BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Rahasia Anna


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak pesta resepsi Sandra dan Dave. Dan hari ini giliran Lukas yang melaksanakan pernikahannya dengan Lusi. Pesta pernikahan mereka diadakan di kampung halaman Lusi. Meski tidak terlalu mewah karena permintaan kedua pengantin namun sangat berkesan. Acara resepsi yang diadakan di tempat terbuka membuat para tamu merasa santai menikmati acara. Bahkan anak-anak juga tidak merasa bosan saat para orang dewasa menikmati acara resepsi karena disana juga ada tempat bermain khusus yang membuat mereka tidak berkeliaran.


"Selamat ya Luk... Lusi..." ucap tuan Sam pada kedua mempelai.


"Terima kasih tuan..." sahut Lukas.


"Kau tidak perlu bersikap terlalu formal seperti itu... hari ini pernikahanmu dan aku tamu undanganmu bukan bos mu!" kata tuan Sam.


"Baiklah..."


Sedangkan Amira tengah berpelukan dengan Lusi sambil mengucapkan selamat pada gadis itu. Ia merasa jika selain Sandra hanya Lusi yang mau berteman tulus dengannya. Tak dapat di pungkiri jika sampai saat ini Amira masih ada trauma saat menyadari jika Kartika dulu hanya berpura-pura mendekatinya. Meski ia tak bisa menyamaratakan setiap orang tapi Amira semakin waspada. Selesai menghadiri acara pernikahan Lukas dan Lusi, keluarga kecil tuan Sam pun segera pulang. Bukan tanpa alasan sebab Amira yang tengah mengandung sedang ngidam ingin makan rujak dengan bu Wati, ibu kosnya dulu.


Karenanya mau tidak mau tuan Sam pun terpaksa langsung kembali ke kotanya demi memenuhi ngidam istrinya itu. Sementara Sahir dan Samir tidak merasa keberatan karena keduanya justru senang menikmati perjalanan dengan mobil. Untung saja mereka menggunakan sopir sehingga tuan Sam dapat mengawasi kedua putranya sedang Amira malah sudah tertidur. Wanita hamil itu baru membuka matanya saat mereka sudah sampai di depan rumah bu Wati.


Bu Wati yang tak menyangka jika Amira berkunjung ke rumahnya tampak sangat bahagia. Apa lagi saat melihat Sahir dan Samir yang sudah semakin besar dan Amira yang sedang mengandung kembali. Setelah berbincang sebentar akhirnya Amira mengutarakan keinginannya pada bu Wati. Mendengar permintaan Amira, bu Wati tampak tidak keberatan dan justru sangat antusias membuatkan rujak untuk Amira. Untung saja pohon mangga di depan rumahnya sedang berbuah sehingga tidak perlu lagi membeli ke pasar.


Memang rujak mangga adalah keinginan Amira. Karena dulu saat Amira masih ngekos si rumah bu Wati ia sering dibuatkan rujak mangga oleh bu Wati. Bukan hanya untuk Amira tapi juga anak kos lainnya karena bu Wati selalu menganggap anak kosnya seperti anaknya sendiri. Setelah bercengkrama sambil makan rujak Amira dan tuan Sam pun berpamitan untuk pulang karena hari sudah mulai sore. Sahir dan Samir pun sudah terlelap karena kelelahan. Setelah sampai di rumah tuan Sam langsung membopong kedua putranya dibantu oleh sang sopir ke dalam kamar. Amira pun mengikuti mereka dari belakang. Setelah menyelimuti kedua putranya Amira baru masuk ke kamarnya dengan tuan Sam.


"Lebih baik kamu istirahat saja dulu Meyaa..." kata tuan Sam sambil menuntun istrinya itu ke tempat tidur.


"Tapi sebentar lagi magrib B... dan aku ingin mandi dulu..." sahut Amira.


"Ya sudah aku siapkan airnya dulu..."


"Ga usah B... aku pakai air biasa saja..."


"Jangan sayang... pakai air hangat saja... kau sedang mengandung jangan sampai nanti kau masuk angin..."


"Iya baiklah..."


Sambil menunggu tuan Sam menyiapkan air hangat Amira pun segera menyiapkan baju ganti untuknya dan juga tuan Sam. Ia tahu jika suaminya juga pasti sudah merasa gerah karena sejak tadi belum mandi. Tak lama tuan Sam pun keluar dari kamar mandi dan menyuruh Amira untuk segera mandi. Ia pun langsung mematuhi perintah tuan Sam. Setelah Amira selesai mandi giliran tuan Sam yang mandi. Keduanya kemudian membangunkan kedua putra mereka agar mandi. Untung saja kedua bocah itu tidak rewel dan langsung mau mandi setelah bangun.


Bahkan keduanya mandi sendiri dengan air hangat sedang Amira hanya mengawasi keduanya agar tidak bermain air. Setelah membantu kedua putranya berpakaian ia pun mengajak keduanya ke ruang keluarga menemui tuan Sam yang tengah bersantai dengan minum teh disana. Sahir dan Samir bahkan ikut-ikutan ingin minum teh seperti ayah mereka. Jadilah keluarga kecil itu bersantai sambil minum teh menunggu maghrib tiba.


Di tempat lain Raja baru saja pulang dari kantornya dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sejak keluar dari dunia hitam Raja melakukan semuanya sendiri tanpa pengawalan ketat dari anak buahnya. Hanya sesekali saja asistennya menemani. Raja memang ingin merasakan hidup bebas tanpa takut mendapat serangan dari lawannya. Meski ia tahu dunia bisnis juga bisa sama kejamnya dengan dunia hitam yang dulu digelutinya. Tapi tetap saja saat ini ia ingin menikmati kehidupan normal orang biasa yang tak bersinggungan dengan dunia hitam.


Saat melajukan mobilnya menuju ke apartemennya tiba-tiba ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Dengan perlahan ia mencoba mengikutinya dan mencoba mengingat sosok yang ada dihadapannya itu. Seketika ia langsung teringat saat sosok itu berhenti dan menolehkan kepalanya ke samping membuat Raja dapat melihat dengan jelas siapa orang itu.

__ADS_1


"Anna?" gumam Raja terkejut saat mengenali gadis kecil itu.


Segera Raja keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Anna yang berdiri di tepi jalan.


"Anna! sedang apa kamu di sini?" tanya Raja.


"O... om Raja..." sahut gadis kecil itu kaget.


"Hei... katakan kenapa kamu ada disini? bukankah ini bukan jalan menuju rumahmu dan juga jauh dari sekolahmu?" tanya Raja penasaran karena gadis itu berada jauh dari rumah dan juga sekolahnya apa lagi saat ini sudah petang dan hampir gelap.


Jika dari sekolah tidak mungkin sebab ia tahu jika jam sekolah Anna hanya sampai jam satu siang. Sebab ia pernah beberapa kali membantu menjemput gadis itu pulang sekolah saat kedua orangtuanya dan juga Amira tidak bisa menjemputnya dan Adit adiknya yang masih satu sekolah dengan Anna.


"A... aku..." gadis kecil itu tampak sedikit ketakutan karena ketahuan berada jauh dari rumah saat hari sudah petang.


"Sudahlah... ikut om sekarang... akan om antar kamu pulang..." kata Raja kemudian lalu membimbing Anna untuk masuk ke dalam mobilnya.


Anna pun hanya menurut karena memang ia ingin cepat pulang dan takut dimarahi kedua orangtuanya. Setelah memastikan Anna masuk ke dalam mobil dan memakaikan sabuk pengamannya Raja pun langsung memutari mobilnya dari depan dan masuk ke kursi sopir dan menyalakan mobilnya. Anna yang duduk disampingnya tampak sedikit gugup. Gadis kecil itu masih takut jika ia akan dimarahi oleh Raja dan juga kedua orangtuanya.


"Kamu kenapa bisa ada disana tadi hem?" tanya Raja lembut sambil menjalankan mobilnya.


Ia tahu jika Anna pasti takut jika ia memarahinya.


"Kenapa tidak telfon rumah saja? kan sopir rumah bisa menjemputmu sayang..." kata Raja mencoba membuat Anna tidak takut padanya.


"Ponselku low bat Om... dan..."


"Kenapa tidak pinjam ponsel temanmu dulu?"


"Itu... aku..." wajah Anna kembali tampak gelisah.


Raja pun menghentikan mobilnya ditepi jalan dan memandang wajah Anna. Terlihat jika gadis kecil itu tengah menutupi sesuatu darinya.


"Anna sudah mulai belajar berbohong?" tanya Raja membuat Anna langsung tersentak dan memandang Raja tak percaya jika pria yang ia panggil om itu sudah tahu jika dirinya berbohong.


"Maaf om..." ucapnya lirih sambil menundukkan wajahnya.


"Sekarang jujur sama Om... tadi kamu dari mana?" tanya Raja tegas.

__ADS_1


"Se... sebenarnya... tadi Anna ikut latihan karate sama teman Anna di gedung olah raga dekat tadi Om ketemu sama Anna... mama sama papa ga tahu kalau Anna ikut les karate... soalnya pernah Anna minta izin tapi dilarang sama mama..." terang Anna dengan wajah sendu.


"Kenapa mama kamu melarang kamu ikut les karate?"


"Mama bilang takut Anna terluka karena itu lebih cocok untuk anak cowok... tapi Anna ingin seperti bunda Om... biar bisa melindungi adik-adik Anna meski Anna cewek..."


Raja menghembuskan nafasnya pelan. Ia tahu tak ada yang salah disini. Nyonya Sarah yang mengkhawatirkan putrinya dan Anna yang ingin seperti Amira yang kuat dan bisa melindungi keluarganya.


"Baiklah... kali ini Om tidak akan memberitahu mama kamu... tapi Om juga akan mencoba membujuk mama kamu untuk mengizinkan kamu mengikuti les karate... ok?" usul Raja.


"Benar Om?" tanya Anna dengan mata berbinar.


"Iya..." sahut Raja sambil tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya.


Melihat sikap Anna membuat Raja seperti melihat Amira di masa lalu. Sama-sama memiliki tekad kuat akan keinginan mereka. Mungkinkah Anna memang mencontoh sikap Amira karena dulu diasuh olehnya dan sempat dalam pelarian bersama membuat Anna sedikit banyak meniru sikap Amira? Raja hanya bisa tersenyum mengingat tingkah Amira saat kecil dulu. Upik Bagak julukan yang ia sematkan dulu sangat cocok dengan sikap bar-bar Amira.


Dan saat menatap Anna...


Gadis kecil disampingnya ini sangat berbeda dengan Amira yang memang menunjukkan sikap tangguhnya. Anna terlihat anggun dan lemah. Wajah cantik blanterannya membuat siapa pun tak akan menyangka jika dalam diri gadis itu juga ada sikap tangguh mirip Amira. Mungkin karena ini pula nyonya Sarah sangat mengkhawatirkan putri sulungnya itu. Penampilan Anna yang bak princess yang terlihat lemah lembut membuat semua orang takut ia akan mudah terluka. Tapi saat Raja menatap mata gadis kecil itu terlihat kilatan yang sama yang dimiliki oleh Amira. Meski warna mata keduanya berbeda.


Karenanya Raja bertekad membantu gafis kecil itu untuk mewujudkan keinginannya mejadi gadis kuat seperti Amira. Tak terasa mobil yang ditumpangi Raja dan Anna sampai dikediaman tuan Bram. Keduanya pun turun karena tidak mungkin Raja membiarkan Anna masuk sedirian karena pasti gadis kecil itu akan mendapatkan omelan dari mamanya yang mencemaskannya.


Terlihat Anna yang sedikit takut untuk masuk ke dalam rumah. Meski nyonya Sarah wanita yang lembut namun ia juga bisa galak jika putra putrinya tak menuruti perintahnya atau pun membuatnya khawatir. Raja menggandeng tangan Anna dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Ayo... jangan takut Om akan melindungimu..." ucap Raja lembut.


Anna memandang Raja dengan tatapan yang tak bisa dikatakan. Gadis itu sudah pasti sudah kebingungan dan takut sekarang. Genggaman tangan Raja dan ucapannya membuat Anna merasa sedikit tenang.


"Assalamualaikum..." ucap Raja dan Anna berbarengan.


"Waalaikum salam..." terdengar jawaban dari dalam dan terlihat nyonya Sarah yang tergopoh-gopoh menghampiri keduanya.


Belum sempat Raja berbicara, nyonya Sarah sudah memeluk putri sulungnya Anna dengan air mata yang betderai.


"Kamu dari mana saja sayang? mama sangat khawatir..." ungkapnya disela tangisnya.


"Maafin Anna mama..." sahut Anna yang kini ikut menangis.

__ADS_1


"Sudah... ayo masuk ke dalam dan kau mandi dulu..." suruh nyonya Sarah pada Anna.


Gadis kecil itu pun menurut dan langsung masuk ke dalam setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada Raja yang telah mengantarnya pulang.


__ADS_2