BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Terungkap


__ADS_3

Layar monitor yang ada di ruang tempat acara pernikahan Rendra dan Jihan kini menampilkan rekaman saat Rendra tengah menjebak dan menganiaya Siska. Seketika Rendra bangkit dari duduknya.


"Apa-apaan ini? kau ingin memfitnah papamu sendiri Ayana!" serunya dengan wajah merah padam.


Seketika ada dua orang pengawal yang langsung memegangi Rendra dan membuatnya terduduk kembali di tempatnya. Kedua pengawal itu rupanya suruhan tuan Sam untuk memastikan jika Rendra dan yang lainnya tidak mengacaukan rencana Ayana.


"Anda tidak perlu marah tuan Rendra... saya dan anda tahu jika itu bukan rekayasa... lagi pula bukan hanya ini hadiah kejutan dari saya... jadi bersabarlah dan saksikan saja apa kelanjutannya" kata Ayana yang tak lagi memanggil Rendra dengan sebutan papa.


Tak lama rekaman beralih pada saat Jihan membunuh Siska... sengaja tuan Sam memotong adegan saat Ayana dan Deni menemukan Siska terlebih dahulu dan bersembunyi saat kedatangan Jihan. Semua ia lakukan untuk melindungi kedua bocah itu dari kemarahan Jihan karena keduanya merupakan saksi mata perbuatan keji Jihan.


Sementara Jihan tampak terperangah karena tak menyangka jika perbuatannya terekam kamera. Tak berbeda dengan Rendra dan juga mamanya... keduanya tak menyangka jika kematian Siska adalah ulah Jihan yang mencekoki Siska dengan racun. Semua terekam jelas pada rekaman cctv tersebut apa lagi cctv tersebut bukan hanya merekam gambar tapi sekaligus suara. Semua orang tampak terkejut dengan isi rekaman kejahatan kedua calon pengantin itu. Bisik-bisik pun langsung terdengar yang membuat ruangan di sana berdengung.


"Ck... pantas saja belum ada empat puluh hari nyonya Siska meninggal keduanya langsung saja melaksanakan pernikahan..."


"Pasti keduanya sudah berselingkuh sejak lama"


"Wajahnya sih cantik dan terlihat lugu bak malaikat... siapa yang tahu jika sebenarnya ia tak lebih dari i*l*s yang menyamar..."


Suara-suara sumbang terdengar bersahutan sehingga suasana menjadi ramai. Kedua calon pengantin itu pun langsung berubah menjadi pesakitan. Tapi rekaman itu tidak berhenti pada bagian itu saja... tak lama rekaman kembali berputar dan kali ini memperlihatkan rekaman di ruang kerja tuan Suryono. Dimana terekam saat detik-detik tuan Suryono sekarat di tangan Jihan. Dengan keahlian dari anak buah tuan Sam di bidang IT, rekaman cctv itu dapat digabungkan dengan rekaman suara yang ditemukan oleh Ayana dan Deni beberapa waktu yang lalu di rumah oma Ratri.


Wajah Rendra yang semula pucat karena tak menyangka aksinya memfitnah Siska terbongkar dan juga syok saat melihat kekejaman Jihan yang memaksa Siska meminum racun berubah menjadi kemarahan saat mengetahui jika kakeknya meregang nyawa karena Jihan... wanita yang sangat dicintainya. Apa lagi fakta yang diungkap oleh sang kakek sebelum kematiannya, jika Jihan pula yang mendalangi kecelakaan papanya hingga menyebabkan pria itu tewas dalam kecelakaan tragis. Tak jauh berbeda dengan Rendra, bu Hasna pun tampak syok mengetahui jika ayah dan suaminya meninggal karena perbuatan Jihan dan papanya.


Sementara Jihan tampak pucat pasi karena kejahatannya belasan tahun yang lalu kini sudah terungkap. Begitu juga dengan Beni, ayah kandung Jihan. Sebab dalam rekaman itu juga terdengar jelas jika ia juga turut dalam skenario kematian Bayu ayah dari Rendra. Juga kecurangannya dalam perusahaan keluarga Suryono. Pria paruh baya itu pun tampak tak bisa ke mana-mana karena sudah ada dua orang lain yang mengawalnya.


"Bagaimana tuan Rendra? apa tuan menyukai kado dari kami?" tanya Deni dengan wajah datar.


"Jangan mengira karena kami mengungkapkan semua kejahatan wanita i*l*s itu sebelum kalian menikah itu karena kami masih menganggap anda orangtua kami... tapi kami melakukannya hanya untuk menjalankan amanah oma Ratri pada mama untuk tidak membiarkan wanita itu masuk ke dalam keluarga Suryono untuk selamanya" sambung Ayana.

__ADS_1


Jihan menatap Ayana dan Deni dengan nyalang. Ia tak menyangka jika kejahatannya yang tersimpan rapi bisa terbongkar dengan begitu saja oleh dua bocah ingusan seperti Ayana dan Deni. Ya, Jihan sudah bisa menebak jika kedua bocah itu sudah bekerja sama. Tapi yang tidak bisa ia mengerti kenapa kedua bocah itu bisa sedemikian jenius untuk mengungkapkan kejahatannya.


"Kalian! siapa yang membantu kalian berdua hah?" teriak Jihan marah.


Ia sangat yakin jika bukan hanya kedua bocah itu yang berhasil mengungkapkan kejahatannya dan juga ayahnya. Pasti ada orang lain yang membantu keduanya. Dan orang itu juga pasti memiliki kekuasaan yang besar hingga bisa mengungkapkan semuanya dalam waktu yang singkat.


"Kenapa tante? anda ingin marah dan balas dendam pada orang yang telah membantu kami? jangan mimpi! kalau dia mau bahkan saat ini bisa ia bisa melenyapkan anda tanpa tersentuh hukum!" seru Ayana yang tidak gentar dengan ancaman Jihan.


Saat semua tengah fokus akibat rekaman yang diperlihatkan oleh Ayana dan Deni, tiba-tiba disana sudah datang petugas kepolisian yang akan menangkap Rendra, Jihan dan juga Beni. Ketiganya pun langsung digelandang oleh petugas kepolisian untuk ditahan. Bu Hasna tampak menangisi sang putra saat melihat putra satu-satunya itu diborgol oleh pihak kepolisian. Tapi wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa karena dari bukti rekaman terlihat jelas jika Rendra telah melakukan KDRT terhadap Siska. Meski wanita sudah meninggal dan kematiannya bukan karena perbuatan Rendra tapi pria itu tetap dituntut oleh ahli waris korban yaitu Ayana dan Deni.


Ya... meski Rendra ayah mereka namun keduanya tak mau menutup mata pada perbuatan keji Rendra terhadap Siska mamanya. Saat melewati kedua anaknya ketika digiring oleh petugas kepolisian Rendra tanpa berhenti sebentar di depan keduanya.


"Maafkan papa... telah mengecewakan kalian berdua dengan menyakiti mama kalian..." ucapnya lirih namun kedua bocah itu masih bisa mendengarnya.


"Mungkin penyesalan papa sudah terlambat karena mama kalian kini sudah tiada... tapi izinkan papa untuk memperbaiki semuanya..." sambungnya sambil menatap kedua anaknya sendu.


"Penyesalan anda saat ini belum seberapa tuan... karena sebentar lagi akan ada hal yang akan membuat anda lebih menyesal karena selama ini sudah menyia-nyiakan mama kami dan membuatnya hidup menderita" sahut Ayana yang membuat Rendra tertegun.


"Apa kalian tidak bisa memaafkan kesalahan papa kalian nak?" ucap bu Hasna pada Ayana dan Deni saat suana sudah sepi karena para tamu undangan segera pulang karena acara yang batal akibat kedua calon pengantin malah digelandang oleh petugas kepolisian.


"Untuk saat ini tidak... karena kesakitan mama dan juga kesakitan kami belum dia rasakan" sahut Deni dingin.


Bu Hasna hanya bisa menghela nafasnya pelan dan berusaha untuk menghapus air matanya yang terus meleleh.


"Jika saja anda bukan oma kami yang berusia lanjut maka sudah kami satukan anda dengan putra anda tadi..." sambung bocah sepuluh tahun itu dengan mata memerah.


"A... apa maksud kalian?"

__ADS_1


"Ck... jangan oma fikir kami tidak tahu apa saja yang sudah oma lakukan selama ini untuk menyakiti mama kami..." sahut Ayana dengan muka malas.


"Ayo dek... kita pulang..." sambung Ayana sambil meraih tangan sang adik dan mengajaknya pergi meninggalkan bu Hasna yang tengah berdiri mematung.


Kedua kakak beradik itu pun ke luar dari dalam sana dan segera menuju ke tempat parkir dimana sudah ada mobil dengan sopir pribadi yang sudah menunggu keduanya. Di tempat parkir tampak tuan Sam, Amira dan juga Sadira sudah menunggu keduanya datang.


"Terima kasih om... tante... Dira... atas bantuan kalian pada kami selama ini" ucap Ayana dengan tulus.


Sadira langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Jangan berterima kasih Ay, ini sudah kewajiban kami untuk melindungi kalian dari kejahatan mereka..." sahut tuan Sam sambil mengelus kepala Deni.


Tuan Sam tahu jika bocah sepuluh tahun itu tengah berusaha bersikap dewasa dan melindungi kakaknya.


"Jangan paksakan jika kau sudah tidak kuat Den... kamu dan Ayana masih terlalu muda untuk menghadapi permasalahan seberat ini... tetaplah menjadi anak-anak meski saat ini masalah masih menimpa keluarga kalian... dan jangan menyimpan dendam... ingat mama kalian pasti akan sangat bahagia jika anak-anaknya bisa menjalani hidupnya dengan normal tanpa tetap menyimpan dendam... apa lagi pada ayah kalian sendiri..." nasehat tuan Sam pada kedua kakak beradik itu.


Deni memeluk tuan Sam sambil terisak. Sungguh ia tidak ingin keluarganya berakhir seperti ini, tapi papa dan juga omanya sudah sangat keterlaluan. Belasan tahun menyiksa batin sang mama. Dan seakan belum cukup, sang papa malah melakukan penyiksaan fisik pada sang mama hingga akhirnya wanita i*l*s itu membunuhnya. Ayana yang sudah melepaskan pelukannya pada Sadira, kini ganti memeluk Amira.


"Kalau kalian butuh apa-apa, jangan sungkan untuk memintanya pada kami" ucap Amira lembut.


Setelahnya kedua kakak beradik itu pun masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan oleh tuan Sam untuk mengantarkan keduanya pulang. Selama perjalanan kedua kakak beradik itu tampak saling terdiam. Apa yang baru saja terjadi merupakan hal yang paling melelahkan bagi keduanya. Bukan hanya fisik tapi juga mental keduanya yang diuji dengan begitu beratnya. Kehilangan sang mama untuk selamanya, dan kini giliran papa mereka yang harus mendekam di jeruji besi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Sebenarnya mereka juga ingin menghukum bu Hasna. Karena wanita itu juga turut menyiksa batin mama mereka. Namun walau bagaimana pun wanita itu sudah senja dan cukup dengan melihat putra kesayangannya berada dalam penjara pasti sudah membuat wanita paruh baya itu menderita.


Di kantor polisi...


Tiga orang pesakitan yang tadi dibawa oleh petugas polisi pun langsung dibawa ke sel tahanan, sebelum mereka diinterogasi secara terpisah. Rendra yang berada di dalam satu sel dengan ayah Jihan pun tak bisa menahan emosinya pada pria paruh baya itu. Begitu petugas polisi meninggalkan keduanya di sel tahanan, Rendra langsung saja menghajar Beni tanpa ampun. Pria yang tadi sempat akan menjadi ayah mertuanya itu pun tampak tak berdaya mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Rendra. Keadaan sel yang hanya diisi oleh keduanya membuat Rendra bebas melakukan perbuatannya.

__ADS_1


Rendra baru berhenti memukuli Beni setelah ia merasa kelelahan. Sedangkan keadaan Beni sudah babak belur akibat perbuatan Rendra. Entah mengapa tak ada seorang petugas pun yang datang menghampiri mereka saat Rendra menghajar Beni. Padahal suara yang mereka timbulkan cukup keras.


"Jangan fikir semua ini akan berakhir di sini pak tua... kau sudah menghancurkan keluargaku begitu juga dengan putrimu! maka nikmatilah hari-hari penuh siksaanmu mulai saat ini..." kata Rendra sambil meludahi tubuh Beni yang sudah terkapar tidak berdaya.


__ADS_2