
Sahir dan Samir sampai di pinggir hutan, kedua kakak beradik itu pun langsung turun dari dalam mobil karena tidak mungkin bagi mereka untuk mengendarainya di dalam hutan. Dengan langkah panjang keduanya masuk ke dalam hutan yang terlihat cukup lebat. Dari GPS dapat diketahui jika pergerakan Sadira melambat. Itu artinya sang adik tidak lagi mengendarai sepeda motor dan memilih untuk berjalan kaki. Kedua kakak beradik kembar itu tampak lincah bergerak di dalam hutan, sebab mereka berdua memang sama-sama menyukai bertualang di alam dan sering mengikuti kegiatan pencinta alam. Mungkin ini karena dulu saat dalam kandungan sang bunda juga pernah berjuang sendirian di dalam hutan saat diculik.
"Apa kau masih bisa mendapatkan sinyalnya?" tanya Sahir pada Samir karena cemas jika kelebatan hutan bisa mengganggu sinyal GPS yang ada di kalung Sadira.
"Sejauh ini masih aman kak... sinyalnya masih terekam kuat..." sahut Samir yang masih memperhatikan sinyal GPS dari ponsel pintarnya.
"Kau tahu... rasanya aku ingin sekali memukul teman Dira itu karena sudah membuat adik kita yang manja itu menjadi gadis bar-bar" cetus Sahir sambil mengibaskan tangannya membuka jalan untuk mereka lewat.
"Apa kakak ingin membuat singa betina itu marah?" tanya Samir sambil terkekeh karena ia tahu jika Sadira akan mengamuk jika ada yang mengganggu sahabatnya itu.
Sahir tidak menjawab pertanyaan Samir dan hanya bisa mendengus kesal. Karena apa yang dikatakan oleh kembarannya itu benar. Tidak ada yang berani membuat Sadira marah. Apa lagi jika gadis itu merasa benar. Tak lama keduanya menemukan jejak ban mobil di dalam hutan. Keduanya pun bergegas mengikuti jejak itu. Dan tak jauh dari tempat pertama mereka menemukan jejak, mereka menemukan sebuah mobil yang teronggok tanpa ada penumpangnya. Kaca depan mobil itu pun tampak pecah seperti membentur sesuatu.
Sahir dan Samir langsung memeriksa mobil itu dengan teliti. Bahkan Samir mencoba mencocokkan mobil itu dengan mobil yang tengah dikejar oleh Sadira di dalam rekaman yang tadi ia tonton.
"Kak... ini mobil yang tadi dikejar oleh Dira..." ucap Samir sambil memperlihatkan rekaman yang ada di dalam ponselnya.
Sahir pun ikut mencocokkan mobil yang ada di dalam rekaman dengan mobil yang mereka temukan. Akhirnya Sahir pun mengangguk menyetujui perkataan Samir.
"Kalau begitu ini mobil yang membawa teman Dira itu... tapi dimana mereka?" ujar Sahir sambil memutar kepalanya mencoba mencari di sekitarnya.
"Apa mungkin telah terjadi sesuatu sehingga mereka semua meninggalkan mobil ini disini? sambungnya.
"Mungkin saja kak" sahut Samir.
Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan. Sedangkan di tempat tak jauh dari sana terlihat Sadira tengah mencoba untuk menghubungi sang ayah dengan menggunakan ponselnya. Ketiganya kini tengah duduk bersembunyi di dalam semak-semak sambil memulihkan tenaga mereka.
"Arrghh!" seru Sadira frustasi saat menyadari jika banterai ponselnya habis.
"Kenapa Ra?" tanya Ayana yang melihat Sadira mengerang frustasi.
"Baterai ponselku habis Ay... kita tidak bisa menghubungi ayahku..." terang Sadira kecewa.
"Jangan putus asa Ra... kita cari jalan keluar yang lain..." kata Ayana sambil tersenyum mencoba memberi semangat sahabatnya itu.
Ia juga tidak bisa menggunakan ponselnya karena ponselnya tertinggal di tasnya yang ada di dalam mobil. Begitu juga dengan ponsel milik Deni. Ketiganya pun terdiam untuk sesaat.
"Kak..." bisik Deni saat terdengar suara beberapa langkah kaki mendekat.
Ayana langsung memeluk adiknya itu untuk memberi rasa aman. Sementara Sadira mencoba untuk mengintip siapa yang datang dari sela dedaunan semak. Tak lama terlihat beberapa daun pepohonan tersibak. Dan disana tampak Jihan dan kedua anak buahnya berjalan mendekat.
"S***t! dasar bocah-bocah s**l*n! awas saja akan aku hancurkan kalau ketemu!" sungut Jihan.
Ketiga bocah yang tengah bersembunyi di semak tak jauh dari Jihan dan anak buahnya itu tak berani bergerak.
"Kau! coba kau cari ke arah sana... dan kau, pergi ke sana!" titah Jihan pada kedua anak buahnya untuk berpencar.
Sementara dia sendiri juga mengambil arah lain. Begitu ketiga orang itu tidak terlihat, Ayana dan yang lainnya segera keluar dari persembunyian mereka.
"Kita pergi ke arah mereka tadi datang Ay... itu pasti jalan keluar..." usul Sadira.
Ayana dan Deni pun mengangguk setuju. Ketiganya langsung melangkah ke arah dari mana tadi Jihan dan yang lainnya datang. Ketiga melangkah dengan tergesa dan setengah berlari agar tidak diikuti oleh Jihan dan anak buahnya. Tiba-tiba saja seseorang menarik tangan Deni dari samping membuat bocah sepuluh tahun itu menjerit kaget.
__ADS_1
"Aarrrgh!"
"Mau kemana kau bocah nakal?"
Ayana dan Sadira pun langsung berbalik dan melihat Deni sudah berada didalam kungkungan salah satu anak buah Jihan.
"Lepaskan!" teriak Deni sambil meronta mencoba untuk melepaskan diri.
"Jangan mimpi!" seru pria itu sambil memiting tangan Deni.
"Lepaskan adikku!" teriak Ayana.
"Ha... ha... ha... coba saja kalau kau bisa bocah nakal!"
Tanpa diduga Sandira langsung meleparkan sebuah batu kecil pada pria itu yang langsung mengenai kening pria itu dan membuatnya langsung mengaduh.
"Augh!" pria itu mengaduh sambil memegangi keningnya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Deni. Bocah itu langsung membebaskan dirinya dan berlari ke arah sang kakak dan Sadira. Kemudian ketiganya pun kembali berlari bersama.
Dor!
Terdengar suara tembakan yang membuat ketiganya pun langsung berhenti. Dengan perlahan mereka bertiga pun membalikkan badan. Terlihat Jihan dan anak buahnya yang lain sudah ada di sana. Sepertinya anak buah Jihan yang baru datang itulah yang menembakkan senjatanya.
"Dasar pengacau! kalian memang benar-benar membuatku kesal!" seru Jihan.
Jihan langsung menyuruh kedua anak buahnya untuk mengikat ketiga anak itu. Sementara ia yang menodongkan senjata agar ketiganya menurut. Setelah mengikat ketiganya, Jihan dan anak buahnya pun menggiring ketiganya untuk kembali ke mobil. Tapi tiba-tiba saja ketiga penjahat itu diserang oleh dua orang pemuda yang membuat kedua anak buah Jihan menjadi kuwalahan.
Tanpa diberitahu, ketiga anak itu pun langsung saling tolong untuk berusaha membuka ikatan pada tangan mereka, saat Jihan tengah teralihkan perhatiannya sehingga tidak menyadarinya. Begitu ikatan pada tangannya terlepas, Sadira langsung melayangkan tendangannya pada Jihan, yang membuat wanita itu langsung tersungkur.
"Biar aku yang melawannya Ra..." cegah Ayana saat Sadira akan kembali melayangkan pukulannya.
Mendengar perkataan Ayana, Sadira pun mundur. Ia tahu Ayana ingin sekali membalaskan sakit hatinya pada Jihan. Jihan yang melihat ketiga anak itu yang sudah terbebas menjadi murka. Ia pun segera menyerang Ayana dengan membabi buta. Tanpa ia tahu jika Ayana bukanlah anak gadis manja yang feminim. Apa lagi selama mengenal Sadira, ia juga ikut dengan gadis itu jika Sadira sedang latihan karate ditempat kursusnya. Hal ini membuat serangan yang dilakukan oleh Jihan sama sekali tidak berarti baginya.
Dengan cepat gadis itu bisa menghindar dan bahkan bisa membalas serangan Jihan dengan tidak kalah ganasnya. Jihan langsung sadar jika gadis dihadapannya bukanlah lawan yang mudah. Bahkan kini ia malah menjadi bulan-bulanan gadis itu. Tapi sepertinya Ayana belum merasa puas. Gadis itu terus saja melancarkan serangannya pada Jihan yang membuat tubuh wanita itu kini menjadi babak belur.
"Kau sangat membangggakan kecantikan wajah kamu kan? karena dengan wajah lugumu ini kau bisa menggoda papaku... karena itu saat ini akan aku hancurkan apa yang selama ini kamu banggakan hingga kau tidak akan pernah bisa lagi memiliki muka untuk berhadapan dengan orang lain..." kata Ayana penuh amarah saat melihat Jihan yang sudah terkapar diatas tanah.
Tanpa diduga gadis itu menyerang wajah Jihan dengan menggunakan sebuah batu tajam yang tadi digunakannnya untuk melepaskan ikatannya. Jihan langsung menjerit sambil memegangi wajahnya yang kini sudah mengeluarkan darah. Tapi Ayana tidak mau berhenti. Gadis itu sudah seperti kesetanan, ia kembali menyerang Jihan dan kembali menorehkan luka pada wajah wanita itu. Ayana terbayang dengan kesakitan sang mama saat menjemput ajal akibat dipaksa minum racun oleh Jihan. Gadis itu merasa kesakitan wanita itu saat ini tidak ada bandingannya dengan kesakitan yang diderita sang mama.
Saat Ayana akan kembali menyakiti Jihan, tiba-tiba seseorang menahannya dengan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kakak sudah..." terdengar suara Deni sang adik yang berusaha menghentikan kebrutalan sang kakak.
Sadira yang sedari tadi terperangah dengan sikap Ayana yang terlihat sadis pun mulai tersadar dan ikut memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Jangan kotori tangamu dengan mengambil nyawa wanita i***s itu Ay... mama kamu pasti akan sedih jika melihat putri kesayangannya berubah menjadi kejam seperti ini..." ucap Sadira lembut.
Ia tahu saat ini Ayana hanya sedang terpancing emosi karena tindakan Jihan yang tak pernah jera untuk menyakiti Ayana dan adiknya. Mendengar perkataan adik dan juga sahabatnya membuat Ayana tersadar dan tubuh gadis itu pun langsung terkulai lemah. Ia seolah baru tersadar dari perbuatannya tadi.
"Maafkan aku mama..." gumamnya lirih namun masih bisa didengar oleh Sadira dan juga Deni yang masih memeluk tubuh Ayana dengan erat.
__ADS_1
Sementara kedua anak buah Jihan sudah bisa ditaklukkan oleh Sahir dan juga Samir. Bahkan Jihan pun sudah diamankan oleh keduanya. Saat itulah tuan Sam dan yang lainnya datang bersama anggota kepolisian. Jihan dan anak buahnya pun langsung dibawa untuk diamankan. Sementara tuan Sam langsung memeluk putri bungsunya itu.
"Kau sudah membuat kami semua khawatir Ra..." ucap tuan Sam sambil mengelus kepala putri bungsunya itu.
"Maafkan Dira ayah..." sahut Sadira sambil menenggelamkan wajahnya didalam pelukan sang ayah.
Setelah itu mereka pun keluar dari dalam hutan dan berniat untuk pulang.
"Ayah... boleh aku mengantar Aya dan Deni ke sekolah baru mereka dulu sebelum kita pulang ke rumah?" tanya Sadira pada tuan Sam.
"Baiklah..." sahut tuan Sam sambil tersenyum.
"Terima kasih ayah..." ucap Sadira senang.
Ayana dan Deni pun akhirnya diantar oleh tuan Sam dan Sadira ke sekolah baru mereka. Namun sebelum Ayana masuk ke dalam mobil tuan Sam, ia menghampiri kedua kakak Sadira yang tadi sudah menolongnya dan juga Deni.
"Kakak... aku ucapkan terima kasih karena kalian berdua sudah menolongku dan juga adikku..." ucap Ayana tulus.
Bahkan kedua mata gadis itu tampak sudah berkaca-kaca saat mengucapkan terima kasihnya karena sangat terharu. Bagaimana tidak... seluruh keluarga Sadira selalu saja menolongnya dan juga sang adik di saat keduanya di dalam kesulitan.
"Sama-sama... kalian berdua sudah kami anggap sebagai adik jadi jangan pernah merasa sungkan" sahut Samir.
Sementara Sahir hanya berdehem tanpa mau berucap sepatah kata pun.
"Sekali lagi terima kasih kak... sampai jumpa..." pamit Ayana.
Gadis itu pun langsung berbalik dan menyusul sang adik yang sudah bersama Sadira dan tuan Sam di dalam mobil.
"Sebenarnya gadis itu cukup manis juga..." ucap Samir saat memandang mobil yang ditumpangi Ayana dan yang lainnya melaju meninggalkan tempat itu.
Sementara Sahir hanya diam dan langsung berjalan ke arah mobilnya sendiri dan masuk ke dalamnya.
"Heh! kau mau terus di situ atau mau pulang?" sentak Sahir saat Samir tak juga masuk ke dalam mobil.
"Ah... iya-iya..." sahut Samir lalu berlari menuju ke mobil sang kakak.
"Tapi aku benarkan... kalau Aya itu manis?" ujar Samir saat dirinya sudah duduk disamping sang kakak di dalam mobil.
"Terserah!" sahut Sahir ketus.
"Cieee... roman-romannya ada yang cemburu nih kalau Aya ada yang memuji..." ledek Samir yang langsung mendapatkan jitakan pada kepalanya dari Sahir.
Bukannya kesakitan atau pun marah, Samir malah tertawa semakin keras karena sudah berhasil menggoda sang kakak. Sementara Ayana dan Deni sudah sampai di sekolah asrama mereka diantar oleh tuan Sam dan Sadira. Kedua sahabat itu tampak saling berpelukan saat akan berpisah.
"Janji ya Ay... jika kau sedang liburan dan pulang dari asrama kau mau menginap di rumahku..." kata Sadira saat keduanya mengurai pelukan mereka.
"Iya Ra... sudah... kamu jangan nangis terus... aku bukan pergi ke tempat yang jauh atau pun pergi berperang Ra..." ucap Ayana sambil terkekeh.
Bagaimana tidak... tadi saja saat berusaha menolongnya dan berhadapan dengan para penjahat gadis yang ada didepannya itu tampak sangat garang. Namun kini lihatlah... Sadira sudah banjir air mata saat keduanya akan berpisah sementara.
"Ya sudah... kamu masuklah... jangan lupa jika ada kesempatan telfon aku ya..."
__ADS_1
"Iya-iya... tuan putri..." sahut Ayana yang disambut dengan tawa oleh semua orang yang menyaksikan perpisahan penuh drama kedua sahabat itu.