
Sorot mata Amira yang tajam dan sama sekali tak menyiratkan ketakukan membuat pria itu tertegun.
Ia pernah melihat sorot mata yang persis sama seperti itu. Belasan tahu yang lalu saat ia pertama kali terjun di dunia hitam ia pernah menyaksikan seorang anak perempuan kecil yang berusia sekitar 9 tahun yang berani menantang preman pasar demi melindungi dagangannya. Pria itu pun melepaskan cekikannya dan mundur kebelakang. Sedang Amira terbatuk merasakan sakit ditenggorokannya. Tangannya yang masih terikat kebelakang membuatnya tak bisa mengelus lehernya yang terasa sakit.
"Upik Bagak?" ucap pria itu membuat Amira terkejut.
"Siapa kau? dari mana kau tahu nama itu?" tanya Amira meski tenggorokannya masih merasa sakit.
Tak seorang pun yang tahu nama itu kecuali seseorang dari masa lalunya yang telah lama menghilang. Upik adalah nama kecil yang diberikan oleh orang tuanya namun semakin besar ia tak lagi menggunakannya dan hanya kedua orang tuanya yang masih memanggilnya seperti itu di rumah. Namun sejak kematian kedua orang tuanya tak ada lagi orang yang memanggilnya dengan nama itu.
Sedang nama Bagak dibelakangnya dia dapat dari seorang pemuda yang pernah menolongnya dan menjadi temannya selama beberapa waktu hingga tiba-tiba pemuda itu mengghilang tanpa kabar hingga kini. Menurut pemuda itu Bagak berarti galak dalam bahasa Minang yang cocok dengan temperamen Amira kecil. Ayah Amira memang keturunan Minang namun karena ia tak lagi mempunyai sanak saudara dan merantau sehingga Amira tak mengerti bahasa ibu dari ayahnya.
Sementara Amira yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi barusan, pria yang bernama Jimmy itu keluar dari ruangan dan menyuruh anak buahnya untuk memindahkan Amira ke kamar di lantai atas. Anak buahnya yang berada disana sangat terkejut dengan sikap bos mereka yang berubah. Padahal tadi sebelum masuk ke ruangan tempat Amira disekap mereka sangat yakin jika perempuan yang ada didalam sana akan segera kehilangan nyawanya.
Saat itulah salah satu penjaga yang ada diluar melaporkan jika ada yang datang ke tempat mereka. Dengan cepat Jimmy memerintahkan anak buahnya segera membawa Amira pergi dari tempat itu.
"Sial... sepertinya perempuan itu dipasangi GPS" ungkap Rudi.
"Geledah dia!" suruh Jimmy.
Saat itulah kalung memberian tuan Sam terjulur keluar dari bawah jilbab Amira. Dengan cepat Jimmy menarik kalung itu hingga terlepas dari leher Amira. Lalu ia pun melemparkannya ke lantai dan menginjaknya hingga liontin yang ada pada kalung itu pun hancur. Amira yang melihat itu berusaha untuk berontak namun usahanya sia-sia. Tenaganya tak kuat melawan dua orang yang sedari tadi memeganginya. Kemudian mereka pun menyeret Amira keluar dari tempat itu dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah itu mereka pun meninggalkan tempat itu dengan menggunakan dua mobil berbeda.
Tak lama tampak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi memasuki tempat tersebut. Terlihat tuan Sam dan Lukas bergegas keluar dari dalam mobil. Mereka segera masuk ke dalam bangunan yang terlihat sudah kosong. Namun mobil box yang para penculik itu gunakan masih berada di luar. Dengan berhati-hati tuan Sam dan Lukas menyisir tempat itu. Tapi ternyata tempat itu sudah benar-benar kosong. Saat keduanya tiba di tempat Amira di sekap mereka dapat melihat kursi dan bekas tali yang digunakan untuk mengikat Amira. Disana juga terlihat kalung Amira yang terjatuh dan liontinnya yang sudah remuk.
"Lukas... periksa lagi dengan GPS!"
Lukas pun kembali memeriksanya lalui ponselnya. Tampak disana jika keberadaan Amira sudah bergerak menjauh.
__ADS_1
"Cepat tuan ... sepertinya mereka mengetahui kedatangan kita dan memindahkan nyonya" kata Lukas.
Mereka pun segera kembali ke mobil dan mengikuti arahan dari GPS. Sementara para polisi yang mereka hubungi baru saja tiba. Tuan Sam pun langsung mengatakan jika mereka harus segera mengejar para penculik yang kini tengah membawa Amira ke tempat lain. Akhirnya mereka pun pergi bersama untuk mengejar para penculik yang membawa Amira.
Amira yang duduk disamping Jimmy dalam keadaan terikat baik tangan maupun mulutnya masih penasaran dengan pria yang ada disampingnya itu. Sesekali Amira mencoba mencuri pandang pada pria disebelahnya untuk mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengannya. Tapi tetap saja ia tidak dapat mengingatnya. Jika pria itu teman dari masa lalunya rasanya tak mungkin. Kebanyakan temannya hanya orang kampung biasa dan tak berhubungan dengan dunia kriminal. Apalagi hingga bisa memiliki anak buah.
Tapi dari mana pria yang mengaku sebagai kakak Mela ini tahu nama masa kecilnya? atau pria itu kenal dengan temannya yang dulu menghilang itu? Berbagai pertanyaan terus berputar di kepala Amira yang menyebabkan kepalanya pusing. Dan bumil itu pun akhirnya tak sadarkan diri karena kelelahan. Jimmy yang menyadari Amira pingsan langsung menyuruh anak buahnya untuk mempercepat kendaraan mereka ke tempat persembunyian mereka yang berada jauh dipelosok agar tak mudah dilacak.
Tuan Sam menyuruh Lukas untuk mempercepat laju mobil mereka karena dilihatnya sinyal GPS Amira yang semakin lemah pertanda Amira dibawa ke tempat yang terpencil sehingga sinyal GPS susah dijangkau. Fikiran tuan Sam pun semakin kalut karena kini hari sudah menjelang malam dan istrinya itu pasti belum makan. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Amira yang gampang lemah sejak kehamilannya.
Malam sudah menjelang saat mobil para penculik yang membawa Amira sampai di sebuah villa yang berada di tengah hutan. Tampaknya tempat itu cukup terawat walau berada di tempat terpencil. Dengan membopong tubuh Amira, Jimmy dan anak buahnya masuk ke dalam villa. Setelah meletakkan tubuh Amira diatas tempat tidur disalah satu kamar Jimmy pun berusaha menyadarkan Amira.
Dengan mendekatkan minyak kayu putih di hidung Amira pria itu menyadarkan Amira dari pingsannya. Dengan mengerjap pelan Amira pun mulai tersadar. Ia terkejut saat menyadari telah berada di tempat lain dari terakhir ia di sekap. Dia segera terbangun dan mencoba untuk duduk.
"Siapa kau sebenarnya?" ucap Amira.
"Lalu dari mana kau nama kecilku? hanya kak Raja yang tahu nama itu!" sergah Amira.
"Apa kau tahu dimana kak Raja sekarang? katakan padaku!" sambung Amira yang sudah sangat penasaran.
Namun pria itu hanya tersenyum tipis dan meninggalkan Amira sendirian di kamar itu. Amira pun berusaha untuk bangun dan mengejar pria itu ke arah pintu namun terlambat, pria itu sudah keluar dan langsung menutup pintu lalu menguncinya dari luar.
"Kalian jaga dia dan jangan sentuh sedikit pun!!" kata Jimmy lalu berjalan ke lantai atas tempat kamarnya berada.
Anak buah Jimmy hanya bisa saling pandang tak mengerti dengan sikap pimpinannya itu. Tapi mereka tetap patuh dan menjalankan perintah tanpa protes. Sementara Amira tengah menggedor pintu kamar tempatnya disekap.
"Keluarkan aku!! aku mohon ....tolong keluarkan aku!!" teriak Amira dari dalam kamar.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari luar. Amira menduga ia sengaja ditinggal sendirian. Badannya langsung luruh ke bawah dibalik pintu. Tak pernah ia merasa selemah ini. Apa karena kini ia tengah mengandung sehingga moodnya jadi berubah?. Tidak... Amira menggelengkan kepalanya tegas. Ia tidak boleh lemah. Kedua calon anaknya harus jadi penyemangatnya untuk bertahan dan berusaha untuk bebas dari tempat itu.
Amira menghapus air matanya dan menghembuskan nafasnya pelan. Diedarkannya pandangannya kesekelilingnya. Tampak ada sebuah jendela kecil yang diteralis. Dan tak ada tempat lain yang bisa ia gunakan untuk bisa meloloskan diri. Amira pun menatap keluar melalui jendela itu. Tampak hari sudah malam. Ini berarti sejak siang ia belum menjalankan ibadahnya begitu juga dengan mengisi perutnya.
Dengan perlahan Amira memandang keatas langit ... tampak bulan sabit sudah nampak di sana. Amira pun mengira-ngira arah dengan bantuan rasi bintang yang pernah ia pelajari di sekolahnya dulu. Beruntung langit malam ini cerah dan tampak beberapa rasi bintang sudah terlihat. Dengan berpedoman pada rasi bintang orion ia pun dapat menentukan kiblatnya.
Lalu Amira langsung mengambil tayyamum untuk melaksanakan ibadahnya meski tanpa mukena setidaknya tubuhnya masih tertutup oleh jilbabnya. Ia tahu hanya dengan beribadah ia bisa mengadu pada Tuhannya dan merasakan ketenangan di tengah kecemasannya saat ini. Tanpa Amira sadari jika di kamar itu terdapat cctv dan saat ini Jimmy tengah mengamati setiap perbuatannya.
"Ternyata kau sama sekali tidak berubah Pik..." gumamnya tersenyum tipis.
Saat itulah salah satu anak buahnya datang dan membawakan makan malam.
"Kau berikan juga pada perempuan itu!" perintahnya yang langsung dilaksanakankan oleh anak buahnya itu.
Anak buah Jimmy meletakkan makanan di samping pintu saat Amira tengah khusyuk beribadah yang membuat wanita itu tak menyadari jika ada yang mengantarkan makanan.
"Ck.... benar-benar langka... dalam keadaan di sekap masih ingat untuk sholat" gumam pria itu lalu pergi dan mengunci pintu dari luar.
Selesai sholat Amira berdo'a agar ia dan kandungannya selalu dijaga keselamatannya dan agar ia dapat segera berkumpul lagi dengan suaminya. Mengingat suaminya air mata Amira luruh. Rasa rindu pada suaminya itu membuncah walau baru beberapa jam mereka terpisah. Entah bagaimana keadaan tuan Sam tanpa dirinya. Apakah pria itu sudah makan tau belum? apa suaminya itu masih terus mencarinya? semua fikiran itu membuat dada Amira sesak dan tiba-tiba ia merasakan kram pada perutnya.
Seketika ia membetulkan duduknya dan berselonjor dilantai serta mengelus pelan perutnya.
"Yang sabar ya sayang... bunda akan berusaha mengeluarkan kita dari tempat ini..." gumamnya lirih pada kandungannya.
Perlahan rasa sakit karena kram itu pun mulai menghilang dan Amira perlahan bangkit ke arah tempat tidur. Saat itulah ia melihat bungkusan kresek yang berada disamping pintu. Ia pun lalu menghampirinya. Saat dibuka ternyata berisi makanan serta air minum kemasan. Amira langsung bersyukur karena para penculik itu masih mau memberinya makan.
Amira pun segera duduk di tepi tempat tidur dan segera membuka bungkus makanan dan lalu ia pun memakannya. Perutnya yang sejak siang belum terisi memang sudah melilit karena lapar. Setelah menyelesaikan makannya Amira pun beristirahat. Ia harus menyiapkan tenaganya untuk esok hari karena ia tak tahu apa yang akan para penculik itu lakukan padanya besok. Jadi ia harus memiliki tenaga untuk melakukan perlawanan.
__ADS_1
Disisi lain tampak tuan Sam yang frustasi karena sinyal GPS Amira yang menghilang pertanda jika ia berada diluar jangkauan. Tampak pria itu berkali-kali memukul stir mobilnya. Lukas yang berada disampingnya tak dapat berbuat apa-apa untuk menenangkan tuannya. Lukas dapat memahami kecemasan tuannya itu. Tuan Sam sangat mencintai istrinya apalagi wanita itu sedang mengandung anak mereka, mana ada pria yang masih bisa tenang jika berada dalam keadaan seperti dirinya.