
Samir berlari ke kamar sang kakak, dan saat tahu jika pintu kamar tidak dikunci ia pun masuk ke dalam tanpa permisi. Sahir yang biasanya akan langsung mengamuk jika sang adik masuk sembarangan ke dalam kamarnya terlihat cuek dan terlihat melamun di depan meja belajarnya.
"Kak... aku tahu kenapa mereka sampai memutuskan kita..." kata Samir yang membuat Sahir terlonjak kaget.
"Hah... siapa?"
"Iya... mereka... pacar kita... Hana dan Ayana..."
"....."
"Mereka sedang bersolidaritas pada Sadira karena dilarang berpacaran oleh kita" terang Samir.
"Tapi kan ini tidak ada hubungannya...."
"Ada... sebab mereka semua bersahabat, dan usia mereka pun hampir sama..." potong Samir.
Sahir langsung menepuk dahinya pelan...
"Jadi itu masalahnya?"
"Yup! dan kita memang salah kak... kita melarang Sadira pacaran, tapi kita sendiri malah berpacaran dengan gadis yang sama seusianya... masih untung Sadira tidak melawan dengan mengungkit hal itu pada kita, jika tidak kita pasti malu kak" ungkap Samir sembari mendesah pelan.
Ia menyadari jika dirinya dan sang kakak sudah seperti menelan ludah mereka sendiri tanpa menyadarinya. Kedua saudara kembar itu pun terduduk lesu berdua... tak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan hubungan mereka dengan kekasih mereka masing-masing. Sementara Sadira yang menjadi alasan kenapa dua pasang kekasih itu putus malah tengah asyik membantu sang bunda mengantarkan kue pesanan auntynya. Gadis itu tampak begitu bersemangat sambil mengendarai motor warisan bundanya ke rumah nyonya Sarah.
Sambil bersenandung ia pun melajukan motor itu dengan kecepatan sedang. Meski siang itu cukup terik, namun tidak membuat Sadira patah semangat. Sebab ia juga telah janjian dengan sepupunya Ara. Sepertinya gadis itu sedang butuh teman curhat. Dan hanya dengan Sadira lah gadis itu bisa mengungkapkan segalanya. Meski ia anak yang ceria dan memiliki banyak teman, tapi hanya pada Sadira lah ia bisa merasa nyaman dan menceritakan rahasianya.
Namun kesenangan Sadira segera berakhir saat tiba-tiba saja motor yang dikendarainya itu mogok di tengah jalan.
"Aish... kenapa lagi ini motor? bukannya kemarin baru saja servis ke bengkel..." batinnya kesal.
Sadira pun mencoba mengutak atik motor tersebut. Ia ingat saat Ricko yang pernah membantunya saat motornya itu juga mogok di tengah jalan. Dengan berbekal ingatnya, Sadira mencoba mencari kerusakan pada motornya itu. Sebagai gadis mandiri, ia tidak gampang panik saat menghadapi kejadian semacam ini. Tapi ternyata ia tidak dapat menemukan masalahnya meski ia sudah memeriksa beberapa bagian yang kemungkinan membuat motornya mogok.
"Ish... apanya yang rusak ya? busi... bukan, bensin masih banyak... apa dong? aku kan tahunya cuman itu saja..." keluh Sadira mulai cemas.
Saat itulah seseorang melintas dengan mengendarai mobilnya...
"Dira?"
Sadira pun langsung menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Ah kak Ricko!" seru Sadira senang.
Senyuman gadis itu pun langsung mengembang.
"Ada apa?"
"Motor aku mogok kak..." adu Sadira dengan wajah memerah karena merasa tidak enak.
Bagaimana tidak, setiap kali ia mengalami kesialan, Ricko selalu saja berada disampingnya. Dan setiap kali pemuda itu selalu saja mau untuk menolongnya.
"Hemm... coba kakak lihat dulu..." ucap Ricko setelah turun dari dalam mobilnya dan memeriksa motor Sadira.
Setelah Ricko memeriksa dan mengutak atik sebentar, tak lama motor Sadira pun akhirnya menyala. Sadira pun langsung berseru girang.
"Ini cuma ada kabelnya yang sedikit kendor kok Ra..." terang Ricko saat Sadira menanyakan penyebabnya.
"Aish... beruntung kakak datang... kalau tidak aku pasti harus mendorong motor itu sampai ke rumah aunty Sarah..."
"Memang rumah aunty kamu dimana?" tanya Ricko penasaran.
Sadira pun lalu memberitahukan alamat nyonya Sarah yang memang sudah tak jauh dari tempat mereka berada.
__ADS_1
"Terima kasih kak, sudah menolongku..." ucap Sadira tulus.
"Jangan sungkan Ra... kakak ikhlas dan senang bisa menolong kamu..." sahut Ricko.
"Ya sudah kak... aku pergi ke rumah aunty ku dulu... lain kali aku akan mentraktir kakak sebagai ucapan terima kasih..."
"Ga usah Ra... kakak ikhlas kok, beneran..."
"Hemm... tapi aku ingin membalas kebaikan kakak..." ujar Sadira keukeuh.
"Ya sudah terserah kamu saja... asal jangan menjadi beban, nanti kakak ga akan mau nolongin kamu lagi lho..." ancam Ricko main-main.
"Ish... kakak jangan ngomong gitu dong... kalau aku beneran butuh bantuan kakak lagi gimana? kakak tega ya sama aku..." ujar Sadira dengan wajah memelas.
"Ha... ha... ha... kakak cuman bercanda Ra... mana mungkin kakak tega ngebiarin kamu kesusahan tanpa mau menolong?" tawa Ricko pun langsung pecah melihat wajah Sadira yang menurutnya sangat menggemaskan saat terlihat panik dan memelas begitu.
Tanpa sadar Ricko juga mengusak rambut Sadira dengan gemas. Gadis itu sama sekali tidak terlihat keberatan ia malah ikut tertawa saat menyadari jika Ricko tidak benar-benar serius dengan ucapannya tadi.
"Ya sudah sana... pasti aunty kamu sudah menunggu kamu dari tadi..." ucap Ricko mengingatkan Sadira.
Sadira pun langsung menepuk keningnya pelan karena lupa dengan tujuannya semula yang akan ke rumah auntynya itu.
"Sekali lagi terima kasih ya kak... aku permisi dulu" pamit Sadira saat dirinya sudah bertengger diatas jok motornya.
"Iya... hati-hati, jangan ngebut..." nasehat Ricko yang langsung diangguki oleh Sadira.
Gadis itu pun lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sementara Ricko masih memandangi kepergian Sadira dari belakang hingga gadis itu hilang dari pandangannya. Baru kemudian Ricko masuk ke dalam mobilnya dan melaju ke arah apartemennya. Setelah sampai di rumah nyonya Sarah, Sadira menemui aunty nya itu lalu menyerahkan kue dari bundanya. Kemudian seperti biasa ia akan meminta izin untuk menemui Ara di kamarnya. Setelah mendapat izin dari nyonya Sarah, gadis itu langsung pergi ke kamar kakak sepupunya itu.
Tok... tok... tok...
"Masuk..."
"Kakak!" seru Sadira begitu ia masuk ke dalam kamar Ara.
"Tadi motor aku mogok kak..." adu Sadira dengan wajah sendu.
"Lah... kamu masih pakai motor bunda?" tanya Ara.
Sadira hanya mengangguk untuk membenarkan perkataan sepupunya itu. Gadis itu sudah duduk manis di atas tempat tidur Ara, sementara sepupunya itu masih sibuk di depan meja belajarnya.
"Ck... kenapa ga minta ganti yang baru aja sama uncle?"
"Ga ah... itu motor warisan bunda... jadi sebelum benar-benar ga bisa lagi digunakan maka ga akan aku museumkan..." cetus Sadira yang membuat Ara tergelak.
"Ha... ha... ha... Ra... Ra... kamu ini ada-ada saja... motor bunda akan kamu museumkan?"
"Iya... disimpan di garasi khusus trus di kasih kaca... kerenkan?" cerocos Sadira tidak mau berhenti dengan ide khayalannya.
"Ha... ha... ha..." Ara tidak bisa berhenti tertawa saat mendengar ide absurd dari sepupunya itu.
"Udah-udah Ra... ga usah diteruskan ide aneh kamu itu... perutku jadi sakit mendengarnya..." ucap Ara di sela-sela tawanya.
Tapi Sadira malah langsung memasang wajah cemberut saat sepupunya itu mentertawakan ide brilliantnya. Itu menurutnya sendiri sih...
"Eh iya... kakak minta aku kemari ada apa?" tanya Sadira mengalihkan pembicaraan.
"Ehem... ini masalah hubunganku dengan kak Devan..." ucap Ara seketika berubah serius.
"Kenapa? apa kak Devan kembali jadi play boy lagi?" celetuk Sadira yang langsung membuatnya terkena lemparan pulpen dari Ara.
"Auch! sakit kak... kenapa malah melempari ku dengan pulpen sih?" sungut Sadira sambil mengelus keningnya yang terserempet pulpen Ara tadi.
__ADS_1
"Kamu ini sepupu ga ada akhlak ya... masak mendo'akan yang buruk gitu?"
"Aku ga mendo'akan yang buruk kakak... aku hanya bertanya..." ujar Sadira tak mau disalahkan.
"Memangnya kenapa dengan kak Devan?" tanya Sadira kemudian.
"Kak Devan ingin bertemu dengan mama sama papa malam ini..." terang Ara yang membuat Sadira berseru senang.
"Wah... ini kabar bagus kak... berarti kak Devan benar-benar serius ingin meminang kakak setelah kakak lulus..."
"Tapi aku takut Ra... bagaimana jika papa sama mama tidak setuju karena masa lalunya dengan kak Anna? belum lagi dengan reaksi kak Anna jika tahu masalah ini, kamu tahu kan... kak Anna dari dulu tidak menyukai kak Devan..."
"Kakak jangan pesimis dulu dong... uncle dan aunty pasti mau memberikan restunya jika melihat perubahan kak Devan dan keseriusannya dengan kakak... sedang kak Anna dia bukan tidak menyukai kak Devan, dia hanya tidak mencintai kak Devan... itu saja" kata Sadira panjang lebar.
Ara menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan sepupunya itu. Meski usia Sadira masih sangat muda, namun terkadang gadis itu bisa sangat bijak dan dewasa dalam pemikirannya. Karena itulah Ara merasa nyaman jika curhat dengan sepupunya itu.
"Sudah... kakak jangan terlalu khawatir, aku yakin kak Devan juga sudah mempersiapkan semuanya dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan restu dari uncle dan aunty, untuk kak Anna aku rasa dia tidak akan merasa keberatan jika kak Devan akan menjadi adik iparnya nanti..."
"Terima kasih Ra... aku merasa jauh lebih baik sekarang..."
"Sama-sama kak... oh iya... kalau nanti malam sukses, besok aku ditraktir ya kak?"
"Ish kau ini... kenapa jadi berubah matre sih?"
"Ga matre kak... tapi kan jarang-jarang kita bisa jalan berdua lagi sejak kakak kuliah... apa lagi jika aku membayangkan nanti kakak menikah... sedih aku kak... ga punya kakak perempuan yang bisa aku ajak jalan lagi..." ucap Sadira sendu.
"Hei... jangan sedih gitu Ra... kita masih bisa jalan bareng berdua kok meski aku sudah menikah..." hibur Ara.
Sadira langsung menghambur memeluk Ara yang membuat gadis itu sedikit terlonjak dari kursi yang didudukinya.
"Terima kasih kak... kakak sudah menyayangi aku seperti adik kandung kakak sendiri meski kita sepupu..."
"Sepupu juga saudara Dira..."
"Iya... aku tahu... pokoknya aku senang kakak sudah sangat menyayangi aku selama ini, aku pasti akan merasa kehilangan jika suatu saat suami kakak nanti membawa kakak pergi..."
"Itu masih lama Ra... jadi jangan terlalu difikirkan"
Sadira pun kembali mengangguk. Suasana haru di dalam kamar itu pun langsung berakhir saat nyonya Sarah memanggil keduanya untuk ke bawah. Kedua sepupu itu pun langsung keluar dari dalam kamar dan menemui nyonya Sarah yang sudah menunggu mereka untuk minum teh bersama.
Di sebuah apartemen terlihat seseorang tengah membungkus sesuatu. Dari bentuknya bisa dipastikan jika itu adalah sebuah kado untuk seseorang. Selesai dengan pekerjaannya orang itu pun menatap hasil karyanya dengan bangga.
"Kamu pasti akan menyukai kado pemberianku ini sayang..." gumamnya dengan senyum yang mengembang.
Sedang di tempat lain seseorang juga tengah merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan spesial untuk kekasih hatinya. Orang itu terlihat sangat bersemangat saat menyiapkan kado dan juga kejutan manis untuk kekasihnya.
"Akan aku pastikan jika ulang tahunmu kali ini akan menjadi ulang tahun yang paling manis sebelum ulang tahunmu yang ke 17 nanti Ra..." batinnya sambil tersenyum.
Malam harinya di rumah nyonya Sarah...
Saat ini seluruh anggota keluarga nyonya Sarah dan tuan Bram berkumpul. Termasuk menantu dan juga cucu mereka, sebab malam ini rencananya mereka akan memberikan kejutan ulang tahun pada Sadira saat tengah malam nanti. Karena itu mereka akan pergi ke rumah tuan Sam saat Sadira sudah tidur. Baru saja mereka akan memulai makan, terdengar suara bel pintu berbunyi membuat salah satu Art pergi ke depan untuk membukakan pintu. Tak lama Art itu kembali dan mengatakan jika ada tamu yang ingin menemui tuan Bram dan nyonya Sarah. Saat tuan Bram bertanya siapa, Art itu bilang jika tamu itu adalah Devan.
Tampak semua orang terkejut dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba. Kecuali Ara yang kini terlihat cemas dan gugup. Anna dan Raja juga terkejut dan sama sekali tidak bisa menebak apa tujuan Devan datang malam ini. Akhirnya mereka semua pun ke ruang tamu untuk menemui Devan. Dan ternyata pria itu tidak datang sendiri. Dia datang bersama sepasang paruh baya yang ternyata merupakan kedua orangtua Devan. Setelah mereka semua duduk, tuan Bram pun menanyakan maksud kedatangan Devan dan kedua orangtuanya itu. Tanpa disangka Devan menjawab dengan tegas jika ia datang dengan tujuan untuk melamar Ara.
Sontak pandangan semua orang tertuju pada gadis itu seolah meminta penjelasan. Sedangkan Ara langsung tertunduk dengan hati yang gelisah. Beruntung Devan yang faham jika kekasihnya itu belum berterus terang tentang hubungan keduanya pada keluarganya pun beriniatif untuk menjelaskan semuanya pada keluarga gadis itu. Keluarga Ara sangat terkejut saat mengetahui kenyataan dari Devan jika Ara dan dirinya selama ini sudah menjalin hubungan. Keduanya malah sudah merajut kasih sejak satu tahun yang lalu.
"Apa benar yang dikatakan Devan, Ara?" tanya tuan Bram pada putri bungsunya itu.
Ara pun mengangguk pelan. Hatinya masih ketar ketir takut jika keluarganya murka karena ia telah menjalin kasih dengan Devan dan tidak pernah memberitahukannya pada keluarganya.
"Apa kamu benar-benar serius dengan hubungan kalian berdua?" tanya nyonya Sarah.
__ADS_1
"Iya ma... kak Devan selama ini sudah membuktikan jika dirinya sudah berubah dan serius dengan hubungan kami, jadi Ara mohon ma... pa... tolong restui kami..." ucap Ara yang akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya pada seluruh keluarganya.