BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Trauma Masa Lalu


__ADS_3

Malam harinya seperti janjinya tadi pada Sadira, Bara datang ke kediaman tuan Sam untuk mengatakan niatnya pada tuan Sam dan Amira. Hal ini tentu saja membuat Amira dan tuan Sam merasa terkejut. Bagaimana tidak, baru saja keduanya menggelar pernikahan Sahir dan Samir dan tiba-tiba saja Bara datang dan mengatakan ingin menikahi Sadira setelah ia diwisuda. Itu berarti hanya tinggal 6 bulan lagi. Meski awalnya keduanya merasa agak keberatan karena saat itu Sadira masih belum menyelesaikan kuliahnya namun setelah mendengarkan alasan dari Bara, Amira dan tuan Sam pun akhirnya memberikan restunya. Bara terlihat tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya dan ia pun langsung berpamitan untuk memberitahukan hal ini pada kedua orangtuanya.


Sahir dan Samir juga tampak syok saat mengetahui jika tidak lama lagi sang adik juga akan menikah. Ingin rasanya kedua kembar itu mengomeli Bara yang tidak sabaran untuk menyunting adik bungsu mereka itu jika tidak ditahan oleh istri-istri mereka. Ayana dan Hana beralasan jika saat menikah nanti usia Sadira hampir sama seperti saat mereka berdua menikah saat ini. Dan kedua kakak beradik itu pun akhirnya hanya bisa terdiam karena apa yang dikatakan oleh kedua istri mereka itu benar adanya. Saat Bara sudah pulang ke rumahnya, Amira dan tuan Sam kembali menanyakan kesiapan Sadira untuk menjadi istri Bara sebab usia gadis itu yang masih terbilang muda yaitu 20 tahun. Sedangkan gadis itu juga masih harus menyelesaikan kuliahnya dan jika ia dan Bara menikah maka keduanya akan LDRan. Namun nyatanya Sadira bisa menjawab pertanyaan kedua orangtuanya itu dengan tepat sehingga membuat Amira dan tuan Sam merasa lega.


Sementara di tempat yang lain, Ricko kembali mendatangi rumah Mahina untuk menemui kedua orangtua gadis itu untuk meminta restu atas hubungan keduanya yang baru saja terjalin. Hal ini tentu saja membuat Dave dan Sandra terkejut sekaligus kagum atas sikap Ricko yang begitu gentle. Dan saat mengetahui jika Ricko adalah sahabat Samir tentu saja ini merupakan nilai plus yang dilihat oleh Dave dan Sadira dalam memberikan restu mereka selain karena sikap yang sudah ditunjukkan oleh Ricko itu sendiri. Apa lagi keduanya yang sudah mendengar kisah pengorbanan Ricko dalam menyelamatkan Sadira dari penculikan. Ini juga yang membuat keduanya semakin yakin jika Ricko bisa menjaga putri mereka dengan baik. Sebab dengan adik sahabatnya saja ia bisa berkorban begitu banyak apa lagi pada orang yang dicintainya bukan? Dan malam ini menjadi malam yang penuh dengan kebahagiaan bagi dua pemuda itu dalam perjalanan cinta mereka.


Keesokan harinya di bandara tampak Bara, Sadira dan Mahina sudah berkumpul bersama keluarga Dave untuk kembali ke London. Keluarga Bara dan Sadira pun ikut untuk mengantarkan mereka. Amira tampak belum rela jika putri bungsunya itu kembali ke London untuk melanjutkan kuliahnya. Rasanya waktu beberapa hari itu terasa begitu singkat baginya untuk bercengkrama bersama sang putri. Apa lagi saat itu mereka juga disibukkan dengan persiapan pernikahan Sahir dan Samir.


"Kamu baik-baik disana ya... jangan terlalu keras belajar... jaga kesehatan..." ucap Amira memberikan nasehatnya pada Sadira.


"Iya bunda..." sahut Sadira tidak membantah.


Gadis itu juga langsung memeluk tubuh bundanya itu saat melihat kedua mata Amira yang sudah berkaca-kaca.


"Sudah Meyaa... jangan membuat putri kita jadi sedih..." ujar tuan Sam sambil mengelus punggung Amira pelan.


Amira pun mengurai pelukannya dan langsung menghapus air mata yang sempat lolos dari sudut matanya. Ibu dan anak itu pun saling melempar senyum untuk mengusir rasa sedih mereka. Tak lama tiba-tiba saja seseorang datang mengejutkan mereka semua terutama Mahina.


"Hai Na... maaf aku terlambat..." ucap Ricko dengan nafas ngos-ngosan karena pemuda itu sedari tadi berlarian mencari keberadaan Mahina.


Tentu saja hal ini membuat semua orang terkejut dengan kedekatannya dengan Mahina. Kecuali Dave dan juga Sandra tentunya.


"Kalian?" tanya Samir.


"Ya... kami sudah jadian Sam..." terang Ricko yang kembali membuat kejutan.


"Hem... jadi lu udah move on dari adek gua ceritanya? lu pasti terpesona sama mata birunya ya bro?" bisik Samir ditelinga Ricko yang membuat pemuda itu tersenyum tipis.


Ya... Ricko akui jika ia langsung terpesona pada mata biru Mahina saat pertama kali mereka berdua berjumpa.


"Syukurlah... gua ikut bahagia jika lu sama Nana... karena dia gadis yang baik dan unik. Sekali lagi selamat ya bro... lu tetap jadi bagian dari keluarga besar kami meski lu ga sama Dira... sebab tante Sandra itu udah kayak saudara kandung dengan bunda gua..." sambung Samir.


Ricko semakin tersenyum lebar saat menyadari apa yang dikatakan oleh Samir barusan. Ya... menjadi bagian dari keluarga tuan Sam yang harmonis memang jadi impiannya dulu yang sangat kekurangan kasih sayang. Dan kini terwujud meski bukan menjadi salah satu menantu mereka namun setidaknya keluarga Mahina juga sangat dekat dengan keluarga tuan Sam. Tapi Ricko juga bersyukur karena keluarga juga tak kalah harmonis dengan keluarga tuan Sam. Hal itu sudah ia rasakan saat pertama kali ia mengenal keluarga Dave.


Acara perpisahan di bandara tidak berlangsung lama karena penerbangan tak lama terdengar suara pengumuman jika para penumpang tujuan London harus segera naik ke dalam pesawat. Amira sekali lagi memeluk sang putri dan memberi nasehat pada gadis itu. Demikian juga Bara yang menerima nasehat dari mamanya. Tak lama mereka pun berpisah karena Bara dan yang lainnya harus segera masuk ke dalam pesawat. Tadi Ricko juga masih sempat berjanji untuk datang berkunjung ke London pada Mahina. Tentu saja hal ini membuat Mahina bahagia. Dan hal itu bisa dilihat dengan jelas oleh Dave dan Sandra.

__ADS_1


"Putri kita ternyata sudah dewasa Boo..." bisik Sandra setelah keduanya duduk di bangku pesawat.


"Tentu saja Sun Shine... waktu sudah banyak berlalu tanpa kita sadari..." sahut Dave sambil menggenggam tangan istrinya itu.


Enam bulan kemudian...


Bara tampak gugup saat menunggu kehadiran Sadira dan keluarganya di hari wisudanya. Yuda dan Rania yang sudah mendampingi putranya itu pun tidak dapat meredakan kegelisahan sang putra.


"Kenapa mereka belum datang juga ya ma..." keluh Bara yang membuat Rania hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.


Sungguh putranya itu akan menjadi keras kepala dan tidak sabaran jika sudah menyangkut dengan Sadira.


"Sabar Bara... kan baru lima menit yang lalu kamu menghubungi Dira, dan dia bilang sudah dalam perjalanan... yang sabar dong" ucap Rania berusaha sabar menghadapi tingkah putranya.


Sementara Yuda hanya bisa tersenyum kecil. Sedangkan kedua adik Bara yang juga ikut serta malah terlihat sibuk memperhatikan sekitarnya. Tampaknya keduanya juga ingin mengikuti jejak sang kakak untuk kuliah juga disana. Lima belas menit kemudian tampak Sadira beserta keluarganya pun datang. Bara langsung bernafas lega karena momen pentingnya bisa dihadiri oleh orang-orang tersayangnya terutama Sadira. Saat sesi foto setelah acara wisuda selesai, Rania yang merasa sangat bangga dengan pencapaian sang putra merasa syok saat ia melihat seseorang dari masa lalunya ternyata juga berada disana. Dengan panik ia segera menyembunyikan dirinya dipunggung Yuda.


"Ya Allah... setelah sekian lama kenapa hari ini aku justru harus bertemu dengan dia? tidak... dia tidak boleh tahu tentang Bara... karena Bara hanya putraku dan mas Yuda..." batin Rania saat melihat sosok dari masa lalunya itu tampak tengah berbincang tak jauh dari tempatnya berdiri bersama keluarga.


"Mas... kita pulang sekarang saja yuk!" mohon Rania saat Yuda tengah asyik berbincang dengan tuan Sam.


"Eum... kan sudah hampir jam makan siang... jadi lebih baik kita segera ke restoran yang sudah


kita pesan" terang Rania membuat alasan.


Yuda pun mengangguk mengerti dan langsung mengajak tuan Sam dan yang lainnya untuk pergi ke restoran yang sudah di bookingnya. Mereka pun kemudian pergi ke restoran dengan menggunakan mobil secara beriringan. Rania sengaja memepet sang suami saat melintas di dekat sosok yang ditakutinya itu ketika akan menuju ke mobil. Dan begitu masuk ke dalam mobilnya Rania langsung menghembuskan nafasnya lega karena dirinya tidak ketahuan oleh orang yang begitu dibencinya.


"Kamu kenapa sayang... kok wajah kamu terlihat sangat pucat?" tanya Yuda saat akan menyalakan mobilnya.


"Ga pa-pa kok mas... mungkin karena tadi aku sarapan cuma sedikit jadi agak lemas..." sahut Rania sekenanya.


"Ah... kamu ini sayang... yang diwisuda kan Bara... kenapa jadi kamu yang gugup dan tidak nafsu makan? akhirnya begini kan... kamu jadi lemas dan pucat" kata Yuda sambil memandang istrinya lembut.


"Maklumlah mas... Bara kan putra pertama kita yang berhasil diwisuda dan di universitas ternama di London lagi, kan aku jadi ikutan gugup karena bahagia mas..." sahut Rania memberikan alasan yang membuat Yuda terkekeh oleh sikap istrinya.


Sementara itu tanpa mereka sadari jika saat ini ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Benarkah wanita tadi itu Rania?" batin seseorang itu sambil memicingkan matanya untuk memastikan jika apa yang dilihatnya tidaklah salah.


"Benar... itu Rania... sedang apa dia disini? apa dia juga menghadiri wisuda anaknya?" sambungnya penasaran.


Saat melihat Rania masuk ke dalam sebuah mobil bersama seorang pria dan tiga orang pemuda bersamanya membuat orang itu berfikir jika wanita itu datang bersama keluarganya. Saat melihat Bara yang mengenakan pakaian wisuda ia pun tersentak saat menyadari jika wajah pemuda itu sangat mirip dengannya.


"A... apa dia putraku?" batinnya lagi dengan wajah syok.


Orang itu pun tanpa sadar langsung berjalan menyusul Rania. Namun langkahnya terhenti saat seseorang menegurnya.


"Mas... kamu mau kemana?" tanya seorang wanita yang merupakan istrinya.


"Eh... itu... tadi sepertinya aku melihat teman lamaku... jadi aku ingin menyapanya..." ujar orang itu memberikan alasan.


"Siapa?"


"Hanif... ya... Hanif. Kamu ingatkan dia itu teman SMU aku dulu..."


"Oh... lalu dimana dia sekarang?"


"Aku kehilangan jejaknya saat kamu memanggilku tadi..."


"Maaf mas, aku tidak tahu..."


"Tidak apa-apa... mungkin lain waktu kami masih bisa bertemu lagi dengannya..." ucapnya yang membuat istrinya tersenyum lega.


Sementara di dalam hatinya orang itu masih merasa penasaran dengan sosok yang bersama Rania yang begitu mirip dengannya. Fikirannya berkelana ke masa lalu saat ia menceraikan Rania karena ingin menikah dengan kekasihnya yang kini sudah menjadi istrinya. Saat itu tampak sekali jika Rania sangat terpuruk dan wajah wanita itu yang pucat pasi. Namun Rania berusaha untuk tetap tegar menerima kenyataan dirinya yang menceraikan wanita itu karena ingin menikahi kekasihnya. Ya... Ia dan Rania sudah menikah dua tahun saat ia bertemu dengan Merry dan langsung tergoda pada kecantikan wanita blasteran Belanda itu. Setelah menjalin hubungan dibelakang Rania selama hampir 3 bulan ia pun menceraikan Rania karena Merry meminta untuk dinikahi. Wanita itu juga tidak mau jika harus menjadi istri kedua.


Karena itulah ia langsung menalak Rania karena Merry saat itu juga tengah mengandung anaknya sementara ia dan Rania belum dikaruniai seorang anak. Saat itu ia tidak pernah memikirkan apa yang membuat wajah Rania begitu pucat. Sebab pesona Merry sudah begitu membiusnya apa lagi calon anak yang dikandung Merry membuatnya sama sekali tidak menyesal untuk menceraikan Rania. Tapi kini kenyataan seakan menamparnya dengan sangat keras. Bagaimana tidak... setelah puluhan tahun ia kini bertemu dengan mantan istrinya itu yang bersama dengan seorang pemuda yang begitu mirip dengannya. Tanpa melakukan pembuktian apa pun orang pasti sudah bisa menduga jika pemuda itu adalah keturunannya... darah dagingnya yang selama ini tidak pernah diketahuinya.


"Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku jika saat itu kamu tengah mengandung Nia?" batinnya pilu.


Ia tidak tahu jika saat itu pun Rania belum mengetahui jika dirinya tengah mengandung. Rania baru mengetahuinya setelah dua bulan perceraiannya. Dan saat itu ia telah pindah keluar kota setelah perceraiannya. Tapi meski pun Rania tahu sebelumnya mungkin saja wanita itu pun akan tetap merahasiakan kehamilannya karena sakit hati atas pengkhiatan pria itu padanya.


"Kamu harus menjelaskan semuanya Rania... jika benar anak itu putraku... anak itu harus tahu jika aku ayah kandungnya bukan pria yang bersamamu tadi!" batinnya geram.

__ADS_1


Ya... tadi Bara yang mendapatkan nilai terbaik berkesempatan untuk memberikan pidatonya. Saat itu Bara terang-terangan menyebut nama Yuda sebagai ayahnya. Pria itu merasa bodoh tidak menyadari jika Rania yang juga disebut Bara sebagai ibunya itu adalah Rania mantan istrinya. Padahal ia bisa melihat kemiripan dirinya dengan pemuda itu walau dalam sekilas saja. Ia baru sadar saat tadi ia melihat Rania. Sungguh saat ini pria itu sangat egois karena ingin pengakuan dari Bara bahwa ia adalah ayah biologisnya. Sedangkan dulu ia telah menelantarkan Rania tanpa mau tahu perasaan wanita itu atas pengkhiatannya.


__ADS_2