BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Berdua


__ADS_3

Bara melihat pada petanya dan mengetahui jika posisinya dan Sadira saat ini berada tak jauh dari area curug. Bara pun segera mengatakannya pada Sadira yang membuat gadis itu langsung mengembangkan senyumnya. Keduanya pun lalu bergegas menuju curug itu. Benar saja... tak lama keduanya sudah berada di aliran sungai dekat dengan curug, karena suara gemuruh air dari curug bisa terdengar jelas ke telinga keduanya. Keduanya tidak segera ke tempat curug berada karena Bara melihat Sadira yang sudah tampak kelelahan.


Lagi pula saat ini keduanya harus melaksanakan kewajiban mereka berdua sebagai seorang muslim sebelum waktunya habis. Untung saja Sadira menggunakan pakaian lengan panjang hingga mereka hanya membutuhkan sesuatu untuk menutupi rambutnya agar bisa melaksanakan sholat walau dalam keadaan darurat. Bara kembali memeriksa isi ranselnya. Dan akhirnya ia pun mendapatkan apa yang dicarinya untuk menutupi rambut Sadira agar gadis itu bisa melakukan ibadahnya.


"Coba kau pakai ini Ra... untuk menutupi rambut kamu..." kata Bara sambil memberikan sebuah syal pada Sadira.


"Ini..."


"Pakailah... kita harus tetap sholat kan?"


"Iya kak... terima kasih..." sahut Sadira sambil menerima syal pemberian Bara.


Perlahan keduanya mendekati sungai dan mengambil air wudhu disana. Bara pun membantu Sadira untuk mencari tempat yang tepat untuk mereka sholat. Bara yang harus menggenggam tangan Sadira agar gadis itu tidak terjatuh, membuat Sadira harus membungkus tangannya dengan syal pemberian Bara agar kulit keduanya tidak bersentuhan dan membatalkan wudhu mereka. Setelah mendapatkan tempat yang tepat, Bara pun memberi alas untuk kedua sholat dengan dedaunan yang ada di sekitar sana.


Sementara Sadira mulai mengenakan syal pemberian Bara untuk menggantikan kerudung di kepalanya. Setelah semuanya siap, keduanya pun mulai menjalankan ibadahnya secara berjamaah dengan Bara sebagai imamnya. Keduanya tampak khusuk, selain karena mereka memang meminta pertolongan dari Tuhannya juga karena ini pertama kalinya mereka sholat berjamaah. Ada rasa tenang dan juga senang di hati keduanya. Bahkan kini keduanya berharap jika di masa depan keduanya masih bisa melakukannya. Dan itu artinya keduanya berharap jika mereka dapat berjodoh.


Sementara itu di perkemahan semua orang sudah heboh. Bagaimana tidak... setelah Sadira tadi menghilang, kini giliran Bara juga ikutan menghilang. Hana yang terlihat sangat syok dan merasa bersalah karena lalai tak menyadari jika Sadira terpisah darinya, sedari tadi hanya bisa menangis. Teman-teman satu kelompok mereka pun berusaha untuk menenangkan gadis itu. Sedang wajah berbeda ditunjukkan oleh Naya. Gadis itu tampak kesal saat mengetahui jika Bara juga ikut menghilang. Sebenarnya tadi dia sudah merasa bersyukur saat gadis yang ia anggap sebagai saingannya itu menghilang.


Bahkan dengan jahatnya gadis itu sudah mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu agar tidak lagi mengganggu Bara. Tapi saat mendapatkan berita bahwa Bara juga ikut menghilang gadis itu menjadi panik dan menjadi kesal saat membayangkan jika saja Sadira dan Bara bertemu. Itu artinya keduanya mempunyai waktu yang banyak untuk berduaan. Hanya dengan membayangkannya saja Naya sudah merasa marah, apa lagi jika hal itu benar terjadi. Mungkin ia akan mendapatkan serangan darah tinggi karena tidak bisa menahan amarahnya.


Hari pun sudah mulai gelap, namun keduanya belum juga ditemukan. Hal ini membuat guru pembimbing segera melakukan tindakan. Mereka pun segera menghubungi petugas penyelamat dan juga orangtua dari Sadira dan juga Bara. Mereka tidak ingin membuat keluarga keduanya merasa dibohongi atas menghilangnya anak-anak mereka.


Di rumah...

__ADS_1


Amira langsung syok saat mendapatkan kabar jika putri bungsunya Sadira menghilang, dan kemungkinan tengah tersesat di dalam hutan. Wanita berhijab itu pun langsung memanggil suaminya, tuan Sam agar mereka bisa segera menyusul ke tempat perkemahan Sadira. Sahir dan Samir yang mengetahuinya pun langsung mengajukan diri untuk ikut mencari sang adik. Tuan Sam langsung bertindak cepat, ia segera menyuruh sopir untuk menyiapkan mobil untuk mereka sementara ia dan Amira juga kedua putra kembar mereka bersiap.


"Aku takut Db... Sadira belum pernah mengikuti kegiatan seperti ini sebelumnya, dan kini dia malah menghilang..." ucap Amira sambil menangis dalam pelukan tuan Sam.


Amira yang biasa tangguh kini tampak lemah karena kehilangan putri bungsunya. Tuan Sam hanya bisa menenangkan istrinya itu. Ia pun memerintahkan sang sopir untuk mempercepat laju mobilnya agar mereka bisa cepat tiba di lokasi perkemahan. Sementara Sahir dan Samir memilih untuk mengendarai mobil mereka sendiri. Dua mobil itu pun beriringan menuju tempat perkemahan.


Sementara itu di tempat lain...


Bara tengah mengumpulkan kayu kering agar bisa membuat api unggun karena tempatnya dan Sadira berada sudah mulai gelap. Keduanya tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke perkemahan karena medan yang cukup sulit apa lagi saat malam hari. Lagi pula Sadira yang masih terluka membuat Bara tidak mau mengambil resiko. Keduanya pun sepakat untuk bermalam di pinggir sungai.


Saat Bara mencari kayu bakar, Sadira mencoba peruntungannya untuk mencari makanan untuk mereka. Ia pun mencoba untuk memancing ikan dengan menggunakan peralatan seadanya. Memiliki dua saudara laki-laki yang suka berpetualang membuat Sadira sedikit banyak mengetahui beberapa hal termasuk mengail ikan. Meski tidak pernah berpetualang seperti kedua kakaknya, tapi ia tahu caranya dari cerita keduanya sepulangnya dari gunung. Sadira menggulung celana panjangnya setelah melepas kedua sepatu yang dipakainya. Karena pertolongan Bara tadi ia kini tak lagi merasakan sakit pada kakinya yang tadi terkilir.


Setelah memasang kail di tempat yang sekiranya terdapat ikan, Sadira pun mulai mencari buah-buahan liar yang bisa untuk dimakan sebagai pengganjal perut. Tak lama gadis itu pun sudah menemukan beberapa buah Ciplukan dan juga Murbey. Dengan cepat ia pun mengumpulkan buah liar itu dan menaruhnya dalam syal yang tadi dipinjamkan oleh Bara. Saat akan kembali ke tempat Bara akan membuat api unggun ia juga menemukan pohon talas yang cukup besar. Itu berarti ada talas yang bisa mereka makan. Tapi sayang ia tak memiliki tenaga untuk mencabut tanaman talas itu.


"Kau benar-benar jeli Ra... dengan talas ini kita tidak akan kelaparan malam ini..." ucap Bara sambil menggali tanah disekitar tanaman itu agar bisa dengan mudah mencabutnya.


Setelah berhasil mendapatkan talas, Bara segera membersihkannya agar bisa dikonsumsi. Sadira pun memeriksa kailnya, dan ternyata sudah ada ikan yang cukup besar tersangkut pada mata kail buatan Sadira dari bahan seadanya. Gadis itu dengan gembira memperlihatkan tangkapan pertamanya pada Bara.


"Kak Bara... lihatlah!" serunya sambil memperlihatkan ikan tangkapannya.


"Wah kau ini penuh kejutan Ra..." sahut Bara sambil menghampiri Sadira.


"Sini... biar aku yang membersihkannya... kau duduklah dan beristirahat" sambungnya sambil mengambil alih ikan yang ada ditangan Sadira.

__ADS_1


Sadira pun menurut dan segera duduk di depan api unggun. Ia juga mulai memanggang talas yang tadi sudah dibersihkan oleh Bara. Sadira meletakkan talas yang sudah bersih di dalam lubang yang sebelumnya ia buat. Ia juga tadi sudah meletakkan beberapa batu kali berukuran sedang di bawah api unggun agar panas. Setelah itu ia pun menata lapisan batu yang sudah dipanaskan di api unggun tadi, lalu daun, talas, daun dan terakhir batu panas lagi. Ia mengikuti cara orang Papua memasak makanan mereka secara tradisional.


Bara yang baru kembali setelah membersihkan ikan hasil tangkapan Sadira tadi langsung menusuk ikan itu agar bisa dibakar diatas api unggun. Meski tanpa menggunakan garam atau pun bumbu lain tapi mereka sudah bersyukur karena masih bisa mendapatakan makanan. Talas yang sudah dipotong Sadira dengan ukuran yang agak kecil membuatnya cepat matang sehingga keduanya tidak perlu menunggu lama. Tepat saat ikan yang dibakar oleh Bara matang, talas yang dimasak oleh Sadira juga matang.


Keduanya menyantap hidangan makan malam sederhana mereka dengan lahap. Setelah makan Sadira memberikan buah yang ia temukan sebagai pencuci mulut pada Bara. Cowok itu pun merasa senang karena Sadira cukup tangguh sebagai penyintas. Wajar saja karena dia adalah putri dari Amira yang sama-sama memiliki semangat juang yang tinggi. Malam itu keduanya tidur dengan pembatas api unggun diantara keduanya. Baru saja keduanya memejamkan mata... tiba-tiba terdengar suara gemuruh diikuti dengan kilatan petir, pertanda jika sebentar lagi hujan akan turun.


Bara langsung mengajak Sadira untuk berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Ia khawatir jika hujan turun akan menyebabkan aliran sungai meluap. Hal ini bisa membahayakan nyawa keduanya. Dengan menggunakan cahaya dari obor buatan Bara, mereka pun berjalan perlahan ke daerah yang lebih tinggi dan agak jauh dari sungai. Saat mereka baru saja melangkah hujan sudah mulai turun. Sadira yang menjadi panik langsung mengeratkan pegangannya pada lengan Bara.


Hujan turun bertambah deras, membuat obor yang dibuat oleh Bara pun padam. Keduanya kini berjalan dalam kegelapan. Tak ingin kehilangan Sadira dalam kegelapan, Bara menarik tubuh gadis itu hingga menempel pada tubuhnya. Tak ada penolakan dari Sadira. Hujan deras pun membuat tubuh keduanya kini basah kuyup. Berdekatan dengan Bara membuat Sadira sedikit merasa hangat. Keduanya pun kini berjalan sambil saling berangkulan. Setelah berjalan cukup jauh, keduanya berhenti dibawah sebuah pohon besar.


Meski tidak sepenuhnya melindungi mereka dari air hujan, tapi setidaknya bisa menjadi tempat mereka bernaung. Lebatnya hutan membuat keduanya tidak takut berteduh dibawah pohon dan khawatir tersambar oleh petir. Bara memberanikan diri untuk memeluk tubuh Sadira yang sudah mulai menggigil kedinginan. Tak ada penolakan dari Sadira, tampaknya gadis itu sudah terlalu kedinginan hingga ia menurut saja saat Bara memeluknya dengan erat. Kini keduanya saling berpelukan di bawah pohon menunggu air hujan berhenti turun.


Saat Amira dan tuan Sam sampai di perkemahan hari sudah malam. Gerimis pun sudah mulai turun. Dengan bergegas keduanya langsung pergi ke tenda panitia untuk mendapatkan informasi terakhir tentang Sadira. Dan dari penjelasan guru pembimbing mereka baru tahu jika kini bukan hanya Sadira tapi juga salah satu siswa senior yang menjadi ketua panitia juga ikut menghilang saat mencari Sadira. Amira menjadi semakin cemas akan keadaan sang putri. Jika ketua panitianya saja bisa menghilang apalagi putrinya yang baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti itu. Tuan Sam yang tahu kecemasan istrinya langsung berusaha menenangkan.


Sahir dan Samir yang baru datang pun mengajukan diri untuk ikut dalam pencarian adik mereka. Upaya pencarian terpaksa ditunda karena hari sudah malam dan cuaca yang tidak mendukung akibat hujan lebat. Mau tidak mau Amira harus bersabar untuk bisa mencari putri bungsunya itu.


Malam berganti pagi...


Bara mengeliat pelan... ia merasakan tubuhnya yang kaku dan seperti ada yang menghimpit. Saat ia membuka matanya tampak olehnya seseorang tengah tertidur dalam dekapannya. Ternyata itu adalah Sadira. Bara segera memeriksa kondisi Sadira saat tersadar jika keduanya semalaman kehujanan dan terlihat Sadira seperti menggigil kedinginan. Namun saat Bara memeriksa suhu tubuhnya ternyata tubuh gadis itu malah panas. Itu berarti gadis itu demam... pasti karena kehujanan semalaman dan pakaiannya yang basah kuyup. Meski keadaan dirinya juga tak jauh beda dengan Sadira, tapi setidaknya dirinya masih tersadar. Sedang gadis itu sudah mulai mengigau dan tidak sadarkan diri akibat demam.


Perlahan Bara merebahkan tubuh Sadira. Kemudian ia pun segera mencari sesuatu untuk membuat tubuh gadis itu menjadi hangat. Sayangnya semua ranting yang ditemuinya basah akibat hujan semalam dan tidak dapat dijadikan sebagai kayu bakar. Bara menjadi panik... ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Sadira. Karena tak menemukan apa pun untuk menghangatkan tubuh gadis itu, ia pun segera kembali ke tempat dimana ia tadi meninggalkan Sadira.


Saat sampai ia kembali mengecek keadaan Sadira. Suhu tubuhnya belum juga turun. Karena kebingungan ia pun segera menggendong tubuh Sadira ala brydal style karena gadis itu sudah tidak sadarkan diri. Tertatih Bara berusaha membawa Sadira kembali ke tepi sungai. Karena dari tempat itu ia bisa menuju ke curug tempat ia bisa membawa Sadira kembali ke perkemahan. Bara berusaha berjalan secepat yang ia bisa agar bisa segera sampai ke perkemahan. Meski kakinya sudah merasa lemas karena ia juga semalaman terkena hujan, tapi Bara tidak mau menyerah. Karena kalau tidak, ia bisa kehilangan gadis itu. Dan Bara tidak mau itu terjadi.

__ADS_1


Sambil berlinang air mata Bara terus berjalan dan berusaha mengenyahkan segala fikiran negatif tentang keadaan Sadira. Dalam hati dia terus saja berdo'a agar Sadira tetap bertahan hingga mereka menemukan pertolongan.


__ADS_2