BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Pernikahan Dave dan Sandra


__ADS_3

Kedatangan kedua orangtua Sandra membuat kediaman tuan Sam bertambah ramai. Meski keduanya tak menginap di apartemen tuan Sam namun tetap saja mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di apartemen tuan Sam dibandingkan di hotel tempat mereka menginap yang telah disediakan oleh Dave. Pak Dahlan dan bu Zaenab pun telah menanyakan hubungan Dave dan Sandra pada putri mereka itu. Setelah Sandra menjelaskan semuanya pada kedua orangtuanya akhirnya mereka pun langsung memberikan restunya.


Mendapatkan restu dari calon mertuanya membuat Dave langsung bergerak cepat untuk mengurus berkas pernikahannya dengan Sandra. Dan hanya dalam waktu singkat ia dapat menentukan tanggal pernikahannya yang akan diadakan dalam dua minggu. Meski terkesan kilat namun Dave tak main-main mempersiapkan pernikahannya. Ia bahkan membawa calon istrinya itu untuk membeli gaun pengantin di butik ternama di kota London. Dan dengan pengaruh Dave pihak butik bahkan bersedia membuatkan gaun hanya dalam waktu satu minggu yang biasanya orang harus memesan beberapa bulan sebelumnya.


Dave juga menginginkan akad diadakan di masjid tempat dimana dia dulu pertama kali mengucap kalimat syahadat saat menjadi mualaf dengan imam masjid sebagai penghulunya. Bagi Sandra semua yang terjadi bagai mimpi baginya. Ia yang hanya gadis biasa bisa bersanding dengan Dave yang bak pangeran di dunia nyata. Dan hari pernikahan pun tiba... sejak pagi Sandra sudah bersiap dan dirias oleh penata rias profesional. Ia akan berangkat ke tempat akad dari apartemen tuan Sam. Amira tampak sibuk mengurus kedua putra kembarnya yang sangat aktif dan ingin tahu dengan kesibukan yang terjadi.


Meski bu Zaenab juga datang membantu namun sikap Sahir dan Samir cukup merepotkan karena keduanya yang sangat penasaran saat melihat Sandra yang sedang dirias.


"Bunda... Onty kenapa mukanya dicoleng-coleng?" tanya Samir saat melihat sang perias tengah memberikan fondation pada wajah Sandra.


"Itu bukan dicoreng-coreng sayang... Onty mau dirias biar tambah cantik..." terang Amira dengan sabar.


"Tapi itu dicoleng bunda..." sahut Sahir saat melihat Sandra sedang diaplikasikan dengan shading dibeberapa bagian wajahnya.


"Kalian tunggu saja diluar ya... sama bunda... nanti kalau sudah selesai pasti Onty kalian jadi cantik... percaya sama bunda..."


"Oke... tapi mau main di kamal bunda aja... mau lihat putel-putel..." kata Samir menunjuk pada London Eye yang dapat terlihat dari jendela kamar Amira.


"Iya... ayo!" ajak Amira agar kedua putra tidak lagi mengganggu pekerjaan perias yang sedang merias Sandra.


"Ayo!" seru kedua bocah dengan semangat.


Keduanya memang sangat menyukai wahana itu setelah tuan Sam mengajak mereka untuk menaikinya saat liburan bersama. Apa lagi saat tahu jika dari kamar kedua orangtuanya mereka dapat melihat keindahannya. Kedua bocah itu sangat senang saat Amira mendudukkan keduanya disofa yang memang berada didepan jendela sehingga keduanya langsung bisa melihat London Eye dengan jelas. Keduanya bahkan sampai menempelkan tubuh mungil mereka pada kaca jendela yang tebal.


"Bunda... ada opong!" seru Samir tiba-tiba sambil menunjuk keluar jendela.


"Teropong?" tanya Amira.


Kedua putranya memang sudah mengenal benda itu karena Amira juga membelikannya untuk keduanya saat mereka jalan-jalan di mall. Ia ingin kedua putranya juga mempunyai kecintaan pada astronomi. Dan benar saja keduanya sangat antusias saat Amira membelikan mereka berdua teropong bintang mini dan mengajak mereka melihat bintang saat malam hari dari jendela kamar.


"Iya... lihat bunda!" tunjuk Samir pada gedung diseberang apartemen mereka.


Tak lama terlihat kilatan cahaya dari pantulan kaca yang membentuk pola bundar kecil yang terpantul pada dinding kamarnya. Amira langsung menyuruh kedua putranya untuk berbalik kearahnya dan meminta mereka berpose untuk ia ambil gambarnya melalui ponselnya. Ia sengaja melakukan itu agar orang yang menggunakan teropong tidak menyadari jika ia tengah mengambil gambarnya. Kedua bocah itu pun langsung berpose dan Amira langsung memotretnya dengan kamera ponselnya.

__ADS_1


"Mana bunda... aku mau lihat..." seru Sahir dan Samir bersamaan.


Dengan sabar ia pun menunjukkan hasil jepretannya pada kedua bocah itu. Keduanya tampak senang karena latar dari foto mereka adalah London Eye.


"Sudah... bunda kirim dulu foto kalian pada ayah ya..." kata Amira agar bisa mengambil ponselnya dari tangan kedua putranya.


Keduanya pun menurut dan kembali bermain diatas tempat tidur. Sementara Amira kembali memeriksa setiap foto yang sempat ia dapatkan. Benar saja ada beberapa foto yang menangkap seseorang tengah mengawasi apartemennya dengan menggunakan teropong saat ia mengarahkan kamera ponselnya tepat ke bangunan di seberang apartemennya. Dada Amira langsung berdegub kencang. Ia baru sadar jika ada seseorang yang selama ini diam-diam mengawasinya dan juga keluarganya.


"Apa Db sudah tahu hal ini?" batin Amira.


Ingin rasanya ia langsung memberitahu tuan Sam tentang apa yang ditemukannya namun ia tak mau membuat suaminya khawatir apalagi hari ini hari pernikahan sahabatnya. Ia tak mau hari yang sangat sakral bagi Sandra terganggu karena masalahnya. Akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu tuan Sam saat acara pernikahan Sandra dan Dave sudah selesai.


Tak lama pintu kamarnya di ketuk dari luar. Ternyata asisten perias yang datang memberitahu jika Sandra sudah selesai dirias dan kini giliran Amira untuk mereka rias. Awalnya Amira menolak karena menurutnya hanya Sandra yang harus dirias sementara dirinya cukup dengan merias dirinya sendiri saja namun penata rias itu berkata jika ini permintaan sang pengantin yang ingin Amira juga dirias akhirnya Amira pun menurut. Namun begitu ia hanya mau dirias dengan riasan natural karena ia tak ingin menyaingi sang pengantin. Selesai dirias Amira pun mengganti pakaian kedua putranya baru kemudian ia juga berganti pakaian dan bersiap pergi bersama Sandra dan yang lainya ke masjid tempat akad dilaksanakan.


Tuan Sam yang sedari tadi sibuk di lantai bawah gedung apartemen untuk mengatur iring-iringan yang akan membawa pengantin wanita tampak pangling dengan dandanan Amira. Ia serasa kembali disaat ia dan Amira dulu akan menikah. Penampilan Amira tampak tak berubah tetap mempesonanya.


"Kau cantik sekali Meyaa..." ucap tuan Sam saat dirinya mendekat kearah istrinya itu.


"Bunda memang cantik ayah...." seru Sahir yang berdiri disamping Amira.


"Iya..." sambung Samir yang berada di sisi lain Amira.


"Hemm... jadi boleh ayah mencium bunda kalian?" tanya tuan Sam pada kedua putranya yang membuat Amira mendelik tak percaya dengan ucapan suaminya.


"Ga boleh!" seru kedua bocah itu bersamaan.


Amira pun langsung terkekeh dengan jawaban kedua putra kembarnya. Sementara tuan Sam tampak manyun.


"Sudah ayo masuk ke dalam mobil... nanti kita terlambat..." kata Amira agar suami dan anak-anaknya itu tidak kembali berseteru.


Sementara Sandra sudah berada di mobil pengantin bersama kedua orangtuanya. Amira dan tuan Sam berada di mobil lain dengan kedua putra mereka. Iring-iringan itu pun langsung berangkat begitu semua sudah masuk ke dalam mobil masing-masing. Ada lima mobil dalam iring-iringan itu. Bukan karena jumlah keluarga pengantin yang banyak namun karena tiga mobil lainnya merupakan mobil pengawal yang menjaga mobil pengantin dan mobil keluarga tuan Sam.


Tuan Sam sengaja memperketat pengawalan agar tak terjadi hal buruk selama acara pernikahan Sandra dan Dave. Ia tak mau kecolongan apa lagi ia tahu jika orang suruhan Castillo pasti sedang mencari celah untuk mencelakai Amira. Dan Amira sama sekali tidak protes dengan pengawalan yang dilakukan suaminya setelah tadi ia sempat melihat seseorang mengawasi apartemennya. Setelah dua puluh menit perjalanan akhirnya rombongan pengantin wanita sampai di masjid tempat akad akan dilaksanakan.

__ADS_1


Tampak Dave yang terpesona melihat Sandra yang tampak sangat anggun dalam balutan kebaya modern yang sengaja ia pesan dari desainer Indo saat ia menemui kedua orangtua Sandra. Untung saja ia mengetahui ukuran Sandra dari Amira sehingga sang desainer tidak kesulitan mengerjakannya. Dan ternyata kebaya itu sangat pas melekat ditubuh Sandra. Setelah pengantin wanita duduk disamping pengantin pria maka acara akad pun segera di mulai.


Pak Dahlan sebagai wali nikah Sandra dengan lancar menikahkan sendiri putrinya itu dengan Dave. Demikian juga dengan Dave dalam satu tarikan nafas ia dapat mengucapkan ikrar akad dengan lancar sehingga suara SAH pun langsung menggema setelah Dave selesai mengucapkan ikrar akadnya. Rona bahagia terpancar dari keduanya setelah kini status keduanya sah menjadi suami istri. Setelah acara akad selesai mereka pun segera berpindah ke hotel tempat diadakannya acara resepsi. Disana sudah menunggu tamu undangan terutama dari keluarga besar Dave yang tidak dapat hadir saat acara akad. Namun sebelumnya Sandra dan Dave berganti pakaian terlebih dahulu disalah satu kamar yang ada di dekat ruang diadakannya resepsi.


Acara resepsi berlangsung meriah dan terkesan santai. Rencananya setelah kedua pengantin pulang bulan madu mereka akan ke Indo bersama pak Dahlan dan istrinya untuk mengadakan resepsi di sana. Bukan tanpa alasan mereka mengadakan resepsi juga di Indo. Mereka ingin para tetangga di tempat tinggal Sandra tahu jika Sandra telah menikah lagi agar tidak ada fitnah dikemudian hari. Sementara mengapa mereka memilih berbulan madu terlebih dahulu karena Sandra ingin ke Indo berbarengan dengan kepulangan Amira dan keluarganya ke Indo agar Amira dan keluarganya juga dapat menghadiri resepsinya di Indo.


Amira terpaksa berpamitan terlebih dahulu pada Sandra karena kedua putranya terlihat sudah mengantuk. Sandra yang faham pun mengizinkannya apa lagi ia melihat sendiri kedua bocah itu sudah lemas di gendongan kedua orangtuanya.


"Maaf San San... aku harus pulang dulu..." ucap Amira sambil menggendong Samir.


Tuan Sam pun tampak berpamitan pada Dave sambil menggendong Sahir. Setelah berpamitan pada kedua mempelai Amira dan tuan Sam juga berpamitan pada pak Dahlan dan istrinya juga kedua orangtua Dave. Kemudian keduanya pun pulang dengan mobil dan dikawal oleh tiga mobil lainnya.


"Db... kenapa kau membawa pengawal begitu banyak?" tanya Amira saat keduanya sudah berada didalam mobil.


"Ini untuk keamanan kita Meyaa..."


"Apa ada yang ingin kau katakan padaku Db?"


Tuan Sam mendesah pelan... ia tahu tak mungkin ia menutupi lagi apa yang sudah ia ketahui selama ini. Lalu ia pun menceritakan semuanya pada Amira agar istrinya itu faham mengapa ia memberi pengawalan ekstra pada keluarga kecilnya. Mendengar itu Amira pun mengambil ponselnya dan menunjukkan foto yang ia ambil tadi pagi pada tuan Sam.


"Kapan kau mengambil gambar ini Meyaa?" tanya tuan Sam yang menjadi cemas karena ternyata mata-mata Castillo berada tak jauh dari tempat mereka tinggal.


"Tadi pagi Db..." sahut Amira.


"Kenapa baru sekarang kau mengatakannya padaku Meyaa?" kata tuan Sam kesal.


"Maaf... aku hanya tidak ingin merusak hari pernikahan San San dan Dave..." sahut Amira menyesal.


"Hah... baiklah... mulai sekarang kau jangan keluar dari apartemen kecuali keadaan mendesak... untuk keperluan sehari-hari kau beli online saja... biar kurir yang mengantarkannya ke apartemen" kata tuan Sam sambil menggenggam tangan Amira.


"Baiklah..." kata Amira patuh.


Sesampainya di depan gedung apartemen keduanya langsung masuk ke dalam dengan pengawalan ketat. Sahir dan Samir terlelap dalam gendongan tuan Sam dan Amira. Setelah menidurkan Sahir dan Samir di dalam kamar mereka tuan Sam kembali ke depan apartemen untuk memberikan perintah pada pengawalnya untuk berjaga secara bergantian. Setelah itu barulah ia menemui Amira di dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2