BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Hukuman Si Kembar


__ADS_3

Samir tampak memelototkan matanya saat melihat sang adik keluar dari dalam sekolahnya sambil bergandengan tangan dengan seorang pemuda. Apalagi saat melihat senyum keduanya yang merekah, bisa dipastikan jika keduanya sudah memiliki hubungan yang spesial. Sahir yang berada di samping Samir pun sampai menggeretakkan giginya saat melihat pemandangan yang sama dengan adiknya kembarnya itu.


Reflek Sahir dan Samir langsung keluar dari dalam mobil. Ya... hari ini Sahir dan Samir disuruh sang bunda untuk menjemput sang adik karena sopir yang biasa menjemput adiknya itu tengah izin karena anaknya yang tiba-tiba sakit. Dan apa yang mereka lihat saat ini? sang adik bungsu sedang jalan berdua dengan mesra dengan seorang cowok? dada kedua kakak kembar Sadira itu terasa menggelegak tak terima adik kecil mereka sudah berani menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Sementara dua sejoli itu belum menyadari datangnya bahaya, keduanya masih saling senyum dan sesekali wajah Sadira tampak merona mendengar perkataan Bara.


"Apa yang sudah kalian lakukan hah?" seru Sahir yang membuat kedua sejoli itu terlonjak kaget.


"Ka... kakak..." ucap Sadira bergetar.


"Jelaskan pada kami apa maksudnya ini Dira?" tanya Samir tak kalah dingin.


"A... aku... maksudku... ka... kami..." Sadira tergagap.


"Kami apa hah? pacaran... begitu?" cecar Samir.


"Iya kak... kami memang sudah pacaran..." sahut Bara dengan berani.


Menurutnya sudah kepalang basah, kedua kakak kembar Sadira juga sudah melihat semuanya. Jadi ia rasa sudah tidak perlu lagi untuk menyembunyikan hubungan keduanya dari mereka.


"Apa-apaan ini Ra? kamu itu masih kecil... berani sekali kamu melanggar larangan ayah dan bunda!" seru Sahir sambil menatap tajam ke arah Sadira.


Hati Sadira langsung menciut saat mendengar perkataan Sahir. Ya... kedua orangtua mereka melarang anak-anaknya berpacaran sebelum usia mereka 17 tahun. Dan kini ia melanggarnya.


"Kakak jangan menyalahkan Sadira... saya yang memaksanya untuk menerima saya sebagai kekasihnya..." kata Bara mencoba untuk membela kekasihnya.


"Jangan ikut campur!" sergah Samir marah.


"Dan lepaskan tanganmu itu dari tangan adikku!" sambungnya sambil menarik paksa tangan Sadira hingga terlepas dari genggaman Bara.


"Sekarang ikut kami pulang!" titah Sahir.


Samir langsung menarik adik bungsunya itu untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil. Sedang Sahir tampak masih berdiri didepan Bara.


"Dan kau! aku peringatkan untuk yang pertama dan terakhir kalinya... jauhi Dira! dia masih terlalu kecil untuk urusan cinta-cintaan..." Sahir memberikan ultimatum.

__ADS_1


Bara menelan salivanya susah payah. Ia tak menyangka jika kedua kakak Sadira ternyata lebih garang dari satpam penjaga komplek rumahnya. Sedang Sadira tampak menatap sayu dari dalam mobil. Kemudian Sahir langsung menyusul kedua adiknya masuk ke dalam mobil. Ia juga langsung mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu tanpa berkata sepatah kata pun. Nyali Sadira semakin menciut saat kedua kakaknya sama sekali tidak mengajaknya berbicara selama perjalanan pulang. Ingin sekali ia menjelaskan, namun saat melihat wajah Sahir dan Samir yang datar membuat gadis yang biasanya bar-bar itu pun melempem.


Ya... hanya dengan keluarganya saja ia tidak bisa berkutik. Apa lagi ia mengakui jika kali ini ialah yang bersalah. Perjalanan yang hanya butuh waktu 20 menit terasa begitu lama bagi Sadira. Dan saat memasuki gerbang rumahnya, gadis itu sudah mempersiapkan dirinya untuk disidang oleh keluarganya. Namun ternyata kedua kakaknya itu tidak mengatakan apa pun pada kedua orangtua mereka, yang membuat Sadira merasa lega sekaligus merasa bersalah. Malam harinya saat Ayana menelfon Sadira, gadis itu pun mengungkap apa yang dialaminya hari ini kepada sahabatnya itu. Ayana yang terkejut pun langsung menghubungi Hana sehingga ketiganya bisa mengobrol bersama. Ayana berharap agar Sadira dapat sedikit terhibur meski ketiganya hanya bisa mengobrol melalui ponsel.


Setelah selesai, Sadira merasa lebih baik karena dukungan kedua sahabatnya itu. Sementara Hana dan Ayana setelah Sadira menutup ponselnya langsung berencana untuk memberi pelajaran pada kedua kakak Sadira. Hana memang sudah bercerita tentang hubungannya dengan Samir pada Ayana. Sebab Ayana pernah memergoki keduanya saat berada di mall. Sementara Sadira masih belum mengetahuinya. Hal yang tidak mengenakkan juga terjadi di rumah Bara. Bagaimana tidak, Naya datang bersama kedua orangtuanya untuk menemui kedua orangtua Bara. Mereka hendak meminta pertanggung jawaban Bara karena telah berbuat mesum dengan putri mereka. Sebagai buktinya kedua orangtua Naya menunjukkan foto yang sama dengan yang dikirimkan Naya pada Sadira.


Yuda yang semula hendak membicarakan hal ini dengan baik-baik pada kedua orangtua Naya jadi semakin marah dengan sikap Naya yang semakin menjadi. Akhirnya ia pun menunjukkan bukti sebenarnya pada kedua orangtua Naya tentang kelakuan busuk Naya yang menjebak Bara. Meski rekaman cctv di rumah Yuda dan di hotel sudah cukup jelas, namun kedua orangtua gadis itu masih tetap ngotot dan menganggap Bara sudah merusak putri mereka. Mereka beralasan jika bisa saja Bara terbangun saat sudah berada di dalam kamar hotel dan melakukan pelecehan pada putri mereka.


Tak terima putranya tetap dituduh yang tidak-tidak, Yuda pun langsung memberikan bukti baru yang didapatnya dari ponsel salah satu pegawai yang sudah dipecatnya karena sudah membantu Naya.


"*Kalian harus bisa mendapatkan foto yang bagus dan benar-benar terlihat alami agar tidak ada yang tahu jika ini hanya rekayasa... mengerti?" terlihat dalam rekaman Naya yang sedang mengatur posisinya di samping Bara yang tengah tidak sadar karena obat bius.


"Baik nona..." terdengar suara seseorang menyahut namun tidak tampak karena tengah memegang kamera yang sedang merekam.


"Aku meminta kalian untuk memfotoku dan Bara bukannya malah memvidiokannya bodoh!" Naya tampak marah saat menyadari jika orang suruhannnya malah merekam vidio bahkan sebelum semuanya siap*.


Sontak kedua orang tua Naya hanya bisa terdiam saat melihat rekaman yang ditunjukkan oleh Yuda. Naya bahkan sudah terlihat pucat dan seperti hendak kabur dari sana. Namun para pengawal Yuda sudah berdiri di belakang ketiganya. Bara dan Rania juga tidak kalah terkejut, karena keduanya juga baru melihat rekaman tersebut. Tapi keduanya menjadi lega karena dengan bukti rekaman itu maka Bara semakin terbukti tidak bersalah dan ini hanya akal-akalan Naya saja.


"Kalian bisa lihat sendiri bukan, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana ? anak saya dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat tidur... dan putri kalianlah yang sedang membuat drama..." sergah Yuda dengan wajah datarnya.


Ya... sejak Sinta datang bersama suami dan anaknya yang menuduh putranya Bara yang tidak-tidak, detik itu juga Rania sudah tidak mau menganggap wanita itu sebagai sahabatnya. Sinta dan suaminya tampak terdiam tidak dapat membalas perkataan Rania. Semua bukti kini justru berbalik melawan putri mereka.


"Sudah syukur aku dan suamiku tidak melaporkan putrimu itu atas perbuatan mencemarkan nama baik putra kami, sebenarnya kami berencana mendatangi kalian untuk membahas hal ini secara baik-baik. Tapi ternyata kalian malah datang kemari dan berbuat kekacauan di rumah kami... aku tidak terima Sinta... putraku, aku besarkan dan aku didik dengan susah payah agar menjadi anak yang menjaga kehormatan keluarga. Dan sekarang dengan seenaknya putri kalian yang manja itu berusaha mencoreng nama baiknya..." dengan menggebu Rania mengungkapkan kekesalannya.


"Mas... aku ingin kita memproses kasus ini secara hukum. Dia sudah 18 tahun dan bisa dijerat dengan pasal untuk orang dewasa... dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Bara!" sambung Rania pada suaminya.


Sontak Naya dan kedua orangtuanya terkejut dengan keputusan Rania. Mereka tidak menyangka Rania akan memproses perbuatan Naya secara hukum.


"Jangan begitu Ran... putriku masih sangat muda, dan dia belum bisa mengontrol emosinya... aku mohon maafkanlah perbuatannya kali ini. Aku juga minta maaf sudah langsung terpengaruh dengan semua ucapannya..." ucap Sinta menghiba.


"Benar kata Sinta... kami mohon jangan lanjutkan kasus ini ke jalur hukum... kami berjanji akan menjauhkan Naya dari Bara selamanya..." sambung Dodi ayah Naya.


Mendengar perkataan ayahnya yang akan menjauhkan dirinya dari Bara membuat Naya mendelik tak terima, namun secepatnya sang ayah langsung membungkam putrinya itu dengan memberikan tatapan tajam. Membuat Naya jadi terdiam.

__ADS_1


"Baiklah... tapi kami sudah tidak ingin melihat putri kalian berada di sekitar putra kami mulai besok" putus Yuda setelah menatap istrinya sejenak.


"Baiklah kami setuju..." sahut ayah Naya dan diangguki oleh ibu Naya.


Sementara Naya tampak masih belum bisa terima dengan keputusan kedua orangtuanya yang menuruti permintaan kedua orangtua Bara. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa dari pada kedua orangtua Bara tetap menuntutnya ke jalur hukum. Bisa dipastikan ia akan mendekam di dalam penjara diusia muda jika hal itu sampai terjadi, dan dia juga tidak ingin kehilangan masa depannya karena masuk penjara. Setelah kesepakatan itu, Naya dan keluarganya pun undur diri. Meski kurang puas dengan keputusan suaminya yang melepaskan Naya, namun Rania juga tidak menolaknya. Karena sesungguhnya berurusan dengan hukum itu melelahkan dan Rania belum siap untuk itu.


Bara langsung memeluk sang mama. Ia tahu jika mamanya sangat terluka dengan kelakuan Naya dan keluarganya. Meski ia juga sama, tapi karena mama Naya merupakan sahabat Rania sejak lama tentu hal ini lebih menyakitinya.


"Maafkan Bara ma... gara-gara Bara semuanya jadi berantakan" sesalnya.


"Ini semua bukan salah kamu Bara... Naya saja yang sepertinya terlalu dimanja oleh kedua orangtuanya sehingga bisa berbuat nekat seperti ini... mama bersyukur tidak jadi mendukungnya" ungkap Rania sambil tersenyum.


"Mama kamu benar nak... kamu tidak bersalah, dan beruntungnya kami juga tidak punya rasa pada gadis itu sehingga kami terhindar dari menantu yang seperti sikopat..." tambah Yuda.


Ketiganya pun merasa lega karena akhirnya masalah Naya terselesaikan meski membuat hubungan persahabatan kedua keluarga menjadi renggang. Setelah masuk ke dalam kamarnya, Bara mencoba untuk menghubungi Sadira. Terus terang ia sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu saat melihat kemarahan kedua kakak gadis itu. Untung saja panggilannya langsung dijawab saat pertama kali tersambung.


"Halo Ra... bagaimana keadaanmu? apa semuanya baik-baik saja?" ucap Bara penuh kekhawatiran.


"Aku tidak apa-apa kak... kak Samir dan kak Sahir tidak mengadukannya pada kedua orangtua kami. Tapi aku rasa sebaiknya kita menjaga jarak sampai waktu dimana aku sudah boleh berpacaran..." terdengar suara Sadira yang seakan berat saat memutuskan hal ini.


"Tapi Ra..."


"Kak... kita tidak putus... hanya menjaga jarak"


"Aku tahu... tapi tetap saja aku merasa berat Ra..."


"Aku juga kak... tapi aku rasa ini yang terbaik untuk semua..."


"Tapi kamu masih mau main ke rumahku kan? kau tahu keluargaku sudah sangat senang dengan kedatanganmu... terutama mama, dia sungguh sudah menganggap kamu sebagai putrinya..." Bara mencoba membuat alasan agar Sadira masih bisa berada didekatnya.


"Iya kak... tapi aku datang sendiri saja dan ga usah dijemput..."


"Iya Ra..." sahut Bara senang Sadira masih mau datang ke rumahnya.

__ADS_1


Setidaknya dengan begini ia masih mempunyai kesempatan untuk dekat dengan kekasihnya itu tanpa dicurigai oleh kedua kakak kembar Sadira. Keesokan harinya, Sahir dan Samir dikejutkan dengan sikap kekasih mereka yang tiba-tiba saja kompak untuk memutuskan hubungan mereka. Kedua pemuda itu tentu saja terkejut karena tidak ada angin tidak ada hujan, kekasih mereka itu langsung memutuskan hubungan melalui ponsel. Keduanya pun tampak kusut selama seharian. Apa lagi setelahnya kedua gadis itu malah sama sekali tidak dapat dihubungi.


Bahkan Samir yang sengaja menunggu Hana di depan sekolahnya tidak menemukan gadis itu sama sekali. Ia juga tidak melihatnya bersama Sadira. Karena ia melihat adiknya itu berjalan sendiri dari dalam sekolah saat pulang dijemput pak sopir. Samir mengusak kepalanya dengan kasar. Ia frustasi karena ia tidak bisa menerima keputusan kekasihnya itu. Begitu juga dengan Sahir, ia berkali-kali mencoba menghubungi Ayana tapi gadis itu malah memblokir nomornya. Sedang untuk menemui gadis itu tidak mungkin karena ia masih berada diasrama. Alhasil malam itu Sadira dan kedua orangtuanya merasa heran melihat kedua saudara kembar itu bertampang kusut saat berada di meja makan.


__ADS_2