
Elvina menuang mie instan yang telah siap ke dalam mangkuk. Ia meletakkan mie bercampur irisan cabe rawit dan telur itu ke atas meja makan.
“Kamu nggak bikin untuk kamu juga, Sayang?”
“Nggak ah, aku udah kenyang. Untuk kamu aja,”
“Yang bener? Kita makan berdua yuk,”
“Nggak usah, aku mau liatin kamu makan aja, aku udah kenyang,”
“Makan berdua lah, biar romantis gitu ceritanya,”
“Nggak mau, Mas. Bisa jangan paksa?”
“Okay-okay, aku nggak paksa deh,”
Nada suara istrinya sudah tegas, maka Vano tidak bisa lagi menawarkan atau lebih tepatnya memaksa sang istri untuk ikut makan bersamanya.
“Hmm mantap banget nih, mie buatan kamu emang nggak dua, nggak ada tandingannya, Sayang. Eh iya aku belum bilang makasih ya? Okay, sekarang aku bilang. Makasih ya, malam-malam udah mau dibikin repot karena nurutin maunya aku. Mana harus ketakutan sendiri pula di dapur. Sekali lagi makasih ya, dan maaf juga udah bikin kaget tadi,”
“Sama-sama. Sesekali aku yang usaha nurutin maunya kamu, Mas. Selama ini ‘kan seringnya kamu terus ya,”
“So sweet banget istri aku ya,”
“Halah, ngomong mulu kamu, makan aja yang bener, habisin tuh, jangan cuma minta aja,”
__ADS_1
“Wuih kalau mie kayak begini mah nggak ada cerita ditolak, Sayang. Udah pasti aku habisin sampai tetes kuah terakhir,”
Elvina menutup mulutnya agar tawa teredam. Sudah malam kalau tertawa terlalu keras pasti mengganggu. Baik mengganggu yang nyata maupun yang halus.
“Kamu ketawanya ditahan-tahan ah,”
“Aku aja nggak mau diganggu sama mereka, dan mereka pun sama lah, Mas,”
“Mereka siapa?”
“Manusia, sama anu. Kita harus saling menghargai ‘kan. Ini udah malam, nggak boleh berisik, harus tau aturan meskipun di rumah sendiri. Nggak dipungkiri kita ini hidup berdampingan. Benar nggak?”
“Iya bener, tapi kita lebih menang karena kita manusia,”
“Kalau udah ada aku, kamu masih takut nggak sih?”
“Nggaklah, kecuali kalau sendirian. Itu baru takut banget,”
“Kamu penakut sih,”
“Ya wajar, namanya juga cewek. Kebanyakan cewek, aku rasa begitu deh,”
“Boleh minta tolong?”
“Minum?”
__ADS_1
“Iya, tau banget kamu ya,” Vano tersenyum lebar karena istrinya tahu apa yang Ia butuhkan sekarang.
Elvina langsung bergegas meninggalkan kursi untuk mengambilkan air putih. Ia yang salah, menyajikan makanan tapi tidak menyajikan minum juga. Sudah fokus dengan rasa ketakutan tadi jadinya tidak berpikir soal minumnya Ken yang belum Ia siapkan.
“Makasih, El,” ujar Vano setelah Ia meneguk air minum yang diberikan oleh istrinya.
“Sama-sama,”
Elvina kembali duduk di depan Vano dan menjadikan Vano sebagai objek tontonannya lagi. Ia melihat Vano makan bawaannya kenyang dan entah kenapa nyaman padahal sebelumnya habis kesal dengan Vano karena Vano mengagetkannya.
“Aku mau cerita,”
“Nggak boleh! Kamu fokus makan aja,”
“Sial musibah yang tadi aku alami, Sayang. Soal ban bocor sama—“
“Hmm ceritanya setelah kamu makan aja ya, Ken, kamu habisin dulu makanan kamu setelah itu lanjut ngomong deh,”
Vano merengut karena larangan dari istrinya supaya Ia tidak bicara apapun lagi selama makan, bahkan untuk bercerita soal kejadian tadi, Ia diminta untuk menunda dulu.
“Kalau aku cerita soal Delila nggak bakalan disuruh diam nih, pasti harus cepat-cepat ngomong,” sindir Vano yang langsung mengundang tatapan tajam dari Elvina.
“Kok bener sih? Kamu tau aja,”
“Ya tau lah, kalau urusannya sama Delila mah beda cerita. Aku nggak bakal disuruh diam. Pasti aku malah disuruh jelasin secepatnya,”
__ADS_1