
Lewat tengah malam Amira terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Lalu ia pun bangun dan berjalan ke kamar mandi setelah sebelumnya ia memakai flat shoesnya. Ketika ia selesai dan saat akan membuka pintu kamar mandi dari sudut matanya sekilas melihat lubang diatas bak mandi. Amira pun mendongakkan kepalanya untuk melihat lebih jelas. Ternyata benar diatas bak mandi terdapat lubang sebesar tubuh orang dewasa. Entah apa gunanya lubang itu namun sepertinya memang sengaja dibuat disana.
Amira mencoba untuk meraih lubang itu dengan berdiri di bibir bak mandi yang terbuat dari keramik. Meskipun awalnya ia takut terpeleset namun akhirnya ia memberanikan diri untuk mencobanya. Setelah berhasil berdiri diatas bibir bak mandi ia pun mencoba meraih dengan tangannya. Tapi ternyata ia tak cukup tinggi untuk bisa meraih dengan tangannya. Amira pun berfikir sejenak. Kemudian ia pun menadapatkan ide lalu dengan segera dilepasnya kerudung pasmina yang dipakainya juga sebelah flat shoesnya.
Diikatkannya pasmina itu pada flat shoesnya. Kemudian dilemparkannya kearah lubang diatasnya. Setelah itu ditariknya perlahan berharap flat shoes itu menyangkut pada sesuatu diatas sana. Tapi ternyata flat shoes itu langsung terjatuh ke bawah. Tapi Amira tak putus asa berkali-kali ia mencoba dan gagal. Ia pun mencoba mengarahkan lemparannya ke berbagai sudut. Setelah beberapa kali merubah arah lemparannya akhirnya flat shoesnya itu menyangkut pada sesuatu.
Ia pun mencoba menarik lebih keras dan ternyata posisinya masih utuh. Dengan perlahan Amira menarik tubuhnya keatas dengan bertumpu pada pasminanya yang ia gunakan sebagai tali. Untung saja pasmina itu cukup kuat dan tidak sobek saat menahan beban tubuh Amira. Dengan perlahan ia menarik tubuhnya hingga mencapai eternit. Terakhir tangannya mencengkeram batang kayu yang berada diatas tempat flat shoesnya menyangkut. Dengan sekuat tenaga Amira menarik tubuhnya melewati lubang kecil yang sangat pas dengan tubuhnya itu dengan bertumpu pada batang kayu yang tadi dicengkeramnya.
Tubuh Amira telah bersimbah peluh saat akhirnya ia dapat duduk dibatang kayu tadi dengan kaki yang masih menggantung ke bawah. Dirabanya atap yang hanya seukurannya saat duduk. Ternyata atap itu terbuat dari genting. Amira pun menaikkan kakinya dan kini agak berjongkok diatas batang kayu ia mencoba menggeser genting yang ada diatasnya. Setelah beberapa saat akhirnya ia dapat menggeser beberapa buah genting hingga membuat lubang diatas atap. Dilepasnya ikatan pasmina pada flat shoesnya dan mengenakannya asal begitupun dengan flat shoesnya langsung ia pakai untuk melindungi kakinya.
Saat mencoba untuk naik keatas atap ternyata terdapat kayu penyangga geting yang harus ia patahkan dulu agar tubuhnya bisa keluar. Dengan mengerahkan tenaganya ia pun mematahkan beberapa kayu penyangga genting. Amira bersyukur dulu ikut karate sehingga soal mematahkan kayu dengan tangan kosong ia juga bisa. Setelah berhasil membuat lubang yang seukuran tubuhnya Amira pun keluar ke atas atap. Dipandanginya sekelilingnya. Amira menengok ke bawah bisa diperkirakan jika kini ia berada diketinggian sekitar enam sampai delapan meter dari tanah.
Ini berarti ia tidak mungkin langsung terjun ke bawah. Ia pun kembali mengamati sekelilingnya mencari pijakan agar ia dapat turun ke bawah dengan aman. Saat menengok ke sisi samping tembok tempat ia keluar tadi tampak pipa air yang cukup besar menjulang dari atas ke bawah. Mungkin itu pipa untuk mengalirkan air hujan dari atap. Dicobanya untuk menggoyangkan pipa itu untuk memperkirakan kekuatan pipa itu. Ternyata masih cukup kokoh. Ini berarti ia bisa menggunakannya untuk merosot ke bawah.
Amira membuka lagi pasminanya dan mengaitkannya pada pipa itu sebagai penahan tubuh dan pegangannya saat merosot turun dari pipa. Ia berusaha melakukannya dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara. Dengan hati-hati ia turun dengan berpegangan erat pada pasminanya. Kakinya pun dikaitkan pada pipa agar ia tak terlalu cepat merosot dari atas. Awalnya Amira melakukannya dengan sangat lambat karena baru kali ini ia melakukannya. Namun tak lama ia pun bisa bergerak lebih cepat dan meluncur lancar ke bawah.
Sesampainya di atas tanah Amira segera melepas pasminanya dari pipa dan mengenakannya lagi. Lalu ia pun memandang sekelilingnya, sepertinya tempat itu berada ditengah hutan. Amira mencoba mengingat arah cahaya lampu perkotaan yang sempat dilihatnya dari jendela kamar tempatnya tadi disekap. Kemudian ia menatap langit mencoba mencari arah menggunakan rasi bintang. Setelah menemukan rasi bintang pemandunya ia pun mulai berjalan walau tanpa penerangan hanya mengandalkan insting dan juga sesekali menatap rasi bintang pemandunya.
Sesekali kali kakinya tersandung dan hampir jatuh karena ia tak dapat melihat jelas sebab tempat itu gelap tanpa penerangan. Namun Amira terus saja berjalan karena ia harus segera menjauh dari tempat ia di sekap tadi. Setelah lama berjalan dan merasa sudah cukup jauh ia pun berhenti karena kelelahan dan keadaan hutan yang semakin lebat membuatnya tak bisa lagi memandang langit untuk melihat rasi bintang pemandunya. Amira pun menyandarkan tubuhnya pada batang sebuah pohon dan duduk ditanah dengan menyelonjorkan kakinya mengurangi lelah.
Tak ada ketakutan akan bertemu dengan hewan buas di hutan pada hati Amira saat ini. Yang ia takuti hanya kembali tertangkap oleh orang-orang yang telah menculiknya tadi. Karena kelelahan Amira pun tertidur dengan bersandar pada batang pohon.
Ditempat persembunyian Jimmy....
Anak buah Jimmy yang berjaga di depan pintu kamar tempat menyekap Amira sedikit terusik tidurnya saat mendengar suara gaduh diatap.
"Heh kau dengar suara itu? seperti ada yang berjalan diatas genting!" ucap salah satu diantara mereka.
__ADS_1
"Ah palingan cuma suara tikus..." sahut temannya lalu menguap lebar.
"Masak tikus suaranya keras begitu?"
"Ah kau ini kayak ga pernah tinggal ditempat kumuh saja... apa kamu ga ingat kalau suara tikus disana itu malah lebih keras daripada tadi..." tukas temannya malas.
"Ya sudah aku tidur dulu.... kamu giliran jaga!" sambungnya.
Akhirnya mereka pun diam. Salah satu diantara mereka langsung tertidur sedang yang lainnya tetap berjaga. Mereka tak menyangka jika suara yang mereka dengar tadi adalah suara Amira yang sedang berusaha lari dari tempat itu.
.........
Pagi menjelang semburat cahaya mentari yang menyelusup diantara daun pepohonan menyilaukan mata Amira. Ia baru tersadar jika ia berada di tengah hutan. Segera ia bertayyamum dan sholat meskipun terlambat dan ditempat yang darurat. Selesai sholat ia mengandalkan cahaya mentari sebagai penunjuk arahnya. Sesekali ia menajamkan telinganya berharap mendengar suara gemericik air sungai. Begitu pun dengan penciumannya ia berusaha membaui bau sungai. Jika menemukan sungai ia akan lebih mudah untuk mencari jalan keluar dari dalam hutan.
Sementara Jimmy yang terbangun dari tidurnya segera menuju laptopnya untuk melihat keaadan Amira. Ia sangat terkejut saat menatap layar laptopnya dan tak terlihat Amira disana. Namun saat melihat pintu kamar mandi yang tertutup ia menduga jika Amira berada didalam sana. Ia pun meninggalkan laptopnya dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi kamarnya.
Selesai mandi dan berganti pakaian ia pun kembali memeriksa cctv di kamar Amira. Namun wanita itu tetap saja tak tampak dan pintu kamar mandinya pun masih saja tertutup. Jimmy mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja pria itu langsung keluar dari kamarnya dan berlari kearah kamar tempat Amira ia sekap. Tampak di depan pintu kamar kedua anak buahnya sedang berdiri terkantuk-kantuk.
Dengan cepat salah satu diantara mereka mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar. Mereka langsung kaget karena melihat Amira tak berada disana. Jimmy yang langsung masuk segera mendobrak pintu kamar mandi. Dengan dua kali tendangan pintu kamar mandi itu roboh ke dalam kamar mandi. Tampak jika kamar mandi itu juga kosong.
Jimmy segera masuk ke dalam kamar mandi dengan menginjak pintu yang roboh dilantai. Ia menyisir seluruh kamar mandi dengan matanya. Dan saat ia mendongak keatas ia dapat melihat sebuah lubang diatas bak mandi. Dia pun langsung menggeram kesal. Ia sudah bisa menduga jika Amira pasti kabur melalui lubang itu. Kedua anak buahnya yang juga ikut melihat lubang diatas bak mandi pun saling pandang tak menyangka wanita gendut itu mampu memanjat keluar lewat atap.
"Kau memang sangat pintar dan pemberani Upik Bagak ..." gumamnya sambil tersenyum tipis.
Ia pun segera menyuruh anak buahnya untuk mencari Amira disekitar tempat itu. Ia yakin wanita itu pasti belum pergi jauh.
Ditempat berbeda.... tuan Sam yang sudah bangun sejak subuh masih terpekur didepan sajadahnya. Sejak sholat subuh tadi ia belum beranjak dari sana. Sedari tadi ia terus merapalkan do'a untuk keselamatan istrinya dan bayi yang ada dalam kandungan istrinya itu. Sejak mengenal Amira ia tahu bahwa saat seperti ini hanya kepada Allah lah ia bisa mengadu dan meminta pertolongan. Karena bagaimana pun kuatnya manusia berusaha hanya Dia sang Khalik lah yang menentukan segalanya.
__ADS_1
Puas berdo'a tuan Sam bangkit dari duduknya dan melipat sajadahnya. Biasanya ada Amira dibelakangnya sebagai makmum saat mereka sholat. Tapi kini keberadaan wanita itu pun ia tak tahu. Rasa rindu dan cemas sungguh sangat menyesakkan dadanya. Pria tangguh itu pun kini terlihat lemah karena separuh jiwanya entah kemana. Setelah berganti pakaian ia pun segera keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju ruang makan.
Tampak semua keluarganya juga Lukas sudah menunggunya disana.
"Ayo kita sarapan dulu kak..." ajak nyonya Sarah sambil melayani suami dan kakaknya makan.
Sedang kedua anak Sarah tampak sudah mulai menyantap makanan mereka karena sebentar lagi harus berangkat ke sekolah.
"Bram... Sarah ... bisakah kalian tinggal disini untuk sementara? sampai Amira ditemukan..." kata tuan Sam.
"Baik kak..." sahut tuan Bram tanpa pikir panjang.
Ia tahu kakak iparnya itu sangat membutuhkan dukungan adiknya disaat seperti ini. Selesai makan tuan Bram langsung berangkat ke kantor sedang tuan Sam dan Lukas harus ke kantor polisi terlebih dahulu untuk menanyakan perkembangan pencarian Amira. Walau tuan Sam juga sudah menyebar anak buahnya untuk mencari istrinya itu.
Saat mereka di dalam mobil ponsel tuan Sam berbunyi. Tampak salah satu anak buahnya menelfon.
"Halo tuan.... kami baru dapat petunjuk jika nyonya sepertinya di bawa ke daerah S..."
"Apa kau tahu lokasi pastinya?" tanya tuan Sam bersemangat.
"Belum tuan... karena tempat itu cukup terpencil dan dikelilingi oleh gunung dan hutan"
"Baiklah aku akan menambah orang untuk menyisir tempat itu..." kata tuan Sam lalu mematikan ponselnya.
Kemudian ia pun kembali menghubungi anak buahnya yang lain untuk membantu menyisir daerah S. Lukas yang sedari tadi menyetir hanya mendengarkan saja percakapan tuannya.
"Apa kita tetap ke kantor polisi atau langsung ke daerah S tuan?" tanyanya saat tuan Sam baru saja mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Kita ke kantor polisi dulu.... baru kemudian kita langsung ke daerah S..." sahut tuan Sam.
Lukas pun mengangguk dan segera melajukan mobilnya ke kantor polisi.