BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Lamaran


__ADS_3

Saat Amira sudah menyelsaikan makan malamnya nyonya Sarah mengajaknya ke teras belakang untuk bicara. Ketika mengikuti langkah nyonya Sarah ke teras belakang Amira sudah menduga hal apa yang akan dibicarakan oleh nyonyanya itu. Dalam hati Amira berusaha merangkai kata-kata yang akan diucapkannya untuk menjelaskan hubungannya dengan tuan Sam. Sebenarnya jika boleh jujur Amira sendiri pun masih belum sepenuhnya percaya jika ia dan tuan Sam saling mencintai. Amira merasa dirinya kini seperti berada di negeri dongeng dimana dia menjadi Cinderellanya. Dalam versi gemuk tentunya he...he...he...


Sesampainya di teras belakang nyonya Sarah pun langsung menanyainya.


"Ra apakah yang aku dengar tadi benar? bahwa kamu mencintai kakakku dan kalian juga sudah menjalin hubungan?"


"Eum.. i..iya ....kak" jawab Amira gelagapan.


Hilang sudah semua kata yang sudah ia coba rangkai sejak tadi.


"Sejak kapan?" tanya nyonya Sarah lagi.


"Entahlah kak... aku sendiri tidak tahu bagaimana awalnya namun saat tuan Sam menyatakan cintanya padaku, aku pun jadi yakin akan perasaanku padanya" terang Amira sambil meremas ujung pasminanya.


"Jika kakak tak menyetujui hubungan kami, aku rela kak melepas tuan Sam dan akan pergi jauh darinya" sambung Amira dengan mata yang mulai berembun.


Sesaat nyonya Sarah masih diam tak ada reaksi yang ditunjukkannya hanya pandangan matanya saja yang menatap Amira tajam. Amira pun tak berani melanjutkan perkataannya dan hanya menundukkan kepalanya. Ia pasrah jika nyonya Sarah marah dan membencinya karena ia telah berani menjalin cinta dengan tuan Sam. Amira pun sudah siap jika saat itu juga dia harus pergi meninggalkan rumah nyonya Sarah. Tapi tanpa ia duga tiba-tiba ia merasakan seseorang memeluk tubuhnya erat dan saat ia mengangkat wajahnya baru ia tahu jika itu adalah nyonya Sarah.


"Makasih Ra ... kamu udah mencintai kak Sam" ucapnya lembut sambil mempererat pelukannya.


Dengan agak canggung Amira pun membalas pelukan nyonya Sarah. Ada rasa lega yang menjalar di dalam dadanya saat mendengar ucapan nyonya Sarah padanya. Ia bersyukur karena ternyata nyonya Sarah menerimanya. Tak lama nyonya Sarah pun melepas pelukannya dan menatap Amira.


"Jadi kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?" tanyanya sambil mengerlingkan matanya. Amira pun menggeleng pelan.


"Aku belum tahu kak ... lagi pula kami baru saling mengenal satu sama lain" ucapnya.


"Jangan lama-lama ... kau tahu aku juga ingin punya keponakan lho agar Anna dan Adit punya tambahan teman" kata nyonya Sarah tersenyum simpul.


"Semua tergantung tuan Sam kak... aku hanya ikut saja" ucap Amira.


"Ish kau ini masih saja memanggil kakakku tuan..." seru nyonya Sarah menepuk lengan Amira pelan.


"Lalu aku harus memanggilnya apa?"


"Pikirkan saja sendiri" ujar nyonya Sarah gemas.


"Baiklah..." jawab Amira polos.


Nyonya Sarah hanya bisa menghela nafas pelan melihat kelakuan calon kakak iparnya itu. Sungguh Amira adalah satu-satunya gadis yang tak pernah berusaha menarik perhatian dari lawan jenisnya. Bahkan pada kakaknya yang sering mendapat godaan dari para wanita yang terpesona karena ketampanan atau pun hartanya. Gadis itu seperti air yang hanya mengalir mengikuti arus bak anak kecil yang polos tanpa keinginan yang egois dan penuh nafsu.


"Sudah malam Ra... lebih baik kamu tidur" kata nyonya Sarah.


Amira pun mengangguk mengiyakan perkataan nyonya Sarah.


"Baik kak ... aku pergi tidur dulu" pamitnya.


"Iya..." ucap nyonya Sarah sambil tersenyum.


Hatinya sangat lega karena sekarang ia tahu kakaknya sudah memiliki tambatan hati terlebih orang itu Amira. Ia merasa sangat beruntung Amira yang sudah ia anggap seperti adiknya akan menjadi iparnya. Lalu ia pun pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Amira masuk ke dalam kamarnya lalu ia pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur setelah menunaikan ibadahnya. Hari ini terasa agak berat baginya namun berakhir bahagia saat semua yang terjadi pada dirinya dan tuan Sam terungkap. Nyonya Sarah tak keberatan dengan hubungannya dengan tuan Sam bahkan ia tampak sangat bahagia. Saat hendak menutup matanya tiba-tiba hpnya berbunyi dan saat dilihat tampak nomor baru tertera disana memanggil. Dengan sedikit ragu Amira mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Halo..." terdengar suara yang akhir-akhir ini membuat dunianya terasa jungkir balik. Ya ... itu suara tuan Sam.


"Meyaa..." panggilnya.


"Ah.. ya B" jawab Amira.


"Kau belum tidur?" tanyanya pada Amira.


"Aku baru mau tidur" ungkap Amira dengan dada berdebar.


"Lalu kau kenapa juga belum tidur?" sambungnya.


"Aku tidak bisa tidur..." jelas tuan Sam.


"Kenapa?" tanya Amira.


"Aku merindukanmu..." ucap tuan Sam.


"Ganti vc ya..." pintanya.


"Hmm baiklah" jawab Amira kemudian sambungan pun terputus.


Dengan cepat Amira menutupi rambutnya yang sengaja ia gerai jika akan tidur dengan kerudung yang ada di sampingnya. Tak lama hpnya kembali berbunyi dan kali ini tampak wajah kekasihnya terpampang jelas disana.


"Kau tampak cantik sekali..." ucap tuan Sam menatap Amira dengan setelan baju tidurnya yang bergambar kartun anak-anak.


"Jangan menggodaku..." sahut Amira sambil mencebikkan pipinya.


"Kenapa tak langsung tidur?" tanya Amira mengalihkan topik pembicaraan.


"Sudah kubilang kan... aku merindukanmu" ucapnya.


Mendengar ucapan tuan Sam membuat Amira salah tingkah. Ia tak menyangka jika tuan Sam akan sebucin itu padanya.


"Kau tidak percaya?" tanyanya saat melihat Amira yang hanya terdiam.


"Tidak... bukan begitu..." kata Amira tergagap.


"Lalu?"


"Aku tak menyangka saja... bukankah baru saja aku dari kamarmu?" jawab Amira.


"Aku tahu... tapi tetap saja saat ini aku merindukanmu Meyaa..." ucap tuan Sam memandang teduh Amira.


"Apa kau tak merasakannya juga?" tanyanya.


"Aku..." Amira tak dapat meneruskan kalimatnya karena saat ini ia sudah merasakan panas diwajahnya.


Ia yakin sekali jika saat ini wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.


"Apa?" tanya tuan Sam mendesak Amira.

__ADS_1


"Aku juga sama..." akhirnya Amira menjawab dengan lirih namun masih terdengar oleh tuan Sam yang langsung membuat laki-laki itu tersenyum lebar.


Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk jendela kamar Amira. Segera Amira menoleh kearah jendela yang tertutup gorden. Dengan perlahan dihampirinya jendela itu dan disibakkannya gorden yang menutupinya. Tampak di balik jendela tuan Sam sudah berdiri disana masih dengan hp yang diarahkan ke wajahnya.


Tuan Sam tersenyum lebar pada Amira.


"Buka jendelanya Meyaa" kata tuan Sam melalui hp yang masih menyala.


Dengan patuh Amira pun membuka jendela kamarnya yang cukup lebar. Tuan Sam pun mematikan hpnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Begitu pun Amira yang juga mematikan hpnya dan meletakkannya di atas nakas dekat jendela.


"Kenapa kemari B?" tanyanya.


"Sudah kubilang aku merindukanmu" ucap tuan Sam langsung memeluk Amira dari luar jendela.


Amira pun membalas pelukan tuan Sam meski kaki mereka terhalang tembok bawah jendela.


"Kenapa kau selalu membuatku melayang B?" tanya Amira lirih di dada tuan Sam.


"Karena aku mencintaimu..." kata tuan Sam mengeratkan pelukannya.


"Kita menikah ya..." bisik tuan Sam ditelinga Amira.


Terkejut dengan lamaran tuan Sam yang mendadak, seketika Amira merenggangkan pelukannya agar ia dapat menatap mata tuan Sam. Tak ada keraguan apalagi kebohongan yang terpancar dari kedua mata tuan Sam. Hanya ada ketulusan dan keteguhan hati yang terlihat dari pancaran matanya. Amira pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan berkata...


"Ya.."


Seketika itu juga tuan Sam kembali memeluk erat Amira dan mencium pucuk kepala gadis pujaannya itu.


"Terima kasih sayang... kau mau jadi istriku... ibu dari anak-anakku kelak" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Tak berbeda dengan Amira yang kini membenamkan wajahnya di dada bidang tuan Sam. Hatinya sangat bahagia pria pertama yang membuatnya jatuh cinta ingin menjadikannya pendamping seumur hidupnya.


"Ayah... ibu... sekarang Amira sudah bahagia ... ada tuan Sam yang sangat mencintai Amira dan akan menjaga Amira seumur hidupnya.." ucap Amira dalam hati sambil memejamkan matanya menikmati harum aroma tubuh pria yang telah membuatnya jatuh cinta.


Lama keduanya berada dalam posisi saling berpelukan saling menikmati kenyamanan yang keduanya rasakan satu sama lain. Kemudian perlahan Amira mengurai pelukannya.


"Sudah malam B... kau tidurlah..." bujuk Amira.


"Hemm kau juga ..." ucap tuan Sam membelai wajah Amira.


"Besok aku akan membicarakan pernikahan kita pada Sarah..." sambungnya lalu mencium pucuk kepala Amira sebelum akhirnya pria itu melangkah pergi untuk kembali ke kamarnya.


Amira pun segera menutup daun jendela dan gorden kamarnya begitu tuan Sam melangkah pergi. Sambil memegangi dadanya yang sudah berpacu kencang tak karuan ia melangkah ke tempat tidurnya. Sambil duduk di tepi tempat tidur ia mencerna kembali dengan kejadian barusan. Rasa tak percaya masih menyelimutinya. Tuan Sam baru saja melamarnya! Sungguh ini mimpi yang sangat indah hingga Amira merasa tak ingin terbangun. Amira mencubit lengannya sendiri untuk meyakinkan jika ini nyata.


"Auww..." pekiknya lirih lalu mengusap lengannya yang terasa perih.


"Ini nyata..." gumamnya tersenyum.


Lalu Amira pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya. Hatinya yang bahagia membuatnya cepat tertidur. Sedang di sana di dalam kamarnya tuan Sam tak henti-hentinya tersenyum setelah tadi Amira menerima lamarannya.


"I love you Amira.... meree yaara..." gumamnya sambil memejamkan mata. Malam ini ada dua anak manusia yang tertidur dengan hati bahagia karena cinta.

__ADS_1


__ADS_2