
Pada awalnya Ricko adalah anak yang manis dan ceria. Hidupnya nyaris sempurna karena memiliki kedua orang tua yang saling mengasihi. Namun semua itu berubah saat usianya 10 tahun ketika ia mengetahui perselingkuhan ayahnya. Dan diusianya pada saat itu Ricko yang sudah mulai mengerti permasalahan orang dewasa akhirnya merasa takut jika keluarganya yang harmonis akan hancur. Oleh karena itu ia pun segera melaporkan perbuatan papanya pada sang mama dengan harapan bahwa mamanya bisa menyadarkan papanya lagi. Namun rupanya pemikirannya itu salah. Sebab hal itu justru malah mempercepat perpisahan kedua orang tuanya.
Sejak saat itu suasana di rumah tidak pernah lagi sama. Ibu Ricko tenggelam dalam depresi dan sering berusaha untuk bunuh diri. Ricko tumbuh nyaris tanpa perhatian orangtua. Selama beberapa bulan Ricko kecil ikut mengurus ibunya dengan selalu menyuapi mamanya itu sendiri. Dan setiap hari dia juga selalu memastikan agar mamanya tidak menyakiti dirinya sendiri apa lagi ketika ia hendak keluar rumah. Hingga tepat satu tahun perceraian orangtuanya, tiba-tiba sang mama seolah kembali menemukan gairah hidupnya. Pagi itu Ricko ke luar dari dalam kamarnya dan langsung disambut oleh sang mama dengan senyuman yang telah lama hilang.
"Selamat pagi sayang... pagi ini mama sudah memasakkan masakan kesukaanmu... nasi kuning! mama juga membawakannya untuk bekal makan siangmu..." ucap sang mama dengan wajah ceria.
Tak terlihat sedikit pun sisa kesedihan di wajahnya. Ricko merasa seakan ia tengah bermimpi mendapati mamanya kembali ceria.
"Mama benar memasak semua ini buat Ricko?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja sayang... karena kamu adalah anak kesayangan mama. Ayo kita makan sekarang sayang" ujar sang mama sambil menyendokkan nasi ke atas piring Ricko.
"Iya ma... aku pasti akan makan yang banyak" ucap Ricko dengan suara ceria.
"Bagus sayang kamu memang anak mama yang terbaik. Nanti pulang sekolah mama akan memberikan kejutan untuk kamu"
"Beneran ma?" tanya Ricko dengan wajah sumringah.
"Tentu saja sayang" sahut sang mama sambil mengecup kening Ricko.
"Hore! terima kasih ma..."
Selesai sarapan Ricko pun segera berangkat ke sekolah dengan hati gembira. Pada saat makan siang ia pun segera memakan bekal yang sudah disiapkan mamanya. Dia merasa makanan itu adalah makanan yang terenak yang pernah ia makan. Namun belum juga ia menghabiskan bekalnya tiba-tiba saja guru wali kelasnya mendatanginya.
"Ricko... segera bereskan tasmu, karena kakekmu sudah datang menjemput..." kata sang wali kelas tanpa basa basi.
Ricko heran karena kakeknya menjemputnya di saat jam istirahat. Dan ini berarti belum waktunya untuk pulang sekolah.
"Apa ini kejutan dari mama?" batinnya.
__ADS_1
Lalu tanpa bertanya ia pun menuruti perintah wali kelasnya. Ketika keluar dari kelas Ricko sudah ditunggu oleh kakeknya. Namun Ricko merasa ada yang janggal pada sikap kakeknya. Seolah-olah lelaki tua itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Jadi benar mama sudah menyiapkan kejutan buatku..." gumam Ricko sambil tersenyum.
"Ayo Ricko kita pulang... mamamu sudah menunggu" ucap sang kakek dengan suara yang bergetar.
Ricko pun segera mengikuti sang kakek dan masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan Ricko terus saja tersenyum membayangkan kejutan apa yang tengah disiapkan oleh mamanya. Namun saat sampai di rumah, harapan Ricko langsung hancur karena yang didapatinya bukan kejutan menyenangkan dari sang mama melainkan sebaliknya. Bagaimana tidak, bocah 11 tahun itu dihadapkan dengan jenazah yang mama yang sudah terbujur kaku di ruang tengah keluarga. Sang kakek yang tahu perasaan cucunya saat ini hanya bisa memeluk tubuh Ricko dari belakang. Saking terkejutnya bocah itu bahkan tidak dapat mengeluarkan ekspresi sedihnya atau pun menitikkan air matanya. Dia hanya terdiam ditempatnya berdiri dengan pandangan kosong ke arah jenazah sang mama.
"Ayo sayang... kita lihat wajah mama kamu untuk terakhir kalinya..." ucap sang kakek lirih ditelinga Ricko kemudian menggandeng bocah itu untuk mendekat ke tubuh kaku sang mama.
Saat itulah Ricko mulai bereaksi. Bocah itu langsung jatuh terduduk di depan jenazah sang mama dengan air mata yang mulai menetes di kedua pipinya. Namun mulutnya masih terkunci. Tiba-tiba saja seseorang datang dari arah belakangnya.
"Maafkan papa nak... papa tidak menyangka jika mama kamu akan berbuat nekat seperti ini..." ucap tuan Danu sambil memeluk Ricko dari belakang.
Reaksi mengejutkan ditunjukkan oleh Ricko atas perlakuan sang papa. Bocah itu langsung menggigit tangan sang ayah yang melingkar ditubuhnya. Sehingga pria itu langsung menjerit kesakitan dan melepaskan pelukannya. Gigitan Ricko yang dalam bahkan membuat tangan papanya itu sampai terluka dan mengeluarkan darah. Bahkan digigi dan mulut Ricko juga terdapat sebagian darah papanya hingga membuat bocah 11 tahun itu terlihat seperti vampir yang baru saja menghisap darah dari korbannya.
Semua orang yang ada disana sangat syok saat melihat perbuatan bocah itu kepada papanya. Sang kakek pun langsung menenangkan cucunya itu meski ia juga merasakan kemarahan yang sama pada mantan menantunya itu.
"Sabar Ricko... kita urus saja jenazah mama kamu agar bisa segera dimakamkan..." ucapnya lirih.
Ricko pun langsung melemaskan tubuhnya di dalam pelukan sang kakek.
"Mama kek... mama meninggalkan Ricko sendiri..." isaknya dalam pelukan sang kakek.
Sang kakek terdiam mendengarkan aduan cucu semata wayangnya itu. Hatinya juga sangat terluka akibat keputusan sang putri untuk mengakhiri hidupnya dan meninggalkan Ricko sendirian.
"Kamu ga sendiri Ricko... ada kakek yang akan selalu menemani kamu" ucapnya mencoba menghibur cucunya itu.
Dan meski penuh dengan deraian air mata pemakaman mama Ricko pun akhirnya berjalan dengan lancar. Papa Ricko yang ikut hadir tidak dapat mendekat ke tempat prosesi pemakaman karena Ricko yang tidak mengizinkannya. Bocah itu sama sekali tidak membiarkan tuan Danu ikut terlibat langsung dalam prosesi pemakaman. Bahkan Ricko langsung melempari papanya itu dengan batu dan tanah saat pria itu mencoba mendekat ke liang lahat. Hal ini membuat beberapa pelayat langsung meminta tuan Danu untuk menjauh dari sana agar prosesi pemakaman berjalan lancar. Tuan Danu pun mau tidak mau harus menuruti hal itu agar tidak mengganggu prosesi pemakaman.
__ADS_1
Sejak saat itu Ricko memilih tinggal bersama sang kakek hingga ia mulai masuk SMU. Semua orang mengira jika Ricko tumbuh dengan normal setelah kematian mamanya. Namun tidak ada yang menduga jika sejak kematian mamanya itu sikap Ricko mulai berubah. Ia mulai jadi pendiam dan suka menyendiri. Ricko juga tidak pernah memperlihat ekspresi yang sesungguhnya diwajahnya. Hal ini membuat sang kakek cemas. Hingga saat kelas 12 sang kakek memutuskan untuk membawa Ricko ke seorang dokter kenalannya yang juga mengerti tentang kejiwaan karena semakin takut dengan sikap cucunya yang semakin aneh. Ricko yang saat dipertemukan dengan dokter itu awalnya bersikap acuh. Namun dengan keahliannya sang dokter itu bisa memperoleh kepercayaan Ricko dan bahkan ia juga melakukan hipnoterapy padanya demi mempercepat kesembuhannya. Tanpa ia dan sang kakek sadari jika Ricko telah masuk pada perangkap sang dokter. Bukannya membaik, Ricko bahkan menjadi terobsesi untuk melakukan perusakan terhadap hal-hal yang orang lain anggap sebagai keindahan.
Ricko sering kali melakukan perusakan terhadap benda-benda yang di mata orang lain terlihat indah. Diam-diam ia melakukan perusakan terhadap benda-benda berharga dan bernilai seni di rumah kakeknya seperti guci dan juga lukisan koleksi sang kakek. Ia bahkan pernah mencabuti sayap kupu-kupu saat dalam keadaan masih hidup. Ia seakan puas saat melihat kesakitan hewan yang disiksanya itu. Dan hal itu bertambah parah saat sang kakek meninggal saat ia baru kelas dua SMU.
Kesedihan akibat kembali kehilangan orang yang ia sayangi membuat Ricko semakin masuk dalam perangkap sang dokter yang bernama Andrew itu. Ia seolah menjadi alat bagi sang dokter dalam memenuhi segala obsesi dan juga imajinasinya yang liar. Dengan gelar dan profesinya sebagai dokter bedah, ia juga membuat Ricko untuk mengikuti jejaknya untuk kuliah di fakultas kedokteran. Ia bahkan merancang agar ia bisa menjadi dosen pembimbing pemuda itu agar ia tetap bisa mengawasi dan mempengaruhi Ricko. Ia seolah berencana menjadikan Ricko sebagai penerusnya dalam kegilaan obsesinya.
Hingga suatu hari Ricko dengan jujur mengatakan padanya jika ia menemukan seseorang yang mirip dengan almarhumah mamanya. Sadira... nama yang membuat dokter Andrew menjadi tertarik untuk mengenalnya juga. Saat Ricko juga menunjukkan foto-foto gadis itu membuat dokter Andrew terkejut. Bukan apa-apa, gadis muda itu begitu mirip dengan seseorang dimasa lalunya. Ia pun mencoba untuk bisa lebih mengenal gadis itu secara langsung tanpa perantara Ricko yang selalu menceritakan tentang gadis itu padanya. Tepatnya ia ingin berinteraksi langsung dengan Sadira, calon korbannya.
Kesempatan itu tiba saat sekolah gadis itu mengundangnya untuk menjadi nara sumber di acara yang diadakan oleh pihak sekolah gadis itu untuk memberikan gambaran tentang profesi dokter bedah. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakannya begitu saja. Sadira yang merupakan gadis yang selalu ingin tahu ikut mengajukan dirinya untuk bisa bertanya langsung padanya di sesi tanya jawab. Hal ini membuat langkah awal bagi dokter Andrew untuk mendekati Sadira. Setelah bisa mengenal gadis itu dan mempelajari sifatnya ia pun segera mempengaruhi Ricko untuk melancarkan aksinya.
Ya... menurutnya Sadira adalah gadis yang hidup dengan sempurna. Memiliki keluarga yang sangat menyayanginya dan kaya raya membuat gadis itu nyaris tidak pernah kesusahan. Kehidupannya sungguh sempurna dan indah yang membuat dokter Andrew merasa gatal dan ingin agar Ricko merusaknya untuk dirinya. Dan dimulailah sikap obsesif Ricko pada Sadira dimana ia mulai menganggap Sadira seperti kupu-kupu yang pernah ia patahkan sayapnya dulu. Ricko jadi ingin melihat ekspresi Sadira saat merasakan rasa sakit.
Namun yang terjadi malah hal yang sama sekali tidak terduga. Disaat Ricko semakin dekat dengan Sadira, pemuda itu malah merasakan perasaan lain di dalam hatinya terhadap gadis itu. Rasa ingin merusak dan membuat Sadira merasakan sakit malah perlahan sirna. Dan tanpa ia sadari bahwa ia mulai merasa ingin membuat gadis itu semakin bahagia alih-alih malah membuatnya menderita. Hal ini semakin menguat saat dokter Andrew memintanya untuk menyakiti Sadira. Bukannya menuruti perintah dokter Andrew, ia malah berusaha untuk mengulur waktu sambil mencoba membuat mentornya itu untuk membatalkan niatnya.
Sikapnya ini tentu saja membuat dokter Andrew menjadi murka. Dan tanpa sepengetahuan Ricko ia pun merencanakan segalanya. Ia ingin memilki Sadira untuk dirinya sendiri dengan menculiknya dan merencanakan sesuatu untuk gadis itu setelah berhasil membawa gadis itu untuk berada bersamanya. Penculikan Sadira yang sangat rapi tentu saja membuat Ricko langsung mencurigai sang mentor. Namun karena keahlian dokter Andrew, pemuda itu tidak bisa menemukan bukti yang menunjukkan jika pria itulah yang telah menculik Sadira.
Setelah memutar otaknya semalaman, Ricko pun memutuskan untuk datang ke rumah dokter Andrew untuk memeriksanya. Dengan dalih untuk meminta bantuan dalam menyusun skripsinya ia pun memberanikan diri untuk mendatangi kediaman dokter itu. Saat memasuki rumah dokter Andrew, Ricko merasa sangat gugup. Ia tidak yakin apakah dirinya bisa mengelabuhi dokter sekaligus dosen pembimbingnya itu. Karena keahliannya, bisa saja dokter Andrew dengan mudah membaca kebohongannya. Namun begitu Ricko tidak boleh mundur karena hanya ini satu-satunya cara untuk memastikan apakah benar dokter Andrew yang telah menculik Sadira.
Dan jika benar maka ia harus mencari cara agar ia bisa tahu di mana dokter Andrew menyembunyikan Sadira. Oleh karena itu setelah berkali-kali menenangkan dirinya, Ricko pun segera meminta izin agar diperbolehkan datang ke rumah dosennya itu. Beruntung tanpa curiga dokter Andrew langsung menyetujui permintaan Ricko. Dan disinilah saat ini Ricko berada. Di depan pintu rumah dokter Andrew sambil menekan tombol bel rumah. Tak lama dari dalam seseorang membukakan pintu dari dalam.
"Ah... kamu sudah datang rupanya..." ujar dokter Andrew yang membukakan pintu rumahnya langsung.
"Iya dok..." sahut Ricko sambil tersenyum canggung.
"Maaf mengganggu saat anda masih cuti... tapi sungguh saat ini saya sangat membutuhkan bantuan anda..." sambung Ricko memasang wajah menghiba.
"Jangan sungkan... kau tahu kau bisa mengandalkanku..." ujar dokter Andrew tersenyum cerah.
"Kalau begitu masuklah!" ajak dokter Andrew sambil membukakan pintu lebih lebar.
__ADS_1