?”


“Iya serius kalau kamu mau. Besok ‘kan saya berangkat ke Lombok mudah-mudahan aja balik cepat terus kita langsung ke Padang deh gimana?”


“Iya abis dari Lombok aja gimana?”


“Liat keadaan nanti aja,”


Vano padahal sudah semangat sekali mau mengajak istrinya itu jalan-jalan selepas Ia berangkat ke Lombok bersama Papanya karena urusan pekerjaan. Semoga kalau pergi lagi dengan Elvina, mereka tidak terlibat perang dingin lagi akibat Ia yang cemburu melihat Elvina sibuk melihat sosial media mantan kekasihnya, atau mereka tak sengaja bertemu.


“Ya udah ntar dibahas lagi deh. Sekarang suapin saya dong, mau nggak?”


“Hah? Kamu minta suapin sama aku? Yakin? Emang nggak malu apa? Kamu ‘kan udah dewasa kenapa minta disuapin?”


“Ya emang nggak boleh gitu?”


“Boleh-boleh, okay saya suapin ya,”


Elvina penuhi saja permintaan suaminya itu. Tidak biasanya Vano minta disuapi tapi apa boleh buat. Menyenangkan hati suami pahalanya besar jadi Elvina lakukan sekarang juga. Ia menyuapi suaminya itu.


Vano langsung kelihatan senang sekali dan Ia meraih mangkuk istrinya yang langsung membuat sang istri bingung “Itu mau diapain?”


“Aku suapin kamu,”


“Ih nggak usah, aku makan sendiri aja nggak apa-apa,”


“Lah gimana caranya kamu makan sendiri kalau kamu aja lagi suapin aku kayak begini?”


“Ya gampang tinggal suap-suapan bergantian aja,” ujar Elvina dengan santainya. Ia tidak mau merepotkan suaminya itu. Jadi biar Ia makan sendiri aja.


“Aku makan sendiri aja, Mas,”


Vano bersikeras ingin saling menyuapi dengan istrinya. Namun sang istri menolaknya dan itu membuat Ia berdecak kesal.


“Nggak mau disuapin sama saya jadi ceritanya?”


“Ya ngapain main suap-suapan? Udah kayak anak-anak aja,”


“Lah emang yang boleh saling nyuapin itu cuma anak kecil doang ya? Tapi orangtua juga sering lho,”


“Iya tapi nggak usah ya aku takut ada yang ngeliat ke arah sini,”


“Lah kalaupun ada yang ngeliatin kita emang kenapa? Nggak apa-apa dong, nggak ada salahnya, kita ‘kan pasangan suami istri yang lagi dimabuk cinta,”


“Ya ampun lebay ah,”


Vano terkekeh dan Ia tidak peduli dibilang lebay. Ia kedipkan salah satu matanya ke arah Elvina yang langsung geleng-geleng kepala.


“Udah cukup, aku makan sendiri sekarang,”


“Lho kok udahan?”


“Makan kamu jadi keganggu, saya makan sendiri aja sekarang,” ujar Vano seraya meraih mangkuknya dan mulai makan sendiri lagi. Yang tadi hanya selingan supaya suasana makan bersama istrinya tidak membosankan. Tapi Ia tidak tega karena Elvina jadi terganggu makannya sebab harus menyuapi dua mulut yang pertama mulut Vano suaminya dan yang kedua mulut Elvina sendiri.


“Abis kita makan, apa kita bakal pulang, Mas?”


“Terserah kamu, apa kamu mau keliling dulu?”


“Hmm? Keliling?”


“Iya barangkali kamu mau keliling,”


“Nggak deh, kita langsung pulang aja,” jawab Shena atas pertanyaan sang suami.


“Beneran nih?”


“Iya beneran, aku mau langsung pulang aja, kamu ‘kan harus istirahat cukup lho, soalnya kamu mau pergi ke Lombok,”


“Ah nggak masalah,”


“Ih jangan ngomong gitu tau, kamu harus istirahat cukup karena mau pergi jauh. Jadi nggak kurang istirahat juga,”


“Iya, Nyonya,”


Selepas mereka makan bersama, mereka benar-benar bergegas pulang ke rumah. Elvina tidak tertarik kemana-mana lagi begitupun dengan Vano yang ikut saja apa maunya Elvina. Sampai di rumah suasana sunyi menyambut mereka yang menebak kalau orang rumah di kamar masing-masing.


Tiba di kamar, Elvina langsung ingin bergegas ke kamar mandi buang air kecil, sementara Vano duduk di sofa kamar menunggu istrinya, Ia bergantian masuk kamar mandi setelah istrinya menyudahi mandi. Tidak perlu waktu lama Vano sudah keluar dari kamar mandi.


“Aku mau bikin susu,” ujar Elvina setelah mandi dan akan keluar dari kamar.


“Oh, sini aku yang tuang air panas, tambah gula nggak nih?”


“Nggak usah, aku aja,”


“Aku aja, El,”


“Aku aja, kamu mending istirahat deh,”


“Hmm ya udah deh,”


Elvina bergegas menghampiri dispenser kamar namun Ia ingat air nya habis dan belum diisi. Akhirnya terpaksa Ia harus melawan rasa malasnya untuk bergegas ke lantai bawah mengambil air panas.


“Mau kemana, El?”


“Air abis,”


“Ya udah sini makanya saya yang buat,”


“Nggak apa-apa aku turun aja,”


Sesaat setelah Elvina meninggalkan kamar Vano menghembuskan napas kasar. “Sengaja saya nggak mau buat dia capek, saya aja yang ngambil air eh dia malah nggak mau,” gumam Vano.


Vano menyusul istrinya ke dapur tanpa sepengetahuan Elvina sendiri. Di dapur istrinya bertemu dengan sang mama, Lisa.


“Sayang, mau buat susu?”


“Iya, Ma,”


“Itu susu buat kamu atau Vano?”


“Aku, Ma,”


“Oh gitu, tadi gimana jalan-jalannya sama Vano? Keadaan ayah kamu juga gimana?”


“Menyenangkan banget, Ma. Ayah alhamdulillah makin membaik. Nanti mungkin balik lagi ke rumah sakit. Ini aku lagi disuruh istirahat di rumah sama Ayah Bunda. Mas Vano nurutin semua kemauan aku. Dari mulai ke timezone, beli es krim, terus makan ramen, pokoknya Mas nurutin semuanya deh. Mas nggak marah-marah, dia baik banget, lembut juga,”


“Dia mau bikin kamu senang itu, El,”


“Iya, Ma,” ujar Elvina seraya tersenyum.


Tanpa sadar yang mereka bicarakan itu ada di pintu masuk dapur mendengarkan obrolan mereka.

__ADS_1


“Besok dia mau pergi jadi hari ini katanya waktu dia buat aku,” ucap Elvina menyampaikan apa yang disampaikan suaminya tadi.


Hari ini adalah waktu untuk Elvina karena esok hari Vano akan pergi ke Lombok bersama Papanya.


“Iya Vano besok mau pergu sama Papa, ya bagus dia manjain kamu dulu sebelum pisah bentar ‘kan,”


“Hehehe iya, Ma. Aku merasa dimanja banget. Aku bersyukur Mas baik banget deh pokoknya,0


Susu Elvina telah jadi setelah Ia tuang dengan air panas. Elvina langsung mengaduknya hingga tercampur rata kemudian Ia memperhatikan Ibu mertuanya yang sedang membaca resep.


“Mama mau bikin apa? Itu lagi baca resep apa?”


“Nggak tau, Mama masih bingung mau bikin apa untuk makan malam ntar, Sayang,”


“Nanti aku aja yang masak, Ma. Mama katanya mau ada acara ‘kan sama papa?”


“Iya kondangan ke acara nikah anak teman Papa,”


“Nah ya udah biar aku aja yang masak Mama nggak usah pusing-pusing,”


“Mending kamu istirahat deh, abis main soalnya. Nanti kecapekan, gih istirahat dulu,”


“Tapi aku aja yang masak, aku habisin susu aku bentar,


“Eh nggak masak dulu, ntar aja masak. Kamu istirahat aja di kamar dulu,”


“Nggak ah nanti Mama masak,”


Ardina terkekeh karena menantunya takut sekali Ia yang memasak padahal tidak masalah baginya. Ia tidak merasa direpotkan.


“Nggak-nggak Mama cuma mau baca resep aja ini, nggak masam kok, kamu tenang aja. Udah sana kamu istirahat dulu,”


“Iya aku ke kamar bentar, mama nggak usah mikirin mau masak biar aku aja,”


“Iya, Sayang, dah masuk kamar aja kamu, istirahat dulu, jangan capek-capek nanti sakit lagi,”


Lisa mendorong pelan bahu Elvina supaya segera naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Tidak sengaja Elvina bertemu dengan Vano yang berada di depan pintu masuk dapur.


“Eh kamu kok ada di sini?” Tanya Elvina dengan bingung.


“Yee nguping ni anak,” ujar Lisa yang mengundang tawa Vano.


“Mama sama El ngobrolin apa sih?”


“Halah pura-pura nggak dengar,”


“Hahahaha bercanda deh, aku dengar Mama sama El ngomongin aku tadi. Ngomongin aku eh aku nya denger,”


“Ya nggak apa-apa, orang juga nggak ngomongin yang jelek-jelek. Mama sama El senang kamu baik banget,”


“Iya dong harus, ‘kan ke istri emang harus baik. Ya walaupun cuek sih kadang,”


“Ya udah bagus. Sekarang bawa istri kamu istirahat gih,”


“Siap, Ibu ratu,”


Vano langsung merangkul bahu Elvina. Lisa tidak mau Elvina itu kelelahan dan akhirnya sakit lagi nanti, mengingat kalau Ia perhatikan daya tahan tubuhnya Elvina itu suka lemah belakangan ini.


“Kamu tumben buat susu,” ujar Vano pada istrinya.


“Ya ‘kan aku punya susu bubuk, jadi aku buat lah kebetulan lagi pengen, kenapa? Kamu mau juga?” Tawar Elvin seraya mengangkat gelasnya dan tidak disangka oleh Elvina, Vano mau.


““Beneran mau? Aku buatin dulu ya,”


“Mau yang buatan kamu sekarang aja,”


“Hah? Yang ada di tangan aku ini?”


“Iya betul,”


“Aku buatin aja susu cokelat kamu, gimana?”


“Nggak usah, yang kamu pegang sekarang aja,”


““Eh eh eh Dio!”


“Ih kamu kenapa main ambil aja sih, ini ‘kan punya aku tau


“Enak kok, walaupun rasanya—“


“Gimana rasanya?”


“Rasa—vanilla,”


“Ya emang vanilla, terus menurut kamu gimana rasanya? Kamu mau mual?”


“Nggak sih, enak-enak aja rasanya walaupun agak asing aja di lidah aku entah kenapa, tapi enak kok, hampir sama aja kayaknya, sama susu yang biasa aku minum, tapi tetap andalan aku susu cokelat, kamu kenapa sih beli vanila?”


“Ya adanya ini, aku ketemunya rasa vanilla jadi ya udah aku ambil ini. Daripada nggak sama sekali,” batin Elvina.


“Mau lagi dong,” ujar Vano seraya menengadahkan tangannya ingin meminta susu hamil milik Elvina lagi namun Elvina menggelengkan kepalanya dan menjauhkan gelasnya dari jangkauan Vano.


“Dasar pelit,” ujar Vano.


“Biarin, bukannya bikin sendiri sana yang rasa cokelat kenapa malah minta sama aku sih?”


“Mau yang punya kamu, orang rasa susunya enak tuh,”


“Nggak mau ah, jangan ambil punya aku, bikin sendiri aja, atau aku yang bikin ya,”


“Nggak mau, saya maunya punya kamu aja,”


“Ih jangan, aku buatin aja deh, bentar!”


Setelah Elvina menghabiskan susu buatannya Elvina langsung bergegas ke dapur lagi membuat susu untuk suaminya itu. Sepanjang Ia membuat susu, Ia kepikiran dengan Vano yang tadi sempat menyeruput susu miliknya. Ia berharap Vano tidak sakit perut saja. Karena biasanya Vano minum susu sendiri.


“Si Vano emangnya nggak bisa buat sendiri apa, El? Kok kamu yang mondar-mandir sih?”


“Nggak apa-apa, Ma. Daripada dia minta susu punya aku ‘kan,”


“Lah, minta-minta, bukannya bikin sendiri,”


Elvina terkekeh mendengar ibu mertuanya menggerutu. Ia tidak masalah harus bolak balik dapur hanya untuk membuat susu lagi yang kali ini untuk suaminya yang baru saja menikmati susu.


“Nggak apa-apa, Mama sayang,”


Setelah berhasil membuat satu gelas susu untuk suaminya Elvina langsung ke kamar lagi dan memberikan susu buatannya itu untuk Vano yang Ia lihat tengah mencari sesuatu. Vano nengangkat bantal, dan akan membuka laci.


“Eh Mas Mas! Kamu mau ngapain?” Tanya Elvina pada suaminya yang akhirnya tak jadi membuka laci karena mendengar suara istrinya memanggil dari depan kamar. Suara Elvina yang lumayan keras tentunya membuat Vano lumayan terkejut.


“Eh, Sayang, ini saya mau nyari minyak kayuputih dimana ya?”


“Hah? Kayuputih bukan disitu,”


“Ya abisnya nggak ada di meja rias ‘kan biasanya di situ,”


“Ya udah sini aku yang nyari, nih susu punya kamu,” ujar Elvina pada suaminya seraya menghampiri sang suami. Ia menggantikan suaminya mencari minyak kayuputih setelah Ia serahkan susu buatannya itu kepada Vano dan Ia menyuruh Vano untuk minum sambil duduk.


“Biar aku aja yang nyari deh, orang bukan disitu kok, kamu kurang teliti kali nyari nya,” ujar Elvina.


“Ya udah dimana coba? Orang biasanya—“


“Ya sabar nyari nya jangan buru-buru. Emang kamu butuh buat apa sih?”


“Buat dimainin,” jawab Dio dengan asal.


“Ya buat gue pake lah, El,” jawab Vano.


“Cari yang benar, Mas. Ngomong-ngomong udah berpaa kali manggil sayang?”


“Hahahaha iya juga ya, masih belum biasa sih manggil sayang,”


Shena mencari kayuputih di meja rias dan ternyata ketemu. Ia langsung memberikannya kepada sang suami.


“Nah ini apa? Nyari nggak hati-hati sih,”


“Oh iya hehehe makasih ya,”


“Sama-sama, butuh bantuan aku untuk balurin?”


“Boleh-boleh, tolong balur di leher belakang aku ya,”


“Emang kenapa leher kamu?”


“Agak gatal, sama pegal,”


“Oh karena temenin aku main di timezone kali nih,”


“Ya elah nggak ada hubungannya, emang lagi pegal aja,”


“Ya tumben kamu pegal, gatal juga lagi,”


“Wajar lah, namanya juga badan, kadang ada sakit. ‘Kan kita bukan robot,”


“Ya emang siapa juga yang bilang kamu robot, Ganteng,”


“Hahaha ya makanya itu, Cantik. Kamu jangan merasa bersalah gitu. Ini bukan karena abis temenin kamu main, emang leher saya lagi pengen pegal dan gatal aja kali,”


Setelah membalur minyak kayu putih di leher suaminya Elvina langsung menghela napas lega. Beruntungnya Dio belum sempat membuka laci dimana Ia menyimpan persediaan pil pencegah kehamilan. Itu sebagai bentuk kewaspadaannya supaya tidak hamil.


Vano akan sangat terkejut mengetahuinya. Vano pasti sudah bisa menebak pil itu miliknya. Ia tidak mau Vano salah paham. Untuk saat ini Ia tidak mau memiliki anak. Walaupun sudah tinggal menunggu wisuda. Entah kapan Ia merasa siap.


“Duh enak banget susu cokelat buatan kamu, El. Kenapa ya beda kalau aku buat sendiri?”


“Kamu emang manja,”


“Hehehe nggak apa-apa ‘kan sesekali saya manja sama istri sendiri?”


“Iya nggak apa-apa, aku nggak masalah kok ladenin suami aku yang lagi manja,”


“Saya mau tidur bentar ah, kepala saya agak pusing nih,”


Elvina naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring dan diikuti oleh suaminya yang langsung mengusap kening istrinya itu.


“Kamu kecapekan kali ya?”


“Iya mungkin,”


“Ya udah istirahat deh, jangan ngapa-ngapain sulu. Saya takut kamu sakit,” ujar Vano.


Elvina menganggukkan kepalanya dan coba memejamkan mata. Sekitar tiga puluh menit kemudian Elvina tidur. Vano mempercepat proses tidur Elvina karena mengusap kening Elvina dengan lembut.


“Tidur nyenyak, Elvina,” gumam Vano setelah itu meninggalkan satu kecupan di kening istrinya. Kemudian Vano beranjak meninggalkan kamar. Ia bosan di kamar dan tidak mengantuk, akhirnya Ia memilih untuk keluar dari kamar.


Ia ke dapur ternyata Mamanya sedang membaca buku resep, masih sama kegiatannya seperti sebelumnya. Lisa lagi senang melihat-lihat resep masakan, dan sekarang ini Ia sedang mencari referensi untuk memasak makan malam.


“Ma, ngapain?”


“Lagi iseng baca buku resep aja, kamu ngapain ke sini?”


“Mau ambil air putih, aku kayaknya mau renang aja deh,”


“Ih kok renang matahari masih agak panas gini? Nyar sorean aja,”


“Aku bingung mau ngapain, jadi aku renang aja deh,”


“Istri kamu mana?”


“El tidur, Ma. Kepalanya pusing katanya barusan,”


“Ya Allah, tuh ‘kan kecapekan El. Tapi pas pergi sama kamu tadi El baik-baik aja ‘kan, Van?”


“Aman kok, Ma,”


“Ya udah jangan diganggu deh istirahatnya. Dia sekarang tuh daya tahan tubuhnya lemah ya? Gampang sakit kayaknya. Jadi kasian Mama, karena banyak pikiran mungkin. Soal kuliah, terus sekarang ayahnya lagi di rumah sakit,”


“Iya aku juga mikir gitu, Ma,”


“Makanya kamu jagain El, jangan sampai dia kecapekan,”


“Iya, Ma,”


“Besok dan beberapa hari ke depan kamu ‘kan nggak ngawasin El ya, tapi kamu tenang aja, Mama yang bakal jagain El,”


“Okay makasih ya, Ma,”


“Sama-sama, Sayang,”


Vano mengambil air putih dingin setelah itu Ia bawa ke kolam renang. Ia langsung membuka bajunya kemudian menceburkan dirinya di dalam kolam renang dan sibuk berenang kesana kemari seorang diri.


Lisa menghampiri anaknya di kolam renang. Ternyata Vano benar-benar melaksanakan niatnya itu. “Udah dibilang sore aja renangnya, eh malah tetap berenang, bandel banget anak itu ya,”


Gumam Lisa sambil geleng-geleng kepala melihat putra semata wayangnya itu.


*******


Kurang lebih satu jam Elvina terlelap, tiba-tiba Elvina terbangun karena didesak dengan keinginan buang air kecil.


Setelah keluar dari kamar mandi, Ia baru sadar kalau suaminya tidak ada di dalam kamar. Tapi Shena melihat ponsel suaminya di nakas.


“Lah, Vano kemana ya?” Gumam Elvina yang merasa bingung, padahal tadi suaminya ada di sebelahnya saat Ia akan tidur, tau-tau sekarang sudah pergi entah kemana.


Elvina meraih ponsel suaminya yang tiba-tiba berkedip menandakan ada pesan masuk. Ternyata ada pesan dari teman kampusnya Vano. Elvina tidak ingin membukanya karena tidak penasaran juga. Justru Ia malah salah fokus dengan wallpaper ponsel suaminya yang ternyata tidak dikunci.

__ADS_1


“Ya ampun, wallpaper Mas foto aku. Sejak kapan dia pakai foto aku ya? Aku mau tanya langsung sama Mas ah,” ujar Elvina seraya bergegas keluar dari kamar dengan membawa ponsel suaminya. Kalau ada bukti, Vano yang kemungkinan akan mengelak karena gengsi tentunya tidak akan bisa mengelak lagi karena sudah Ia berikan bukti.


“Hihi dia bakal bilang apa ya? Kayaknya nggak ngaku kalau aku nggak kasih buktinya,” batin Elvina sambil senyum-senyum sendiri menuruni anak tangga.


__ADS_2