BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Menyingkap Tabir 1


__ADS_3

Suara alarm dari ponselnya membuat Dira terbangun dari tidurnya. Gadis itu tampak sedikit terkejut saat baru membuka matanya dan mendapati jika ia tidur di kamar yang asing. Namun setelah menoleh ke samping dan melihat wajah Ayana yang tertidur disampingnya Dira pun tersadar jika dia tengah tidur di kamar gadis itu. Perlahan ia pun bangun dari tidurnya. Saat melihat jam pada ponselnya Dira pun langsung membangunkan Ayana dan Deni untuk sholat subuh bersama. Kedua kakak beradik itu tampak agak malas saat harus bangun pagi. Namun saat Dira mengatakan jika keduanya harus rajin sholat untuk mendo'akan sang mama, keduanya pun langsung bersemangat.


Selesai beribadah Ayana mengajak Dira untuk berbicara serius. Deni pun nampak duduk tenang disamping sang kakak. Kemudian Ayana pun mulai menceritakan semua yang terjadi pada mamanya. Dira yang terlahir di keluarga yang harmonis tentu saja sangat terkejut mendengarkan kisah keluarga Ayana. Gadis itu sungguh merasa sangat iba dengan nasib sahabatnya itu. Apa lagi mamanya yang ternyata meninggal karena dibunuh oleh seseorang yang dikenal oleh kedua kakak beradik itu.


"Lalu... selain kesaksian kalian berdua apa ada bukti lain yang bisa membuat pembunuh itu diadili?" tanya Dira.


"Mama sebelum meninggal sempat berkata bahwa dia memiliki bukti kejahatan orang itu... dan bukti itu ada di dalam kamarnya" terang Ayana.


"Apa kau tahu tempat pastinya?"


"Iya... mama juga sempat menunjukkannya padaku Ra..." sahut Ayana yang diiyakan oleh Deni.


"Kalau begitu kita harus segera mengambilnya sebelum orang lain yang melakukannya Ay" ucap Dira serius.


"Apa kau fikir ada orang yang tahu jika mamaku menyimpan bukti kejahatan mereka Ra?"


"Mungkin saja... karena itulah kita harus bergerak cepat sebelum terlambat!"


Ketiga remaja tanggung itu pun kemudian berencana masuk ke dalam kamar Siska saat itu juga. Karena waktu pagi merupakan waktu yang tepat, sebab sebagian besar anggota keluarga disana bangun siang. Kecuali para pekerja disana. Dengan mengendap-endap ketiganya berjalan beriringan menuju ke kamar Siska. Beruntung kamar Siska sama sekali tidak dikunci, sehingga ketiganya dengan mudah masuk ke dalam kamar. Keadaan kamar yang dalam keadaan lampu masih menyala juga membuat ketiganya dengan mudah menemukan benda yang dimaksudkan oleh Siska sebelum ia meninggal.


Dengan bergetar Ayana memeriksa penyangga buku yang dimaksud oleh mamanya. Benar saja, penyangga buku itu bukan penyangga biasa... karena disana ada celah yang terdapat sesuatu benda seperti sebuah kamera kecil dengan perekam audio juga. Ayana bergegas langsung mengamankan benda itu ke dalam saku celana tidurnya, kemudian bergegas keluar dari dalam sana. Namun tiba-tiba Dira menghentikan langkah Ayana.


"Apa kau yakin jika mamamu hanya memiliki bukti ini saja?" tanya Dira.


"Maksudnya?"


"Mungkin saja kan... mama kamu juga punya bukti lain yang bisa memperberat hukuman mereka Ay... bukti berupa dokumen misalnya..." terang Dira.


Ayana dan Deni pun terlihat berfikir. Keduanya pun setuju dengan pendapat Dira.


"Kalau begitu kira cari lagi... mungkin mama juga menyembunyikan bukti yang lainnya..." ujar Deni yang langsung bersemangat.


Ayana dan Dira pun mengangguk setuju. Lalu mereka pun kembali menggeledah kamar Siska berharap wanita itu memiliki bukti lain dan di disimpan di kamarnya.


"Kakak... lihat ini!" seru Deni lirih memanggil sang kakak juga Dira.

__ADS_1


Kedua gadis yang sedang sibuk menggeledah kamar Siska itu pun langsung menoleh dan beranjak mendekat ke arah Deni. Tampak bocah itu memperlihatkan sebuah buku harian yang ia temukan di dalam laci nakas. Ayana menatap buku harian itu yang diperkirakan adalah milik sang mama. Ayana mengambil buku itu dari sang adik dan membukanya. Tampak disana tertulis nama sang pemilik yaitu Siska.


"Ini memang buku harian mama..." ucap Ayana lirih.


"Kita baca di kamar kamu saja Ay... disini sangat berbahaya..." kata Dira memperingatkan sahabatnya itu.


Ayana dan Deni pun mengangguk setuju, lalu ketiganya bergerak untuk keluar dari dalam kamar. Dengan kembali mengendap-endap ketiganya kembali ke kamar Ayana. Sesampainya di sana Ayana langsung mengunci pintu kamarnya agar tidak ada orang lain yang masuk ke dalam kamar tiba-tiba. Ketiganya duduk berjejer di atas tempat tidur dan mulai membaca tiap lembar dalam buku harian itu bersama. Dari sana keduanya baru mengerti mengapa mama Siska bisa masuk ke dalam keluarga Suryono. Disana juga Siska menyatakan alasan mengapa bu Ratri begitu mempercayainya dan membenci Jihan, wanita yang jelas-jelas dicintai sang cucu dan disetujui oleh anak dan menantunya.


"Oma begitu mempercayaiku untuk memastikan wanita itu tidak menjadi cucu menantunya... sungguh aku merasa sangat tersanjung setelah apa yang pernah aku lakukan di masa lalu... mungkin inilah bentuk penebusanku atas dosa-dosaku dulu... meski bukan pada mereka yang aku sakiti, namun setidaknya aku bisa menjadi manusia baru yang bisa membalas budi"


Ungkapan yang terasa sangat tulus dari Siska saat menulis setiap kata dalam lembaran buku harian itu. Ketiga anak yang membacanyanya pun sampai meneteskan air mata saat kembali membaca setiap lembaran lain yang mereka baca. Hingga saat di mana mereka menemukan tulisan di hari terakhir bu Ratri meninggal dunia...


"Hari ini keadaan Oma semakin memburuk hingga harus dilarikan ke rumah sakit... namun sesaat sebelum beliau benar-benar dibawa pergi, beliau sempat menyuruhku untuk mengambil kotak perhiasan kecil yang sangat disukainya. Aku fikir Oma akan menyuruhku untuk menyimpan perhiasannya ke tempat yang lebih aman... tapi aku keliru... kotak itu hanya kamuflase saja... sebenarnya disana terdapat sebuah flash disk yang aku tak tahu isinya apa... Oma hanya berpesan agar aku menyimpan benda itu ke tempat yang lebih aman... dan menyuruhku membuka isinya saat keadaan cukup aman..."


Ketiga anak itu pun langsung saling pandang. Ternyata bukan hanya rekaman yang mereka dapat di kamar Siska yang bisa dijadikan alat bukti. Kini mereka juga harus mencari rekaman lain yang disembunyikan Siska ditempat yang lain. Ketiganya pun kemudian melanjutkan membaca buku harian Siska berharap mereka bisa mendapatkan petunjuk di mana bukti lain itu berada.


"Hari ini aku sengaja membawa flash disk milik Oma untuk aku simpan di tempat yang lebih aman. Aku tidak punya fikiran lain selain Keysha. Ya... aku harus menyembunyikannya di tempat Keysha... tapi aku tidak bisa memberitahukannya padanya karena ini demi keselamatan nyawanya"


Tiga anak itu kembali saling pandang. Mereka tidak mengerti mengapa begitu penting isi dari flash disk yang dibicarakan Siska di dalam buku hariannya. Mereka pun melanjutkan membaca buku harian itu. Namun hingga halaman terakhir Siska tak pernah lagi menyebutkan tentang flash disk itu di dalam buku hariannya. Namun Ayana dan Deni tampak semakin sedih saat mengetahui semua rasa kesakitan yang disimpan oleh Siska selama pernikahannya. Saat selesai membaca buku harian Siska, kakak beradik itu pun saling berpelukan dan menangis bersama. Bahkan Dira pun ikut menitikkan air matanya sambil memandang sendu pada sahabatnya dan juga adiknya itu.


Ayana dan Deni pun segera menghapus air mata mereka.


"Kau benar Ra... aku tidak akan membiarkan mama terus menerus jadi kambing hitam... mungkin sebelumnya mama bukan orang yang baik... tapi dia sudah berubah dan saat bertemu dengan oma dia berusaha untuk menjadi orang yang tahu balas budi dan bersedia membantu oma menjaga keluarganya meski harus selalu menderita..." ujar Ayana berusaha untuk tegar.


"Iya kak... aku juga harus menebus semua kesalahanku pada mama..." sahut Deni yang merasa bersalah telah termakan hasutan orang untuk membenci mamanya.


Ayana langsung memeluk tubuhbsang adik yang tampak ringkih setelah kematian mama mereka.


"Jangan selalu menyalahkan dirimu dek... mama juga tahu jika kau anak yang baik... dan beliau juga sudah memaafkan semua kesalahanmu... kau ingat? betapa mama sangat bahagia saat liburan kita kemari?"


Deni menganggukkan kepalanya pelan.


"Saat itu mama terlihat sangat bahagia... kita bertiga bisa bersama-sama menghabiskan waktu bersama... itu hadiah terindah untuk mama sebelum kematiannya..." terang Ayana yang berhasil membuat Deni menampakkan senyumannya.


"Jadi bagaimana caranya kita mencari flash disk itu di tempat tante Keysha sedang beliau sendiri tidak pernah mengetahuinya?" tanya Ayana bingung.

__ADS_1


"Tenang saja Ay... aku akan memikirkan caranya, sekarang kita harus menyembunyikan rekaman di kamar mama kamu dulu agar tidak jatuh ditangan orang jahat itu" ujar Dira.


"Mungkin lebih baik jika kamu yang menyimpannya Ra... karena di sini tidak aman..." usul Ayana.


Deni juga langsung menyetujui usul kakaknya itu. Setelah berfikir sejenak Dira pun akhirnya setuju. Ia pun menyarankan agar untuk membahas masalah mereka hanya di sekolah agar tidak ada orang di rumah Ayana curiga. Ketiga anak itu pun sepakat dan Dira langsung memasukkan bukti rekaman di kamar Siska ke dalam tas pakaiannya.


"Untuk sementara kalian harus bersikap biasa seolah kalian tidak tahu apa-apa... dan seperti yang sudah aku bilang sebelumnya aku akan pulang hari ini agar bisa menyimpan rekaman itu di rumahku..." ujar Dira.


Ayana dan Deni pun setuju. Dan setelah sarapan bersama Dira benar-benar pamit untuk pulang. Rendra dan keluarganya pun tidak keberatan, dan bahkan menawarkan agar Dira mau menginap lagi disana apalagi setelah tahu siapa orangtuanya. Dira hanya tersenyum dan mengiyakan ajakan mereka tanpa memberikan kepastian kapan dia akan kembali menginap. Saat Ayana mengantarkan Dira masuk ke dalam mobil yang menjemputnya Dira kembali memberikan semangat pada Ayana. Keduanya pun saling berpelukan sebelum akhirnya Dira masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumahnya.


Seperti yang sudah disepakati Ayana dan Deni pun melanjutkan hidupnya dengan normal. Dan Deni lebih dekat dengan Ayana. Walau agak merasa aneh namun Rendra dan keluarganya bisa memakluminya jika sejak kematian Siska, Ayana dan Deni menjadi lebih dekat. Meski Deni merasa muak dengan tingkah papa dan keluarganya terutama Jihan yang membuat bocah sepuluh tahun itu sangat ingin membuat perhitungan, tapi ia harus menahan dirinya dengan tetap berusaha bersikap ramah karena ia dan sang kakak akan berusaha mengungkap segalanya demi nama baik sang mama dibantu Dira.


Setelah tiga hari tidak masuk sekolah karena berkabung akibat meninggalnya sang mama, akhirnya Ayana pun mulai masuk sekolah. Dan hari ini untuk pertama kalinya ia bertemu kembali dengan Dira. Sejak kembali ke rumahnya, memang Dira tidak pernah datang lagi ke rumahnya. Tapi keduanya masih saling berkomunikasi melalui ponsel mereka. Mereka memang sengaja melakukannya agar papa Ayana dan keluarganya tidak curiga.


"Apa kau sudah punya rencana bagaimana caranya mencari flash disk yang dibicarakan mamaku di tempat tante Keysha, Ra?" tanya Ayana saat keduanya duduk berdua di pojok taman sekolah mereka saat jam istirahat.


"Aku masih belum punya ide Ay... apa lagi seperti yang kau bilang jika tante Keysha memiliki usaha club dan sekaligus tinggal di sana... dan kau tahu kan tempat itu hanya bisa dimasuki oleh orang dewasa..." kata Dira serius.


"Kau benar... lalu kita harus bagaimana?" ungkap Ayana sendu.


Tiba-tiba Dira tersenyum karena baru saja ia mendapatkan ide cemerlang di kepalanya. Dia pun langsung berbisik pada Ayana mengungkapkan idenya. Mendengar ide Dira, Ayana langsung membulatkan kepalanya dan memandang wajah sahabatnya itu tak percaya.


"Bagaimana ideku? sangat brilliant kan?" kata Dira sambil menaik turunkan alisnya.


"Tapi itu besar sekali resikonya Ra... bagaimana jika kita ketahuan dan mereka melaporkan pada orangtua kita he?"


"Tenang saja Ay... aku ini cukup bisa diandalkan jika hanya soal begituan... jadi... percaya saja padaku ya!"


"Dari mana kau bisa dapat ide seperti itu sih Ra?"


"Aku kan suka baca novel Agatha Cristie, Ay..." sahut Dira bangga.


"Hem... ya sudah aku percaya sama kamu... aku ikut saja dengan rencanamu itu..." ujar Ayana akhirnya.


Dira pun langsung tersenyum bahagia dan mengajak Ayana untuk melakukan tos bersama. Dan keduanya pun langsung tertawa bersama setelah melakukan tos.

__ADS_1


__ADS_2