BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Memancing Lawan


__ADS_3

Nyonya Sarah sudah hendak mengetuk pintu kamar Anna lagi saat pintu itu dibuka dari dalam. Tampak olehnya Anna dalam keadaan cukup berantakan. Nyonya Sarah langsung menduga jika putrinya itu baru saja bangun tidur.


"Maaf sayang... mama fikir kamu belum tidur..." ucapnya dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa ma... untung saja mama membangunkanku... tadi aku ketiduran saat menidurkan Sultan... sampai lupa belum sholat isya'..." ucap Anna.


"Syukurlah... mama fikir sudah mengganggu tidurmu sayang... sudah kalau begitu lebih baik kamu sholat dulu, lalu lanjutkan tidurmu..."


"Tapi mama ada perlu apa memanggilku?" tanya Anna yang penasaran.


"Hem... bukan hal yang mendesak... hanya bunda dan unclemu datang untuk menginap... mama fikir kau mungkin ingin bertemu dengan mereka, tapi kelihatannya kau sangat lelah... lebih baik kau tidur saja dulu toh besok pagi kalian masih bisa bertemu, lagi pula mereka akan menginap untuk beberapa hari disini... bundamu rindu dengan Sultan katanya..." terang nyonya Sarah sambil terkekeh mengingat betapa Amira sangat ingin bertemu dengan Sultan saat ini.


Karena itulah nyonya Sarah mencoba memeriksa ke kamar putrinya mana tahu jika balita itu mungkin masih terbangun meski saat ini jelas sudah lewat dari jam tidurnya.


"Baiklah ma... kalau begitu Anna masuk dulu ya..."


"Iya sayang... ingat... setelah sholat, lalu langsung tidur!" nasehat nyonya Sarah yang langsung diangguki oleh Anna.


Setelah memastikan jika mamanya sudah berjalan menjauh, Anna pun langsung menutup pintu kamarnya. Sementara begitu Anna menutup pintu kamar, Raja langsung memeluk tubuh Anna dari belakang dan menghujani istrinya itu dengan ciuman. Anna menggerakkan tubuhnya gelisah. Sungguh saat ini ia pun langsung terpancing dengan perlakuan Raja. Namun ia teringat dengan pesan mamanya barusan.


"Ugh... MB... tolong lepas dulu sebentar..." pintanya lirih.


"Kenapa?" tanya Raja dengan suara yang serak.


"Aku belum sholat isya'... kau juga kan? kita sholat dulu oke?"


"Nanti saja ya..." tawar Raja.


Anna menggelengkan kepalanya tegas. Karena ia tahu jika ditunda maka sudah bisa dipastikan ia tidak akan bisa melaksanakan kewajibannya itu karena Raja pasti akan membuatnya kembali lemas seperti siang tadi. Raja menggeram lirih... tapi ia juga sadar jika ia juga harus banyak bersyukur kepada yang Kuasa karena telah memberinya banyak kebahagiaan karena bisa kembali bersatu dengan keluarga kecilnya dengan beribadah kepada Nya. Keduanya pun kemudian bergantian mengambil air wudhu setelah sebelumnya Anna menyiapkan perlengkapan sholat mereka. Kemudian keduanya pun menjalankan ibadahnya secara berjamaah. Ini kali pertama keduanya bisa beribadah bersama setelah sekian lamanya mereka berpisah.


Lewat tengah malam Raja terbangun saat mendengar suara getar ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Dengan mata yang masih setengah terbuka ia pun meraba-raba untuk meraih ponselnya. Setelah membuka ponselnya ia pun mendekatkan benda pipih itu ditelinganya.


"Halo..."


"Maaf mengganggu tuan..." terdengar suara Rudi di seberang sana.


"Ada apa?" tanya Raja yang langsung membuka matanya lebar.


Perlahan pria itu beranjak dari tempat tidurnya agar tidak mengganggu istrinya yang tertidur pulas disampingnya. Pria itu berjalan menjauh ke arah balkon dengan hanya mengenakan boxernya.


"Julio sudah berada di Indo tuan... dan saya juga sudah tahu dimana dia tinggal... dan sepertinya dia ingin mencelakai tuan muda dan juga nyonya... tapi sampai saat ini dia belum juga bergerak... mungkin saja ia ingin menjalankan rencananya sehalus mungkin mengingat kini ia tengah menjadi buronan interpol..." terang Rudi.


"Baiklah... perketat keamanan... mungkin kita harus membuat pancingan agar kita bisa segera membekuknya dan menyerahkannya pada interpol..."


"Apa tuan masih yakin jika mereka bisa secepatnya membuat Julio mendapatkan hukumannya? sebab akibat kelalaian mereka juga Julio kini berhasil lolos..."


"Kau pasti tahu jika aku juga sudah tidak bisa percaya pada mereka lagi kan Rud?"

__ADS_1


"Jadi..."


"Ya buat mereka percaya jika kau akan menyerahkan Julio... tapi pastikan jika b****g*n itu sudah tidak bernyawa saat mereka dapatkan!" titah Raja.


Rudi tersenyum dari seberang sana saat mendengar perkataan tuannya itu meski ia tahu jika tuannya tidak bisa melihatnya saat ini. Raja yang dulu ia kenal sudah kembali. Pria itu kini mengeluarkan sisi gelapnya untuk melawan Julio demi melindungi keluarga kecilnya. Memang terkadang sisi gelap itu perlu dikeluarkan untuk bisa menghadapi Julio manusia kejam yang tidak memiliki belas kasihan meski pun pada wanita dan anak-anak.


"Baiklah tuan... semuanya akan saya siapkan" ucap Rudi kemudian mengakhiri panggilannya.


Raja menghela nafasnya pelan. Kehadiran Julio memang kini sudah diketahuinya, namun ia belum memiliki rencana yang sempurna untuk memancing pria itu keluar dari persembunyiannya. Lagi pula ia masih harus melindungi identitasnya yang dimata dunia terutama Julio dan juga petugas interpol sudah meninggal dunia. Ia juga harus bermain halus karena masa depannya dan keluarga kecilnya akan menjadi taruhannya.


Raja melangkah masuk kembali ke dalam kamar saat mendengar suara lenguhan dari Anna. Segera ia merebahkan dirinya disamping tubuh istrinya itu agar wanita itu tidak mencarinya seandainya dia membuka mata. Benar saja baru saja Raja melingkarkan lengannya diperut Anna yang masih polos, wanita itu sudah mulai mengerjapkan matanya.


"MB..." panggilnya lirih dengan suara khas orang bangun tidur.


"Hemm?"


"Kau tidak tidur?" tanya Anna sambil mengucek kedua matanya perlahan.


"Aku baru dari kamar mandi Honey Bee... ayo kita tidur lagi..." ujar Raja memberikan alasan.


"Hemmm... baiklah" sahut Anna lalu kembali menyusupkan kepalanya di dada Raja.


Melihat istrinya kembali tertidur Raja pun mulai memejamkan matanya ikut mengarungi dunia mimpi menyusul Anna.


Pagi menjelang...


"Selesai!" ucap Anna tersenyum sambil merapikan hasil karyanya kali ini.


"Terima kasih Honey Bee..." ujar Raja sambil mencium bibir istrinya itu.


"Ish... geli MB!" protes Anna yang sedikit tidak nyaman dengan penyamaran suaminya itu.


"Kenapa? bukannya banyak wanita yang menyukai model jambang seperti ini?" kata Raja sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Tapi aku tidak!" seru Anna sambil berlalu dan lebih memilih untuk keluar dari kamar untuk membuatkan kopi suaminya itu.


Raja terkekeh mendengar jawaban dari Anna. Memang sejak dulu Anna sangat menyukai wajah bersih Raja yang terbebas dari bulu. Meski untuk itu Raja harus bercukur setiap hari. Dan entah kenapa ia akhirnya menjadi terbiasa sehingga untuk penyamarannya alih-alih memanjangkan jenggotnya dengan sengaja, ia malah memilih untuk menggunakan yang palsu. Jadi saat malam hari ia bisa menikmati wajahnya yang bersih.


Raja meraih ponselnya dan mengetikkan pesan kepada tuan Sam dan tuan Bram saat Anna sudah kekuar dari dalam kamar. Ia harus berbicara dengan keduanya untuk membuat rencana agar bisa memancing Julio keluar dari persembunyiannya. Disamping itu ia juga harus memberitahukan pada keduanya jika Anna sudah mengetahui kebenaran tentang kematiannya.


Siang itu tuan Sam dan tuan Bram bergegas menuju tempat pertemuan rahasia mereka dengan Raja. Tidak jauh-jauh karena tempat itu adalah rumah tempat selama ini Raja tinggal saat menyamar sebagai Rahmat. Keduanya datang ke sana sendiri-sendiri agar tidak menimbulkan kecurigaan. Saat semua telah berkumpul Raja pun menerangkan semua informasi yang di dapatnya dari Rudi. Ia juga menceritakan jika saat ini Anna telah mengetahui jika dirinya masih hidup.


"Putriku memang sulit untuk bisa dibohongi terlalu lama... jika di Oxford kau dapat menjalankan rencanamu dengan lancar itu karena dia masih disibukkan dengan kuliah dan juga tugas magangnya..." kata tuan Bram.


Tuan Sam dan Raja mengangguk setuju. Kemudian ketiganya mulai menyusun rencana untuk membuat Julio keluar dari persembunyiannya. Setelah berunding cukup lama akhirnya tersusun rencana yang mereka kira cukup sempurna. Walau pun dengan itu mereka terpaksa harus melibatkan Anna di dalamnya.


Beberapa hari kemudian...

__ADS_1


Di tempat persembunyiannya, Julio tampak tengah mondar mandir dengan perasaan kesal. Pasalnya waktu yang ia miliki untuk tinggal di Indo semakin sempit. Meski menggunakan dokumen palsu ia tidak bisa berlama-lama tinggal di Indo agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak keamanan.


"Aku harus membuat wanita itu dan anaknya keluar dari rumah keluarganya agar aku bisa segera menghabisinya..." batin Julio sambil menghembuskan asap rokok yang dihisapnya.


Tak lama terdengar suara ponselnya berbunyi. Dengan segera pria itu pun mengangkatnya. Wajahnya langsung sumringah begitu mendengar kabar yang diberikan oleh anak buahnya itu.


"Cepat siapkan semuanya! aku tidak mau tahu... hari ini wanita itu dan anaknya harus mati ditanganku!"


"Baik tuan..."


Julio langsung menutup ponselnya dengan senyuman sinis yang mengembang.


"Akhirnya saat itu datang juga..." gumamnya sambil mematikan rokok yang masih tersisa.


Kemudian pria itu pun bergegas mengganti pakaiannya karena sebentar lagi anak buahnya akan menjemputnya ke tempat dimana ia akan mengeksekusi anak dan istri Raja.


Sementara itu di rumah orangtua Anna tampak wanita itu tengah bersiap untuk pergi ke pemakaman. Hari ini rencananya ia akan mengunjungi makam Raja ditemani oleh tuan Bram dan tuan Sam. Anna sengaja tidak membawa putranya karena Raja telah memberitahu jika ini hanyalah pancingan agar Julio keluar dari persembunyiannya. Karena itulah hanya tuan Sam dan tuan Bram yang menemaninya.


"Apa kau bahagia setelah mengetahui kebenarannya tentang suamimu sayang?" tanya tuan Bram saat mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke pemakaman.


"Iya pa... aku sangat bahagia..." sahut Anna sambil menggenggam tangan tuan Bram.


"Maafkan papa dan unclemu sayang... kami terpaksa mengikuti rencana suamimu itu... tapi kami melakukannya demi keselamatanmu dan juga Sultan..."


"Aku mengerti pa... kak Raja sudah menjelaskan semuanya..."


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke pemakaman dalam diam. Saat sampai di pemakaman Anna keluar dengan menggendong boneka seukuran putranya dan dipakaikan dengan pakaian Sultan. Sekilas dari jauh akan terlihat jika wanita muda itu tengah menggendong putranya. Julio yang ternyata juga sudah datang terlihat mengawasi ketiganya saat mereka berjalan menuju makam Raja.


"Bagaimana? apa semua sudah aman?" tanya Julio yang tidak ingin ada pihak lain yang menggagalkan rencananya.


"Sudah tuan..."


"Baiklah mari kita mulai permainannya..." ucap Julio sambil menyeringai.


Di depan makam palsu Raja, Anna dan yang lainnya hanya diam dan memasang telinga mereka waspada. Sikap mereka yang seolah tengah berziarah tidak membuat kewaspadaan mereka menurun. Semua tampak tenang saat ketiganya berada di area pemakaman. Tak ingin membuang waktu ketiganya bergegas kembali ke dalam mobil. Saat mobil yang ditumpangi ketiganya baru saja keluar dari area pemakaman tiba-tiba saja dua mobil sudah memepet mereka. Tuan Sam yang menyopiri mobil masih terlihat tenang dan tidak terpengaruh dengan dua mobil yang mulai membenturkan bodynya pada mobil yang dikemudikan oleh tuan Sam.


"Kalian siap?" tanya tuan Sam pada Anna dan tuan Bram yang duduk di kursi belakang.


"Iya..." jawab ayah dan anak itu serentak.


Tuan Sam langsung tancap gas berusaha untuk keluar dari kepungan dua mobil yang kini berada di kedua sisinya. Dua mobil yang mengepungnya pun tidak tinggal diam. Keduanya juga mempercepat laju mereka agar sasarannya tidak bisa lolos begitu saja. Namun tuan Sam yang mengenal seluk beluk daerah yang sedang mereka lalui dengan cepat dapat menghindar dan berbelok kearah samping sehingga mereka kini melaju di jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil. Hal ini menbuat kedua mobil yang tadi sempat mengepungnya menjadi berada di posisi belakang mobil tuan Sam.


Daerah yang dipilih tuan Sam saat ini pun telah direncanakan sebelumnya. Sebab sekarang mereka melewati daerah perbukitan yang sangat sepi karena tidak ada rumah penduduk disekitar sana. Julio yang berada di salah satu mobil yang kini sedang mengejar mobil tuan Sam tampak sangat gusar. Ia pun segera mengeluarkan senjatanya dan menembak ke arah mobil tuan Sam. Ketiga orang yang ada di dalam mobil langsung menundukkan kepala mereka saat mendengar suara letusan senjata. Bahkan kaca belakang mobil tuan Sam sudah pecah dan meninggalkan lubang bekas peluru disana.


"Apa kita hampir sampai Sam?" tanya tuan Bram sambil menundukkan kepala putrinya ke dalam pangkuannya untuk melindungi dari pecahan kaca mobil.


"Sebentar lagi Bram..." sahut tuan Sam masih fokus dengan jalan didepannya.

__ADS_1


Jalan yang mereka lewati kini sudah tidak lagi jalan beraspal melainkan jalan tanah dan di samping kiri kanan mereka hanya pepohonan yang menandakan jika mereka memasuki kawasan hutan. Meski begitu Julio dan anak buahnya tampak tidak memperdulikan sekelilingnya dan masih fokus mengejar mobil yang dikemudikan tuan Sam. Sesekali para penjahat itu menembakkan senjatanya pada mobil yang mereka kejar namun meski mengenai sasaran namun tidak menghentikan laju mobil itu. Hingga mereka menerobos ilalang yang membuat mereka tiba di sebuah padang rumput. Kini tuan Sam membalikkan mobilnya kearah belakang dan langsung mengeremnya sehingga kini mobilnya berhadap-hadapan dengan mobil lawan.


__ADS_2