BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Meminta Restu


__ADS_3

Pagi hari saat Sandra terbangun dan baru saja selesai sholat subuh ia sudah mendengar suara kegaduhan dari arah dapur. Sepertinya Amira juga sudah bangun dan sedang sibuk di dapur. Dengan segera Sandra keluar dari dalam kamarnya untuk membantu Amira.


"Ra..." panggil Sandra.


"Eh San San... kau sudah bangun?" tanya Amira yang terlihat sibuk dengan masakannya.


"Iya...maaf semalam aku pulang larut..." ucap Sandra.


"Ga pa-pa San San... lagi pula semalam aku memang tidur lebih awal karena ketiduran saat menidurkan Sahir dan Samir... bahkan aku tidak tahu kapan kak Sam pulang..." sahut Amira sambil terkekeh.


"Oh iya... bagaimana makan malamnya? apakah sukses?" sambung Amira saat Sandra mulai membantunya.


"Alhamdulillah Ra... mereka semua ternyata sangat baik dan mau menerimaku apa adanya..." terang Sandra.


"Alhamdulillah kalau begitu... sekarang tinggal Dave yang harus meyakinkan orangtuamu agar mereka mau merestui kalian berdua..."


"Iya Ra... tapi aku sedikit takut kalau abah dan umi tidak akan menyetujui hubungan kami..." ucap Sandra terdengar cemas.


Amira menghentikan kegiatannya dan mengelap tangannya. Kemudian ia pun mendekat kearah Sandra yang terlihat termenung di depan meja dapur.


"Kau jangan pesimis begitu San San... abah memang keras sifatnya tapi aku yakin Dave akan bisa meluluhkannya... sedangkan umi aku tahu beliau pasti akan setuju jika Dave bersamamu karena tak ada yang paling membahagiakan bagi seorang ibu kecuali putrinya menemukan orang yang tepat untuk dicintai dan mencintai putrinya" ucap Amira memberikan semangat pada Sandra.


"Semoga apa yang kau katakan itu akan jadi kenyataan Ra..."


"Insyaallah..." sahut Amira sambil tersenyum.


Kemudian keduanya kembali melajutkan acara memasak mereka. Hari ini Amira memang sengaja memasak sarapan khusus karena entah mengapa ia hari ingin sarapan dengan menu masakan minang. Dan karena mencari restoran yang bisa menyajikan menu yang diinginkannya sepagi ini sangat sulit maka ia sengaja memasaknya sendiri meski ia sebenarnya tak terlalu percaya diri bisa memasaknya dengan baik.


"Bagaimana rasanya San San?" tanya Amira saat Sandra mencoba hasil masakannya.


"Hemm.... enak Ra..." sahut Sandra sambil tersenyum.


"Beneran?" tanya Amira tak percaya.


"Iya... kalo ga percaya cicipi aja sendiri..." sahut Sandra.


Amira pun langsung mengambil sendok dan menyendokkannya pada rendang yang baru saja matang dan asapnya masih mengepul.


"Bagaimana?" kini Sandra yang bertanya.


Bukannya menjawab Amira justru terlihat mulai menangis.


"Kamu kenapa Ra? bukannya rendangnya enak persis seperti buatan ibumu dulu..." kata Sandra sambil memeluk Amira.


"Justru itu San San... aku memasak menggunakan resep ibu sejauh yang bisa aku ingat dan ternyata rasanya sama... aku jadi rindu ibu dan ayah..." isak Amira.


"Sudah Ra... jangan menagis lagi... ayah dan ibumu pasti sudah bahagia di surga melihatmu bahagia dengan keluarga kecilmu. Apa lagi ini... kau berhasil memasak resep ibumu dengan baik..." kata Sandra menenangkan Amira.


"Iya kau benar..." sahut Amira mulai tersenyum.


Aroma masakan Amira ternyata juga membangunkan tuan Sam yang sedari habis sholat subuh tidur kembali karena semalam ia pulang larut.


"Hemmm... sepertinya sarapan hari ini ada yang spesial?" tanya tuan Sam yang sudah berdiri di depan meja makan.


"Aku masak rendang B..." sahut Amira sambil menata piring diatas meja dibantu Sandra.


"Kalau begitu aku sarapan sekarang ya" kata tuan Sam.


"Mandi dulu saja B... sekalian aku juga akan membangunkan anak-anak jadi kita makan bersama" cegah Amira.


"Baiklah kita bangunkan bersama..." kata tuan Sam yang langsung menuju ke kamar kedua putra mereka.


"Aku tinggal sebentar ya..." kata Amira pada Sandra.


"Iya..."


Setelah membangunkan si kembar dan memandikannya Amira pun membawa kedua putranya ke meja makan. Sedang tuan Sam langsung mandi dan segera menyusul keluarga kecilnya untuk sarapan. Setelah tuan Sam berangkat ke kantor Amira dan Sandra kembali pada rutinitas mereka membersihkan rumah dan menjaga kedua balita kembar Amira.


Di kantornya tampak tuan Sam tengah berbincang dengan Dave setelah keduanya selesai mengadakan meeting bersama. Dave ingin meminta pendapat tuan Sam mengenai hubungannya dengan Sandra yang ingin segera ia resmikan.


"Menurutku lebih baik kau temui orangtua Sandra dulu Dave untuk meminta restu..." usul tuan Sam.

__ADS_1


"Kau benar... tapi apa tak apa-apa jika aku datang ke sana sendirian Sam? karena aku tahu Sandra tak mungkin mau meninggalkan istrimu sendirian disini..." terang Dave.


"Mungkin malah lebih baik kau datang sendiri kesana Dave... jika keduanya setuju kau bisa memboyong mereka sekalian kemari agar kau dan Sandra bisa menikah disini..." kata tuan Sam yang diangguki Dave.


"Baiklah... tapi apa bisa kita rahasiakan dulu rencana kita ini Sam... aku tidak mau Sandra jadi kepikiran..."


"Ya terserah kau saja..." sahut tuan Sam.


Akhirnya Dave pun memutuskan untuk pergi ke Indo untuk menemui kedua orangtua Sandra sendiri agar Sandra tetap bisa menemani Amira. Pada Sandra, Dave mengatakan jika ia ada pekerjaan di luar negeri selama beberapa hari agar Sandra tak khawatir. Sandra pun mempercayainya karena ia tahu seseorang seperti Dave pasti sering melakukan pekerjaan di luar kota atau luar negeri.


Setelah mengosongkan jadwal pekerjaannya Dave pun berangkat ke Indo untuk meminta restu pada orangtua Sandra. Meski ia seorang pengusaha yang sudah sering menghadapi klien yang sulit namun ia tak pernah merasa segugup ini. Berhadapan dengan calon mertua membuat Dave tak dapat beristirahat selama dalam perjalanan ke Indo. Dalam hatinya ia selalu melantunkan dzikir untuk menenangkan hatinya dan mengharapkan semuanya berjalan lancar.


Sesampainya di bandara Dave langsung dijemput oleh sopirnya dan langsung diantarkan ke hotel yang telah ia pesan. Saat ia sudah berada di dalam kamarnya Dave langsung menghubungi Sandra.


"Assalamualaikum San San..."


"Waalaikum salaam..."


"Kau sedang apa?"


"Aku sedang bersama si kembar... Amira dan kak Sam sedang keluar sebentar..." sahut Sandra.


"Aku merindukanmu San San..." ucap Dave tiba-tiba.


"Dave..."


"Aku tahu... kau pasti tidak akan percaya..." sambung Dave lirih.


"Aku juga merindukanmu Dave..."


Mendengar ucapan Sandra senyum pun Dave langsung mengembang.


"Benarkah?" tanyanya antusias.


"Hemm..." sahut Sandra sambil mengangguk meski ia tahu Dave tak akan bisa melihatnya.


"Kalau begitu aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku agar kita bisa segera bertemu..." kata Dave dengan semangat.


"San San..."


"Hemm?"


"Bisakah kau panggil aku dengan nama lain?"


"Apa?"


"Terserah kau saja... aku hanya ingin panggilan spesial darimu..." ucap Dave.


"Hemm... bolehkah aku memikirkannya dulu?" tanya Sandra.


"Baiklah... kau fikirkan saja dulu tak perlu buru-buru... aku hanya ingin kita memiliki panggilan spesial saat kita sudah sah nanti..." terang Dave.


Sandra pun tersenyum simpul. Terdengar oleh Dave ocehan si kembar yang sedang berebut mainan hingga Sandra pun terpaksa mengakhiri percakapan mereka untuk mengurus si kembar. Dave pun mendesah pelan setelah panggilan mereka berakhir. Rasa resah dan cemas kembali menghampirinya. Besok ia akan menghadap pada kedua orangtua Sandra dan ia harus bisa meyakinkan keduanya untuk menyerahkan putri mereka untuk menikah dengannya.


Keesokan harinya sejak pagi Dave sudah bersiap untuk pergi ke rumah orangtua Sandra. Meski sudah berusaha tenang namun nyatanya saat mobil yang membawanya sampai di depan rumah Sandra, Dave kembali merasa gugup. Setelah terdiam beberapa saat akhirnya ia pun turin dari dalam mobil dan berjalan ke rumah Sandra.


"Assalamualaikum..." ucap Dave.


"Waalaikum salam..." sahut bu Zaenab dari dalam rumah.


Saat ia membuka pintu ia pun terkejut saat melihat Dave sudah berada dihadapannya.


"Tuan Dave?"


"Iya bu..." sahut Dave canggung.


"Ah... silahkan masuk..."


"Terima kasih..."


Setelah menyuruh Dave duduk bu Zaenab pun menanyakan maksud kedatangan Dave. Bu Zaenab pun memanggil pak Dahlan yang kebetulan sedang di kebun belakang setelah Dave mengatakan jika kedatangannya ingin menemui pak Dahlan dan bu Zaenab. Pak Dahlan yang diberitahu bu Zaenab bahwa Dave datang untuk berbicara dengan mereka berdua pun merasa penasaran dan segera menemui Dave.

__ADS_1


"Sebenarnya ada perlu apa tuan Dave datang menemui kami?" tanya pak Dahlan setelah ketiganya duduk berhadapan.


"Begini abah... umi...." Dave pun kemudian mengungkapkan maksud kedatangannya yang ingin melamar Sandra untuk menjadi istrinya.


Pak Dahlan dan bu Zaenab tampak terlejut dan menatap Dave tak percaya. Bagaimana tidak sudah lebih dari satu tahun mereka tak pernah berjumpa tiba-tiba pria bule itu datang ke rumahnya untuk melamar putrinya Sandra. Bahkan Sandra belum pernah bercerita apapun mengenai hubungan keduanya.


"Maaf tuan... apa tuan sudah tahu tentang status Sandra? dan apa putri saya juga tahu jika tuan akan melamarnya?" tanya pak Dahlan hati-hati.


"Mengenai status Sandra saya sudah tahu abah... bahkan keluarga saya pun sudah tahu dan sudah saya kenalkan dengan Sandra... mengenai lamaran saya pada abah Sandra belum tahu... sebab saya ingin meminta restu abah dan umi dulu sebelum memberitahu Sandra..." terang Dave.


"Saya tahu Sandra hanya akan menikah jika abah dan umi merestui... jadi sebelum mendapat restu dari abah dan umi saya tidak mungkin melamar Sandra terlebih dahulu..." sambung Dave.


"Sebenarnya bagi kami yang terpenting adalah kebahagiaan Sandra... jika dia merasa bahagia bersamamu kami hanya bisa mendukungnya... tapi satu hal tuan Dave... apa kau muslim?" tanya pak Dahlan.


"Iya abah... alhamdulillah sejak hampir satu tahun yang lalu saya sudah mualaf..." sahut Dave yang disambut senyum kelegaan dari pak Dahlan dan bu Zaenab.


"Jika abah dan umi setuju kita bisa berangkat ke London dan mempersiapkan pernikahan kami disana..." sambung Dave yang membuat pak Dahlan dan bu Zaenab tambah terkejut.


"Apa tidak terlalu cepat tuan?"


"Bukankah hal yang baik itu lebih baik dipercepat abah? dan saya mohon jangan panggil saya tuan... panggil saja Dave..."


"Baiklah jika itu mau tuan... maaf nak Dave..." sahut pak Dahlan.


"Abah tinggal siapkan saja persyaratan yang diperlukan, nanti biar saya yang mengurus dokumennya..." kata Dave.


Kedua orangtua Sandra pun hanya bisa menganguk setuju. Kemudian mereka pun mengambil semua persayaratan yang sekiranya mereka butuhkan dan menyerahkannya pada Dave untuk mengurus dokumen keberangkatan mereka ke London dan sekaligus untuk keperluan pernikahan Sandra dan Dave nanti.


Di London...


Sejak kepergian Dave, Sandra kini mulai merasakan apa yang biasa dirasakan oleh pasangan kekasih yang sedang terpisah. Ada rasa rindu meski Dave sering menghubunginya lewat telfon maupun vidio call. Hal ini menarik perhatian Amira.


"Kau kenapa San San?" tanya Amira saat keduanya baru saja menidurkan Sahir dan Samir.


"Gak pa-pa kok Ra..." jawab Sandra yang berusaha menutupi rasa gelisah dihatinya.


Pasalnya tak biasanya seharian ini Dave tak lagi menghubunginya meski lewat pesan singkat di ponselnya.


"Apa Dave belum menghubungimu?"


"Hah? eh... itu..." sahut Sandra gugup.


Amira malah terkekeh melihat Sandra yang tampak gugup dengan wajah memerah.


"Aku tahu... kau pasti merindukannya..." ujar Amira sambil menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih Ra..." sahut Sandra sambil melengos.


"Jujur aja kali... kalau rindu lebih baik kau hubungi saja dia sekarang..."


"Ish... masak aku yang menghubunginya dulu?"


"Memangnya kenapa?"


"Itu..."


"Itu apa?"


"Ish kau ini kenapa jadi menyebalkan sih Ra?"


"Eh? kok aku? bukannya kamu yang menyebalkan sedari tadi jutek dan selalu melamun masih saja gengsi!" sahut Amira tak mau kalah.


"Tapi kan Ra..."


"Ya sudah... terserah kamu saja... tapi mungkin saja kan Dave tidak menghubungimu karena sudah terjadi sesuatu?" ucap Amira sedikit menakuti.


"Maksudnya?"


"Ya... mungkin saja dia sedang tidak enak badan dan tidak ada yang mengurusnya... lalu..."


"Stop Ra... akan aku hubungi dia sekarang" sergah Sandra yang mulai panik membayangkan Dave yang demam sendirian dan tak ada yang mengurusnya.

__ADS_1


Sandra pun bergegas ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Dave. Sedang Amira langsung terkekeh melihat tingkah bucin Sandra.


__ADS_2