
Tuan Sam masih terkekeh saat melihat wajah Amira yang memerah. Entah karena malu atau gusar karena ia telah mencium bibir Amira tanpa aba-aba.
"Sudahlah... kau jangan marah-marah bukankah kau baru saja sadar?" ucap tuan Sam berusaha untuk membujuk Amira.
Amira masih mengerucutkan bibirnya karena kini perasaannya sudah campur aduk. Ia tak menyangka jika baru saja ia sadar tuan Sam sudah mulai menyerangnya. Tak bisa ia bayangkan jika nanti ia sudah benar-benar sembuh. Habis sudah ia menjadi korban kemesuman suaminya itu.
"Ayolah sayang..." ucap tuan Sam memelas saat melihat Amira masih dengan mode marahnya.
"Lebih baik kau istirahat dulu... sebentar lagi subuh" ucap tuan Sam.
Akhirnya Amira pun luluh dan mulai merebahkan tubuhnya. Tuan Sam pun dengan telaten membetulkan selimut untuk menutupi tubuh Amira. Lalu ia pun berjalan keluar namun tiba-tiba Amira memanggilnya.
"Mau kemana?" tanyanya.
Tuan Sam pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Amira.
"Bukankah tadi aku bilang sudah hampir subuh? jadi aku akan ke musholla saja sambil menunggu azan" jawab tuan Sam.
"Tak bisakah kau sholat disini denganku?" ucap Amira.
Tuan Sam tersenyum mendengar penuturan istrinya itu.
"Baiklah...kalau begitu sambil menunggu azan boleh aku berbaring disampingmu?" kata tuan Sam sambil berjalan kearah Amira.
Amira mendesah pelan, suaminya itu masih saja curi-curi kesempatan.
"Baiklah..." ujar Amira pasrah dan menggeser tubuhnya sedikit agar tuan Sam dapat berbaring disebelahnya.
Dengan tersenyum senang tuan Sam langsung berbaring disebelah Amira.
"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Amira saat tuan Sam sudah berada disampingnya.
"Hemm..." jawab tuan Sam sambil meletakkan kepala Amira didadanya.
"Bagaimana dengan keadaan mbak Mela?" tanya Amira hati-hati.
Tuan Sam menghembuskan nafas kasar.
"Dia sudah tiada..." ucap tuan Sam dengan nada enggan.
Amira tersentak kaget, ia ingat saat ia menghajar Mela tanpa ampun. Walau saat itu ia sangat emosi dan menghajar wanita itu habis-habisan namun sesungguhnya ia tak ingin jika wanita itu meninggal.
"Apa aku yang membunuhnya?" tanya Amira dengan suara bergetar.
Tuan Sam langsung mengangkat dagu Amira agar gadis itu dapat melihat wajahnya.
"Tidak Meyaa... kau bukan seorang pembunuh, jadi bagaimana mungkin kamu membunuh Mela..." ucapnya sambil memandang mata Amira yang sudah berkaca-kaca.
"Dia meninggal karena perbuatannya sendiri hingga polisi harus menghabisinya" terang tuan Sam.
"Jadi dia..."
"Ya ... dia meninggal karena ditembak petugas polisi..." ucap tuan Sam memeluk istrinya itu.
Amira menarik nafas lega.
"Lalu bagaimana dengan kak Sarah?"
"Dia baik-baik saja kau jangan khawatir lebih baik kau fikirkan dirimu sendiri sekarang agar cepat sembuh dan kita bisa segera pulang" kata tuan Sam mempererat pelukannya.
Amira pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Saat itulah terdengar suara azan subuh. Amira pun mengurai pelukannya.
"Kau ambillah air wudhu..." ucapnya pada tuan Sam. Tuan Sam hanya mengangguk dan perlahan turun dari brankar.
"Sebentar..." ucapnya lalu berjalan ke nakas dan mengambil sebuah paper bag.
__ADS_1
Lalu diambilnya sesuatu dari dalam paper bag itu.
"Ini..." ucap Amira saat menerima mukena yang diambil tuan Sam dari dalam paper bag.
"Ya... kau pakailah..." kata tuan Sam.
"Kau sudah menyiapkannya?" tanya Amira yang tak menyangka jika tuan Sam sudah menyiapkan sebuah mukena untuk dirinya.
Tuan Sam mengangguk.
"Entah mengapa aku sudah merasa jika kau akan membutuhkannya disini..." ucapnya lembut lalu membantu Amira untuk mengenakannya.
"Sudah... aku tinggal untuk mengambil air wudhu dulu ya... kau bisa melakukan tayyamum disini..."
"Iya..." jawab Amira.
Akhirnya mereka melakukan sholat berjamaah mereka yang pertama meski dengan Amira yang masih diatas brankar rumah sakit. Saat menjalankan sholat hati tuan Sam sangat tersentuh karena baru kali ini ia menjadi imam sholat. Apalagi dengan Amira sebagai makmumnya yang kini berstatus sebagai istrinya. Selesai sholat tuan Sam berdo'a dan bersyukur atas karunia yang ia dapat. Istri chubbynya telah sadar kembali dan kini tinggal menunggu pemulihan. Sedang Amira merasa bersyukur telah diberi kesempatan untuk hidup kembali bersama suaminya.
Setelah selesai sholat tuan Sam mengajak Amira untuk kembali beristirahat agar cepat sembuh. Dan tentu saja dengan dia yang juga ikut berbaring di samping Amira. Kali ini Amira menurut tanpa protes karena sudah merasa sangat lelah. Mereka pun akhirnya tidur sambil berpelukan. Tuan Sam terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Setelah tuan Sam mempersilahkan terlihat seorang perawat masuk dengan membawa peralatan untuk memandikan Amira.
"Maaf tuan sudah saatnya nyonya mandi" ucapnya dengan sopan.
"Baiklah kau letakkan saja semuanya disitu" kata tuan Sam.
Setelah meletakkan peralatan mandi ditempat yang tuan Sam tunjukkan perawat itu pun pamit undur diri. Setelah perawat itu pergi tuan Sam pun membangunkan Amira yang masih tertidur.
"Ra... bangunlah..." kata tuan Sam sambil menepuk pipi Amira pelan.
Dengan gerakan pelan Amira membuka matanya dan memandang tuan Sam yang sudah berdiri disampingnya.
"Apakah sudah pagi?" tanyanya pelan.
Tuan Sam mengangguk.
Amira memandang tuan Sam dengan pandangan tak mengerti.
"Ayo aku mandikan" kata tuan Sam. Amira langsung membelalakkan matanya kaget.
"Tidak usah kaget seperti itu... selama ini toh aku yang selalu memandikanmu" kata tuan Sam sambil tersenyum. Amira langsung menaikkan selimutnya sampai ke dada.
"Apa maksudmu..."
"Iya ...selama kau belum sadar aku yang selalu memandikan dan membersihkan tubuhmu" sambung tuan Sam.
Amira semakin mendelik mendengar penuturan tuan Sam. Wajahnya sudah memerah membayangkan tuan Sam sudah melihat dan bahkan menyentuh sekujur tubuhnya.
"Jangan marah seperti itu sayang... aku kan sudah menjadi suamimu jadi tak masalah jika aku melihat dan menyentuh tubuhmu bukankah kita sudah halal?" kata tuan Sam panjang lebar.
"Tapi kenapa kau tak menyuruh perawat wanita saja untuk melakukannya?" tanya Amira setelah berhasil menguasai dirinya.
"Kau itu terluka karena aku jadi mana mungkin aku membiarkan orang lain untuk merawat dan mengurusmu? lagi pula aku ini suamimu jadi sudah menjadi kewajibanku untuk mengurusmu termasuk memandikanmu..." kata tuan Sam yang mulai terlihat kesal karena Amira mempermasalahkannya.
"Ayo cepat sini aku mandikan ini sudah siang ... setelah kau mandi aku juga akan mandi" sambungnya sambil mulai menyiapkan pakaian ganti untuk Amira. "Tapi aku ingin mandi sendiri di kamar mandi" ucap Amira setelah berfikir sesaat.
"Tapi kau kan masih memakai selang infus...".
"Tidak apa-apa aku bisa ..." ucap Amira kekeuh.
"Baiklah ... akan ku antar kau ke kamar mandi.." kata tuan Sam setelah menghela nafas kasar.
Dibantunya Amira turun dari brankar lalu menuntunnya ke kamar mandi yang ada didalam ruang perawatan sambil mendorong tiang infus Amira.
Setelah masuk ke dalam kamar mandi dan meletakkan tiang infus dekat dengan shower tuan Sam pun mencoba untuk kembali membantu Amira.
"Apa kau perlu bantuan untuk membuka pakaianmu?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak perlu.... aku bisa sendiri..." ucap Amira menggelengkan kepalanya kuat dengan wajah yang sudah memerah menahan malu.
"Baiklah jika butuh bantuan panggil saja ... aku ada di depan pintu" kata tuan Sam santai.
Amira hanya mengangguk... bibirnya sudah kelu dan wajahnya sudah seperti tomat akibat tingkah tuan Sam. Setelah pintu ditutup Amira segera mencoba untuk membuka pakaiannya sendiri. Untung saja itu pakaian rumah sakit sehingga dengan mudah ia melepasnya tanpa bantuan orang lain. Sementara tuan Sam yang berada di luar kamar mandi tersenyum kecil melihat tingkah istrinya itu.
"Kau sudah kembali menjadi Amiraku yang dulu Ra..." gumamnya dalam hati.
Setelah mandi dan berganti pakaian barulah Amira keluar dari dalam kamar mandi. Dilihatnya tuan Sam sedang merapikan brankar Amira. Tampak sekali jika suaminya itu sudah terampil dengan kegiatannya.
"Kau sudah selesai?" tanya tuan Sam saat melihat Amira berjalan perlahan kearahnya.
Amira pun mengangguk. Tuan Sam langsung maju membantu Amira berjalan ke brankarnya. Setelah Amira duduk di atas brankar tuan Sam dengan telaten menyisir rambut Amira dengan lembut. Amira pun menikmati saat tuan Sam melakukannya. Sebenarnya ia sama sekali tak menyangka jika pria yang dulu datar dapat bersikap sangat lembut kepadanya. Bahkan mau merawatnya sendiri saat ia terluka.
"Terima kasih B" ucap Amira saat tuan Sam selesai menyisir rambutnya dan memasangkan hijab instan padanya.
"Tak perlu berterima kasih Meyaa karena itu sudah menjadi kewajibanku sebagai suamimu..." ucap tuan Sam lalu mengecup puncak kepala Amira.
"Baiklah sekarang aku mandi dulu..." sambungnya. Saat tuan Sam sedang mandi terdengar suara ketukan dari pintu.
"Masuk..." kata Amira.
Saat pintu dibuka tampak nyonya Sarah dan tuan Bram masuk. Begitu melihat Amira yang sudah sadar dan duduk bersandar di kepala tempat tidur nyonya Sarah langsung menghambur dan memeluk Amira.
"Kapan kau sadar Ra?" tanyanya dengan sedikit terisak karena terharu.
"Semalam kak...." ucap Amira sambil tersenyum.
"Kenapa kakak tidak mengabariku?" kata nyonya Sarah.
"Karena waktu itu sudah lewat tengah malam kak..." ucap Amira membela suaminya.
"Lalu dimana kakakku sekarang?" tanya nyonya Sarah sambil mengamati seluruh ruangan.
"Dia sedang mandi..." terang Amira.
Tak lama tuan Sam pun keluar dari kamar mandi. "Kalian sudah datang?" tanyanya saat melihat adik dan iparnya sudah ada di ruang perawatan Amira.
Keduanya pun mengangguk.
"Lalu bagaimana kata dokter kak? kapan Amira akan pulang?" tanya nyonya Sarah.
"Kita tunggu saja sebentar lagi akan ada visit dokter" kata tuan Sam.
"Apa kakak hari ini akan berangkat ke kantor?" tanya tuan Bram.
Aku belum tahu ...aku sedang menunggu kabar dari dokter dulu"
Tuan Bram pun mengangguk mengerti. Tak lama dokter pun datang untuk memeriksa kondisi Amira.
"Bagaimana dok keadaan istri saya?".
"Alhamdulillah keadaan nyonya sudah semakin baik... jika tak ada halangan besok pagi sudah bisa pulang" kata dokter tersebut. Mendengar itu semua orang merasa sangat senang.
"Kau pergilah ke kantor... biar aku disini dengan kak Sarah" ucap Amira saat melihat suaminya itu tampak enggan berangkat ke kantor padahal Lukas yang baru saja datang memberitahukan jika ada rapat penting yang harus dihadiri oleh tuan Sam.
Akhirnya tuan Sam pun menuruti istrinya itu dan berangkat ke kantor bersama tuan Bram dan juga Lukas. Setelah ketiganya pergi nyonya Sarah dan Amira pun dapat mengobrol dengan leluasa.
"Kak bagaimana keadaan anak-anak?" tanya Amira.
"Mereka baik-baik saja Ra... bahkan setiap pulang sekolah mereka selalu kemari menjengukmu" terang nyonya Sarah.
"Mereka pasti bahagia melihatmu sudah sadar...".
Amira tersenyum rasanya ia sangat merindukan kedua bocah itu.
__ADS_1