
Vano tiba di hotel yang akan menjadi tempat penginapannya kali ini. Sudah hampir satu minggu Ia pergi dan tentu akan bosan kalau hanya menetap di satu hotel saja.
"Gue kayak apaan tau pindah-pindah tempat tinggal ya,"
Vano terkekeh pelan setelah mengamati ruangan yang akan menjadi tempatnya mulai saat ini dan entah sampai kapan, yang jelas sampai Ia jenuh.
"Tapi seru sih, berasa masih single dan staycation terus. Di hotel muluk enggak masalah yang penting nggak stres kayak di rumah,"
Vano berjalan ke kamar mandi, lalu ke balkon dan private pool nya yang bagus. "Nggak nyesal gue ke sini. Kayaknya semua yang gue booking bagus semua deh,"
"Seandainya Elvina—"
"Enggak! Enggak!"
Vano menggelengkan kepalanya kuat-kuat dikala ingat Elvina. Selalu saja seperti itu. Padahal Elvina saja belum tentu ingat dengan dirinya. Sementara Ia ingat hampir setiap waktu apalagi kalau sedang melamun, makan, tidur. Yang biasanya ada teman, kini sendiri saja.
"Semoga lain waktu bisa nginap ke hotel-hotel enggak cuma sendiri,"
Ia berharap bisa mengajak Elvina, tapi tidak mau menyebut nama perempuan itu karena akan gundah gulana sendiri nantinya. Kalau nama itu sudah terlintas dari mulutnya, Ia akan kepikiran terus.
Vano menghentak badannya ke atas ranjang yang langsung menggodanya agar terlelap. "Arghh gila nyaman banget," erangnya seraya terpejam.
Beberapa saat Vano hampir terlena. Ia memejamkan mata dan hampir tidur tapi karena ponselnya bergetar, Ia terpaksa membuka matanya yang sebelumnya terpejam.
"Eh ayahnya Elvina tumben telepon. Kenapa ini ya?"
Vano langsung duduk tegap dan menggeser panel hijau untuk menjawab telepon dari Arman yang tiba-tiba menghubunginya.
"Assalamualaikum, halo, Yah,"
"Waalaikumsalam, ada rencana mau makan malam dimana, Van?"
Vano melirik jam dinding yang ada di depannya, tepatnya di atas televisi. Sudah pukul lima sore ternyata.
"Belum tau, Yah. Mungkin di hotel,"
"Oh okay, Ayah bisa datang ke tempat kamu sekarang nggak? Kita makan malam bareng-bareng,"
"Boleh banget, Yah. Aku kirim lokasi ya, Yah,"
Senyum Vamo hadir dengan lebarnya. Ia tak menyangka akan diajak makan malam oleh Arman, ayah mertuanya yang dulu membencinya tapi sekarang sudah berbalik menganggapnya sebagai anak dan menurut Vamo, Arman selalu bersikap bijaksana padanya. Arman tidak sungkan membelanya kalau memang Arman tahu Ia benar. Dan tak sungkan untuk menegur Elvina setelah tahu Elvina yang berbuat salah.
*****
"Yah, ngapain ajak Vano makan bareng? Kalau Elvina tau gimana itu?"
Arman terkekeh karena ucapan istrinya yang nampak keberatan Ia ingin makan malam dengan Vano.
"Memang kenapa, Bun? Kalau Elvina tau ya enggak masalah. Justru bukannya bagus ya? Ayah mau makan sama Vano itu untuk bahas masalah mereka juga,"
"Oh ayah mau sekalian ngobrol soal itu? Tapi nanti Elvina salah paham lagi. Dikiranya ayah malah berpihak ke Vano,"
"Ya memang, harusnya Elvina udah sadar sejak awal. Bun, ayah ini enggak mau bela anak yang salah. Kalau dia salah, papa kasih tau dengan tegas supaya dia sadar apa kesalahannya. Nah sekarang ini ayah lagi mau coba cari tau kenapa Vano belum juga pulang padahal Elvina 'kan udah minta maaf. Entah apalagi yang bikin Vano belum pulang ke rumah. Justru karena ayah mikirin Elvina makanya ayah mau ketemu Vano nanti. Walaupun ayah memang berpihak ke Vano, tapi ayah tetap pikirkan anak ayah, Bun. Kasihan dia lama-lama di rumah enggak ada suaminya walaupun dia sendiri enggak masalah justru enjoy aja,"
"Bunda mau ikut enggak?"
"Enggak, bunda di rumah aja. Biar ayah aja yang ketemu sama Vano,"
"Ya udah biar lebih enak juga ngobrolnya kalau sesama laki-laki,"
"Elvina kok enggak telepon bunda ya? Udah berapa hari ini,"
"Lagi menikmati hidup tanpa Vano, Bun,"
Dini menepuk lengan suaminya dan berdesis kesal. Kalau Elvina dengar ayahnya menyindirnya seperti itu, sudah dapat dipastikan Elvina akan jengkel.
"Iya Elvina katanya lebih bahagia kalau enggak ada Vamo. Ayah rasa itu omong kosong. Mana bisa bahagia orang biasanya hidup bareng-bareng kok terus tiba-tiba Vano pergi, pasti sepi lah,"
"Bunda mau telepon Elvina deh. Mau tanya kabar dia,"
Dini menghubungi putri sulungnya tapi tak dijawab. Arman mengusap bahu istrinya dengan lembut. "Elvina lagi istirahat mungkin, Bun,"
"Tapi udah berapa hari dia enggak telepon mama. 'Kan Bunda jadi bingung sekaligus khawatir, Yah,"
"Nggak perlu khawatir, kalau ada apa-apa pasti Amih udah kasih tau kita. Tapi ini 'kan enggak, Ma. Insya Allah Elvina baik-baik aja, memang belum sempat aja hubungi budna,"
******
Arman tiba di hotel yang menjadi tempat Vano menginap sekarang ini. Vano sudah menunggunya di lobi. Vano tidak ingin ayah mertuanya itu kesulitan mencari letak kamarnya.
"Gimana perjalanan ke sini, Yah? Macet nggak?"
"Nggak, tadi jalanan udah agak sepi, Van,"
Vano membawa Arman ke kamarnya. Akhirnya Arman tahu dimana tempat Vano menginap sementara waktu.
"Kamu udah dari hari apa di sini, Van?"
"Ini aku baru pindah, Yah,"
"Oh baru pindah ke sini. Nggak sekalian aja beli apartemen jadi kalau ada masalah sama Elvin tinggal ke sana,"
Vamo langsung melipat bibirnya ke dalam merasa bahwa ucapan Arman itu adalah sindiran untuknya.
"Yah, sebenarnya aku nggak suka kabur-kaburan kalau lagi ada masalah. Cuma sekarang ini kesabaran aku lagi diuji banget,"
"Iya enggak apa-apa. Kamu yang tau apa yang kamu perlukan untuk diri kamu sendiri. Kalau kamu lagi perlu ruang tanpa Elvina, enggak masalah,"
Vano membuka pintu kamarnya dan langsung mempersilakan Arman untuk masuk. Arman langsung menatap kamar hotel yang dibooking menantunya itu untuk dia beristirahat.
"Kita makan di hotel aja ya, Yah?"
"Iya, nggak usah dimana-mana,"
"Okay makanan udah aku pesan, tinggal tunggu datang aja, Yah,"
"Ayah mau tanya, sampai sekarang Elvina belum pernah hubungi kamu kah?"
"Udah, Ayah. Yang pertama dia minta maaf, terus yang kedua karena dia mau ajak aku ke acara ulang tahun temannya,"
"Oh dia udah minta maaf?"
"Iya, katanya ayah yang suruh," Vamo terdengar ragu ketika mengucapkannya, takut itu tidak benar tapi Elvina sendiri yang bilang. Sekarang Ia ingin tahu apa kata Arman. Barangkali Ia mendapat jawaban. Entah benar atau tidak Arman yang menyuruh anaknya meminta maaf.
"Ayah datangi Elvina, ayah nasihati dia dengan tegas dan memang ayah suruh dia untuk minta maaf tapi ayah enggak sangka kalau dia sampai bicara begitu ke kamu,"
Harusnya Elvina meminta maaf karena keinginan dari hatinya sendiri, bukan karena disuruh oleh siapa pun termasuk ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Oh benar ayah yang suruh ya? Jujur aku juga bingung karena tiba-tiba dia telepon aku terus minta maaf sekaligus tanya kapan aku pulang. Aku udah seneng banget, Yah. Tapi nggak taunya bukan keinginan Elvina sendiri, tapi karena disuruh. Itu buat aku kecewa. Padahal aku udah seneng banget dan mikir bakal pulang saat itu juga karena saking senangnya, tapi nggak lama dia bilang begitu, aku langsung lesu,"
"Van, ayah minta maaf ya. Ayah minta maaf atas nama Elvina karena Elvina mungkin udah keterlaluan nyakitin kamu, sampai akhirnya kamu milih untuk pergi kayak gini,"
"Enggak apa-apa, Yah. Memang aku sama Elvina harus begini untuk sementara waktu supaya sadar dengan kesalahan masing-masing,"
"Ayah ke sini tadi ajak mama cuma mama enggak mau. Mau telepon Elvina beberapa kali tapi nggak dijawab. Karena udah berapa hari ini Elvina enggak telepon mama. Kamu sama Elvina tetap komunikasi?"
"Terakhir waktu dia nyuruh aku pulang supaya bisa jadi temannya untuk datang ke acara ulang tahun temannya. Kalau enggak salah dua hari yang lalu. Setelah itu kita putus komunikasi lagi, Yah,"
Ditengah obrolan mereka makan malam datang, mereka langsung menyantap itu.
"Jadi kapan mau pulang?"
"Elvina masih aja cuek sama aku, Yah. Kayaknya dia benar-benar bahagia hidup tanpa aku,"
"Van, jangan bicara begitu lah. Biar bagaimana pun, Elvina itu butuh sosok kamu di samping dia. Ayah hargai keputusan kamu yang belum mau pulang, tapi kalau bisa jangan terlalu lama. Ayah yakin Elvina sebenarnya rindu dengan kehadiran kamu di samping dia cuma dia nggak mau jujur soal itu,"
"Yang namanya rindu nggak akan bisa ditutupi serapi itu, Yah. Elvina pasti akan hubungi aku kalau memang dia rindu dan butuh sosok aku, tapi sampai sekarang enggak. Hubungi aku kemarin karena disuruh ayah dan juga ada perlu,"
"Ayah cuma bisa berdoa yang terbaik untuk kalian. Semoga hubungan kalian nggak lama lagi pulih ya, ayah senang banget kalau kalian bisa kembali lagi, nggak masing-masing begini hidupnya,"
"Terimakasih ayah udah dukung kami berdua tanpa menjatuhkan salah satunya. Ayah bijak, dan aku benar-benar menghargai itu,"
"Udah kewajiban ayah untuk membuat hubungan anak dan menantu papa baik-baik aja. Ayah nggak suka ada masalah diantara kalian berdua yang akhirnya buat kalian jadi renggang begini,"
******
"Bu, yakin enggak mau? Ini kepiting saus asam manis, Bu,"
Amih berusaha menggoda Elvina yang enggan menengok kepiting kiriman Vano. Padahal Vano sudah perhatian sekali mengirimkan makanan untuk istrinya, tapi ditolak mentah-mentah oleh Elvina.
"Enggak mau, Mih. Tolong jangan paksa ya,"
"Tapi ini udah dikirimin sama Pak Vano, sayang kalau nggak dimakan, Bu,"
"Ya udah kamu aja yang makan, aku nggak mau,"
Elvina menyuruh Amih keluar dari kamarnya dan menikmati kepiting itu sendirian, tidak perlu dirinya sebab Ia tidak mau terima makanan apapun dari Vano atau segala jenis perhatian dari lelaki itu.
"Beneran, Bu? Saya simpan aja dulu ya? Barangkali nanti Ibu mau,"
"Amih, aku nggak mau. Udah lah jangan paksa aku,"
Amih menghela napas pelan kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Ia akan keluar dari kamar sesuai dengan apa yang diminta Elvina.
"Maksa aja deh. Orang udah dibilang nggak mau, tapi masih aja,"
Elvina menghubungi Vano untuk memperingati lelaki itu agar tidak lagi mengirimkan makanan untuknya.
"Halo,"
"Hmm, kenapa?"
Elvina menggertakkan giginya kesal sebab jawaban Vano yang kedengaran cuek sekali beda dari yang biasanya.
"Kamu yang kirim kepiting ke sini 'kan? Udah deh, nggak usah kirim apapun lagi ke rumah,"
"Lho memang kenapa? Suka-suka aku lah, aku mau berbuat baik sama orang rumah selain kamu, jadi jangan larang aku,"
"Aku nolak kepiting dari kamu,"
Elvina mematikan sambungan telepon mereka kemudian menatap ponselnya dengan emosi yang bergejolak.
"Ngeselin banget sih kamu! Sok perhatian untuk apa coba? Mending enggak usah aja,"
*****
"Lo belum balik juga? Kapan mau balik? Betah banget hidup sendiri, bro,"
Vano terkekeh mendengar ledekan Ajun yang datang ke hotel tempatnya menginap bersama Kila.
"Iya gue belum mau balik. Ini kenapa bawa Kila? Lo mau ajakin kemana ini anak?"
"Mamanya ada urusan, jadi gue mau bawa Kila jalan-jalan. Mau ngajakin lo nih, biar gue enggak sendirian, ada teman waktu momong anak. Lo mau nggak?"
"Eh boleh banget, ayo-ayo,"
Mata Vamo langsung berbinar ketika siang hari Ajun datang ke ruangannya. Ia baru saja dari kelas. Ajun menatap pekerjaan Vano kemudian Ia menatap Vano ragu.
"Seriusan mau ikut gue sama Kila? Kerjaan lo gimana? Gue sih enggak sangka lo bakalan ikut ya,"
"Ayo gue mau ikut. Kerjaan gue mah udah beres,"
"Serius enggak?"
"Iya! Masa gue enggak serius?"
Ajun terkekeh senang karena akan ada temannya untuk pergi bersama putrinya. "Serius 'kan nih? Ya udah ayo,"
"Serius! Nanya lagi, gue tendang nih,"
Ajun langsung beranjak dengan semangat. Kila di dalam gendongannya pun tersenyum lebar. "Anak gue kayaknya gue senang lo bakal ikut, Van,"
"Iya, tunggu sebentar, gue rapi-rapi dulu ya,"
"Okay, gue tungguin,"
Ajun duduk di kursi depan ruangan Ken sementara Vano membereskan meja kerjanya dulu dan mempersiapkan diri sebelum pergi.
"Gue mulai enjoy hidup sendiri. Ternyata senangnya gue enggak tergantung sama Elvina aja,"
"Gue bisa bahagia karena diri sendiri, dan orang lain juga. Sederhana aja, mau pergi sama Kila aja udah bikin gue senang," batin Vano masih terus sibuk menata meja kerjanya.
Tak lama kemudian Ia langsung bergegas menghampiri Ajun dengan putrinya yang sedang menunggu.
Vano langsung meraih Kila dalam gendongannya. Ia menatap Kila dengan dalam seraya tersenyum tipis dan bergumam dalam hati.
"Kapan ya Om bisa punya yang kayak kamu, Kila? Om pengin banget punya anak, tapi rasanya belum memungkinkan kalau sekarang,"
"Temani anak gue bentar ya. Gue mau pergi ke toilet bentar,"
"Okay, jangan lama ya! Ntar anak lo cengeng,"
"Enggak lah, titip bentar aja kok,"
Baru satu langkah papanya pergi, Kila langsung mau merangkak naik ke atas meja dimana mereka makan bersama tadi.
__ADS_1
"Eh Kila jangan naik-naik, Sayang. Nanti jatuh lho,"
"Enggak!"
"Lah? Nyolot dikasih tau nya?"
Vano terbahak ketika mendapat pelototan dan omelan dari Kila yang keras kepala mau naik ke atas meja.
"Eh nanti diomelin sama pelayan restorannya. Biar aja ya, Om enggak mau tanggung jawab,"
Vano meraih anak itu agar tak melanjutkan aksi namun cepat-cepat Kila memukul tangannya. Vano makin senang melarang anak itu karena keras kepala yang dimilikinya.
"Kila, jangan bandel dong,"
"Biar,"
"Dih dikasih taunya bandel ya,"
Vano akhirnya membantu anak itu merangkak supaya tidak jatuh. Kalau Ia merangkak sendiri, Vano cemas Kila malah jatuh ke lantai, mana orangtuanya tidak ada pula sehingga tidak bisa melihat kejadian yang sebenarnya.
Nanti Ia yang tidak enak hati.
Setelah duduk di atas meja, Kila mau turun. Vamo yang melihat itu mendengus. "Tadi mau naik ke meja, sekarang mau turun. Ah Kila ribet ya,"
Kila benar-benar mengerjai Vano. Tapi dasarnya Vano sabar maka Ia menuruti saja apa mau anak itu.
"Kila jangan bikin Om ngedumel nih,"
"Enggak!"
"Enggak apa?"
Vano memangku anak itu kemudian memeluknya erat supaya Kila tidak bisa kemana-mana lagi untuk beraksi.
Tidak lama kemudian Ajun datang dari toilet dan langsung menghampiri meja mereka. Vano segera menyerahkan Kila pada papanya itu.
"Anak lo galak ya, susah diatur juga,"
"Kayak baru kenal aja lo mah, orang udah sering ketemu juga, bahkan main ke rumah lo. Eh iya sekarang lagi enggak di rumah ya? Aduduh kasian teman gue,"
"Ya elah, biar enggak di rumah, gue masih bisa tidur di tempat lain,"
Ajun tertawa lepas mendengar penuturan Vano yang berusaha untuk menikmati kehidupan sehari-harinya sekarang ini tanpa pasangan hidup.
"Ayo balik gue udah capek nih," ajak Vano pada Ajun yang langsung mengangguk setuju. Mereka bertiga segera meninggalkan restoran.
"Eh Jun, thanks ya udah traktir,"
"Yoi, thanks juga udah jadi temannya Kila,"
"Abis nih lo mau langsung balik ke hotel?"
"Iya lah, gue sekarang jadi bujang, tinggal sendiri aja,"
"Gue pikir lo mau balik ke rumah, Ken,"
"Enggak sekarang, gue masih geram aja,"
*****
Vano dan Ajun tiba di area parkir. Ajun segera menempatkan anaknya di kursi tengah dengan car seat nya sementara Vano akan masuk ke mobilnya sendiri, namun gagal karena mata Vano mendapati sosok Elvina yang baru keluar dari sebuah mobil bersama seorang perempuan dan juga seorang pria yang keluar dari mobil dengan cepat untuk menyusul Elvina yang sudah lebih dulu.
Vano menggeleng pelan melihat Elvina yang jalannya masih agak sulit tapi memaksakan diri ke mall.
"Lagi sakit aja masih mau jalan bukannya fokus sama pemulihan kakinya dulu. Entah kenapa kamu enggak betah banget di rumah. Apa karena enggak ada aku? Ah enggak mungkin,"
“Eh Van! Buruan kenapa malah diam sih?"
Ajun menekan klakson dan juga berseru memanggil Vano yang malah diam memandang ke satu arah dimana Ia melihat istri dengan dua orang temannya. Entah teman atau apa, Vano tidak kenal tapi yang jelas mereka terlihat akrab, tertawa sambil mengobrol dan juga Ia melihat Lelaki itu menepuk pelan puncak kepala Elvina.
"Iya bentar,"
"Bentar-bentar, lu ngapain sih? Ngeliatin apaan?"
"Nggak, ayo balik,"
Ajun akan mengantar Vano sampai ke rumahnya walaupun mereka menggunakan mobil masing-masing.
Sepanjang perjalanan Vano pikiran Vano tertuju pada istrinya yang kelihatan akan senang-senang dengan kedua orang tadi.
Elvina kelihatan sangat menikmati hidupnya tanpa Vano. Sementara Vano sendiri tak pernah bisa tenang jauh dari perempuan itu. Sesaknya cinta bertepuk sebelah tangan ternyata memang seperti ini.
Tidak merasa dibutuhkan bahkan kehadirannya pun tidak ada arti sama sekali jadi meskipun Ia pergi sejauh apapun tidak akan berpengaruh apapun pada Elvina.
*****
"Njir, gue enggak sangka bisa ketemu kalian lagi, dua mantanku,"
"Idih mantan? Emang pernah jadian ya?"
"Cinta ******,"
"Ya itu mah cinta monyet, enggak masuk dalam hitungan mantan gue kalau lo mah,"
Elvina tertawa menatap Jona yang baru saja mengakuinya sebagai mantan. Padahal mereka memang terlibat cinta monyet saat masuk sekolah menengah atas.
"Gue juga bukan mantan lo, Jon,"
"Ngelupain kenangan, njir,"
"Yang kata lo mohon-mohon ke gue supaya diajakin makan malam bareng, lo ingat enggak?"
Elvina tertawa melihat wajah merengut Lila, teman jalannya juga saat ini. Lila mengambil kotak rokok milik Jona kemudian dilemparkannya ke arah Jona.
"Berisik lo ya!"
Candaan mereka berhenti ketika makanan yang mereka pesan datang di hadapan mereka bertiga.
"Selamat makan,"
"Selamat makan juga,"
****
"Thanks, Jun,"
Vano mencium singkat pipi Kila sebelum berpisah dengan anak temannya yang cantik itu.
__ADS_1
"Bye, Kila. Hati-hati ya, nanti kila pergi bareng lagi, okay?"
"Okay, siap,"