
Hari ini Dira dan Ayana akan melakukan rencana mereka untuk mencari bukti yang di simpan oleh Siska di tempat Keysha. Meski masih merasa ragu dengan rencana yang sudah di susun oleh sahabatnya itu, namun Ayana mau juga mengikuti rencana Dira. Karena dia sendiri sampai saat ini juga tidak memiliki rencana apa pun sebagai penggantinya. Dua gadis itu kini tengah berada di sebuah kamar kos yang baru saja mereka sewa. Keduanya memang sudah berencana menyewa kamar kos itu untuk markas mereka selama mencari bukti untuk menegakkan keadilan bagi mamanya Ayana.
Keduanya bahkan menyewa kamar kosnya dengan menggunakan sisa uang jajan yang mereka dikumpulkan selama ini. Dan malam ini dengan alasan saling menginap di rumah masing-masing mereka meminta izin pada orang tua mereka masing-masing sehingga mereka bisa menginap di tempat kos itu. Karena menyangka jika menginap di rumah sahabatnya, keluarga mereka pun tidak menyuruh sopir untuk menjemput. Dan setelah berkutat selama setengah jam akhirnya Dira pun selesai memake over Ayana.
"Taraa... coba kau lihat hasil karyaku Ay!" ucap Dira sambil menyuruh sahabatnya melihat ke arah cermin yang ada di atas meja nakas.
Untuk sejenak Ayana tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya di cermin. Terlihat seseorang dengan penampilan dewasa dihadapannya.
"I... ini... aku?" tanyanya sambil beraba wajahnya sendiri.
"Tentu saja... kau fikir siapa lagi?" sahut Dira sedikit cemberut.
"Aku sungguh tidak percaya Ra... kau sungguh berhasil!" kata Ayana dengan mata berbinar.
"Tentu saja... merias wajah itu hampir sama dengan menghias kue!" sahut Dira sambil berkacak pinggang, yang membuat Ayana terkekeh.
Ayana berdecih dalam hati... apa hubungannya menghias kue dengan riasan wajah... fikir Ayana, namun gadis itu tidak ingin berdebat sekarang karena jujur ia sangat kagum dengan hasil karya Dira.
"Sudah... sekarang giliranku... dan kau... segera ganti pakaianmu Ay!" suruh Dira yang membuat Ayana pun beranjak dari duduknya dan mempersilahkan Dira untuk menempatinya. Kemudian dia pun berganti pakaian.
Setengah jam kemudian Dira pun selesai merias dirinya sendiri, kemudian ia juga berganti pakaian. Keduanya sengaja menggunakan jins ketat sebagai bawahan untuk tetap menutupi bagian bawah tubuh mereka tanpa menghilangkan kesan seksi. Sedang untuk atasannya Ayana memilih menggunakan model Sabrina sedangkan Dira model Empire Line. Keduanya tampak lebih dewasa dan seksi namun masih terlihat sopan. Dengan menggunakan taksi keduanya meluncur ke club milik Keysha. Meski tadi saat berangkat dari tempat kos mereka sangat percaya diri, tapi saat keduanya sampai di depan club nyali keduanya pun menciut. Apa lagi saat kelihat petugas keamanan yang berdiri di depan pintu club yang terlihat tengah memeriksa identitas setiap pengunjung yang hendak masuk ke dalam club. Sedang kedua gadis itu sadar jika mereka berdua tidak memiliki kartu identitas yang bisa mengizinkan mereka masuk ke dalam, karena keduanya masih dibawah umur.
Kedua gadis itu tampak berjalan dengan pelan ke arah club. Sebab mereka masih bingung memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Bagaimana ini Ra..." bisik Ayana pada Dira.
Dira tampak berfikir cepat. Untung saja saat itu ada sekelompok wanita yang juga hendak masuk ke dalam club. Sepertinya mereka adalah para pelanggan setia disana dan merupakan tamu VVIP. Sehingga para penjaga tampak tidak memeriksa mereka satu persatu tapi malah langsung mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam. Dengan cepat Sadira menarik tangan Ayana agar keduanya bisa ikut membaur dalam kelompok wanita itu. Sengaja Sadira dan Ayana memepet dibelakang agar para penjaga tidak memeriksa keduanya dan para wanita itu tidak menyadari jika ada yang ikut berbaur dalam kelompok mereka, apa lagi dibelakang masih ada pengunjung yang baru datang. Dan lagi-lagi keberuntungan berpihak pada keduanya. Para penjaga tidak memusatkan perhatian pada rombongan itu karena ada pengunjung lain yang membuat keributan sehingga menarik perhatian mereka sehingga kedua gadis itu bisa masuk dengan mulus. Sadira dan Ayana sama sekali tidak memperhitungkan resiko yang akan mereka hadapi saat mengikuti para wanita itu, karena dalam fikiran keduanya hanyalah cara agar bisa masuk ke dalam club.
__ADS_1
Sesampainya di dalam keduanya disambut dengan dentuman musik yang sangat keras dibarengi dengan kilauan lampu yang menyilaukan mata keduanya. Bau alkohol dan asap rokok pun tercium di hidung keduanya yang sesungguhnya membuat dua gadis remaja itu agak mual. Segera kedua gadis pun itu langsung memisahkan diri dari rombongan wanita yang tadi mereka ikuti.
"Kita harus mencari kantor tante Keysha, Ay... kau tahu tempatnya kan?" tanya Sadira berbisik tepat ditelinga Ayana agar gadis itu dapat mendengar suaranya.
Ayana pun mengangguk dan tanpa berkata-kata gadis itu membawa Sadira ke lantai atas. Karena mamanya sudah sering membawanya kemari untuk menemui Keysha meski di siang hari saat club dalam keadaan sepi, tapi Ayana masih mengingat letak kantor Keysha dengan baik. Keduanya melangkah langsung ke lantai atas tanpa menghiraukan kemeriahan yang terjadi di lantai club. Saat menuju ke lantai atas tak jarang ada pria yang berusaha menggoda keduanya yang terlihat dewasa dan sama sekalu tak terlihat sebagai anak bau kencur. Sebisa mungkin keduanya berusaha untuk menghindar tanpa menimbulkan keributan. Sesampainya di lantai atas keadaan jadi sedikit agak tenang, karena disana hanya terdapat kamar-kamar private yang digunakan oleh pengunjung VVIP.
Saat mereka hampir sampai di kantor Keysha keduanya langsung menghentikan langkahnya karena di depan sana terlihat dua penjaga yang berada tepat di depan pintu kantor Keysha. Keduanya pun bersembunyi di salah satu pilar yang menjadi sekat antara kamar private.
"Bagaimana ini Ay? kita harus mengalihkan perhatian kedua orang itu..." bisik Ayana.
Dira tampak berfikir. Saat ini sangat sulit mengalihkan perhatian tanpa menimbulkan kecurigaan pada pengawal itu nantinya. Sadira ingin kedatangannya dan Ayana sama sekali tidak terdeteksi. Ini demi keselamatan keduanya dari amukan orangtua mereka masing-masing. Dan lagi-lagi keberuntungan berpihak pada mereka, karena tiba-tiba datang seseorang yang membuat para pengawal itu bergegas meninggalkan tempat mereka. Sepertinya terjadi keributan di lantai bawah, yang membuat keduanya harus segera membereskannya agar tidak mengganggu pengunjung club lainnya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ayana dan Sadira. Keduanya langsung mendekat ke ruangan Keysha. Saat ingin membuka pintu, keduanya sadar jika pintu itu terkunci. Dengan sigap Sadira mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. Gadis itu tampak profesional bak pencuri yang membuka pintu ruangan Keysha. Dalam waktu singkat gadis itu berhasil membuka pintu dan keduanya langsung masuk ke dalam.
"Kamu sungguh punya banyak bakat Ra..." ujar Ayana kagum.
"Sering baca novel detektif dan nonton film action..." potong Ayana.
"Itu kau tahu..." sahut Sadira tanpa rasa kesal.
Kemudian kedua gadis itu mulai menggeledah ruangan Keysha mencoba mencari letak dimana Siska menyembunyikan flash disknya. Hampir satu jam keduanya berada di dalam sana, namun yang mereka cari tak juga mereka temukan. Kini kedua gadis itu tampak terduduk di atas sofa dengan ekspresi lelah pada wajah keduanya.
"Bagaimana ini... kita sudah mencari ke setiap sudut ruangan ini, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan barang itu..." kata Ayana dengan nada capek.
"Mungkin kita kurang teliti Ay..." sahut Sadira dengan suara sama capeknya.
Keduanya kembali mengedarkan pandangannya mencoba mencari sudut yang sekiranya adalah tempat yang dipilih oleh Siska untuk menyembunyikan flas disk itu. Karena jika di dalam brankas maka Keysha pasti sudah mengetahuinya. Tiba-tiba Ayana merasa melihat sesuatu yang aneh pada sebuah pigura foto yang terletak di meja kerja Keysha. Gadis itu pun menegakkan tubuhnya dan menggoyangkan lengan Sadira pelan.
__ADS_1
"Apa?" tanya Sadira sambil menoleh ke arah Ayana
"Itu!" tunjuk Ayana pada pigura yang ia lihat.
Keduanya pun berdiri dan mendekat ke arah pigura itu. Lalu Ayana mengambil pigura itu dan mulai mengamatinya. Dira pun melakukan hal yang sama. Sekilas pigura itu terlihat biasa saja, namun saat tangan Ayana menyentuh bagian belakangnya ia menemukan sesuatu yang mengganjal pada bagian penopangnya. Dengan dada berdebar Ayana berusaha melepaskan benda yang menempel pada penopang pigura tersebut. Dan setelah beberapa saat akhirnya ia berhasil melepaskan benda itu.
Dua gadis itu saling pandang saat melihat sebuah benda berbentuk persegi panjang kecil yang dibebat dengan lakban. Dari bentuk dan ukurannya mereka yakin jika itu adalah benda yang mereka cari. Namun untuk memastikannya, Ayana pun berusaha membuka lakban yang membungkusnya. Dengan menggunakan kuku jarinya yang cukup panjang Ayana bisa membuka lakban itu meski cukup kesusahan. Dan benar saja... benda yang selama ini mereka cari-cari akhirnya bisa mereka dapatkan. Keduanya langsung saling pandang dan tersenyum lega. Kini tinggal memikirkan bagaimana caranya mereka berdua keluar dari tempat itu tanpa ketahuan.
Saat keduanya hendak keluar lewat pintu terdengar suara langkah kaki mendekat dan juga suara dua orang yang tengah berbincang.
"Dasar pemabuk... selalu saja bikin onar!" terdengar gerutuan seseorang.
"Namanya saja club... pasti ada saja pengunjung yang bersikap seperti itu... kau ini seperti baru kemarin saja bekerja di tempat seperti ini..." sahut seseorang yang lain.
"Hah! kalau nyonya Keysha tahu kita sempat meninggalkan ruangannya... bisa habis kita"
"Yah lebih baik kita tutup mulut saja... demi kesejahteraan bersama..."
Di dalam Ayana dan Sadira tampak serius mendengarkan percakapan dua orang di luar dengan perasaan takut.
"Bagaimana Ay... para penjaga itu sudah kembali... kita tidak mungkin keluar lewat pintu itu" ucap Sadira sedikit gugup.
Ayana memperhatikan sekelilingnya. Seingatnya ruangan Keysha memiliki sebuah jendela. Gadis itu pun mencoba mencari dimana letak jendela itu berada. Dan saat melihat dinding yang tertutup gorden Ayana langsung menghampirinya. Kemudian disingkapnya gorden tebal itu, dan tampak lah sebuah jendela kaca yang cukup lebar. Ayana dan Sadira langsung mencari engsel untuk membuka jendela itu. Tak lama mereka pun berhasil menemukannya dan langsung membuka jendela itu lebar. Dari sana terlihat jika di samping club itu terdapat sebuah ruko yang tampak gelap. Mungkin saja karena malam makanya tidak ada orang di dalam ruko itu. Ayana dan Sadira pun keluar melalui jendela yang kini terbuka lebar. Keduanya terpaksa berjalan di pinggiran gedung yang hanya memiliki lebar 40 cm saja, sebelum akhirnya mereka berdua bisa menyeberang ke gedung sebelah dengan menggunakan sebuah balok yang melintang diantara dua gedung.
Untung saja keduanya bukan gadis yang takut akan ketinggian dan bisa menyimbangkan tubuh mereka di balok titian. Meski begitu perjalanan antara dua gedung yang berjarak 3 meter masih terasa sangat lama bagi keduanya karena baru pertama kali ini keduanya melakukan hal itu. Menyeberangi dua gedung dengan balok dalam ketinggian lima meter dari atas tanah dan tanpa pengaman apa pun. Setelah sampai di atap gedung sebelah keduanya langsung mencari cara agar bisa turun ke bawah. Saat itulah Sadira melihat ada tangga darurat disalah satu dinding gedung yang bisa mereka gunakan. Namun sebelumnya keduanya harus turun terlebih dahulu dari atap untuk bisa menjangkau tangga tersebut.
Dengan lincah kedua gadis itu turun dari atap dan langsung menjejakkan kaki mereka di balkon. Lalu keduanya pun bergegas menuju tangga untuk bisa sampai ke bawah. Sesampainya di bawah mereka pun segera menjauh dari sana dan mencegat taksi untuk kembali ke kosan. Sedangkan tanpa mereka sadari jika saat saat ini ada seseorang yang tengah geram saat mengetahui jika putri bungsunya telah berani membohonginya dan pergi ke tempat yang tidak seharusnya dikunjungi oleh anak seusianya.
__ADS_1